Saat Ekonomi Global Melambat, Indonesia Menjaga Momentum Tumbuh

Oleh : Adi Hertanto )*  Perlambatan ekonomi global selalu menjadi tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketidakpastian geopolitik, perubahan harga komoditas, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika pasar keuangan global dapat memengaruhi ekspor, investasi, nilai tukar, hingga daya beli masyarakat. Namun, di tengah berbagai tekanan tersebut, perekonomian Indonesia menunjukkan bahwa fondasi domestik masih cukup kuat untuk menjaga momentum pertumbuhan. Data pertumbuhan ekonomi, konsumsi masyarakat, aktivitas investasi, serta kebijakan pemerintah menjadi modal penting untuk mempertahankan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional.  Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Meskipun angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada triwulan I, capaian tersebut tetap menunjukkan ketahanan ekonomi karena terjadi ketika lingkungan eksternal menghadapi tekanan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada triwulan II 2026 merupakan capaian yang cukup baik di tengah kondisi ekonomi global yang menghadapi berbagai tekanan.  Optimisme tersebut semakin menguat setelah perkembangan terbaru menunjukkan pemerintah melihat ruang akselerasi pada paruh kedua 2026. Purbaya menyatakan perekonomian nasional sudah siap bergerak menuju pertumbuhan 6 persen dan menilai Indonesia mulai keluar dari pola pertumbuhan yang stagnan di sekitar 5 persen, meskipun pergerakannya masih berlangsung secara fluktuatif.  Salah satu kekuatan utama ekonomi Indonesia adalah besarnya pasar domestik. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi salah satu mesin penting pertumbuhan, sementara belanja pemerintah dan investasi memberikan dorongan tambahan terhadap aktivitas ekonomi. Ketika permintaan global melemah, kemampuan mempertahankan aktivitas ekonomi dari dalam negeri menjadi semakin penting. Karena itu, menjaga daya beli masyarakat, memperluas lapangan kerja, mempercepat investasi, serta memastikan program prioritas pemerintah berjalan efektif merupakan bagian dari strategi mempertahankan momentum pertumbuhan.  Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perekonomian Indonesia memiliki fondasi yang relatif kuat dalam menghadapi perlambatan ekonomi global. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tetap ditopang oleh konsumsi domestik, investasi, ekspor, serta berbagai kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan daya saing nasional.  Airlangga juga menekankan bahwa pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan melalui peningkatan investasi, hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, serta optimalisasi berbagai sumber pertumbuhan baru. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak hanya mampu menghadapi tekanan ekonomi global, tetapi juga meningkatkan kapasitas pertumbuhan dalam jangka menengah dan panjang.  Di sisi fiskal, pemerintah dapat terus mengoptimalkan APBN sebagai instrumen untuk menjaga daya beli sekaligus menciptakan efek pengganda terhadap perekonomian. Belanja negara yang produktif perlu diarahkan pada program yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat dan kegiatan ekonomi, termasuk pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, ketahanan pangan dan energi, serta penguatan sektor produktif. Dengan pendekatan tersebut, APBN bukan hanya menjadi instrumen administratif, melainkan katalis pertumbuhan ketika kondisi eksternal kurang mendukung.  Kemudian Investasi juga menjadi kunci. Pemerintah terus menciptakan iklim investasi yang semakin kompetitif melalui kepastian regulasi, percepatan perizinan, penyederhanaan birokrasi, dan penguatan infrastruktur. Peningkatan investasi akan memperluas kapasitas produksi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat basis ekspor nasional. Optimisme pemerintah terhadap investasi juga tercermin dari target pertumbuhan investasi hingga 7 persen untuk menopang pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027.  Perlambatan ekonomi global tidak harus dimaknai sebagai ancaman semata. Situasi tersebut justru menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik dan meningkatkan kualitas pertumbuhan. Ketahanan konsumsi, investasi, belanja pemerintah, stabilitas makroekonomi, serta koordinasi kebijakan menjadi kombinasi penting untuk menjaga ekonomi tetap bergerak.  Selain menjaga stabilitas ekonomi makro, pemerintah akan memastikan bahwa momentum pertumbuhan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta perluasan akses terhadap pembiayaan menjadi bagian penting dalam membangun pertumbuhan yang inklusif. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin melalui indikator makroekonomi, tetapi juga melalui peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.  Di tengah perlambatan ekonomi global, Indonesia juga memiliki peluang untuk mempercepat transformasi struktur ekonominya. Pengembangan industri bernilai tambah, hilirisasi sumber daya alam, ekonomi digital, ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat menjadi sumber pertumbuhan baru. Konsistensi pemerintah dalam menjalankan agenda tersebut akan memperkuat daya tahan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam menghadapi persaingan ekonomi global yang semakin dinamis.  Indonesia memiliki peluang untuk keluar dari pola pertumbuhan yang terlalu bergantung pada siklus ekonomi global. Dengan memperkuat produktivitas, memperluas lapangan kerja, menjaga daya beli, mempercepat hilirisasi, dan memperkuat investasi, momentum pertumbuhan dapat dipertahankan secara lebih berkelanjutan. Optimisme menuju pertumbuhan mendekati 6 persen juga harus diterjemahkan menjadi kerja nyata dan konsistensi kebijakan. Di tengah ekonomi global yang melambat, Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan pasar domestik dan kebijakan yang responsif dapat menjadi bantalan sekaligus mesin baru untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional.  )* Pemerhati Ekonomi 

