Dua Tahun Prabowo–Gibran, Apresiasi Penguatan Pertahanan,Selamat HUT ke-81 TNI

Oleh: Indah Prameswari )*  Memasuki dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dan momentum Hari Ulang Tahun ke-81 TNI, penguatan pertahanan menjadi salah satu agenda yang layak mendapat apresiasi seiring kebutuhan menjaga kedaulatan di tengah perubahan lingkungan strategis. HUT ke-81 TNI menjadi momentum untuk melihat bahwa pertahanan negara tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel dan kecanggihan alat utama sistem persenjataan, tetapi juga oleh kemampuan negara membangun sistem pertahanan yang mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.  Indonesia memiliki karakter geografis yang luas dengan ribuan pulau, wilayah perbatasan yang panjang, serta kekayaan alam yang membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Karena itu, pembangunan pertahanan perlu diarahkan tidak hanya untuk menghadapi ancaman militer, tetapi juga memastikan kehadiran negara dapat dirasakan masyarakat ketika menghadapi bencana, keadaan darurat, dan berbagai tantangan keamanan lainnya.  Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan penguatan TNI berkaitan erat dengan luas wilayah dan kebutuhan menghadirkan sistem pertahanan yang lebih merata. Ia menyoroti jumlah kabupaten yang mencapai 514 wilayah dan menilai keterbatasan jumlah satuan dibandingkan luas wilayah membuat kehadiran unsur pertahanan belum sepenuhnya merata.  Menurut Prabowo, penguatan kehadiran TNI juga berkaitan dengan perlindungan kekayaan alam Indonesia. Ia mengaitkan keterbatasan pengawasan di sejumlah wilayah dengan munculnya praktik seperti pembalakan liar, pertambangan ilegal, dan pemanfaatan kawasan yang tidak sesuai ketentuan.  Momentum HUT ke-81 TNI turut memperlihatkan arah tersebut melalui rencana penguatan organisasi dan satuan TNI. Sebelumnya, TNI menyampaikan rencana peresmian satuan baru pada puncak peringatan, termasuk lima komando daerah militer baru, meski perkembangan terakhir menyebut perayaan puncak dipindahkan ke Mabes TNI Cilangkap dan digelar lebih sederhana karena banyak prajurit tengah bertugas dalam penanganan bencana.  Perubahan format peringatan tersebut justru memperlihatkan sisi lain dari fungsi pertahanan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kehadiran prajurit dalam operasi penanganan bencana menjadi pengingat bahwa kekuatan TNI juga memiliki fungsi kemanusiaan ketika masyarakat menghadapi keadaan darurat.  Penguatan pertahanan juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kerja sama internasional. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada September 2026, pembahasan mengenai peningkatan kerja sama perdagangan dan industri pertahanan menjadi salah satu agenda yang dibicarakan kedua pemimpin.  Direktorat Komunikasi Republik Turki menyampaikan bahwa Erdogan menegaskan komitmen mengambil langkah nyata untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia-Turki, termasuk pada sektor industri pertahanan. Kerja sama semacam ini memperlihatkan bahwa pembangunan kemampuan pertahanan dapat berjalan bersamaan dengan penguatan hubungan strategis dan pengembangan industri pertahanan antarnegara.  Bagi Indonesia, kerja sama industri pertahanan memiliki arti lebih luas daripada pengadaan peralatan. Transfer pengetahuan, penguatan kemampuan industri nasional, pengembangan teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting agar modernisasi pertahanan tidak berhenti pada pembelian alutsista, tetapi ikut membangun kemampuan nasional.  Kebutuhan tersebut semakin relevan dengan penetapan APBN 2027 sebesar Rp4.106,26 triliun. Kementerian Pertahanan memperoleh alokasi sekitar Rp189 triliun, termasuk salah satu pos Kementerian/Lembaga dengan anggaran terbesar dalam APBN 2027.  Besarnya anggaran tentu perlu berjalan bersama perencanaan yang terukur dan akuntabilitas penggunaan anggaran. Pertahanan merupakan investasi jangka panjang sehingga setiap rupiah yang dialokasikan perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan nyata, baik melalui modernisasi alutsista, kesiapan prajurit, penguatan industri pertahanan maupun pembangunan sistem pertahanan yang sesuai kebutuhan geografis Indonesia.  Untuk itu. dalam konteks penguatan pertahanan maritim, kehadiran KRI Sriwijaya-100 juga menunjukkan pentingnya membangun kekuatan yang mampu menjawab karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan bahwa kehadiran kapal tersebut memiliki arti strategis bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut luas dan posisi geografis yang penting.  Agus menilai Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh untuk menghadapi tantangan di wilayah perairan nasional. Keberadaan KRI Sriwijaya-100 diharapkan dapat memperkuat kemampuan TNI Angkatan Laut, memperluas jangkauan operasi, serta meningkatkan kemampuan operasi gabungan dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.  Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dan HUT ke-81 TNI karena itu dapat menjadi momentum untuk melihat pertahanan sebagai sistem yang terus berkembang. Tantangannya bukan hanya menambah kekuatan, tetapi memastikan setiap peningkatan kapasitas benar-benar menjawab kebutuhan wilayah, perkembangan teknologi, perubahan ancaman, serta keselamatan masyarakat.  Kekuatan pertahanan juga membutuhkan hubungan yang sehat antara TNI dan rakyat. Tema HUT ke-81 TNI, “TNI Kuat Bersama Rakyat Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”, menempatkan kedekatan dengan masyarakat sebagai bagian dari pesan peringatan tahun ini.  Pada titik ini, modernisasi pertahanan dapat dipahami sebagai proses membangun ketahanan nasional yang lebih luas. TNI membutuhkan alutsista yang memadai, organisasi yang mampu menjangkau wilayah Indonesia, prajurit yang profesional, serta kemampuan menjalankan tugas pertahanan sekaligus membantu masyarakat dalam situasi kemanusiaan secara kuat, adaptif, tangguh, dan berkelanjutan. Selamat HUT ke-81 TNI.  )*penulis merupakan Pemerhati Isu Keamanan 

