Sistem Penilaian MBG: Pemerintah Serius Membenahi Kualitas Layanan

Oleh: Nadira Citra Maheswari )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memasuki tahap penguatan tata kelola seiring dengan semakin luasnya cakupan penerima manfaat. Perluasan layanan tersebut diikuti pengawasan agar penyediaan makanan tidak hanya memenuhi aspek kuantitas, tetapi juga memperhatikan mutu, keamanan pangan, ketepatan waktu, serta kesesuaian dengan standar gizi. Salah satu langkah yang dikembangkan Badan…

Read More

Penilaian MBG Menjadi Alat Koreksi agar Menu dan Distribusi Membaik

Oleh : Abdul Razak )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap penguatan tata kelola melalui mekanisme evaluasi yang melibatkan sekolah sebagai penerima layanan secara langsung. Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan aplikasi yang memungkinkan kepala sekolah memberikan penilaian terhadap layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari kualitas menu hingga ketepatan distribusi. Mekanisme tersebut dapat…

Read More

RUU Perampasan Aset Memberi Efek Jera Kejahatan Korupsi

Oleh : Jonathan Janoel )* Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset kembali menjadi perhatian setelah DPR dan pemerintah menyatakan target penyelesaiannya pada akhir 2026. RUU ini dinilai penting dalam memperkuat pemulihan aset hasil tindak pidana, terutama korupsi, karena penindakan tidak berhenti pada pemidanaan pelaku, tetapi juga diarahkan untuk memastikan keuntungan yang diperoleh secara melawan hukum…

Read More

Korupsi Merugikan Negara, RUU Perampasan Aset Mengembalikan Hak Rakyat

Oleh: Jonathan Janoel )* Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga persoalan mengenai hak publik atas sumber daya negara. Ketika uang atau aset yang semestinya digunakan untuk pembangunan berpindah menjadi keuntungan pribadi melalui tindak pidana, kerugiannya tidak berhenti pada nilai material. Dampaknya dapat terasa pada kualitas layanan, pembangunan, dan kepercayaan masyarakat. Dalam konteks itu, pembahasan…