Read More

Tumbuh di Tengah Perlambatan Global Bukti Ekonomi Indonesia Cukup Tangguh

Oleh: Dhita Karuniawati )*  Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen secara tahunan pada kuartal II-2026 menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas ekonomi domestik masih mampu bergerak positif meskipun tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada kuartal II-2026. Meski melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I-2026, capaian tersebut masih menunjukkan bahwa perekonomian nasional memiliki bantalan yang cukup kuat ketika lingkungan ekonomi global menghadapi berbagai tekanan.  Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif mencerminkan masih terjaganya daya beli masyarakat. Aktivitas ekonomi sehari-hari yang tetap berlangsung menunjukkan konsumsi domestik masih menjadi salah satu kekuatan penting dalam menjaga pertumbuhan nasional.  Ketahanan tersebut juga terlihat dari struktur pertumbuhan ekonomi. Bank Mandiri memperkirakan perekonomian Indonesia dapat tumbuh 5,34 persen sepanjang 2026, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,2 persen. Permintaan domestik, investasi, dan konsumsi pemerintah dinilai menjadi penopang utama pertumbuhan pada semester I-2026.  Data tersebut memperlihatkan bahwa mesin pertumbuhan Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor. Ketika ekonomi dunia mengalami perlambatan, konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah masih mampu menjaga aktivitas ekonomi di dalam negeri. Pada kuartal II-2026, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 6,1 persen menurut Mandiri Spending Index, sementara konsumsi pemerintah meningkat 15,97 persen secara tahunan.  Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan 5,29 persen pada kuartal II merupakan capaian yang cukup baik mengingat kondisi eksternal masih menghadapi tekanan, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah, menurut Purbaya, masih memiliki ruang untuk mengoptimalkan berbagai mesin pertumbuhan pada semester II-2026, termasuk melalui penguatan likuiditas dan penurunan biaya pembiayaan.  Optimisme tersebut juga ditopang oleh kinerja investasi. Pemerintah mencatat pembentukan modal tetap bruto tumbuh 6,87 persen pada kuartal II-2026. Investasi langsung turut meningkat, terutama didorong kenaikan penanaman modal asing. Kondisi ini menunjukkan Indonesia masih dipandang memiliki prospek bagi ekspansi usaha meskipun ketidakpastian ekonomi global meningkat.  Namun, ketahanan tersebut bukan berarti Indonesia terbebas dari risiko. Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, memperkirakan ekonomi global akan melambat dari sekitar 3,5 persen pada 2025 menjadi 3 persen pada 2026. Dalam kondisi tersebut, Indonesia diproyeksikan tetap mampu tumbuh sekitar 5,2 persen karena ditopang investasi, belanja pemerintah, dan aktivitas ekonomi domestik.  Irman melihat hilirisasi industri, industri logam dasar, ekonomi digital, dan pengembangan pusat data berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah dan panjang. Meski demikian, Indonesia tetap perlu mengantisipasi tingginya harga energi, volatilitas pasar keuangan, pelebaran defisit transaksi berjalan, serta perubahan kebijakan moneter negara-negara maju.  Ketahanan ekonomi juga perlu diperkuat melalui stabilitas sektor keuangan. Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengatakan pendalaman pasar valuta asing, pengembangan transaksi mata uang lokal, dan instrumen lindung nilai diperlukan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional terhadap perubahan arus modal dan gejolak pasar global.  Di sisi lain, pemerintah memasang target pertumbuhan yang lebih ambisius. Dalam RAPBN 2027, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 6 persen. Menteri Keuangan Purbaya menyebut pencapaian target tersebut membutuhkan percepatan investasi hingga sekitar 7 persen, dengan konsumsi, investasi, ekspor, dan sektor-sektor strategis sebagai mesin pertumbuhan.  Target tersebut tentu bukan tanpa tantangan. Pertumbuhan 6 persen membutuhkan kualitas kebijakan yang lebih baik, bukan sekadar stimulus yang lebih besar. Pemerintah perlu memastikan investasi benar-benar menghasilkan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, memperkuat kapasitas industri, serta mendorong peningkatan pendapatan masyarakat.  Pada saat yang sama, stabilitas fiskal dan nilai tukar harus tetap dijaga. Pertumbuhan yang terlalu mengandalkan stimulus tanpa memperhatikan kualitas dan keberlanjutan justru berisiko menciptakan tekanan baru terhadap perekonomian. Karena itu, kebijakan ekonomi harus diarahkan pada penguatan fondasi, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan dalam jangka pendek.  Dengan demikian, pertumbuhan 5,29 persen pada kuartal II-2026 seharusnya tidak hanya dibaca sebagai angka statistik. Capaian tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia memiliki daya tahan ketika pertumbuhan global melambat. Konsumsi domestik yang relatif kuat, investasi yang tetap berjalan, belanja pemerintah, serta kebijakan stabilisasi menjadi bantalan penting dalam menghadapi tekanan eksternal.  Tantangan berikutnya adalah memastikan ketahanan tersebut berubah menjadi pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkualitas. Jika investasi produktif terus meningkat, konsumsi masyarakat terjaga, sektor swasta semakin aktif, dan kebijakan pemerintah mampu menciptakan efek pengganda yang luas, ambisi pertumbuhan 6 persen bukan sekadar target administratif.  Target tersebut dapat menjadi tahap berikutnya dalam transformasi ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan. Ketangguhan ekonomi pada akhirnya bukan hanya diukur dari kemampuan bertahan ketika dunia melambat, tetapi dari kemampuan memanfaatkan momentum untuk membangun fondasi pertumbuhan yang semakin produktif dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.  *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia 

