PFII sebagai Momentum Indonesia Memperdalam Pasar Keuangan dan Menjaga Rupiah

Oleh: Dhita Karuniawati )*  Pengesahan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menjadi tonggak penting dalam perjalanan reformasi sektor keuangan nasional. Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, tingginya suku bunga internasional, serta volatilitas arus modal, Indonesia membutuhkan instrumen kebijakan yang mampu memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan ketahanan sistem keuangan. Kehadiran PFII bukan sekadar menghadirkan kawasan keuangan bertaraf internasional, melainkan menjadi momentum strategis untuk memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus memperkuat fondasi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.  Selama ini, kedalaman pasar keuangan Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Kondisi tersebut menyebabkan pembiayaan pembangunan masih sangat bergantung pada sektor perbankan, sementara pasar modal, pasar uang, dan berbagai instrumen pembiayaan lainnya belum berkembang secara optimal. Akibatnya, ketika terjadi gejolak eksternal, tekanan terhadap arus modal dan nilai tukar rupiah relatif lebih besar karena struktur pasar yang belum cukup dalam untuk menyerap guncangan.  Pemerintah memandang PFII sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa pembentukan PFII bertujuan menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan internasional yang mampu menarik investasi global, memperluas sumber pembiayaan pembangunan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru di kawasan. Menurutnya, PFII tidak dibangun untuk menggantikan sistem keuangan nasional yang sudah ada, tetapi melengkapinya melalui ekosistem jasa keuangan berstandar internasional yang lebih kompetitif, inovatif, dan terintegrasi.   Sebagai daya tarik utama, pemerintah menawarkan berbagai insentif fiskal bagi pelaku usaha yang beroperasi di kawasan PFII, termasuk fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) badan hingga 0 persen dengan jangka waktu tertentu yang dapat mencapai 50 tahun sesuai kriteria yang ditetapkan. Kebijakan tersebut sempat memunculkan kekhawatiran mengenai potensi hilangnya penerimaan negara. Namun, Purbaya menegaskan bahwa insentif tersebut bukan merupakan potential loss karena sasaran utamanya adalah menarik investasi baru yang selama ini belum masuk ke Indonesia. Dengan kata lain, negara tidak kehilangan penerimaan yang sudah ada, melainkan menciptakan basis ekonomi baru yang diharapkan menghasilkan aktivitas bisnis, lapangan kerja, transfer teknologi, dan penerimaan negara yang lebih besar di masa depan.   Pendekatan tersebut pada dasarnya merupakan strategi untuk meningkatkan kedalaman pasar keuangan nasional. Masuknya lembaga keuangan global, investor institusi, perusahaan jasa keuangan, serta berbagai instrumen investasi baru akan memperbesar likuiditas pasar domestik. Semakin dalam pasar keuangan, semakin besar pula kemampuan ekonomi nasional dalam menyediakan pembiayaan jangka panjang bagi pembangunan infrastruktur, sektor riil, pembiayaan hijau, hingga transformasi digital tanpa terlalu bergantung pada pembiayaan luar negeri yang bersifat jangka pendek.  Dampak positif lainnya adalah meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Arus modal yang lebih stabil akan memperkuat permintaan terhadap aset berdenominasi rupiah sehingga membantu menjaga stabilitas nilai tukar. Rupiah yang stabil menjadi salah satu prasyarat penting bagi dunia usaha karena mampu menekan risiko nilai tukar, mengurangi biaya lindung nilai (hedging), serta memberikan kepastian dalam aktivitas investasi dan perdagangan internasional.  Meski demikian, keberhasilan PFII tidak hanya ditentukan oleh besarnya insentif perpajakan. Dunia usaha menilai kepastian hukum justru menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan fasilitas fiskal semata. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani mengatakan bahwa keberadaan regulasi yang memberikan kepastian hukum, tata kelola yang kredibel, penyelesaian sengketa yang cepat, serta konsistensi kebijakan akan menjadi pertimbangan utama investor internasional ketika memilih lokasi investasi. Menurut Apindo, insentif pajak hanya akan efektif apabila didukung oleh iklim usaha yang memberikan rasa aman dan kepastian bagi pelaku usaha.   Pandangan tersebut sejalan dengan praktik berbagai pusat keuangan dunia. Investor global tidak hanya mempertimbangkan tarif pajak yang rendah, tetapi juga memperhatikan kualitas institusi, kepastian regulasi, perlindungan hukum, efisiensi birokrasi, serta stabilitas politik dan ekonomi. Oleh karena itu, keberhasilan PFII akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam membangun ekosistem keuangan yang transparan, akuntabel, dan mampu memenuhi standar internasional.  Di sisi lain, pemerintah juga memastikan bahwa insentif perpajakan tidak diberikan secara serampangan. Fasilitas tersebut hanya ditujukan bagi kegiatan usaha tertentu yang benar-benar mampu menghadirkan investasi baru, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta memberikan kontribusi terhadap pengembangan sektor jasa keuangan nasional. Perusahaan multinasional yang telah masuk dalam skema pajak minimum global pun tetap akan mengikuti ketentuan perpajakan internasional sehingga kebijakan PFII tetap selaras dengan komitmen global Indonesia.   Pembentukan PFII seharusnya tidak dipandang semata sebagai kebijakan pemberian insentif pajak. Lebih dari itu, PFII merupakan strategi jangka panjang untuk memperdalam pasar keuangan nasional, memperluas sumber pembiayaan pembangunan, meningkatkan daya saing sektor jasa keuangan, sekaligus memperkuat stabilitas rupiah melalui peningkatan kepercayaan investor dan masuknya modal berkualitas. Apabila diimplementasikan secara konsisten dengan tata kelola yang baik, kepastian hukum yang kuat, serta pengawasan yang kredibel, PFII berpotensi menjadi salah satu reformasi ekonomi paling strategis dalam memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan keuangan di kawasan Asia.  *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia 