Read More

Jangan Biarkan Provokasi KNPB Mengganggu Masa Depan Papua 

Oleh : Loa Murib )* Masa depan Papua tidak semestinya ditentukan oleh ketegangan, provokasi, atau aktivitas kelompok yang berpotensi mengganggu ketenteraman masyarakat. Papua memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui pembangunan, pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian nilai-nilai adat dan budaya. Karena itu, stabilitas keamanan dan kedamaian harus ditempatkan sebagai kepentingan bersama yang tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan kelompok tertentu, termasuk oleh narasi maupun aktivitas Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang dinilai sejumlah tokoh masyarakat dapat menimbulkan keresahan.  Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, menilai masyarakat Papua memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga lingkungan tetap aman dan harmonis. Menurutnya, masyarakat adat membutuhkan suasana kondusif agar dapat menjalankan kehidupan sehari-hari sekaligus mendukung keberlanjutan pembangunan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan mendasar masyarakat Papua sesungguhnya sangat konkret, yakni keamanan, pendidikan yang baik, akses kesehatan, kesempatan ekonomi, serta masa depan yang lebih layak bagi generasi berikutnya.  Karmin juga menekankan bahwa nilai-nilai kearifan lokal, persaudaraan, dan saling menghormati merupakan modal sosial yang sangat penting bagi Papua. Nilai tersebut tidak boleh terkikis oleh narasi yang mempertajam perbedaan. Justru di tengah keberagaman masyarakat Papua, semangat hidup berdampingan harus terus diperkuat. Perdamaian bukan sekadar keadaan tanpa konflik, melainkan fondasi yang memungkinkan masyarakat mengembangkan potensi daerah dan menikmati hasil pembangunan secara berkelanjutan.  Pandangan serupa disampaikan sejumlah Ondofolo di Kabupaten Jayapura yang mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi maupun aktivitas KNPB yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan. Ondofolo Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, menekankan pentingnya masyarakat mempertimbangkan dampak setiap kegiatan terhadap keamanan dan kehidupan sosial. Bagi masyarakat, tindakan yang pada awalnya dianggap sebagai bentuk penyampaian aspirasi dapat berubah menjadi persoalan yang lebih besar apabila tidak dikendalikan dan kemudian memicu tindakan anarkis.  Kekhawatiran tersebut patut menjadi bahan perenungan. Ketika situasi keamanan terganggu, masyarakat biasa sering menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Aktivitas ekonomi dapat terganggu, kegiatan pendidikan tidak berjalan optimal, pelayanan publik menghadapi hambatan, sementara keluarga harus menghadapi ketidakpastian. Pada akhirnya, masyarakat kecil yang tidak memiliki kepentingan dalam konflik justru dapat menanggung konsekuensi paling besar.  Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, juga menilai bahwa masyarakat adat tidak semestinya secara otomatis dianggap mendukung setiap agenda yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat Papua. Pandangan tersebut penting karena masyarakat Papua bukanlah kelompok yang memiliki satu suara untuk seluruh persoalan. Terdapat beragam komunitas, wilayah adat, latar belakang sosial, serta aspirasi yang perlu dihormati. Karena itu, tidak tepat apabila kepentingan seluruh masyarakat Papua disederhanakan menjadi kepentingan satu kelompok atau organisasi.  Peringatan Marthen agar masyarakat lebih memprioritaskan keluarga dan kegiatan ekonomi juga memiliki relevansi yang kuat. Kehidupan masyarakat tidak berhenti pada persoalan politik. Ada keluarga yang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, petani yang harus mengelola lahan, pelaku usaha yang harus mempertahankan usahanya, serta generasi muda yang membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuan. Semua itu membutuhkan suasana yang aman dan stabil.  Sementara itu, Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, mengingatkan agar penyampaian pendapat tetap dilakukan dengan menghormati hukum dan norma adat. Prinsip tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat Papua untuk membangun tradisi dialog yang sehat. Aspirasi tidak harus dihilangkan, tetapi cara menyampaikannya harus menghindari tindakan yang dapat mengancam keselamatan masyarakat atau merusak ketertiban umum.  Di sinilah peran generasi muda Papua menjadi sangat penting. Anak-anak muda merupakan kelompok yang paling menentukan arah Papua dalam beberapa dekade mendatang. Energi, kreativitas, dan keberanian mereka seharusnya diarahkan pada pendidikan, kewirausahaan, teknologi, olahraga, kebudayaan, serta berbagai kegiatan produktif. Ruang digital pun perlu dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang mencerahkan, bukan memperbesar kebencian, permusuhan, atau ketegangan.  Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh elemen sosial juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat literasi publik. Masyarakat perlu dibiasakan memeriksa informasi sebelum mempercayainya, memahami konteks sebuah ajakan, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil tindakan. Ketahanan masyarakat terhadap provokasi tidak cukup dibangun melalui pendekatan keamanan, tetapi juga melalui pendidikan, dialog, dan penguatan kepercayaan sosial.  Pada akhirnya, Papua membutuhkan lebih banyak ruang untuk membangun daripada ruang untuk berkonflik. Pembangunan hanya dapat memberikan manfaat apabila masyarakat berada dalam kondisi aman untuk bekerja, belajar, berusaha, dan berinteraksi. Karena itu, setiap pihak perlu menempatkan kepentingan masyarakat luas di atas agenda kelompok.  Jangan sampai provokasi mengganggu kesempatan Papua untuk menatap masa depan. Kedamaian adalah modal pembangunan, sementara persatuan merupakan kekuatan untuk memastikan pembangunan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. Menolak provokasi bukan berarti menolak aspirasi, melainkan memilih cara yang lebih bertanggung jawab untuk menyampaikan perbedaan. Masa depan Papua terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh tindakan yang dapat memecah masyarakat. Yang dibutuhkan adalah Papua yang aman, damai, produktif, dan mampu memberikan ruang seluas-luasnya bagi generasi mendatang untuk tumbuh dan menentukan masa depannya dengan optimisme.  *Penulius adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur 

