Ekonomi Biru Diperkuat lewat Pendidikan Vokasi, Riset Terapan, dan Pemberdayaan Pesisir

Jakarta – Anggota Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan DPR RI Hendry Munief menegaskan bahwa konsep ekonomi biru perlu menjadi fondasi penting dalam pembangunan wilayah kepulauan Indonesia. Menurutnya, penguatan ekonomi berbasis kelautan harus didukung melalui kebijakan yang terintegrasi, termasuk pendidikan vokasi, riset terapan, serta pemberdayaan masyarakat pesisir agar potensi maritim nasional dapat memberikan…

Read More

Ocean Institute of Indonesia: Jalan Baru Membangun Ekonomi Biru Nasional

Oleh: Alexander Royce )* Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk menjadikan sektor kelautan sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, potensi laut yang melimpah membutuhkan lebih dari sekadar sumber daya alam. Diperlukan sumber daya manusia unggul, riset yang kuat, teknologi inovatif, serta kelembagaan pendidikan yang mampu menjawab tantangan industri maritim modern. Kehadiran Ocean Institute of Indonesia (OII) menjadi langkah strategis pemerintah dalam membangun fondasi baru ekonomi biru nasional yang berkelanjutan.  Transformasi pendidikan kelautan melalui OII menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat laut sebagai sumber eksploitasi ekonomi, tetapi sebagai ruang pembangunan yang harus dikelola dengan pendekatan ilmu pengetahuan, inovasi, dan keberlanjutan. Institusi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kelautan Indonesia melalui pengembangan talenta maritim yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan zaman.  Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai pembentukan Ocean Institute of Indonesia menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sektor kelautan dan perikanan. Menurutnya, penggabungan 11 politeknik di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan merupakan langkah pembenahan menyeluruh, mulai dari kurikulum, tata kelola pendidikan, hingga orientasi lulusan agar lebih sesuai dengan kebutuhan ekonomi biru.   Trenggono menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya memahami teori kelautan, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi dan menciptakan industri baru berbasis sumber daya laut. Melalui OII, setiap kampus nantinya diarahkan memiliki kekhususan sesuai potensi wilayah masing-masing, seperti pengembangan budidaya, teknologi perikanan, maupun sektor kelautan lainnya. Pendekatan tersebut dinilai penting agar pendidikan vokasi tidak berjalan seragam, melainkan memiliki keunggulan spesifik yang dapat memperkuat daya saing nasional.  Langkah pemerintah ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya perhatian global terhadap ekonomi biru. Dunia saat ini mulai melihat sektor kelautan sebagai sumber pertumbuhan baru, mulai dari perikanan berkelanjutan, energi laut, bioteknologi kelautan, hingga industri berbasis biodiversitas. Indonesia dengan wilayah laut yang luas memiliki peluang besar untuk mengambil posisi strategis apabila mampu menyiapkan tenaga ahli yang kompeten.  Dalam konteks tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan bahwa pembangunan sektor maritim harus ditopang oleh penguatan kualitas talenta. Menurutnya, pengembangan ekonomi biru tidak dapat dilepaskan dari kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan industri agar potensi kelautan dapat dikelola melalui penguasaan ilmu pengetahuan serta inovasi.  Brian melihat Ocean Institute of Indonesia sebagai wadah penting untuk membangun sumber daya manusia kelautan yang memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan teknologi. Integrasi pendidikan vokasi kelautan dan perikanan dalam satu institusi besar dinilai dapat memperluas jejaring akademik, memperkuat kerja sama riset, serta membuka peluang bagi lulusan untuk berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global.  Penguatan pendidikan maritim melalui OII juga memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang semakin menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan ekonomi. Selama ini, tantangan sektor kelautan Indonesia bukan hanya persoalan pemanfaatan sumber daya, tetapi juga keterbatasan inovasi, teknologi, dan kapasitas manusia. Karena itu, keberadaan institusi khusus yang fokus pada kelautan menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut.  Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai penguatan sektor kelautan harus berjalan melalui sinergi antara pendidikan, penelitian, dan inovasi. Menurutnya, pengembangan ekonomi biru membutuhkan dukungan riset yang mampu menghasilkan solusi berbasis sains, termasuk dalam pengelolaan sumber daya laut, biodiversitas, serta pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah sektor kelautan.  Arif juga menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga riset dan institusi pendidikan agar hasil penelitian tidak berhenti di ruang akademik, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan industri. Kehadiran OII menjadi peluang untuk mempertemukan kekuatan pendidikan vokasi dengan kapasitas riset nasional sehingga inovasi kelautan dapat berkembang lebih cepat dan memberikan dampak nyata.  Sinergi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta BRIN menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi biru membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Pemerintah menyadari bahwa pengelolaan laut tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan konservasi atau produksi, tetapi juga harus didukung oleh manusia unggul yang mampu menciptakan terobosan.  Ke depan, Ocean Institute of Indonesia berpotensi menjadi pusat pengembangan talenta maritim Indonesia yang menghasilkan tenaga ahli, peneliti, dan inovator baru. Institusi ini dapat menjadi katalis bagi lahirnya industri kelautan modern yang memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan laut.  Dengan langkah tersebut, pemerintah menunjukkan komitmen untuk menjadikan sektor kelautan sebagai kekuatan baru pembangunan nasional. Ocean Institute of Indonesia bukan sekadar penggabungan lembaga pendidikan, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun generasi maritim yang mampu membawa Indonesia semakin berdaulat, inovatif, dan maju melalui ekonomi biru yang berkelanjutan.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Institut Kelautan Indonesia dan Jalan Baru Membangun Ekonomi Biru Nasional 