Read More

Mengapresiasi Peran Yonif TP dalam Pertahanan dan Pembangunan Ekonomi Daerah

Oleh: Syahrul Fahrozi )*  Langkah pemerintah dalam meluncurkan serta mereorganisasi pilar pertahanan melalui Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) merupakan terobosan strategis yang amat penting dan patut diapresiasi. Kebijakan visioner ini menegaskan komitmen nyata dalam menghadirkan instrumen pertahanan nasional yang tidak hanya berfokus pada fungsi kedaulatan militer semata, melainkan juga bertindak sebagai motor penggerak utama pembangunan ekonomi di tingkat daerah. Konsep pertahanan negara yang ideal dan komprehensif sejatinya tidak pernah berdiri terisolasi dari kondisi sosial-ekonomi masyarakat di sekitarnya. Melalui pengembangan kekuatan pertahanan ini, keberadaan benteng keamanan di berbagai penjuru nusantara diintegrasikan secara presisi guna menjawab dua tantangan utama bangsa secara simultan, yaitu memperkuat ketahanan nasional sekaligus mengakselerasi peningkatan kesejahteraan rakyat.  Inovasi kebijakan pada struktur militer ini memperlihatkan keunggulan, di mana setiap prajurit dibekali kualifikasi tempur infanteri yang handal sekaligus kapabilitas teritorial pembangunan yang adaptif. Selain wajib menguasai kemampuan taktis mendasar seperti menembak, beladiri, dan patroli wilayah, para prajurit disiapkan secara terstruktur dalam kompi-kompi khusus yang mencakup bidang produksi pertanian, peternakan, perikanan, konstruksi zeni, hingga pelayanan kesehatan masyarakat. Pembagian fungsi yang spesifik ini memungkinkan pangkalan militer berkontribusi langsung pada perbaikan sarana dan fasilitas umum masyarakat, seperti pembenahan akses jalan dan jembatan, pengolahan lahan-lahan kritis menjadi lahan produktif, serta penyediaan sarana pelayanan kesehatan warga secara berkala. Skema ini membuktikan bahwa pembaharuan Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta dapat diimplementasikan secara konkret dan memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.  Dari perspektif pertumbuhan ekonomi daerah, penempatan satuan teritorial berkapasitas besar di berbagai wilayah memberikan dampak pengganda yang sangat signifikan terhadap roda perekonomian lokal. Kehadiran ribuan prajurit beserta keluarga yang bermukim di sekitar pangkalan secara otomatis menumbuhkan ceruk pasar baru yang sangat potensial. Permintaan akan pasokan kebutuhan pokok harian, komoditas pangan lokal, hingga ketersediaan jasa pendidikan dan sarana perumahan terbukti menstimulasi daya beli warga secara luas. Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta pedagang di pasar-pasar tradisional mendapatkan kepastian keterserapan produk yang berkelanjutan. Penataan kembali fokus pangkalan militer ini secara efektif dan efisien berhasil mengubah kawasan di sekitarnya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu mengurangi tingkat ketimpangan pembangunan antarwilayah.  Keberhasilan dalam mengimplementasikan agenda strategis pemerintah ini juga sangat bertumpu pada kuatnya sinergi antara instrumen militer, pemerintah daerah, dan segenap komponen masyarakat setempat. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa keberadaan Yonif TP ditujukan untuk senantiasa menyatu dengan rakyat, menghadirkan rasa aman secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi pembangunan wilayah. Penempatan pangkalan militer di area-area strategis, seperti kawasan pesisir maupun wilayah batas terluar, ditargetkan untuk melindungi kekayaan sumber daya alam lokal sekaligus mendukung stabilitas kawasan ekonomi dan objek pariwisata daerah. Selain itu, pengalokasian patroli rutin berkala dan pengaktifan kembali Sistem Keamanan Lingkungan bersama warga menjadi langkah nyata dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi masuknya investasi serta keberlangsungan usaha warga.  Dukungan penuh yang ditunjukkan oleh jajaran pemerintah daerah turut mempercepat pencapaian target penyiapan satuan teritorial ini secara optimal. Bupati Majalengka Eman Suherman menyampaikan bahwa keberadaan Yonif TP di wilayahnya memberikan dampak positif yang nyata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta memberdayakan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah setempat. Apresiasi senada juga diutarakan oleh Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, yang menyatakan kesiapan penuh pemerintah daerah untuk menyinergikan berbagai program pembangunan daerah, khususnya pada sektor pertanian, peternakan, dan pelayanan kesehatan masyarakat, dengan fungsi teritorial militer. Kolaborasi lintas sektor yang terstruktur ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi yang terarah sanggup mempercepat pencapaian target-target pembangunan nasional secara inklusif.  Dampak positif dari integrasi fungsi pertahanan dan pembangunan ini juga menjangkau hingga ke wilayah Indonesia bagian timur. Kasdam XV/Pattimura Brigjen TNI Wawan Pujiatmoko menjelaskan bahwa penempatan satuan berkapasitas lebih dari seribu personel di wilayah Maluku secara langsung menggerakkan roda perekonomian masyarakat lokal. Kebutuhan harian para prajurit dan keluarganya terbukti mendorong peningkatan daya beli, memperbaiki kualitas serta aksesibilitas layanan pendidikan, serta memperkuat program ketahanan pangan daerah melalui optimalisasi lahan-lahan pertanian yang dikelola bersama. Pendekatan terpadu ini menciptakan kemandirian pangan di tingkat lokal sekaligus mempererat hubungan kemanunggalan antara tentara dan rakyat dalam bingkai pembangunan wilayah secara berkelanjutan.  Kehadiran dan penyebaran Yonif TP di berbagai daerah membuktikan secara nyata bahwa stabilitas keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi daerah merupakan dua pilar utama yang saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain. Dengan terus menjaga keharmonisan sinergi antara prajurit TNI, pemerintah daerah, dan seluruh lapisan masyarakat, agenda strategis ini akan menjadi fondasi yang kokoh dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera di masa depan.  *) Pengamat Isu Strategis 