Read More

Harga Pangan di Daerah Bencana Alam Dipastikan Stabil

Jakarta – Pemerintah memastikan harga dan pasokan bahan pokok di daerah terdampak bencana alam tetap stabil dan terkendali. Kondisi tersebut juga terpantau di sejumlah wilayah yang terdampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kepastian itu diperoleh berdasarkan pemantauan secara intensif dan real-time melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok…

Read More

Pemerintah Mitigasi Dampak Bencana Alam terhadap Harga Pangan

Jakarta – Pemerintah memperkuat langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah risiko gangguan pasokan akibat bencana alam dan kondisi cuaca ekstrem. Pemerintah daerah diminta segera mengidentifikasi komoditas yang mengalami kenaikan harga sekaligus mengantisipasi penurunan produksi akibat kemarau panjang, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), maupun bencana lainnya. Intervensi tersebut penting untuk menjaga daya beli…

Read More

Harga Pangan Tetap Aman, Pemerintah Kawal Pasar Daerah Bencana

Oleh : Doni Wicaksono )*  Ketersediaan dan keterjangkauan pangan menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat, terlebih ketika sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kondisi bencana alam. Dalam situasi seperti gempa bumi, erupsi gunung api, banjir, maupun kekeringan, gangguan terhadap jalur distribusi dapat dengan cepat memengaruhi pasokan dan harga kebutuhan pokok. Karena itu, langkah pemerintah untuk memastikan pangan tetap tersedia, harga terkendali, dan aktivitas pasar tetap berjalan menjadi bagian penting dari upaya menjaga daya beli sekaligus mempercepat pemulihan masyarakat terdampak bencana.  Komitmen tersebut terlihat dari langkah pemerintah yang terus memperkuat stabilisasi pasokan pangan nasional. Terbaru, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pihaknya memastikan produksi dan ketersediaan beras nasional tetap aman di tengah kondisi El Nino dan musim kemarau yang berlangsung lebih panjang. Pemerintah bahkan menambah alokasi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebanyak 1 juta ton untuk memperkuat pasokan ke pasar.  Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan kondisi produksi, tetapi juga menggunakan instrumen kebijakan untuk menjaga harga tetap terjangkau Kebijakan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah siap melakukan intervensi apabila dinamika pasar berpotensi membebani masyarakat. Bahkan, pemerintah menegaskan tidak boleh terjadi kekosongan penyaluran beras dengan harga terjangkau hingga akhir 2026.  Kebijakan stabilisasi ini menjadi semakin penting ketika diterapkan di daerah yang sedang menghadapi bencana. Gangguan terhadap transportasi, kerusakan infrastruktur, terbatasnya aktivitas ekonomi, dan meningkatnya kebutuhan masyarakat dapat menciptakan tekanan tambahan terhadap distribusi pangan. Oleh karena itu, pengawasan tidak cukup dilakukan pada tingkat nasional, tetapi perlu diteruskan hingga pasar daerah dan titik-titik distribusi yang menjadi tumpuan masyarakat.  Pengalaman penanganan gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi gambaran bagaimana pemerintah berupaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan penanganan tanggap darurat berjalan lancar. Distribusi bantuan logistik juga disebut tidak mengalami kendala berarti karena kebutuhan masyarakat dipantau secara berjenjang mulai dari tingkat RT, RW, desa hingga kecamatan dan kemudian dipenuhi melalui posko-posko logistik.  