Oleh: Ariana Berlian )*  Indonesia selama ini dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan laut yang menjadi salah satu modal pembangunan paling strategis. Nilai tambah sektor kelautan dapat ditingkatkan, sementara pemanfaatan sumber daya laut masih didominasi aktivitas berbasis komoditas primer. Di tengah tantangan tersebut, pembentukan Institut Kelautan Indonesia atau Ocean Institute of Indonesia (OII) menjadi langkah penting yang menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah dalam membangun sektor kelautan. Kebijakan penyatuan sebelas politeknik di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan bukan sekadar perubahan kelembagaan, melainkan upaya membangun fondasi sumber daya manusia yang menjadi prasyarat utama bagi terwujudnya ekonomi biru Indonesia.  Pembangunan ekonomi modern tidak lagi hanya bertumpu pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kemampuan manusia mengolah, mengembangkan, dan menciptakan inovasi dari sumber daya tersebut. Negara-negara yang berhasil menjadi kekuatan maritim dunia tidak semata-mata memiliki laut yang luas, melainkan memiliki institusi pendidikan, riset, dan industri yang berjalan secara terpadu. Indonesia kini mulai menempuh jalan serupa melalui pembentukan Institut Kelautan Indonesia yang dirancang menjadi pusat pengembangan pendidikan vokasi, riset terapan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.  Keputusan Kementerian Kelautan dan Perikanan melebur sebelas politeknik melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50 dan Nomor 51 Tahun 2026 menunjukkan keberanian melakukan reformasi yang selama ini dinantikan. Selama bertahun-tahun, pendidikan vokasi kelautan berkembang secara terpisah dengan kualitas fasilitas, kurikulum, dan jejaring industri yang beragam. Dengan penyatuan kelembagaan, pemerintah memiliki kesempatan menyusun standar pendidikan yang lebih seragam, memperkuat tata kelola, serta mengintegrasikan sumber daya sehingga kualitas pendidikan dapat meningkat secara menyeluruh.  Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menempatkan transformasi pendidikan sebagai inti dari pembangunan sektor kelautan. Pengalaman meninjau langsung seluruh kampus vokasi memberikan gambaran bahwa memerlukan perubahan menyeluruh mulai dari kurikulum, fasilitas pembelajaran, hingga ukuran keberhasilan lulusan. Pandangan tersebut mencerminkan kesadaran bahwa pendidikan vokasi harus bergerak mengikuti perkembangan industri, bukan sekadar mempertahankan pola lama yang semakin tertinggal oleh kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar global.  Langkah tersebut juga memperlihatkan tanggung jawab pemerintah dalam mengelola investasi negara pada sektor pendidikan. Transformasi pendidikan juga menjadi momentum memperbaiki praktik-praktik yang selama ini masih berjalan secara tradisional. Melalui kolaborasi antara Institut Kelautan Indonesia dengan perguruan tinggi, lembaga riset, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional, pengembangan teknologi budidaya, hilirisasi produk, hingga industri pendukung diharapkan dapat berkembang lebih cepat sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar.  Peran riset menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan ekonomi biru. Kepala BRIN Arif Satria menegaskan kesiapan lembaganya untuk memperkuat kemitraan bersama Ocean Institute of Indonesia dalam menghasilkan inovasi yang mendukung berbagai program strategis pemerintah. Sinergi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem inovasi nasional. Ketika riset terhubung langsung dengan kebutuhan industri dan kebijakan pemerintah, hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, melainkan berkembang menjadi solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas sektor kelautan.  Pandangan serupa disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai kunci mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Menurutnya, potensi kelautan hanya dapat dioptimalkan apabila dikelola melalui penguasaan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan kolaborasi yang erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta dunia industri. Perspektif ini memperlihatkan bahwa pembangunan maritim tidak lagi dipahami sebatas eksploitasi sumber daya laut, tetapi sebagai proses membangun ekosistem pengetahuan yang menghasilkan teknologi, inovasi, dan nilai ekonomi baru.  Harapan agar Ocean Institute of Indonesia menjadi poros lahirnya pusat-pusat riset dan inovasi di berbagai daerah merupakan gagasan yang sangat strategis. Indonesia memiliki karakteristik kelautan yang berbeda di setiap wilayah, mulai dari perikanan tangkap, budidaya laut, bioteknologi kelautan, konservasi, hingga energi laut. Lebih jauh lagi, dorongan untuk melahirkan perusahaan rintisan berbasis teknologi kelautan menjadi indikator bahwa pembangunan sektor maritim mulai diarahkan menuju ekonomi berbasis inovasi. Kehadiran startup di bidang kelautan akan membuka ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan solusi digital, teknologi budidaya modern, sistem logistik, pemantauan sumber daya laut, hingga pengolahan hasil perikanan yang lebih efisien.  Pembentukan Institut Kelautan Indonesia merupakan investasi jangka panjang yang melampaui kepentingan pendidikan semata. Reformasi kelembagaan ini menjadi fondasi bagi lahirnya sumber daya manusia unggul, penguatan riset nasional, tumbuhnya inovasi teknologi, serta berkembangnya industri kelautan yang modern dan berdaya saing global. Ketika pendidikan, penelitian, dan industri bergerak dalam satu arah yang sama, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia memiliki pijakan kuat. Di tengah besarnya potensi ekonomi biru yang dimiliki Indonesia, Institut Kelautan Indonesia menghadirkan optimisme bahwa masa depan sektor kelautan akan dibangun bukan hanya dengan kekayaan laut yang melimpah, tetapi juga dengan kualitas manusia, ilmu pengetahuan, dan inovasi yang terus berkembang.  )* Penulis merupakan pengamat pendidikan 