Read More

Mengapresiasi Peran TNI, dari Evakuasi hingga Pemulihan Bencana

Oleh : Rahmat Prawira )*  Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga kebakaran hutan dan lahan. Kondisi geografis tersebut menuntut kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa agar setiap bencana dapat direspons secara cepat dan terukur. Dalam situasi seperti itu, kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi bagian penting dari upaya negara melindungi masyarakat sekaligus mempercepat proses penanganan keadaan darurat.  Kontribusi TNI dalam penanggulangan bencana patut mendapatkan apresiasi karena keterlibatannya tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Prajurit TNI turut menjalankan berbagai tugas mulai dari evakuasi masyarakat, pencarian korban, pengamanan wilayah terdampak, pembukaan akses yang terputus, distribusi bantuan, hingga mendukung proses pemulihan. Kemampuan mobilisasi personel dan peralatan dalam waktu relatif cepat menjadi salah satu kekuatan yang dapat mendukung penanganan bencana di berbagai daerah.  Salah satu gambaran tersebut terlihat dalam penanganan banjir bandang di Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Ratusan personel TNI dikerahkan sejak malam setelah bencana terjadi untuk membantu masyarakat terdampak. Unsur Kodim 0309/Solok dan Batalyon TP 951/PM menjalankan tugas evakuasi, pencarian warga yang belum ditemukan, serta pembukaan kembali akses transportasi yang tertutup material banjir.  Komandan Korem 032 Wirabraja Brigjen TNI Aji Mimbarno menjelaskan bahwa pengerahan personel dilakukan secara masif dan diarahkan pada kebutuhan paling mendesak di lapangan. Selain membantu evakuasi dan pencarian korban, personel TNI melakukan pembersihan material banjir berupa batu, pasir, dan lumpur yang memutus akses utama Padang-Solok. Dukungan alat berat juga dikerahkan ke kawasan permukiman yang mengalami kerusakan parah.  Langkah tersebut menunjukkan bahwa kontribusi TNI dalam penanggulangan bencana memiliki cakupan yang luas. Membuka kembali jalan yang terputus, misalnya, bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan bagian dari upaya mempercepat masuknya bantuan, memudahkan mobilitas tim penyelamat, serta membantu masyarakat kembali terhubung dengan wilayah lain.  Peran serupa juga terlihat dalam penanganan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Ketika gempa berkekuatan 7,0 magnitudo mengguncang kawasan sekitar Maumere dan berdampak pada Pelabuhan L. Say, personel TNI Angkatan Laut segera bergerak melakukan pemantauan, pengamanan, dan penanganan darurat. Kehadiran personel menjadi penting untuk memastikan kawasan pelabuhan tetap aman sekaligus mendukung proses evakuasi masyarakat.  Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Yoyok Ary Nugroho A.S. menjelaskan bahwa personel TNI AL berkolaborasi dengan PT Pelindo dalam menyisir area pelabuhan, mengamankan objek vital, membantu evakuasi, serta memastikan jalur logistik maritim tetap terkendali. Pemantauan juga dilakukan secara berkelanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan dan menjaga keselamatan masyarakat.  Kontribusi TNI semakin terlihat dalam menghadapi bencana yang bersifat berulang seperti kebakaran hutan dan lahan. Penanganan karhutla tidak hanya dilakukan melalui operasi pemadaman, tetapi juga dengan pendekatan pencegahan. Sebanyak 1.488 personel diterjunkan sebagai penyuluh lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla serta pentingnya mencegah kebakaran yang disebabkan kesengajaan maupun kelalaian.  TNI juga mendukung kesiapan infrastruktur pemadaman melalui pembangunan 316 titik sumber air berupa sumur bor di wilayah rawan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan. Penyediaan sumber air tersebut dapat mendukung efektivitas pemadaman, terutama di lokasi yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air alami.  Sementara itu, kemampuan TNI Angkatan Udara dimanfaatkan dalam penanganan karhutla melalui operasi udara. Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana menjelaskan bahwa pengerahan kemampuan TNI AU merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah dalam menangani karhutla. Patroli udara dilakukan untuk menemukan titik api, kemudian ditindaklanjuti dengan pemadaman menggunakan metode water bombing.  Pelaksanaan berbagai operasi tersebut juga memperlihatkan pentingnya sinergi. TNI tidak bekerja sendiri, melainkan berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, BMKG, pemerintah daerah, Forkopimda, serta instansi terkait lainnya. Pola kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting agar sumber daya yang tersedia dapat digunakan secara efektif dan penanganan bencana tidak berjalan secara sektoral.  Apresiasi terhadap kontribusi TNI dalam penanggulangan bencana pada akhirnya bukan sekadar penghargaan terhadap pengerahan personel. Lebih dari itu, kontribusi tersebut menunjukkan hadirnya kapasitas negara ketika masyarakat menghadapi situasi sulit. Dari evakuasi korban, pencarian warga, pembukaan akses, pengamanan objek vital, hingga pemadaman karhutla dan edukasi pencegahan, TNI menjalankan peran yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.  Penguatan sinergi antara TNI, pemerintah, lembaga kebencanaan, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana. Dengan kesiapsiagaan, koordinasi, dan dukungan sumber daya yang semakin baik, respons terhadap bencana dapat dilakukan secara lebih cepat dan terukur. Dalam kerangka tersebut, peran dan kontribusi TNI menjadi salah satu elemen penting yang mendukung upaya pemerintah memastikan keselamatan masyarakat serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.  )* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik 