Suharyanto juga menyampaikan bahwa kebutuhan dasar seperti listrik, komunikasi, BBM, air bersih, jalur transportasi, kesehatan, dan pendidikan secara umum telah kembali fungsional. Bahkan, aktivitas masyarakat secara bertahap mulai pulih dan pasar-pasar kembali ramai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berorientasi pada penyelamatan masyarakat, tetapi juga diarahkan untuk menghidupkan kembali aktivitas sosial dan ekonomi di wilayah terdampak.  Dalam konteks tersebut, pasar memiliki peran strategis. Pasar bukan sekadar tempat transaksi antara pedagang dan konsumen, tetapi juga menjadi indikator bahwa kehidupan masyarakat mulai kembali normal. Ketika pasar kembali beroperasi, distribusi barang berjalan, dan masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok secara mudah, maka proses pemulihan ekonomi daerah juga ikut bergerak. Karena itu, menjaga agar pasar di daerah bencana tetap memiliki pasokan merupakan bagian dari strategi pemulihan yang tidak boleh diabaikan.  Pemerintah juga perlu memastikan adanya koordinasi antara kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, Bulog, pelaku distribusi, aparat keamanan, serta pengelola pasar. Pengawasan bersama dapat mencegah terjadinya penimbunan, permainan harga, maupun hambatan distribusi yang berpotensi memperberat kondisi masyarakat. Pada saat yang sama, informasi mengenai stok dan harga harus disampaikan secara terbuka sehingga masyarakat memperoleh kepastian dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat memicu kepanikan.  Ke depan, penguatan cadangan pangan daerah juga perlu menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana. Setiap wilayah dengan tingkat risiko bencana tinggi idealnya memiliki mekanisme cadangan dan jalur distribusi alternatif yang dapat segera diaktifkan ketika akses utama terganggu. Dengan demikian, penanganan pangan tidak bersifat reaktif, melainkan telah dipersiapkan sejak sebelum bencana terjadi.  Selain memastikan pasokan pangan tetap tersedia, pemerintah akan memperkuat sistem pemantauan harga hingga tingkat daerah agar setiap potensi kenaikan dapat segera diantisipasi. Langkah ini penting karena masyarakat di wilayah bencana memiliki kebutuhan yang lebih tinggi terhadap kepastian harga dan ketersediaan barang. Dengan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bulog, pelaku usaha, serta aparat terkait, distribusi dapat diarahkan secara cepat ke wilayah yang membutuhkan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya hadir ketika terjadi gangguan, tetapi juga aktif menjaga stabilitas pasar dan melindungi masyarakat dari dampak lanjutan bencana. Dengan demikian, kondisi darurat tidak berkembang menjadi persoalan baru berupa kelangkaan maupun lonjakan harga pangan.  Menjaga harga pangan tetap aman di tengah bencana merupakan bentuk nyata kehadiran negara. Kebijakan penambahan SPHP menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap keterjangkauan pangan, sementara pengawalan distribusi di daerah terdampak memperlihatkan bahwa pemulihan masyarakat dilakukan secara menyeluruh. Sinergi pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya selamat dari bencana, tetapi juga mampu segera bangkit, kembali beraktivitas, dan memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang wajar. Stabilitas pangan pada akhirnya bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan fondasi penting bagi ketahanan dan kesejahteraan masyarakat.  )* Pemerhati Kebijakan Publik 

