Pemerintah Dorong Hilirisasi Riset Tahap II untuk Percepat Inovasi Siap Industri

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi meluncurkan Program Hilirisasi dan Kemitraan Tahap II Tahun 2026. Langkah ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah mendorong perguruan tinggi mempercepat pemanfaatan hasil riset, agar tidak berhenti sebagai tumpukan publikasi ilmiah, melainkan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan dunia industri. Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemdiktisaintek, Yos…

Read More

Hilirisasi Riset 2026 Diperkuat untuk Ketahanan Energi, Kesehatan, dan Pangan

JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat hilirisasi hasil riset sebagai bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan ketahanan energi, kesehatan, dan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. Pada 2026, penguatan ekosistem kekayaan intelektual, sinergi riset di daerah, serta pengembangan kawasan industri menjadi fokus utama agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai…

Read More

Hilirisasi Riset dan Jalan Baru Menjadikan Kampus sebagai Mesin Inovasi Nasional

Oleh: Bagas Nurahman )* Kampus kini semakin menegaskan perannya sebagai mesin inovasi nasional melalui penguatan hilirisasi riset yang menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Perubahan tersebut menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem inovasi yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah, memperkuat daya saing nasional, sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan…

Read More

Dari Laboratoriumke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

Oleh: Juniansyah Putra )*  Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannya mengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukungan pemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.  Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satu fondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untuk memastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkan produktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosistem inovasi yang berdaya saing global.  Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi riset nasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologi dan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi riset Indonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.  Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terus diperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalam pembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan riset juga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.  Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terus memperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusat inovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengan dunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi lahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasional yang lebih modern.  Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menekankan bahwa kolaborasi antarlembaga merupakan kunci utama untuk mempercepat hilirisasi riset dan meningkatkan daya saing inovasi Indonesia. Menurutnya, sinergi antara BRIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor industri akan memperkuat ekosistem riset nasional sehingga lebih produktif dan mampu meningkatkan posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII).  Arif menegaskan bahwa Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menjadi pusat inovasi di kawasan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kolaborasi yang kuat, hasil penelitian anak bangsa dapat berkembang menjadi teknologi unggulan yang dimanfaatkan oleh dunia usaha, pemerintah, maupun masyarakat luas. Optimisme ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga semakin mampu menjadi pencipta teknologi yang kompetitif di tingkat internasional.  Perkembangan positif tersebut telah terlihat dari semakin banyaknya inovasi perguruan tinggi yang diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari bidang kesehatan, pangan, energi, lingkungan, hingga transformasi digital. Keberhasilan berbagai inovasi kampus menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tinggi Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menjadi pusat lahirnya solusi yang relevan dan berdampak luas.  Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa, dan Alumni Universitas Indonesia Hamdi Muluk menyampaikan bahwa hilirisasi riset dapat diwujudkan melalui kolaborasi strategis yang mempertemukan inovasi akademik dengan kebutuhan pengguna. Menurutnya, peluncuran berbagai produk berbasis hasil penelitian menjadi bukti bahwa sinergi antara peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakat mampu mempercepat pemanfaatan riset dalam kehidupan sehari-hari.  Hamdi menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif membuka peluang lebih besar bagi hasil penelitian untuk berkembang menjadi produk yang memiliki manfaat nyata. Ketika inovasi dikembangkan dengan memahami kebutuhan masyarakat sejak awal, proses adopsi menjadi lebih cepat dan dampak ekonominya dapat dirasakan lebih luas.  Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan utama Indonesia terletak pada kemampuan membangun jejaring kolaborasi yang solid. Semakin erat hubungan antara perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, industri, dan masyarakat, semakin besar pula peluang lahirnya inovasi yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.  Ke depan, penguatan hilirisasi riset akan terus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan. Investasi pada sumber daya manusia, infrastruktur penelitian, pendanaan inovasi, serta penyederhanaan regulasi akan mempercepat terbentuknya ekosistem riset yang semakin kompetitif dan inklusif.  Momentum kebangkitan riset nasional ini perlu dijaga melalui kolaborasi yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan ekosistem inovasi yang semakin kuat, Indonesia memiliki peluang besar menjadikan hasil riset sebagai fondasi industri berbasis teknologi dan pengetahuan. Langkah tersebut akan memperkuat daya saing nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan nilai tambah ekonomi, dan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju yang mandiri, inovatif, dan disegani di tingkat global.  )* Peneliti bidang Kebijakan Publik dan Inovasi 

Read More

CKG Diperkuat dengan Deteksi Kusta di Faskes Dasar

Jakarta – Pemerintah memperkuat deteksi dini kusta melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di fasilitas kesehatan dasar sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi kusta di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan penemuan kasus secara dini sehingga pengobatan dapat segera diberikan dan penularan dapat dicegah. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa kusta selama ini…

Read More

Pemerintah Integrasikan Skrining Kusta dalam CKG untuk Kejar Eliminasi 2030

Jakarta- Pemerintah terus memperkuat langkah menuju target eliminasi kusta pada 2030 dengan mengintegrasikan skrining kusta ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus secara dini, memperluas akses pengobatan, sekaligus memutus rantai penularan penyakit yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai daerah. Integrasi skrining kusta dalam CKG…