Read More

Masyarakat Papua TakBoleh Terjebak Narasi Provokatif KNPB

Oleh : Frans Nawipa )* Tanah Papua membutuhkan suasana yang aman, damai, dan kondusif agar masyarakat dapat menjalankan kehidupan sehari-hari sekaligus menikmati manfaat pembangunan secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, masyarakat memiliki peran penting untuk menyaring setiap informasi, ajakan, maupun narasi yang berpotensi menimbulkan keresahan. Sikap kritis menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi, termasuk narasi yang dikaitkan dengan aktivitas Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan berpotensi memengaruhi persepsi publik.  Masyarakat Papua tidak boleh terjebak dalam narasi yang mengedepankan provokasi, memperbesar perbedaan, atau mendorong ketegangan sosial. Setiap informasi perlu dilihat secara utuh, diverifikasi sumbernya, dan dipertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Ketika informasi diterima tanpa penyaringan, masyarakat dapat dengan mudah terseret pada situasi yang sebenarnya tidak memberikan manfaat bagi kehidupan mereka maupun masa depan daerah.  Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Karmin Yikwa, menilai masyarakat adat memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga keamanan dan keharmonisan sosial. Menurutnya, aspirasi yang dibawa KNPB tidak dapat serta-merta dianggap sebagai representasi seluruh masyarakat adat Papua. Masyarakat memiliki kebutuhan yang lebih konkret, terutama terkait keamanan, keberlanjutan pembangunan, peningkatan kesejahteraan, pendidikan, serta kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang.  Pandangan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Papua memiliki hak untuk menentukan sikapnya sendiri tanpa tekanan maupun pengaruh dari kelompok tertentu. Perbedaan pandangan politik dan sosial merupakan bagian dari kehidupan demokratis, tetapi perbedaan tersebut semestinya tidak berkembang menjadi tindakan yang merugikan masyarakat luas. Aspirasi dapat disampaikan melalui ruang dialog dan cara-cara damai dengan tetap menghormati hukum serta norma yang berlaku.  Sejumlah Ondofolo di Kabupaten Jayapura juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi maupun aktivitas KNPB yang dinilai berpotensi menimbulkan gangguan keamanan. Ondofolo Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, menekankan pentingnya masyarakat Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura mempertimbangkan konsekuensi setiap kegiatan yang diikuti. Menurutnya, masyarakat tidak boleh membiarkan diri terseret ke dalam aktivitas yang pada akhirnya justru berpotensi menimbulkan tindakan anarkis dan merugikan warga sendiri.  Pesan tersebut relevan karena masyarakat merupakan pihak pertama yang merasakan dampak ketika terjadi gangguan keamanan. Mereka yang kehilangan kesempatan bekerja, terganggu aktivitas perdagangan, terhambat mengakses layanan publik, atau harus menghadapi ketegangan sosial bukanlah kelompok yang menyebarkan narasi dari kejauhan, melainkan warga yang menjalani kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Karena itu, setiap ajakan harus diukur berdasarkan manfaat dan risikonya bagi kehidupan bersama.  Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, juga menilai masyarakat adat tidak semestinya terseret dalam agenda kelompok yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat Papua. Pandangan tersebut memperlihatkan pentingnya membedakan antara kepentingan masyarakat secara luas dengan kepentingan kelompok tertentu. Tidak semua masyarakat Papua memiliki pandangan yang sama, sehingga tidak tepat apabila suatu kelompok mengklaim mewakili keseluruhan masyarakat tanpa melihat keragaman suara yang ada di Tanah Papua.  Dalam situasi seperti ini, generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis. Anak-anak muda Papua merupakan bagian penting dari masa depan daerah sehingga energi dan kreativitas mereka sebaiknya diarahkan pada kegiatan yang produktif. Pendidikan, kewirausahaan, olahraga, teknologi, seni, pengembangan ekonomi lokal, serta berbagai kegiatan sosial dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan sekaligus membangun daerah.  Pesan serupa juga disampaikan Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, yang menekankan bahwa penyampaian pendapat perlu dilakukan dengan menghormati hukum dan norma adat. Prinsip tersebut penting untuk memastikan kebebasan menyampaikan aspirasi berjalan seiring dengan tanggung jawab menjaga ketertiban. Kebebasan tidak seharusnya dipahami sebagai ruang untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain atau mengganggu keamanan masyarakat.  Pada akhirnya, masyarakat Papua perlu semakin dewasa dalam menghadapi berbagai narasi yang beredar, terutama di ruang digital. Informasi yang bersifat provokatif sering kali dirancang untuk membangkitkan emosi dan memperlebar perbedaan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membandingkan berbagai perspektif, serta tidak langsung menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya.  Menolak provokasi bukan berarti menolak hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Sebaliknya, sikap tersebut merupakan bentuk tanggung jawab untuk memastikan setiap aspirasi disampaikan secara damai, rasional, dan tidak merugikan masyarakat luas. Papua membutuhkan ruang dialog yang sehat, bukan pertentangan yang memperbesar keresahan.  Masa depan Tanah Papua pada akhirnya berada di tangan masyarakatnya sendiri. Keamanan dan kedamaian merupakan modal penting untuk memastikan pembangunan berjalan, aktivitas ekonomi tumbuh, pendidikan berkembang, dan generasi muda memperoleh kesempatan yang lebih baik. Karena itu, masyarakat Papua tidak boleh mudah terjebak dalam narasi provokatif KNPB maupun kelompok mana pun yang berpotensi memecah persatuan. Perbedaan pandangan harus ditempatkan sebagai bagian dari dinamika masyarakat, sementara kedamaian, persaudaraan, dan kesejahteraan bersama harus tetap menjadi kepentingan utama  *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Yogyakarta 

Read More

Mendukung Langkah Tegas Negara Menghentikan Provokasi KNPB dan Kekerasan di Papua