Read More

Program Listrik Desa Diperluas, Targetkan Jangkau Ratusan Ribu Pelanggan Baru

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat pemerataan akses energi melalui Program Listrik Desa (Lisdes) sebagai bagian dari komitmen menghadirkan keadilan pembangunan hingga ke pelosok negeri. Pada 2026, pemerintah menargetkan perluasan jaringan kelistrikan untuk menjangkau ratusan ribu pelanggan baru, terutama masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi…

Read More

Pemerintah Tekankan Validasi Data Agar Program Listrik Desa Tepat Sasaran

Jakarta – Pemerintah memperkuat pelaksanaan Program Listrik Desa melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mempercepat pemerataan akses listrik di seluruh Indonesia. Langkah tersebut dibarengi dengan penekanan pada validasi data agar pembangunan jaringan listrik benar-benar menjangkau wilayah yang masih membutuhkan layanan kelistrikan. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan validasi data…

Read More

Pemerataan Listrik Desa, Meningkatkan Kualitas Hidup Rakyat

 Oleh : Alva Adista )* Pemerataan listrik desa tidak dapat dipahami hanya sebagai pembangunan tiang, kabel, gardu, dan sambungan baru ke rumah warga. Program ini menyangkut kebutuhan dasar yang memengaruhi pendidikan, kesehatan, keamanan, komunikasi, dan kegiatan ekonomi masyarakat. Bagi penduduk perkotaan, listrik sering dianggap sebagai fasilitas yang selalu tersedia. Namun, bagi warga di wilayah terpencil, hadirnya listrik dapat mengubah kehidupan sehari-hari. Rumah menjadi lebih terang, anak dapat belajar pada malam hari, pelayanan publik berjalan lebih baik, dan masyarakat memperoleh peluang meningkatkan pendapatan. Karena itu, listrik desa menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pembangunan yang lebih merata.  Percepatan program tersebut membutuhkan data yang akurat agar pembangunan tidak salah sasaran. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Tri Winarno, menegaskan bahwa validasi data penting untuk memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal dalam memperoleh akses listrik. Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp10,3 triliun pada tahap pertama 2026 untuk mendukung pemerataan listrik desa. Pelaksanaannya akan dikawal bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan serta Kejaksaan. Pengawasan diperlukan karena program berskala besar harus berjalan transparan, tepat guna, dan menjangkau masyarakat yang belum menikmati listrik secara layak.  Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan bahwa pemerataan akses listrik tidak boleh berhenti sebagai komitmen atau target di atas kertas. Menurutnya, Program Listrik Desa harus diwujudkan melalui tindakan nyata karena listrik dapat membuka peluang ekonomi, meningkatkan kualitas hidup, dan memperkuat ketahanan energi nasional. Hingga April 2026, penyediaan listrik melalui pendanaan APBN telah terealisasi di 1.403 lokasi dan melayani 40.724 rumah tangga. Pemerintah bersama PLN menargetkan perluasan program di 2.792 lokasi hingga akhir 2026 dengan potensi menjangkau 137.266 calon pelanggan. Data tersebut menunjukkan bahwa pemerataan listrik membutuhkan kerja yang terencana dan berkelanjutan.  