Read More

CKG Membuka Jalan Menemukan Kasus Kusta Tersembunyi

Oleh: Zhafran Goldwin )*  Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif. Selain mendeteksi penyakit tidak menular, mulai 2026 program ini juga mencakup skrining kusta sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kebijakan ini menunjukkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari yang semula berorientasi pada pengobatan menjadi lebih mengedepankan pencegahan dan deteksi dini sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.  Komitmen tersebut diperkuat dengan kebijakan baru pemerintah. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, mulai 2026, skrining kusta akan disertakan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya pemerintah mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.   Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini sebenarnya dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini dan diobati hingga tuntas. Namun, rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah, serta stigma yang masih melekat menyebabkan banyak penderita terlambat memeriksakan diri. Akibatnya, sebagian kasus baru ditemukan ketika telah memasuki tahap lanjut dan berpotensi menimbulkan kecacatan. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kasus-kasus tersembunyi yang belum teridentifikasi oleh sistem pelayanan kesehatan.  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, meski kusta adalah penyakit yang sulit menularnya, pihaknya berkomitmen untuk mencari penderitanya sebanyak-banyaknya dan segera mengobatinya. Dia menjelaskan, saat ini, ada sekitar 13.000-15.000 penderita kusta di Indonesia. Namun, jumlahnya bisa lebih banyak dari angka tersebut. Oleh karena itu, pihaknya juga mendorong skrining kusta yang masif dengan memberi penghargaan pada kepala daerah dan puskesmas yang banyak menemukan kasus kusta.  Integrasi skrining kusta ke dalam CKG menjadi langkah strategis untuk memperluas penemuan kasus secara aktif. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara rutin memberi peluang bagi tenaga kesehatan menemukan penderita yang sebelumnya belum terdeteksi sehingga pengobatan dapat segera dimulai sebelum terjadi komplikasi maupun penularan lebih lanjut. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus yang dilaporkan, tetapi juga dari kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus lebih awal dan memastikan seluruh pasien memperoleh pengobatan.  Penguatan deteksi dini tersebut sejalan dengan transformasi layanan kesehatan primer. Puskesmas tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berobat, tetapi juga menjadi pusat edukasi, skrining, dan pencegahan penyakit. Melalui CKG, masyarakat didorong membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala karena banyak penyakit, termasuk kusta, dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Budaya pemeriksaan kesehatan rutin diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus menekan beban pembiayaan kesehatan di masa mendatang.  Di sisi lain, pengendalian kusta tidak hanya bergantung pada pelayanan medis, tetapi juga pada meningkatnya pemahaman masyarakat. Stigma yang menganggap kusta sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan masih menyebabkan sebagian penderita memilih menyembunyikan kondisinya. Padahal, pengobatan yang tersedia mampu menyembuhkan penderita apabila dilakukan secara tuntas. Karena itu, pelaksanaan CKG juga menjadi sarana edukasi untuk memberikan informasi yang benar mengenai penyebab, penularan, dan pentingnya pengobatan sejak dini sehingga diskriminasi terhadap penyandang kusta dapat terus berkurang.  Upaya tersebut turut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan Kemenkes dan The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti dalam mendukung deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas, yang diharapkan dapat direplikasi serta diintegrasikan ke dalam kebijakan publik. Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek.  Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa eliminasi kusta memerlukan pendekatan yang menyentuh aspek medis sekaligus sosial. Selain memastikan penderita memperoleh pengobatan, diperlukan pula edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami bahwa kusta dapat disembuhkan dan tidak perlu menjadi alasan terjadinya diskriminasi. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk memperluas deteksi dini sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang kusta.  Pelaksanaan CKG juga akan menghasilkan data kesehatan yang lebih akurat mengenai persebaran kasus di berbagai daerah. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan wilayah prioritas, memperkuat kapasitas layanan kesehatan, serta menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang mencegah kecacatan, memutus rantai penularan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.  Ke depan, integrasi skrining kusta dalam CKG menjadi salah satu inovasi penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Melalui deteksi dini, edukasi yang berkesinambungan, serta kolaborasi lintas sektor, upaya menemukan kasus-kasus kusta yang selama ini tersembunyi akan semakin optimal. Langkah tersebut tidak hanya mendukung target eliminasi kusta, tetapi juga memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan terlindungi melalui layanan kesehatan yang semakin merata dan berorientasi pada pencegahan.  *) Penulis adalah Content Writer di Medical Groovia 

Read More

CKG dan Jalan Baru Indonesia Mengejar Eliminasi Kusta 2030

Oleh: Anindya Yustisia )* Indonesia sedang memasuki babak baru dalam pembangunan kesehatan nasional dengan menempatkan pencegahan dan deteksi dini sebagai fondasi utama pelayanan kesehatan. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga menjadi strategi penting untuk mengatasi berbagai penyakit menular yang selama ini masih menjadi tantangan, termasuk kusta. Di tengah target eliminasi…

Read More

Presiden Prabowo Perkuat Perlindungan Nelayan lewat BBM Khusus dan Cold Storage

Jakarta – Presiden Prabowo menegaskan komitmennya memperkuat perlindungan terhadap nelayan dan masyarakat desa melalui kebijakan yang terintegrasi, mulai dari pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) hingga pemberian harga khusus bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan. Dalam peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Presiden menjelaskan bahwa KDKMP akan menjadi pusat pelayanan ekonomi…

Read More

Pemerintah Pacu Modernisasi Kapal Ikan untuk Nelayan Lokal

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat modernisasi armada perikanan nasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas nelayan lokal, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi maritim. Program modernisasi kapal ikan dilakukan melalui pengadaan kapal yang lebih efisien, pemanfaatan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan, serta peningkatan standar keselamatan pelayaran. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan hasil tangkapan…

Read More
Back To Top