Oleh: J. Yohanes Korwa *)  Rangkaian tindak kekerasan dan rasa takut yang terus disebarkan oleh kelompok bersenjata beserta sayap politiknya, termasuk KNPB, merupakan bentuk perusakan nyata terhadap kelancaran agenda pembangunan nasional. Peningkatan angka kejahatan yang menyasar pegawai pemerintah, penduduk biasa, hingga pekerja fasilitas umum sudah mencapai titik yang sangat meresahkan dan membutuhkan tindakan hukum paling tegas dari negara. Tragedi memilukan yang menghilangkan nyawa tiga aparatur sipil negara di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, menjadi bukti tidak terbantahkan bahwa kelompok perusuh sama sekali tidak memedulikan masa depan kesejahteraan warga Papua. Lebih parah lagi, aksi pelemparan bom molotov yang menyasar kantor perwakilan komisi hak asasi manusia di Jayapura pada rentang waktu yang sama menunjukkan bahwa teror ini dilakukan secara terencana. Para pegawai yang menjadi korban adalah pelayan masyarakat yang ditugaskan ke daerah pelosok untuk membangun infrastruktur, mendedikasikan diri di bidang kesehatan, dan menyiapkan sarana sekolah. Oleh sebab itu, tindakan brutal ini murni merupakan serangan langsung terhadap upaya memajukan peradaban dan kesejahteraan daerah.  Melihat kekerasan yang terus memakan korban, para tokoh agama dan pimpinan adat memberikan dukungan penuh kepada barisan aparat keamanan untuk segera mengambil langkah hukum terukur. Tokoh Agama Nasrani Puncak Jaya, Kirenius Telenggen, sangat menyayangkan perbuatan kelompok bersenjata yang bertindak di luar batas kewajaran. Kejadian hilangnya nyawa seorang pilot asal Amerika Serikat yang sedang tulus melayani penerbangan umat di wilayah terpencil menjadi catatan kelam yang sangat melukai hati masyarakat luas. Kirenius menilai keputusan pemerintah untuk menetapkan status kelompok teroris dan menindak keras jaringan ini sangat tepat. Setiap tindakan para pembuat onar, yang sering kali sejalan dengan narasi provokasi KNPB, terus merusak keutuhan negara dan menyebar kepanikan hingga ke pelosok kampung.  Dukungan kuat untuk membersihkan lingkungan dari ancaman keamanan juga disuarakan secara lantang oleh Sekretaris Umum Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Provinsi Papua Barat Daya, Fatra Muhammad Soltif yang menegaskan bahwa gugurnya para abdi negara murni merupakan pahlawan pembangunan yang datang ke Papua dengan niat tulus, tanpa ada kaitan sedikit pun dengan urusan intelijen seperti yang sering dituduhkan secara keji oleh mesin propaganda KNPB. Fatra meminta aparat gabungan untuk mencari para eksekutor lapangan sampai tuntas sekaligus mengungkap pihak-pihak yang mendanai dan memberikan pasokan senjata. Seluruh masyarakat adat menolak keras semua bentuk kekerasan berdarah dan mendesak pemerintah agar tidak membiarkan para pengacau keamanan bebas memecah belah persaudaraan di tanah yang seharusnya dipenuhi kedamaian.  Tidak hanya menuntut penyelesaian di wilayah konflik bersenjata, para tokoh masyarakat dan wakil rakyat juga meminta ketegasan pemerintah untuk membatasi ruang gerak politik KNPB yang terus-menerus menyebarkan cerita bohong. Kelompok ini berfungsi sebagai mesin provokasi yang menghasut pikiran anak muda, menyebarkan kebencian di media sosial, dan mencoba mencari pembenaran atas tindak kekerasan dengan menggunakan alasan kebebasan bersuara. Wakil Ketua Komisi I DPR, Sukamta, menekankan bahwa sasarannya bukan sekadar pelaku penembakan di lapangan, melainkan keharusan memutus rantai pendukung yang merencanakan teror. Sukamta meminta penguatan deteksi intelijen secara dini serta perlindungan ekstra bagi para warga sipil yang bekerja di sektor pelayanan publik harian. Kehadiran negara harus mencakup penegakan hukum di wilayah rawan maupun penertiban penyebaran kebohongan oleh KNPB di kawasan perkotaan.  Jaminan keselamatan bagi pegawai dan penduduk sipil di Papua adalah hal yang mendesak dan harus mendapat dukungan dari semua lapisan. Sebab, penanganan di area rawan konflik tidak bisa dilakukan parsial, melainkan membutuhkan kerja sama yang erat antara aparat keamanan dan masyarakat setempat. Maka dari itu, melalui pengamanan yang maksimal, kegiatan pemerintahan tingkat desa, pelayanan pusat kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi bisa terus berjalan tanpa ada bayang-bayang ketakutan.  Selain itu, perlindungan penuh bagi para pekerja lapangan sangat menentukan agar semua rancangan pembangunan fasilitas tidak terbengkalai begitu saja akibat ancaman kelompok radikal.  Sejalan dengan langkah tersebut, dukungan penuh patut diberikan kepada pemerintah untuk terus memperkuat pendekatan keamanan menyeluruh dan berkelanjutan di Papua. Komitmen negara yang secara nyata menyandingkan penegakan hukum dengan kelancaran penyaluran bantuan ekonomi, penyediaan lapangan pekerjaan, serta peningkatan taraf hidup warga di wilayah terisolasi merupakan langkah strategis yang sangat tepat. Kehadiran negara yang konsisten dalam memberikan perlindungan fisik yang tangguh serta pelayanan dasar berkualitas terbukti efektif untuk menutup ruang bagi KNPB dalam menyebarkan provokasinya. Kesuksesan kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dalam menghentikan kekerasan pada akhirnya akan memastikan Papua terus melangkah maju sebagai wilayah yang damai, makmur, dan sejahtera dalam bingkai NKRI.  *) Peneliti Isu Pembangunan dan Resolusi Konflik Papua 