Dampak listrik desa paling mudah terlihat dalam bidang pendidikan. Anak-anak dapat membaca dan mengerjakan tugas pada malam hari dengan penerangan yang aman. Sekolah dapat mengoperasikan komputer, printer, proyektor, dan internet untuk mendukung pembelajaran. Guru juga lebih mudah menyiapkan bahan ajar serta mencari sumber pengetahuan dari luar daerah. Di tengah perkembangan pendidikan digital, akses listrik menjadi syarat utama agar sekolah desa tidak semakin tertinggal. Pemerataan energi ikut menentukan pemerataan kesempatan belajar. Anak yang tinggal jauh dari kota tetap berhak memperoleh fasilitas pendidikan yang mendukung perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan dirinya.  Dalam bidang kesehatan, listrik membantu puskesmas, pos kesehatan desa, dan rumah bersalin memberikan pelayanan yang lebih aman. Tenaga kesehatan membutuhkan energi untuk penerangan, penyimpanan vaksin dan obat tertentu, pengoperasian peralatan medis, serta komunikasi saat terjadi keadaan darurat. Tanpa pasokan listrik yang andal, pelayanan pada malam hari menjadi lebih sulit dan risiko keterlambatan penanganan dapat meningkat. Listrik juga membantu warga memperoleh informasi kesehatan melalui telepon seluler dan internet. Dengan demikian, pembangunan listrik desa bukan hanya urusan energi, tetapi juga bagian dari upaya melindungi kesehatan ibu, anak, lanjut usia, dan kelompok masyarakat rentan.  Manfaat lain terlihat pada kegiatan ekonomi rumah tangga dan usaha kecil. Petani dapat menggunakan pompa air, mesin penggiling, atau alat pengolahan hasil panen. Nelayan dapat menjaga kualitas hasil tangkapan dengan mesin pendingin. Penjahit, pedagang makanan, bengkel kecil, dan pelaku industri rumahan dapat meningkatkan produksi dengan peralatan listrik. Akses internet memungkinkan produk desa dipasarkan ke wilayah yang lebih luas. Saat listrik tersedia secara stabil, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi dapat mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Perubahan ini dapat memperluas lapangan kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, dan mengurangi kesenjangan ekonomi antara desa dan kota.  Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, menjelaskan bahwa peta jalan Program Listrik Desa telah dipadukan dengan Bantuan Pasang Baru Listrik. Bantuan itu ditujukan kepada masyarakat tidak mampu yang rumahnya berada dekat jaringan, tetapi belum mampu membayar biaya sambungan. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, pada 2 Juli 2026 juga menjelaskan tiga strategi pemerintah, yaitu memperluas jaringan PLN, membangun jaringan listrik mandiri berbasis potensi energi setempat, serta menyediakan pembangkit listrik tenaga surya individual dengan baterai bagi permukiman tersebar. Pendekatan berbeda dibutuhkan karena kondisi geografis setiap wilayah tidak sama.  Pada akhirnya, pemerataan listrik desa harus diukur dari manfaat yang dirasakan warga, bukan hanya dari jumlah jaringan yang dibangun atau desa yang tercatat telah berlistrik. Pasokan harus andal, biaya harus terjangkau, dan masyarakat perlu mendapat edukasi mengenai penggunaan listrik yang aman serta produktif. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, aparat pengawasan, dan masyarakat harus menjaga kerja sama agar pembangunan berjalan tepat sasaran. Setiap rumah yang memperoleh listrik menghadirkan kesempatan bagi anak untuk belajar, tenaga kesehatan untuk melayani, dan pelaku usaha untuk berkembang. Dari akses energi yang merata, kualitas hidup rakyat dapat meningkat secara nyata dan berkelanjutan.  *) Penulis merupakan Pengamat Isu Strategis 