Read More

HUT ke-81 TNI, Mengapresiasi Kekuatan Pertahanan yang Tumbuh Bersama Rakyat

Oleh: Javas Babad Alaska )* Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia pada 5 Oktober 2026 menjadi momentum untuk mengapresiasi perjalanan panjang institusi pertahanan Indonesia sekaligus melihat tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang. Tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” memiliki makna strategis karena menghubungkan kekuatan pertahanan dengan sumber legitimasi dan daya tahannya, yakni rakyat. Kekuatan TNI pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh alat utama sistem persenjataan, tetapi juga profesionalisme prajurit, kemampuan beradaptasi, dan kepercayaan masyarakat.  Menariknya, peringatan HUT ke-81 TNI tahun ini direncanakan berlangsung sederhana. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menjelaskan bahwa upacara puncak di Mabes TNI dilaksanakan secara terbatas karena banyak prajurit masih bertugas membantu masyarakat di berbagai daerah bencana. Personel TNI masih diterjunkan antara lain di Kalimantan, Sumatra, Nusa Tenggara Timur, dan Aceh untuk mendukung penanganan bencana serta kebakaran hutan dan lahan.  Pilihan tersebut memiliki pesan tersendiri. Peringatan hari jadi sebuah institusi pertahanan tidak harus selalu diukur dari besarnya seremoni. Ketika sebagian prajurit justru berada di lokasi bencana, membantu evakuasi, pemadaman, distribusi bantuan, dan berbagai kebutuhan masyarakat, pengabdian tersebut menjadi representasi konkret dari tema “TNI Kuat Bersama Rakyat”. Rangkaian HUT sebelumnya juga telah menghadirkan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, mulai dari pameran alutsista, olahraga, festival hingga bakti kesehatan.  Memasuki usia 81 tahun, TNI pada saat yang sama sedang bergerak menuju tonggak yang lebih besar. Kepala Sub-Dinas Penerangan Khusus Dinas Penerangan Angkatan Darat Kolonel Inf Muchlis Gasim memandang bahwa terdapat waktu 19 tahun menuju satu abad TNI pada 2045. Menurutnya, periode tersebut perlu digunakan untuk membangun kekuatan yang bukan hanya modern, tetapi juga adaptif menghadapi perubahan karakter ancaman.  Muchlis menilai modernisasi tidak berhenti pada kepemilikan pesawat tempur, kapal perang, tank, rudal, maupun radar. Kekuatan yang sesungguhnya juga ditentukan manusia yang mengoperasikan dan merawatnya, doktrin, data, jaringan, latihan, serta kemampuan ketiga matra untuk bekerja secara terintegrasi. Dalam perspektif tersebut, interoperabilitas TNI AD, TNI AL, dan TNI AU menjadi bagian penting untuk mengubah kepemilikan alutsista menjadi kemampuan pertahanan yang nyata.  