Read More

CKG Sekolah Layani 8,82 Juta Siswa, Pemerintah Perkuat Deteksi Dini Kesehatan Anak

JAKARTA – Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional, pemerintah mencatat capaian positif melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah. Program tersebut telah menjangkau 8.824.185 peserta didik di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota. Capaian tersebut mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperluas layanan kesehatan preventif sekaligus memperkuat deteksi dini berbagai permasalahan kesehatan pada anak usia sekolah….

Read More

CKG Sekolah Periksa Kesehatan Fisik hingga Kejiwaan Anak di Seluruh Indonesia

Jakarta – Pemerintah terus memperluas Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah sebagai bagian dari komitmen memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program yang menyasar siswa SD, SMP, SMA sederajat, pesantren, hingga sekolah luar biasa (SLB) ini tidak hanya memeriksa kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa anak dan remaja. Melalui CKG, pemerintah menghadirkan layanan kesehatan…

Read More

Pemeriksaan Fisik dan Kejiwaan dalam CKG Sekolah adalah Investasi SDM Nasional

Oleh : Jonathan Janoel )* Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momen tepat bagi bangsa Indonesia untuk merefleksikan sekaligus mengapresiasi langkah nyata pemerintah dalam membangun generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Di tengah semarak perayaan, satu program strategis terus menunjukkan dampak nyata yaitu Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah. Program menjadi instrumen deteksi dini penyakit…

Read More

Dari Karies hingga Anemia, CKG Sekolah Membuka Data Penting Kesehatan Siswa

Oleh: Zhafran Goldwin )* Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di lingkungan sekolah mulai menunjukkan perannya sebagai instrumen penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih preventif dan berbasis data. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan terhadap peserta didik tidak hanya memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan individu, tetapi juga menghasilkan peta kesehatan anak usia sekolah yang selama ini belum terdokumentasi…

Read More

Aparat Tegaskan Komitmen Menindak OPM Pelaku Pembunuhan Warga Sipil di Yahukimo

Papua-Aparat keamanan menegaskan komitmennya untuk menindak kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang diduga menjadi pelaku pembunuhan terhadap warga sipil di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Penegasan tersebut disampaikan menyusul insiden kekerasan yang menewaskan sejumlah warga sipil di Distrik Seradala dan menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Aparat memastikan proses penyelidikan, pengejaran, serta penegakan hukum akan…

Read More

Negara Hadir Lindungi Warga Papua dari Gangguan Keamanan

PAPUA – Pemerintah bersama TNI dan Polri terus menunjukkan kehadiran negara dalam melindungi masyarakat Papua menyusul dugaan pembunuhan terhadap sejumlah warga sipil di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Aparat gabungan bergerak melakukan evakuasi, pendalaman informasi, penyelidikan, serta pengejaran terhadap pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut. Dugaan kekerasan yang terjadi pada 20 hingga 22…