Read More

Pemerintah Hadir Menjaga Harga Pangan dari Dampak Bencana Alam

Oleh: Rivka Mayangsari )* Pemerintah terus menunjukkan kesiapan dalam menjaga stabilitas pangan nasional, termasuk di wilayah yang menghadapi dampak bencana alam. Kondisi darurat akibat bencana dapat menimbulkan gangguan pada aktivitas ekonomi, terutama distribusi bahan pokok dari sentra produksi menuju pasar dan konsumen. Karena itu, pemantauan pasokan dan harga menjadi langkah penting agar masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang wajar.  Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan harga pangan di wilayah yang terdampak letusan Gunung Anak Krakatau tetap berada dalam kondisi stabil. Ia juga menegaskan bahwa pasokan bahan pokok di wilayah tersebut masih aman. Kepastian tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah terus memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya ketika aktivitas distribusi berpotensi menghadapi tekanan akibat kondisi bencana.  Ketersediaan bahan pokok menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga ketenangan masyarakat di tengah situasi darurat. Ketika pasokan tetap tersedia, potensi kelangkaan dapat ditekan dan masyarakat tidak perlu menghadapi kekhawatiran berlebihan mengenai kebutuhan sehari-hari. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan pun terus memastikan perkembangan harga dan pasokan dapat diketahui secara cepat.  Pemantauan dilakukan secara menyeluruh melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sistem tersebut mencakup kabupaten dan kota di seluruh Indonesia sehingga pemerintah memiliki instrumen untuk memantau perkembangan harga bahan pangan secara lebih luas. Data pemantauan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah antisipasi apabila muncul indikasi gangguan pasokan atau perubahan harga di suatu wilayah.  Budi menekankan bahwa Kementerian Perdagangan terus melakukan pemantauan harga di berbagai daerah, termasuk wilayah yang terkena bencana. Upaya tersebut ditujukan untuk memitigasi potensi hambatan distribusi dan gejolak harga yang dapat dipicu oleh kondisi bencana alam. Dengan pemantauan secara berkelanjutan, pemerintah dapat mengetahui perubahan kondisi pasar dan merespons persoalan yang muncul secara lebih cepat.  Langkah ini menunjukkan bahwa pengendalian harga pangan tidak dilakukan hanya ketika terjadi kenaikan harga. Pemerintah juga melakukan tindakan preventif dengan mengawasi rantai pasok dan kondisi pasar. Pendekatan tersebut penting karena gangguan distribusi yang tidak segera diantisipasi dapat memengaruhi ketersediaan barang sekaligus meningkatkan tekanan harga di tingkat konsumen.  Perhatian pemerintah juga mencakup sejumlah komoditas pangan yang memiliki peran penting dalam kebutuhan masyarakat, seperti telur dan daging ayam broiler. Kedua komoditas tersebut menjadi bagian dari bahan pangan yang perlu dijaga keseimbangannya karena memiliki keterkaitan langsung dengan konsumsi rumah tangga. Stabilitas harga pada komoditas tersebut dapat membantu menjaga daya beli masyarakat.  Namun, pemerintah tidak hanya berorientasi pada pengendalian harga di tingkat konsumen. Keseimbangan harga di tingkat produsen juga menjadi perhatian. Harga yang terlalu rendah dapat memberikan tekanan terhadap peternak dan produsen, sementara harga yang terlalu tinggi dapat membebani masyarakat. Karena itu, kebijakan pangan perlu mempertimbangkan kepentingan kedua sisi agar ekosistem produksi dan konsumsi dapat berjalan secara sehat.  Dalam konteks bencana alam, kesiapan pemerintah menjadi semakin penting. Bencana dapat menyebabkan pembatasan akses transportasi, perubahan jalur distribusi, hingga meningkatnya kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak. Situasi tersebut membutuhkan koordinasi dan pemantauan agar gangguan yang terjadi tidak berkembang menjadi persoalan pangan yang lebih luas.  Pemanfaatan SP2KP memberikan dukungan terhadap proses tersebut karena pemerintah memiliki mekanisme untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan harga dan kebutuhan pokok di berbagai daerah. Informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan respons yang sesuai berdasarkan kondisi lapangan, terutama ketika terdapat indikasi perubahan harga atau pasokan.  Kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas pangan juga memiliki arti penting bagi ketahanan ekonomi masyarakat. Pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus tetap tersedia dalam kondisi normal maupun ketika terjadi bencana. Kepastian pasokan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan stabilitas harga membantu mempertahankan daya beli rumah tangga.  Langkah yang dilakukan Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa pemerintah berupaya membangun sistem pengendalian pangan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga antisipatif. Pemantauan harga secara nasional, perhatian terhadap wilayah terdampak bencana, serta pengawasan keseimbangan harga produsen dan konsumen menjadi bagian dari upaya menjaga pasar tetap terkendali.  Dengan mekanisme pemantauan yang terus berjalan, pemerintah memiliki ruang untuk mengambil langkah lebih cepat ketika muncul potensi gangguan. Upaya tersebut sekaligus memperkuat koordinasi dalam menjaga distribusi bahan pokok agar tetap berlangsung dan mencegah bencana alam berkembang menjadi tekanan baru terhadap masyarakat melalui kelangkaan atau kenaikan harga pangan.  Pada akhirnya, stabilitas pangan merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam kehidupan masyarakat. Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kebutuhan dasar mereka tetap menjadi perhatian. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menunjukkan komitmen tersebut dengan memastikan pasokan tetap aman dan harga pangan tetap terkendali di wilayah terdampak.  Komitmen menjaga stabilitas pangan tersebut menjadi bukti bahwa kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian pemerintah dalam menghadapi berbagai situasi. Tidak hanya memastikan bahan pokok tersedia, pemerintah juga berupaya menjaga agar harga tetap wajar bagi konsumen tanpa mengabaikan keberlangsungan produsen. Kebijakan yang seimbang dan pemantauan yang konsisten menjadi fondasi penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.  *) Pemerhati ekonomi  