Read More

Kolaborasi Lintas Sektor Mempercepat Listrik Desa

Oleh : Antonius Utomo )* Di era peradaban modern saat ini, ketersediaan energi listrik telah melampaui fungsinya sebagai sekadar sumber penerangan semata. Khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), listrik merupakan infrastruktur dasar sekaligus prasyarat utama bagi terwujudnya keadilan sosial, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas layanan kesehatan, dan akselerasi transformasi digital. Oleh karena itu,…

Read More

Penerima MBG Akan Disinkronkan dengan Dapodik untuk Cegah Data Ganda

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sinkronisasi data penerima dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Langkah ini dilakukan sebagai upaya memastikan bantuan diterima oleh sasaran yang tepat, mencegah terjadinya data ganda, serta meningkatkan efektivitas pemanfaatan anggaran negara. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Dapodik merupakan basis…

Read More

Pemerintah Kaji Ulang, Pastikan Penerima MBG Lebih Tepat Sasaran dan Transparan

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan manfaat program diterima oleh masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Langkah tersebut dilakukan melalui penyisiran ulang data lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), validasi penerima manfaat, serta evaluasi distribusi layanan agar pelaksanaan program semakin efektif, transparan, dan tepat sasaran. Wakil Kepala Badan Gizi…

Read More

MBG Kian Diprioritaskan bagi Kelompok yang Paling Membutuhkan Intervensi Gizi

Oleh : Muhammad Afif )* Pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk memperkuat kualitas pembangunan sumber daya manusia melalui penyempurnaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah memasuki tahap implementasi yang menjangkau jutaan penerima manfaat di berbagai daerah, perhatian pemerintah kini tidak lagi hanya berfokus pada perluasan cakupan program, tetapi juga pada peningkatan ketepatan sasaran. Langkah tersebut menjadi…