Read More

Menolak Provokasi KNPB: Langkah Bersama Menjaga Kedamaian dan Pembangunan Papua

Oleh: Simon Wenda )* Keamanan yang stabil di seluruh pelosok Bumi Cenderawasih merupakan syarat utama agar program pembangunan ekonomi dari pemerintah dapat berjalan secara merata. Saat ini, pemerintah pusat tengah gencar membangun berbagai infrastruktur penting seperti jalan penghubung, fasilitas kesehatan, dan gedung sekolah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun, semua usaha keras ini tidak akan memberikan hasil yang maksimal apabila gangguan keamanan terus membayangi kehidupan sosial warga sehari-hari. Kesadaran bersama dari penduduk, khususnya komunitas adat, untuk menyaring informasi dan menolak segala bentuk provokasi menjadi garis pertahanan paling penting di tingkat akar rumput. Dalam hal ini, keberadaan serta aktivitas penyebaran isu dari Komite Nasional Papua Barat atau KNPB sering kali menjadi penghalang utama bagi terciptanya kerukunan yang sangat diharapkan oleh penduduk lokal.  Berbagai aksi turun ke jalan yang digerakkan oleh KNPB terbukti selalu membuat publik resah dan memicu ketegangan di tengah lingkungan sosial. Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, memberikan pandangan tegas bahwa tuntutan yang disuarakan KNPB sama sekali tidak mewakili keinginan asli dari masyarakat adat Papua. Penduduk setempat justru lebih mengutamakan situasi yang aman dan tenang agar semua rencana pembangunan dari pemerintah dapat terwujud tanpa hambatan. Karmin Yikwa mengingatkan seluruh elemen masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga tanah Papua dari gangguan politik pemecah belah, karena ketegangan yang diciptakan kelompok provokator hanya akan merusak kehidupan damai yang sudah terbangun kuat sejak masa leluhur.  Sikap penolakan terhadap provokasi KNPB ini tidak hanya muncul di wilayah pegunungan seperti Tolikara, tetapi juga terdengar sangat lantang di wilayah Kabupaten Jayapura. Menjelang perayaan kemerdekaan Republik Indonesia beberapa waktu lalu, para pimpinan adat setempat sepakat melarang warga untuk ikut dalam aksi demonstrasi yang dirancang oleh KNPB. Ondofolo Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, memberikan peringatan keras agar penduduk Jayapura tidak mengorbankan kedamaian tempat tinggalnya hanya demi menuruti ajakan KNPB yang berpotensi berakhir dengan kerusuhan. Harly Ohei menegaskan bahwa menjaga agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap damai di atas tanah Papua adalah tujuan bersama yang wajib dipertahankan oleh seluruh lapisan warga tanpa terkecuali.  Bahkan, anggapan sepihak yang sering disuarakan oleh para penggerak KNPB bahwa aksi kelompok tersebut mewakili suara Orang Asli Papua langsung dibantah oleh para pemuka adat. Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, menegaskan bahwa ajakan turun ke jalan murni hanya keinginan sekelompok kecil orang dan sangat bertentangan dengan nilai luhur adat setempat. Marthen Ohee meminta para penduduk untuk lebih fokus mencari nafkah dan mengurus keluarga di rumah daripada membuang waktu pada kegiatan tidak bermanfaat yang justru merugikan daerah. Penolakan yang sama juga disampaikan oleh Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, yang menuntut siapa pun yang tinggal di wilayah adat Jayapura untuk menghargai aturan yang berlaku dan turut serta menjaga ketertiban umum.  Selain menjaga keamanan dari dalam, masyarakat Papua juga dihadapkan pada tantangan masuknya pihak luar yang mencoba memanfaatkan keadaan demi mencari perhatian dunia. Penahanan seorang warga negara asing berinisial AP asal Rusia oleh pihak Imigrasi menjadi contoh nyata bagaimana aksi KNPB sering kali dijadikan bahan tontonan untuk merusak nama baik Indonesia di dunia maya. Direktur Jenderal Imigrasi, Hendarsam Marantoko, memimpin langsung pemeriksaan terhadap turis asing tersebut guna menelusuri motif di balik pembuatan dokumentasi aksi demonstrasi yang melibatkan KNPB. Hendarsam memastikan bahwa pemerintah Indonesia selalu terbuka menyambut wisatawan dari berbagai negara, namun setiap tamu wajib taat hukum dan tidak boleh menyalahgunakan izin tinggal untuk mendukung kegiatan yang mengancam ketahanan negara.  Campur tangan pihak luar dalam merekam aksi provokasi KNPB menunjukkan adanya usaha sengaja untuk merusak pikiran masyarakat melalui internet dan penyebaran berita simpang siur. Oleh karena itu, kemampuan menyaring informasi yang benar sangatlah penting, terutama bagi kelompok usia produktif. Koordinator Suara Anak Muda Peduli Papua, Isak Imbiri, mengajak kaum muda untuk berpikir cerdas, menolak berita bohong, dan tidak mudah dihasut oleh kampanye KNPB di platform digital. Isak Imbiri menempatkan barisan anak muda sebagai rekan kerja aparat keamanan dalam menciptakan lingkungan tempat tinggal yang bebas dari rasa cemas maupun intimidasi kelompok radikal.  Melalui jalur pendidikan yang baik dan semangat kerja sama dengan pemerintah, para pemuda dan warga Papua dapat memastikan bahwa pembangunan akan terus berjalan tanpa hambatan berarti. Stabilitas keamanan adalah modal paling berharga untuk menjamin kesejahteraan ekonomi di masa mendatang. Mendukung program percepatan pembangunan yang dijalankan pemerintah pusat merupakan wujud paling nyata dari upaya mencintai daerah. Ketika seluruh lapisan masyarakat bersatu menolak provokasi KNPB dan kelompok sejenisnya, maka masa depan yang damai, aman, dan sejahtera sungguh-sungguh akan terwujud bagi seluruh generasi penerus Papua.  *) Pegiat Literasi Damai Papua 