Read More

Survei Kepercayaan Publik Menguat, Pemerintahan Prabowo Dinilai di Jalur Tepat

Jakarta – Kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih menunjukkan persepsi positif. Temuan survei nasional Arus Survei Indonesia (ASI) bertajuk Evaluasi Kinerja & Program Prioritas Pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan sebanyak 61,4 persen masyarakat masih percaya terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Sementara itu, 57,6 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo. “Kalau kita melihat tingkat kepercayaan, angkanya…

Read More

Survei Catat Kepercayaan Publik terhadap Prabowo-Gibran Tembus 61,4 Persen

JAKARTA – Tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih berada pada level mayoritas. Temuan tersebut tercermin dalam survei nasional yang dilakukan Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI) terkait evaluasi kinerja dan program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran. Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia Ali Rif’an mengatakan sebanyak 61,4 persen responden menyatakan…

Read More

Survei Kepercayaan Publik kepada Prabowo: Rakyat Melihat Arah Pemerintah dengan Optimis

Oleh: Zulvan Maulana )*  Kepercayaan publik merupakan salah satu modal terpenting dalam menjalankan pemerintahan. Ketika sebuah pemerintahan memperoleh kepercayaan dari mayoritas masyarakat, ruang untuk menjalankan agenda pembangunan menjadi semakin kuat. Kepercayaan tidak hanya mencerminkan penilaian masyarakat terhadap kepemimpinan nasional, tetapi juga menunjukkan adanya harapan bahwa kebijakan yang dirancang pemerintah mampu membawa perubahan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.  Dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah survei terbaru menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik masih berada di atas 60 persen. Angka tersebut menjadi sinyal positif bahwa mayoritas masyarakat masih memberikan kepercayaan terhadap arah pemerintahan, sekaligus menjadi modal sosial yang penting untuk mempercepat pelaksanaan berbagai agenda pembangunan nasional.  Hasil survei Arus Survei Indonesia (ASI), misalnya, menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran mencapai 61,4 persen. Sementara itu, 35,9 persen responden menyatakan tidak percaya dan 2,7 persen tidak memberikan jawaban. Survei yang dilakukan pada 23-29 Juli 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi tersebut juga mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo sebesar 57,6 persen.  Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia Ali Rif’an menjelaskan bahwa tingkat kepercayaan tersebut masih berada pada kategori mayoritas. Hal ini penting karena kepercayaan memiliki dimensi yang berbeda dengan kepuasan. Kepercayaan berkaitan dengan keyakinan masyarakat terhadap pemerintah dan kepemimpinannya, sementara kepuasan lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman langsung masyarakat dalam merasakan dampak kebijakan.  Dengan demikian, angka kepercayaan di atas 60 persen dapat dibaca sebagai fondasi positif bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Di tengah besarnya tantangan pembangunan, pemerintah masih memiliki ruang sosial yang cukup kuat untuk menjalankan program-program prioritas dan melakukan berbagai pembenahan yang dibutuhkan masyarakat.  Dukungan tersebut juga terlihat pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Survei ASI mencatat 51,5 persen masyarakat mendukung keberlanjutan program tersebut, sementara 45,4 persen menyatakan tidak setuju dan 3,3 persen tidak menjawab. Komposisi ini memperlihatkan bahwa MBG telah memperoleh dukungan yang cukup besar sebagai salah satu program prioritas pemerintah.  