Read More

Mengecam Gangguan Keamanan, Negara Hadir Lindungi Masyarakat di Papua

Oleh: Michael Wanggai )*  Pembunuhan terhadap warga sipil di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, merupakan tragedi yang harus dikecam secara tegas. Kekerasan terhadap masyarakat sipil, terlebih terhadap warga asli Papua, merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun. Peristiwa tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam memastikan setiap warga memperoleh perlindungan dan rasa aman.  Negara telah hadir di Papua dan terus bekerja untuk melindungi masyarakat. Kehadiran tersebut tidak hanya diwujudkan melalui aparat keamanan yang menjalankan tugas di wilayah rawan, tetapi juga melalui berbagai program pembangunan, pelayanan publik, dan upaya memperkuat kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks gangguan keamanan, kehadiran negara terlihat nyata melalui respons cepat TNI dan Polri dalam melakukan evakuasi, penyelidikan, pengejaran, pengamanan wilayah, serta penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab.  Peristiwa di Yahukimo menjadi bukti bahwa aparat keamanan tidak membiarkan masyarakat menghadapi ancaman seorang diri. Setelah muncul dugaan kekerasan terhadap sejumlah warga sipil, aparat gabungan segera melakukan pendalaman informasi dan proses evakuasi. Koops TNI Habema berkoordinasi dengan aparat terkait untuk menyelidiki peristiwa tersebut dan mengejar pihak-pihak yang diduga terlibat. Langkah ini menunjukkan bahwa negara bekerja untuk memastikan masyarakat memperoleh perlindungan dan para pelaku tidak dapat bertindak tanpa pertanggungjawaban.  Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto juga menyampaikan kecaman keras terhadap dugaan kekerasan yang menimpa warga sipil. Sikap tersebut memperlihatkan komitmen aparat keamanan untuk melindungi masyarakat tanpa membedakan latar belakangnya. Warga Papua, khususnya orang asli Papua, adalah bagian penting dari bangsa Indonesia yang memiliki hak untuk hidup aman dan mendapatkan perlindungan negara.  Kehadiran negara juga terlihat dari kerja aparat dalam menangani gugurnya Brigadir Fredi Lukas Awes, anggota Satgas Operasi Damai Cartenz, yang menjadi korban kekerasan di Kabupaten Yahukimo. Satgas Operasi Damai Cartenz bersama Polres Yahukimo dan unsur Brimob segera melakukan pengamanan lokasi, olah tempat kejadian perkara, pengumpulan barang bukti, pemeriksaan saksi, serta penyelidikan dan pengejaran terhadap pihak yang diduga bertanggung jawab.  Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa negara tidak tinggal diam. Setiap gangguan keamanan ditangani melalui prosedur yang terukur dan mekanisme hukum yang berlaku. Kepala Operasi Damai Cartenz-2026 Irjen Faizal Ramadhani memastikan bahwa proses penanganan dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.  Demikian pula Koops TNI Habema menegaskan bahwa operasi dilakukan secara selektif, terukur, profesional, dan sesuai hukum. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran aparat keamanan di Papua memiliki tujuan yang jelas, yaitu menghadirkan rasa aman bagi masyarakat dan memastikan setiap pelaku kekerasan mempertanggungjawabkan perbuatannya.  