Pandangan itu relevan dengan perkembangan lingkungan strategis yang semakin dinamis. Ancaman dapat berubah mengikuti perkembangan teknologi, geopolitik, perang siber, sistem nirawak, dan bentuk konflik lainnya. Karena itu, TNI membutuhkan kemampuan untuk terus belajar, menguji asumsi, dan menyesuaikan strategi tanpa kehilangan orientasi utama menjaga kedaulatan negara. Muchlis juga menempatkan makna “bersama rakyat” dalam masyarakat yang semakin urban dan digital sebagai kedekatan yang tetap harus berjalan beriringan dengan profesionalisme dan kejelasan peran.  Mantan Panglima TNI Laksamana TNI (Purn.) Yudo Margono turut menekankan pentingnya kapasitas adaptasi tersebut. Menurut Yudo, seorang komandan perlu berani mengambil inisiatif, melakukan inovasi dan improvisasi ketika menghadapi keterbatasan. Namun, setiap keputusan tetap harus disertai tanggung jawab. Ia juga mengingatkan prajurit agar tetap berpegang pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit ketika menghadapi situasi global yang tidak menentu.  Penekanan tersebut penting karena profesionalisme militer tidak hanya dibangun melalui kecanggihan persenjataan. Kualitas kepemimpinan, integritas, disiplin, kemampuan mengambil keputusan, dan pertanggungjawaban merupakan unsur yang menentukan kualitas sebuah angkatan bersenjata. Modernisasi pertahanan karenanya perlu berjalan bersama modernisasi sumber daya manusia dan budaya organisasi.  Kedekatan dengan rakyat juga terlihat dalam berbagai operasi kemanusiaan. Pengamat Pertahanan, Sosial dan Politik Apep Agustiawan menilai keterlibatan TNI dalam penanganan karhutla, bencana, dan misi kemanusiaan menunjukkan kesiapsiagaan serta koordinasi yang dapat membantu mempercepat penanganan di wilayah terdampak. Menurutnya, kegiatan tersebut juga menggambarkan pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang dalam membantu pemerintah dan masyarakat.  Respons terhadap aktivitas tersebut juga terlihat di ruang digital dimana beberapa waktu lalu, pada 9 September 2026, tagar yang membawa narasi kedekatan TNI dengan masyarakat sempat masuk jajaran trending topic di X dan berkembang di platform lainnya. Fenomena itu tentu tidak dapat sendirinya menjadi ukuran menyeluruh mengenai kepercayaan publik, tetapi memperlihatkan adanya perhatian masyarakat terhadap aktivitas kemanusiaan prajurit di lapangan.  Momentum HUT ke-81 TNI karena layak ditempatkan lebih jauh daripada sekadar perayaan institusional. Usia 81 tahun menjadi kesempatan untuk mengapresiasi pengabdian sekaligus memperkuat profesionalisme, interoperabilitas, inovasi, akuntabilitas, dan kesiapan menghadapi perubahan ancaman.  “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” mengandung dua pesan yang saling melengkapi. Indonesia membutuhkan TNI yang kuat untuk menjaga kedaulatannya, tetapi kekuatan tersebut harus terus tumbuh bersama profesionalisme dan kepercayaan rakyat. Menjelang satu abad TNI pada 2045, modernisasi kekuatan dan kedekatan dengan masyarakat perlu terus berjalan beriringan agar TNI tetap relevan, adaptif, dan siap menjaga Indonesia dalam setiap perubahan zaman.  *) Akademisi dan Pemerhati Pertahanan 