MBG memiliki arti strategis karena kebijakan tersebut tidak sekadar berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan pangan bergizi. Program ini juga memiliki dimensi pembangunan sumber daya manusia, khususnya dalam mendukung tumbuh kembang anak dan meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa. Dalam jangka panjang, investasi terhadap gizi dan kesehatan anak merupakan bagian penting dari upaya membangun manusia Indonesia yang lebih produktif dan kompetitif.  Karena itu, dukungan masyarakat terhadap MBG perlu dipandang sebagai bagian dari optimisme terhadap agenda pembangunan pemerintah. Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan kualitas pelaksanaan program terus ditingkatkan agar manfaatnya semakin nyata dan dapat dirasakan secara merata, termasuk di wilayah yang memiliki tantangan geografis dan infrastruktur yang lebih kompleks.  Gambaran positif juga terlihat dalam survei Poltracking Indonesia yang dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden. Tingkat kepercayaan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran tercatat mencapai 63,2 persen, sedangkan tingkat kepuasan publik berada pada angka 55,1 persen.  Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda menilai tingkat kepercayaan di atas 60 persen merupakan modal sosial yang berharga bagi pemerintah untuk meningkatkan kinerja. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat dapat menjadi energi positif bagi pemerintahan untuk terus memperkuat kebijakan dan menjawab berbagai persoalan yang berkembang.  Tentu saja, kepercayaan publik tidak berarti pemerintah terbebas dari kritik. Sebaliknya, kritik, pengawasan, dan partisipasi masyarakat merupakan bagian penting dari demokrasi. Pemerintahan yang memperoleh kepercayaan justru memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memastikan setiap kebijakan dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.  Dalam kerangka tersebut, mekanisme checks and balances melalui parlemen juga tetap diperlukan. Kritik yang konstruktif dapat menjadi instrumen evaluasi untuk memastikan program pemerintah berjalan sesuai sasaran. Pemerintah dan masyarakat pada akhirnya memiliki kepentingan yang sama, yakni memastikan pembangunan menghasilkan manfaat nyata bagi kehidupan rakyat.  Peneliti Muda Digdaya Polling & Strategy Pangiutan Lubis atau Ipang juga menempatkan hasil survei sebagai gambaran mengenai persepsi masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Artinya, angka kepercayaan publik perlu dibaca sebagai bagian dari dinamika sosial dan politik yang terus berkembang.  Bagi Presiden Prabowo, tingkat kepercayaan publik di atas 60 persen merupakan sinyal bahwa mayoritas masyarakat masih menaruh harapan terhadap arah pemerintahan. Modal tersebut perlu dijaga melalui kerja nyata, konsistensi kebijakan, komunikasi publik yang terbuka, serta keberanian melakukan evaluasi ketika suatu program membutuhkan perbaikan.  Optimisme masyarakat pada akhirnya merupakan aset penting bagi keberlanjutan pembangunan nasional. Kepercayaan membuat pemerintah memiliki ruang yang lebih besar untuk menjalankan agenda strategis, sementara dukungan masyarakat dapat memperkuat semangat kolaborasi antara negara dan rakyat.  Kepercayaan publik bukan tujuan akhir pemerintahan, melainkan fondasi untuk menghasilkan kebijakan yang efektif. Jika modal sosial tersebut terus dirawat melalui kinerja, transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan pada kebutuhan rakyat, optimisme yang tercermin dalam berbagai survei dapat menjadi energi positif bagi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk mempercepat pembangunan dan menghadirkan perubahan yang semakin nyata bagi masyarakat Indonesia.  )* Konsultan Politik di Jawa Barat 