Kehadiran negara tidak boleh diukur hanya dari seberapa cepat aparat merespons sebuah peristiwa. Negara hadir melalui proses panjang dan berkelanjutan untuk menciptakan keamanan, membuka akses wilayah, melindungi masyarakat, mendukung pembangunan, serta memastikan pelayanan publik dapat terus berjalan. Ketika aparat melakukan patroli di wilayah rawan, mengevakuasi korban, menjaga jalur transportasi, mengamankan fasilitas publik, dan mengejar pelaku kekerasan, di situlah negara hadir secara nyata.  Pada saat yang sama, masyarakat juga memiliki peran penting dalam memperkuat kehadiran negara. Informasi dari warga dapat membantu aparat mendeteksi potensi gangguan keamanan dan mempercepat proses penanganan. Karena itu, imbauan agar masyarakat tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta melaporkan aktivitas yang mencurigakan merupakan bagian dari upaya membangun sistem keamanan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.  Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap klaim sepihak dan informasi yang belum terverifikasi. Dalam situasi keamanan yang kompleks, penyebaran informasi yang tidak akurat dapat memperbesar ketegangan dan menimbulkan ketakutan. Proses penyelidikan yang dilakukan aparat harus dihormati agar fakta mengenai suatu peristiwa dapat diungkap secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.  Kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata pada akhirnya justru merugikan masyarakat Papua sendiri. Ketika warga dibunuh, akses transportasi terganggu, aktivitas ekonomi terhambat, dan pembangunan terancam, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan. Karena itu, setiap tindakan kekerasan yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat Papua harus ditolak. Rakyat Papua membutuhkan keamanan dan pembangunan, bukan ancaman serta kekerasan.  Negara telah hadir dan akan terus hadir di Papua. Kehadiran tersebut diwujudkan melalui aparat keamanan yang menjalankan tugas, pemerintah yang membangun, serta berbagai kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tantangan keamanan tidak boleh menghapus fakta bahwa Papua terus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan nasional.  Peristiwa di Yahukimo harus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan harus dilakukan secara tegas dan profesional, sementara perlindungan terhadap masyarakat harus terus diperkuat. Dengan cara itu, kehadiran negara tidak hanya dirasakan ketika terjadi gangguan keamanan, tetapi hadir setiap hari dalam bentuk perlindungan, pelayanan, pembangunan, dan kepastian hukum.  Papua tidak dibiarkan berjalan sendiri. Negara hadir untuk melindungi masyarakat, menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan memastikan pembangunan terus berlangsung. Kekerasan tidak boleh menjadi penghalang bagi masa depan Papua. Dengan kerja bersama dan dukungan masyarakat, Papua dapat terus bergerak menuju kondisi yang lebih aman, damai, maju, dan sejahtera.  *Penulis merupakan Pengamat Sosial Kemasyarakatan Papua 

Read More
Back To Top