Read More

Dari Rafale hingga Kapal Induk, Mengapresiasi Modernisasi Pertahanan Era Presiden Prabowo

Oleh: Giana Sulistya )*  Modernisasi pertahanan Indonesia semakin memperlihatkan hasil pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Penerimaan kendaraan tempur amfibi AAV M-35, kedatangan pesawat tempur Rafale, hingga bergabungnya kapal induk pertama Republik Indonesia menjadi perkembangan penting dalam penguatan TNI. Pada saat yang sama, pembangunan kapal selam Scorpène di dalam negeri membuka peluang memperkuat kemampuan pertahanan sekaligus penguasaan teknologi nasional.  Rangkaian tersebut patut diapresiasi sebagai bagian dari kesinambungan kebijakan pertahanan. Sejumlah pengadaan yang dimulai ketika Prabowo menjabat Menteri Pertahanan kini memasuki tahap penerimaan dan pengoperasian. Sementara itu, pembangunan alutsista bersama mitra internasional memberi kesempatan bagi industri Indonesia untuk meningkatkan kemampuan produksi, pemeliharaan, dan pengembangan sumber daya manusia.  Salah satu perkembangan terbaru berlangsung di Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026). Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyerahkan 12 kendaraan tempur amfibi AAV M-35 kepada jajaran TNI. Kendaraan varian AAV-7A1 RAM/RS asal Amerika Serikat tersebut memperkuat kemampuan Korps Marinir bergerak dari laut menuju pantai dan melanjutkan operasi di daratan.  Bagi negara kepulauan, kemampuan tersebut memiliki arti strategis. Mobilitas pasukan dari kapal menuju daratan merupakan bagian penting dalam operasi amfibi. Kehadiran kendaraan yang dapat beroperasi di kedua medan itu memperluas kemampuan Marinir menjalankan tugas pertahanan wilayah.  Penguatan maritim juga ditandai oleh peresmian KRI Sriwijaya-100 sebagai kapal induk pertama Republik Indonesia. Kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi dan berdinas di Angkatan Laut Italia itu resmi masuk jajaran TNI AL pada 24 September 2026. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto memimpin peresmiannya di Tanjung Priok, Jakarta Utara.  Kehadiran kapal induk pertama merupakan tonggak penting dalam perjalanan pertahanan Indonesia. Menurut penjelasan Panglima TNI yang dipublikasikan Kementerian Pertahanan, KRI Sriwijaya-100 dapat menjalankan peran sebagai pusat komando operasi laut, sarana diplomasi pertahanan, serta pendukung bantuan kemanusiaan. Dengan demikian, pemanfaatannya memiliki cakupan yang luas dalam mendukung kepentingan nasional.  Nilai strategisnya perlu diwujudkan melalui kesiapan awak, pemeliharaan, dukungan logistik, dan latihan bersama unsur armada lainnya. Bagi Indonesia yang wilayahnya tersebar di ribuan pulau, kemampuan mengoordinasikan operasi dari laut dapat menjadi modal penting, termasuk ketika negara harus menjangkau daerah terdampak bencana.  Di bawah permukaan laut, penguatan pertahanan berjalan melalui program dua kapal selam Scorpène Evolved yang dibangun oleh PT PAL Indonesia bersama Naval Group dari Prancis. Program tersebut mencakup pembangunan di galangan Indonesia dan alih teknologi. Konfigurasinya menggunakan baterai litium-ion sebagai bagian dari sistem energi kapal selam.  