Read More

Integrasi Dapodik dan Data MBG Fondasi Transparansi Program Gizi

Oleh: Alexander Royce )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki fase yang semakin menentukan. Setelah cakupan penerima manfaat terus diperluas di berbagai daerah, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar memastikan makanan bergizi tersalurkan, melainkan memastikan seluruh proses berlangsung tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks tersebut, langkah pemerintah mengintegrasikan sistem MBG dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) merupakan kebijakan strategis yang layak diapresiasi karena menunjukkan bahwa penguatan program tidak hanya dilakukan dari sisi anggaran dan distribusi, tetapi juga melalui pembenahan tata kelola berbasis data.  Program sebesar MBG tentu memerlukan basis data yang akurat. Ketika jutaan peserta didik menjadi sasaran penerima manfaat, kesalahan pendataan berpotensi menimbulkan tumpang tindih penerima, ketidaktepatan distribusi, maupun pemborosan anggaran. Oleh sebab itu, penggunaan Dapodik sebagai referensi utama menjadi pilihan logis mengingat sistem tersebut selama ini menjadi basis data resmi pendidikan nasional yang terus diperbarui oleh satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Integrasi kedua sistem akan memperkuat validitas data sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap pelaksanaan program. Langkah ini juga sejalan dengan agenda transformasi digital pemerintahan yang menempatkan interoperabilitas data sebagai fondasi pelayanan publik yang lebih efektif.  Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Agustina Arumsari, menegaskan bahwa integrasi Dapodik dilakukan sebagai respons atas evaluasi pelaksanaan MBG di lapangan. BGN menemukan adanya ketidaksinkronan data, termasuk kasus satu sekolah yang dilayani oleh dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan program nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya, tetapi juga oleh kualitas sistem informasi yang mendukungnya. Dengan data yang semakin terintegrasi, pemerintah dapat memastikan jumlah penerima manfaat, lokasi sekolah, hingga distribusi layanan menjadi lebih akurat dan mudah diverifikasi.  Agustina juga menekankan bahwa pembenahan kelembagaan BGN terus dilakukan agar mampu mengimbangi semakin luasnya cakupan MBG. Kehadiran pejabat tinggi baru, penguatan tata kelola organisasi, serta evaluasi berkala terhadap operasional SPPG merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan. Sebelumnya, BGN juga memanfaatkan masa libur sekolah untuk melakukan penataan operasional, penyempurnaan distribusi, dan evaluasi menyeluruh sehingga ketika program kembali berjalan, kualitas layanan dapat semakin baik. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memilih melakukan perbaikan secara berkelanjutan daripada mempertahankan sistem yang belum optimal.  Integrasi data tersebut kemudian diperkuat melalui pendekatan pengawasan digital. Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Mariman Darto, menjelaskan bahwa sistem MBG ke depan akan dihubungkan dengan Dapodik sehingga seluruh proses dapat dipantau secara real time. Dengan sistem yang saling terhubung, pemerintah akan memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai jumlah penerima manfaat, sekolah yang dilayani, distribusi SPPG, hingga berbagai potensi penyimpangan yang dapat segera diidentifikasi sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.  Menurut Mariman, pemanfaatan teknologi digital bukan semata-mata untuk mempercepat administrasi, melainkan menjadi instrumen utama dalam membangun transparansi. Sistem pemantauan secara langsung memungkinkan pemerintah mengambil keputusan berbasis data, mempercepat koreksi apabila terjadi ketidaksesuaian, serta meningkatkan akuntabilitas seluruh pelaksana program. Di saat yang sama, masyarakat juga memperoleh keyakinan bahwa setiap anggaran negara benar-benar diarahkan kepada penerima yang berhak. Pendekatan seperti ini menjadi praktik tata kelola modern yang semakin dibutuhkan dalam pengelolaan program berskala nasional.  Namun demikian, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh akurasi data maupun kecanggihan teknologi. Aspek perubahan perilaku masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya. Dalam perspektif tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI, Cellica Nurrachadiana, mengingatkan bahwa MBG bukan sekadar program penyediaan makanan gratis, melainkan bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia. Ia menilai literasi gizi bagi orang tua perlu diperkuat agar manfaat program tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk pola konsumsi sehat di dalam keluarga.  Cellica berpandangan bahwa pemahaman mengenai komposisi gizi seimbang akan membuat orang tua mampu melanjutkan kebiasaan makan sehat yang diperoleh anak-anak melalui MBG. Dengan demikian, program pemerintah tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa pemenuhan kebutuhan nutrisi harian, tetapi juga menciptakan perubahan budaya yang mendukung percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan generasi muda. Pendekatan edukatif tersebut memperlihatkan bahwa MBG memiliki dimensi pembangunan manusia yang jauh lebih luas dibanding sekadar penyediaan makanan di sekolah.  Kolaborasi antara penguatan data, pengawasan digital, serta peningkatan literasi gizi menunjukkan bahwa pemerintah tengah membangun ekosistem MBG yang semakin matang. Integrasi Dapodik menjadi fondasi validasi data, sistem pemantauan real time memperkuat pengawasan, sementara edukasi gizi memastikan manfaat program dapat berlangsung secara berkelanjutan. Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam membentuk tata kelola yang lebih transparan, adaptif, dan berorientasi pada hasil.  Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program nasional tidak hanya diukur dari banyaknya penerima manfaat, tetapi juga dari kemampuan negara memastikan setiap kebijakan berjalan tepat sasaran, efisien, dan akuntabel. Langkah pemerintah mengintegrasikan Dapodik dengan sistem MBG menunjukkan keseriusan dalam membangun tata kelola yang semakin modern dan berbasis data. Dengan evaluasi yang terus dilakukan, dukungan lintas lembaga, serta komitmen memperkuat transparansi, Program Makan Bergizi Gratis berpeluang menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan produktif sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap arah pembangunan yang dijalankan pemerintah.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Ekonomi Biru Diperkuat Lewat Pembentukan Institut Kelautan Indonesia

Jakarta- Komitmen Indonesia untuk memperkuat pembangunan ekonomi biru terus mendapatkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Selain melalui penyempurnaan regulasi yang berpihak pada daerah kepulauan, penguatan riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia dinilai menjadi langkah strategis yang dapat diwujudkan melalui pembentukan Institut Kelautan Indonesia. Kehadiran lembaga tersebut diyakini mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi,…

Read More
Back To Top