Read More

Survei, Sinyal Kuat Prabowo-Gibran Mendapat Legitimasi Publik

Oleh : Bagas Nurahman )*  Sejumlah hasil survei menunjukkan tingkat penerimaan publik yang cukup kuat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Tingkat kepuasan masyarakat menjadi salah satu indikator bahwa berbagai program pemerintah masih mendapatkan respons positif dari publik.  Kondisi tersebut sekaligus menjadi modal penting bagi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk melanjutkan berbagai agenda pembangunan nasional. Dukungan masyarakat dapat menjadi energi tambahan bagi pemerintah dalam menjalankan program prioritas, sekaligus menjadi pengingat agar kinerja terus ditingkatkan.  Salah satu gambaran penerimaan publik terlihat dari survei Media Survei Nasional atau Median. Survei tersebut mencatat 56,2 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Angka itu terdiri atas 15 persen responden yang sangat puas dan 41,2 persen yang cukup puas.  Survei Median dilakukan pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026 dengan cakupan 38 provinsi. Sementara itu, 36 persen responden menyatakan tidak puas dan 7,8 persen lainnya tidak memberikan jawaban atau menyatakan tidak tahu.  Direktur Eksekutif Median Rico Marbun menjelaskan bahwa tingkat kepuasan tersebut memperlihatkan adanya penilaian positif masyarakat terhadap kinerja pemerintah. Menurutnya, hasil survei juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk melihat program yang sudah mendapatkan apresiasi sekaligus mengetahui persoalan yang masih menjadi perhatian publik. Sejumlah program pemerintah yang menyentuh kebutuhan masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat kepuasan tersebut. Program Makan Bergizi Gratis atau MBG, misalnya, menjadi salah satu program yang disebut responden sebagai alasan mereka memberikan penilaian positif.  Selain MBG, pemberantasan korupsi, dukungan terhadap petani, serta bantuan bagi masyarakat miskin juga menjadi faktor yang disebut dalam survei. Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa kebijakan yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat berpotensi memperkuat kepercayaan publik.  Namun, hasil survei juga memperlihatkan bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah. Sebagian responden yang menyatakan tidak puas menyoroti persoalan korupsi dan kondisi ekonomi. Hal tersebut dapat menjadi masukan agar pemerintah tidak berhenti pada capaian yang sudah ada, tetapi terus melakukan pembenahan.  Legitimasi publik karena itu tidak hanya dapat dilihat dari tingginya angka kepuasan. Kepercayaan masyarakat perlu dipelihara melalui konsistensi kerja, keterbukaan terhadap evaluasi, serta kemampuan pemerintah memastikan program berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.  Temuan positif mengenai kinerja pemerintah juga terlihat dari survei Poltracking Indonesia. Dalam survei evaluasi kinerja pemerintah dan program prioritas Prabowo-Gibran pada 2026, tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintah juga berada pada level yang tinggi. Temuan tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan positif dalam penilaian masyarakat terhadap pemerintahan yang sedang berjalan.  Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR menempatkan evaluasi publik terhadap kinerja pemerintah sebagai bagian penting dalam membaca perkembangan pemerintahan. Hasil survei dapat menjadi gambaran mengenai sejauh mana program prioritas pemerintah diterima masyarakat dan bagaimana persepsi publik berkembang dari waktu ke waktu.  Kinerja pemerintah juga tidak dapat dilepaskan dari kemampuan menjaga stabilitas serta menjalankan program yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ketika kebijakan pemerintah mampu memberikan manfaat secara nyata, kepercayaan publik berpotensi semakin kuat.  Dalam konteks tersebut, hasil survei dapat menjadi sinyal positif bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, dukungan publik juga membawa tanggung jawab agar pemerintah semakin serius memastikan program berjalan efektif dan manfaatnya dapat dirasakan secara luas.  Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah menilai tingkat kepuasan publik merupakan salah satu modal politik penting bagi pemerintah. Menurutnya, dukungan masyarakat dapat memperkuat ruang gerak pemerintah dalam menjalankan agenda kebijakan, tetapi tetap harus diikuti dengan kinerja yang konsisten.  Dedi juga melihat bahwa pemerintah perlu menjaga komunikasi publik agar masyarakat memahami arah kebijakan yang sedang dijalankan. Informasi yang jelas mengenai program, capaian, maupun tantangan pemerintah dapat membantu menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus mengurangi kesenjangan persepsi.  Komunikasi tersebut menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial. Pemerintah perlu memastikan informasi mengenai kebijakan publik dapat diterima masyarakat secara mudah dan akurat. Di sisi lain, masyarakat juga perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum mengambil kesimpulan.  Legitimasi publik yang kuat pada akhirnya tidak berarti pemerintah terbebas dari kritik. Dalam demokrasi, kritik tetap dibutuhkan untuk memastikan kekuasaan berjalan dengan pengawasan masyarakat. Kritik yang disampaikan berdasarkan data dan kepentingan publik justru dapat membantu pemerintah memperbaiki kebijakan.  Bagi pemerintahan Prabowo-Gibran, hasil survei dapat menjadi momentum untuk memperkuat program prioritas. Sektor ekonomi, pangan, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, serta penciptaan lapangan kerja membutuhkan kesinambungan kebijakan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.  Pemerintah juga perlu memastikan bahwa kepuasan masyarakat tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Pemerataan manfaat pembangunan menjadi penting agar tingkat kepercayaan publik dapat tumbuh secara lebih luas di berbagai lapisan masyarakat. Dengan demikian, legitimasi publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran tidak hanya dibangun melalui hasil pemilihan umum, tetapi  Kepuasan masyarakat menjadi salah satu cermin penting dari proses tersebut.  )* Penulis adalah Mahasiswa Bogor tinggal di Jakarta 

Read More
Back To Top