Pembangunan fisik kapal selam pertama telah dimulai melalui pemotongan baja perdana di PT PAL, Surabaya, pada 7 Agustus 2026. Tahap ini menandai kemajuan pelaksanaan program, sekaligus menegaskan bahwa Scorpène masih berada dalam proses pembangunan sebelum nantinya memperkuat armada TNI AL.  Di sinilah program Scorpène memiliki nilai lebih bagi Indonesia. Modernisasi pertahanan dapat berjalan bersama peningkatan kemampuan industri nasional. Keterlibatan tenaga ahli Indonesia dalam pembangunan kapal selam memberi ruang untuk memperdalam keterampilan teknik, memahami sistem yang kompleks, dan memperkuat kemampuan pemeliharaan jangka panjang.  Alih teknologi tentu membutuhkan proses yang berkelanjutan. Karena itu, kerja sama tersebut patut diapresiasi sebagai kesempatan membangun kompetensi nasional. Semakin kuat kemampuan industri dalam negeri mendukung kebutuhan TNI, semakin besar pula ruang Indonesia untuk menjaga kesiapan pertahanannya.  Pada matra udara, kesinambungan kebijakan terlihat melalui pengadaan 42 pesawat tempur Rafale buatan Dassault Aviation. Pengadaan itu terbagi dalam tiga tahap, yakni enam pesawat, kemudian masing-masing 18 pesawat. Tahap-tahap tersebut efektif pada September 2022, Agustus 2023, dan Januari 2024, ketika Prabowo masih menjabat Menteri Pertahanan.  Hingga September 2026, TNI AU telah menerima enam Rafale. Tiga pesawat pertama tiba pada awal tahun, disusul tiga berikutnya pada Mei 2026. Pesawat tersebut memperkuat Skadron Udara 12 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Tedi Rizalihadi menyatakan tambahan 18 pesawat akan datang mulai 2027 secara bertahap, dengan pengiriman diperkirakan berlanjut hingga 2029.  Kedatangan Rafale memperlihatkan bagaimana keputusan pengadaan jangka panjang mulai menghasilkan penguatan kemampuan TNI. Tedi juga menjelaskan bahwa fasilitas pengoperasian dan perawatan telah disiapkan. Dukungan tersebut penting karena pesawat tempur memerlukan pilot, teknisi, persenjataan, dan sistem pemeliharaan yang bekerja sebagai satu kesatuan.  AAV M-35, KRI Sriwijaya-100, Scorpène, dan Rafale mempunyai fungsi serta tahap kesiapan yang berbeda. Namun, seluruhnya memperlihatkan arah pembangunan pertahanan yang semakin luas: penguatan operasi amfibi, kemampuan armada laut, pembangunan kekuatan bawah laut, dan pertahanan udara.  Tantangan berikutnya ialah menghubungkan kemampuan tersebut melalui doktrin, latihan, komunikasi, dan dukungan logistik yang terintegrasi. Kekuatan setiap matra akan memberi hasil lebih besar ketika dapat digunakan dalam operasi gabungan. Karena itu, peningkatan profesionalisme prajurit dan kemampuan pemeliharaan perlu terus berjalan bersama penerimaan alutsista.  Apresiasi terhadap modernisasi pertahanan di era Presiden Prabowo memiliki dasar pada kesinambungan program dan kemajuan pelaksanaannya. Kehadiran kapal induk pertama, penerimaan Rafale dan AAV M-35, serta pembangunan Scorpène menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan pertahanan Indonesia sebagai negara kepulauan.  Penguatan tersebut merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah. Dengan kesiapan personel, dukungan industri nasional, serta integrasi antarmatra, modernisasi dapat memberi manfaat yang semakin nyata bagi pertahanan negara.   )* penulis merupakan pengamat keamanan negara 