Read More

Mengapresiasi Capaian Pangan Prabowo-Gibran, Merawat Stabilitas dan Menolak Provokasi

Oleh: Arga Septian )*  Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sektor pangan menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian publik. Bukan semata karena pangan merupakan kebutuhan paling mendasar, tetapi juga karena dalam periode ini pemerintah menempatkan kemandirian pangan sebagai salah satu fondasi pembangunan nasional. Arah itu terlihat dari kebijakan pupuk bersubsidi, peningkatan produksi beras, penguatan cadangan pemerintah, penyerapan hasil panen, hingga upaya menghubungkan sektor pertanian dengan program pemenuhan gizi masyarakat.  Presiden Prabowo berkali-kali menekankan bahwa persoalan pangan tidak dapat ditunda. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan pentingnya kehadiran negara untuk merespons kebutuhan mendesak masyarakat, terutama dalam menjamin ketersediaan pangan dan memastikan petani memperoleh pupuk ketika dibutuhkan. Pandangan tersebut mencerminkan pentingnya kehadiran pemerintah dalam memastikan petani dapat berproduksi dan masyarakat memperoleh pangan yang cukup.  Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton. Angka tersebut meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 30,62 juta ton. Luas panen padi juga meningkat menjadi sekitar 11,32 juta hektare.   Penguatan produksi tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan cadangan. Perum Bulog mencatat Cadangan Beras Pemerintah sempat mencapai sekitar 4,2 juta ton pada Juni 2025, level tertinggi yang pernah dicapai. Pada 7 Januari 2026, Presiden Prabowo secara resmi mengumumkan tercapainya swasembada pangan tahun 2025. Capaian ini menjadi modal penting untuk membangun sistem pangan yang lebih tahan terhadap gejolak harga, gangguan pasokan, kekeringan, El Nino, maupun ketidakpastian global.  Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pupuk. Pemerintah menetapkan alokasi pupuk bersubsidi 2025 sekitar 9,55 juta ton. Mekanisme penyalurannya juga disederhanakan agar petani dapat memperoleh pupuk lebih cepat dan tepat sasaran.  Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali, Made Muliawan Arya atau De Gadjah, menilai peningkatan produksi dan kuatnya cadangan pangan memberi perlindungan lebih baik ketika terjadi gejolak harga atau gangguan pasokan. Namun, swasembada tidak boleh berhenti pada angka produksi nasional, melainkan harus diterjemahkan menjadi pendapatan yang layak bagi petani, harga yang wajar bagi konsumen, serta rantai distribusi yang efisien.  Kebijakan pangan juga perlu dibaca sebagai satu ekosistem. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan koperasi, produksi pertanian, peternakan, perikanan, dan penguatan cadangan pangan dapat saling terhubung. MBG, misalnya, tidak hanya dilihat dari makanan yang tersaji, tetapi juga dari rantai ekonomi yang terbentuk di belakangnya. Mulai dari petani dan peternak yang memproduksi bahan pangan, pelaku usaha yang memasok, hingga pihak yang mendistribusikan kebutuhan tersebut. Maka program pemenuhan gizi ini dapat sekaligus membuka pasar yang lebih pasti bagi produsen pangan.  Pandangan mengenai pentingnya keberlanjutan juga disampaikan Ketua Umum PP HIMMAH Abdul Razak Nasution. Ia menilai berbagai program pemerintahan Prabowo-Gibran telah menunjukkan arah dalam penguatan kemandirian nasional dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, capaian yang telah diraih perlu terus diikuti evaluasi, pembenahan, serta dukungan masyarakat agar program yang berorientasi pada kepentingan rakyat dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata.  Semua capaian tersebut tetap perlu dikawal secara kritis. Produksi yang meningkat harus disertai perlindungan harga di tingkat petani. Pupuk bersubsidi harus benar-benar tiba kepada penerima yang berhak. Cadangan beras harus dikelola tanpa menekan harga panen.  Di sinilah literasi publik menjadi penting. Dalam demokrasi, kritik, demonstrasi, dan penyampaian pendapat merupakan bagian dari hak warga negara. Namun masyarakat juga berhak memperoleh informasi yang lengkap sebelum menentukan sikap. Kritik yang berbasis data dapat menjadi alat koreksi yang sehat, sedangkan informasi menyesatkan atau provokasi yang mendorong kekerasan, perusakan fasilitas umum, maupun gangguan terhadap aktivitas masyarakat justru dapat menimbulkan kerugian sosial yang lebih luas.  Ketertiban umum dan kebebasan menyampaikan pendapat tidak seharusnya dipertentangkan. Aspirasi dapat disampaikan secara damai, tertib, dan bertanggung jawab tanpa mengganggu distribusi pangan, aktivitas ekonomi, maupun pelayanan publik. Pada saat yang sama, pemerintah juga membuka ruang dialog dan menanggapi kritik secara substantif. Demokrasi yang sehat bukan demokrasi tanpa kritik, tetapi demokrasi yang mampu mengubah kritik menjadi perbaikan kebijakan.  Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, momentum peningkatan produksi dan penguatan cadangan pangan patut dicatat sebagai perkembangan penting. Dengan pekerjaan besar berikutnya, yaitu menjaga keberlanjutan produksi, meningkatkan kesejahteraan petani, memperbaiki distribusi, memperluas akses pupuk, dan memastikan manfaat kebijakan benar-benar dirasakan dari desa hingga kota.  Swasembada bukan garis akhir. Ia merupakan fondasi menuju tujuan yang lebih besar, yakni petani yang sejahtera, konsumen yang memperoleh pangan dengan harga terjangkau, dan Indonesia yang semakin mampu memenuhi kebutuhan dasarnya dengan kekuatan sendiri. Momentum itu perlu dijaga melalui kerja nyata, pengawasan publik, serta partisipasi masyarakat yang dewasa dan bertanggung jawab. Dukungan publik yang disertai sikap kritis dan bebas dari provokasi menjadi penting agar pelaksanaan kebijakan dapat terus berjalan tanpa gangguan yang berpotensi menghambat kinerja pemerintah.  )* penulis merupakan pengamat kebijakan tani 

Read More

Pemerintah Perkuat Agenda Penyelesaian Kasus HAM, Masyarakat Jangan Terjebak Provokasi