Read More

HUT TNI ke-81 : Pertahanan Makin Kuat di Era 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Jakarta — Indonesia memasuki babak baru dalam penguatan pertahanan maritim dengan bergabungnya KRI Sriwijaya-100 sebagai kapal induk pertama di jajaran TNI Angkatan Laut. Kehadiran kapal yang sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi tersebut tidak hanya menambah kemampuan pertahanan laut Indonesia, tetapi juga dipersiapkan untuk mendukung penanganan bencana dan berbagai misi kemanusiaan. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom)…

Read More

Selain Pertahanan, TNI Berkontribusi Kawal dan Sukseskan Berbagai Program Pembangunan Pemerintah

Jakarta – TNI tidak hanya menjalankan tugas utama dalam menjaga pertahanan dan kedaulatan negara, tetapi juga berkontribusi mendukung program pembangunan pemerintah. Dukungan tersebut terlihat melalui pengawalan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah. Di Jawa Tengah, Kodam IV/Diponegoro terlibat dalam pemantauan dan evaluasi pembangunan…

Read More

HUT ke-81, TNI Teguhkan Komitmen Menjaga Kedaulatan Negara

Jakarta – Memasuki usia ke-81, Tentara Nasional Indonesia (TNI) menegaskan konsistensinya dalam menjaga kedaulatan sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat. Momentum HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026 mengambil tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, menjadi penanda bahwa kekuatan pertahanan tidak hanya diukur dari kemampuan tempur, tetapi juga dari kesiapan prajurit menghadapi…

Read More

Presiden Prabowo Terus Perkuat Pertahanan RI, Pesawat Tempur Rafale Jadi Kekuatan Baru

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat pertahanan Indonesia melalui modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Pesawat tempur Rafale yang datang secara bertahap akan menjadi kekuatan baru TNI AU untuk menjaga kedaulatan wilayah udara nasional. Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya Tedi Rizalihadi memastikan penambahan Rafale akan berlangsung bertahap. Rangkaian kedatangan pesawat tempur itu…

Read More

Dari Karhutla hingga Bencana Alam, TNI Perkuat Pengabdian untuk Masyarakat

JAKARTA — Peran TNI dalam penanggulangan bencana terus diperkuat melalui pengerahan personel, peralatan, serta koordinasi dengan lembaga terkait. Selain menjalankan tugas pertahanan, prajurit TNI turut berada di garis depan membantu masyarakat yang terdampak bencana, mulai dari kebakaran hutan dan lahan hingga bencana alam di berbagai daerah. “Puncak HUT TNI akan dilaksanakan secara sederhana di Mabes…

Read More
Back To Top