Oleh: Arief Nugroho )*   Masyarakat perlu melihat berbagai persoalan hak asasi manusia secara jernih dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, terutama narasi yang berpotensi memperbesar ketegangan di tengah masyarakat. Penyelesaian persoalan HAM membutuhkan ketenangan, keterbukaan, dan kerja bersama yang berkelanjutan. Pemerintah terus melakukan berbagai langkah untuk memperkuat penyelesaian persoalan HAM melalui evaluasi kebijakan, penguatan kelembagaan, pemulihan korban, dialog, serta upaya mencari solusi yang menyentuh akar persoalan. Karena itu, berbagai perkembangan tersebut penting dipahami secara utuh agar masyarakat dapat menilai proses penyelesaian HAM berdasarkan fakta dan perkembangan nyata di lapangan.  Salah satu langkah yang menunjukkan keseriusan tersebut terlihat dari evaluasi Kedeputian Bidang Koordinasi Hak Asasi Manusia Kemenko Kumham Imipas. Evaluasi yang dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai target, sekaligus memetakan kegiatan yang membutuhkan percepatan dan kendala yang harus segera diselesaikan. Evaluasi tidak hanya diarahkan pada penyerapan anggaran, tetapi juga kesesuaian pelaksanaan program dengan target kinerja sehingga kebijakan HAM dapat memberikan hasil yang terukur.  Langkah evaluatif semacam ini penting karena penyelesaian persoalan HAM tidak cukup hanya dengan membangun komitmen. Komitmen harus diterjemahkan menjadi program, anggaran, koordinasi, pengawasan, dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Ketika masih ditemukan kendala, pemerintah memiliki ruang untuk melakukan perbaikan dan percepatan. Dengan demikian, agenda HAM dapat terus bergerak dari perencanaan menuju pelaksanaan yang lebih efektif.  Upaya tersebut juga berjalan melalui penguatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Di Papua, Forum Konsultasi Publik yang diselenggarakan Sekretariat Komnas HAM Provinsi Papua mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, organisasi masyarakat sipil, lembaga bantuan hukum, akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan jurnalis. Ruang dialog semacam ini menjadi penting untuk mempertemukan perspektif, memperkuat mekanisme pengaduan, meningkatkan pertukaran informasi, serta memastikan berbagai persoalan HAM memperoleh perhatian berdasarkan informasi yang dapat diverifikasi.  Penguatan jaringan kerja juga menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan HAM tidak semata-mata menjadi urusan satu institusi. Kepala Sekretariat Komnas HAM Provinsi Papua Frits B. Ramandey menekankan pentingnya membangun relasi dengan berbagai pihak dengan tetap menjaga prinsip independensi dan imparsialitas. Pendekatan tersebut diperlukan agar informasi mengenai situasi HAM dapat diperoleh, diperiksa, dan menjadi dasar bagi pelaksanaan tugas secara objektif.  Di tingkat nasional, pemerintah juga mendorong pendekatan yang lebih menyeluruh terhadap persoalan konflik dan HAM di Papua. Menteri HAM Natalius Pigai menyampaikan perlunya menggeser penanganan dari pola reaktif dan kasuistik menuju penyelesaian holistik yang berorientasi pada perdamaian. Pemerintah juga mendorong keterlibatan berbagai unsur nasional dalam merumuskan langkah strategis dan dialogis, termasuk melalui penguatan regulasi dan kebijakan afirmatif yang ditujukan untuk mengatasi persoalan dari akar.  Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian HAM tidak hanya diarahkan pada penanganan sebuah peristiwa setelah terjadi. Pencegahan, pemulihan, penguatan institusi, perlindungan masyarakat sipil, dan penciptaan kondisi sosial yang lebih damai juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pemerintah sebelumnya juga menekankan rekonsiliasi dan perdamaian sebagai pendekatan dalam menangani persoalan di Papua, termasuk dengan memperhatikan kondisi masyarakat yang terdampak konflik.  Pada saat yang sama, ruang demokrasi tetap harus dijaga. Masyarakat memiliki hak menyampaikan aspirasi, memberikan kritik, melakukan pengawasan, dan mendorong perbaikan kebijakan. Namun, penyampaian aspirasi akan lebih produktif apabila diarahkan pada solusi berbasis data. Pengamat politik Indeks Data Nasional Ayip Tayana mengingatkan agar wacana mengenai aksi tidak berkembang menjadi mobilisasi emosi atau kebencian. Ia mendorong mahasiswa dan masyarakat sipil untuk meningkatkan kualitas kontribusi melalui riset, pengawasan terhadap program pemulihan korban, serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis bukti.  Pesan tersebut relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Persoalan HAM merupakan isu serius sehingga setiap informasi mengenai dugaan pelanggaran harus diperiksa secara hati-hati. Masyarakat sebaiknya tidak langsung mempercayai atau menyebarluaskan konten yang sumbernya tidak jelas, potongan video tanpa konteks, maupun narasi yang sengaja membangun kebencian terhadap kelompok tertentu. Kritik tetap dapat disampaikan, tetapi harus dibangun di atas fakta dan disalurkan melalui mekanisme demokratis yang tersedia.  Pemerintah juga terus memastikan bahwa setiap komitmen HAM memiliki tindak lanjut yang transparan dan dapat dievaluasi publik. Pemulihan korban, penyelesaian pengaduan, pencegahan pelanggaran berulang, penguatan aparat dan lembaga, serta kebijakan yang menjawab akar persoalan harus menjadi bagian dari agenda berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat dapat melihat perkembangan secara lebih objektif sekaligus memberikan masukan apabila masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki.  Karena itu, masyarakat tidak perlu terjebak pada provokasi yang mengubah persoalan serius menjadi konflik antarkelompok. Aspirasi tetap dapat disampaikan secara damai, kritik tetap dapat diberikan secara terbuka, dan pengawasan tetap dapat dilakukan secara aktif. Namun, semuanya akan jauh lebih bermanfaat apabila berorientasi pada penyelesaian. Dengan memperkuat dialog, verifikasi informasi, evaluasi kebijakan, dan kerja sama lintas lembaga, agenda penghormatan HAM dapat terus bergerak menuju perlindungan masyarakat yang lebih baik serta terciptanya kehidupan sosial yang aman, damai, dan bermartabat.  *Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan 

Read More
Back To Top