Koreksi IHSG Bukan Cerminan Pelemahan Fundamental Ekonomi Nasional

Oleh : Rahmat Sulistyo )* Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat rencana evaluasi klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai tidak serta-merta mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional. Dinamika pasar menjadi momentum bagi pemerintah, BEI, dan OJK untuk melanjutkan penguatan transparansi, integritas, dan tata kelola pasar modal guna menjaga kepercayaan…

Read More

2 Tahun Prabowo-Gibran, Pangan dan Energi Diperkuat hingga Pelosok

Oleh : Aditya Perdana )*   Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum untuk menilai kemajuan sekaligus pekerjaan rumah di bidang pangan dan energi. Pemerintah mencatat peningkatan produksi beras dan memperkuat agenda transformasi energi. Namun, keberhasilan kebijakan pada akhirnya perlu diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat pertumbuhan.  Di bidang pangan, Indonesia mencatat produksi beras sebesar 34,69 juta ton sepanjang Januari hingga Desember 2025. Cadangan beras pemerintah mencapai 4,61 juta ton per 19 September 2026. Dengan perkiraan ketersediaan nasional sebesar 26,91 juta ton, stok beras diproyeksikan mencukupi kebutuhan hingga 310 hari. Capaian tersebut memperkuat upaya pemerintah membangun kemandirian pangan dan menjaga pasokan di tengah dinamika kebutuhan masyarakat.  Perubahan tata kelola pertanian ikut mendukung peningkatan produksi. Pemerintah menyederhanakan penyaluran pupuk bersubsidi agar distribusinya lebih cepat dan tepat sasaran. Alokasi pupuk ditambah 700 ribu ton, sementara harga eceran tertinggi diturunkan hingga 20 persen. Langkah ini dapat membantu petani mengurangi beban biaya dan memperoleh sarana produksi yang dibutuhkan.  Agar kebijakan tersebut benar-benar terasa, pelaksanaannya perlu terus diperiksa dari sudut pandang petani. Pupuk harus tersedia sesuai musim tanam, mudah diakses, dan tidak menyulitkan petani dengan proses administrasi yang berbelit. Pemerintah daerah, kelompok tani, dan koperasi dapat dilibatkan dalam pemantauan distribusi. Saluran pengaduan yang sederhana juga perlu disertai kepastian tindak lanjut, sehingga laporan tentang keterlambatan atau kelangkaan pupuk segera ditangani.  Ketahanan pangan tidak berhenti pada ketersediaan beras. Petani juga membutuhkan kepastian pasar, harga jual yang wajar, akses pembiayaan, dan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas. Perluasan produksi sebaiknya berjalan bersama perlindungan lahan pertanian dan perbaikan sarana irigasi. Pemerintah dapat menggunakan masukan dari petani di tiap daerah untuk mengetahui kendala yang berbeda, mulai dari kondisi lahan hingga jalur distribusi hasil panen.  Energi juga menjadi fondasi bagi kegiatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Presiden Prabowo mengarahkan transformasi menyeluruh PT PLN (Persero), mencakup pembenahan model bisnis, peningkatan efisiensi dan produktivitas, serta percepatan pemanfaatan tenaga surya dengan ambisi kapasitas 100 gigawatt. Rancangan transformasi PLN akan dikaji bersama Danantara sebelum dipaparkan kepada Presiden. Pembenahan ini penting seiring kebutuhan listrik rumah tangga, industri, dan layanan publik yang terus meningkat.  Bagi masyarakat, ukuran kemajuan energi tampak dalam pasokan listrik yang andal dan pelayanan yang tanggap. Listrik yang stabil membantu anak belajar, menjaga kegiatan usaha kecil, serta mendukung layanan kesehatan dan pendidikan. Karena itu, evaluasi kinerja PLN perlu memperhatikan pengalaman pelanggan, termasuk warga di wilayah terpencil yang menghadapi gangguan lebih lama atau akses layanan yang terbatas. Efisiensi perusahaan juga perlu berjalan seiring dengan perlindungan konsumen dan pemberian subsidi yang tepat sasaran.  Percepatan energi bersih dapat menjadi peluang untuk memperkuat ketahanan sekaligus daya saing Indonesia. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2025–2034 memuat tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan sebesar 69,5 gigawatt, termasuk 17,1 gigawatt tenaga surya. Sementara itu, ambisi pengembangan tenaga surya hingga 100 gigawatt memerlukan tahapan yang jelas. Kesiapan jaringan, kepastian investasi, ketersediaan teknologi, dan pelatihan tenaga kerja perlu dirancang secara terpadu.  Pengembangan energi bersih juga sebaiknya membuka manfaat ekonomi di daerah. Pemerintah dapat mendorong pelatihan bagi tenaga kerja lokal, mendukung industri komponen, dan memastikan masyarakat sekitar memperoleh informasi serta kesempatan berpartisipasi. Dengan demikian, proyek energi tidak hanya menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga menciptakan keterampilan, lapangan kerja, dan kegiatan ekonomi baru.  Pilihan teknologi lain, termasuk tenaga nuklir, memerlukan pembahasan yang terbuka. Pembangkit listrik tenaga nuklir telah tercantum dalam RUPTL 2025–2034 dan pemerintah menerima masukan dari kalangan akademisi serta kelompok cendekiawan. Potensi pasokan listrik rendah emisi dan stabil perlu dinilai bersama persyaratan keselamatan, pengawasan independen, kesiapan teknologi, serta dampaknya bagi masyarakat. Penjelasan yang mudah dipahami dapat membantu publik ikut menilai kebijakan berdasarkan informasi yang utuh.  Pangan dan energi juga saling berkaitan. Produksi dan distribusi pangan membutuhkan energi, sedangkan listrik yang andal mendukung pengolahan hasil pertanian dan kegiatan usaha. Pemerintah dapat memperkuat koordinasi kedua sektor dengan melibatkan petani, pelaku UMKM, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan warga. Masukan mereka sejak tahap perencanaan akan membantu kebijakan lebih sesuai dengan kebutuhan lokal dan mengurangi risiko program tidak berjalan optimal.  Memasuki tahun ketiga pemerintahan, pekerjaan berikutnya adalah menjaga capaian sekaligus memperbaiki pelaksanaan yang masih menghadapi kendala. Ketahanan pangan perlu terasa melalui pasokan terjangkau dan kesejahteraan petani. Ketahanan energi perlu tampak dalam listrik yang andal, layanan yang responsif, dan manfaat pembangunan yang menjangkau daerah. Evaluasi berkala, keterbukaan informasi, dan kesediaan mendengar masyarakat akan membantu pemerintah menentukan langkah yang lebih tepat.  Pangan dan energi yang kuat hingga pelosok tidak tercapai hanya melalui target nasional. Keduanya membutuhkan pelayanan yang dekat dengan masyarakat dan kebijakan yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tiap daerah. Jika kemajuan terus diiringi masukan publik dan pembenahan yang terukur, agenda kemandirian pangan dan energi dapat menjadi bagian nyata dari peningkatan kesejahteraan rakyat.  )* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia  

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran Perkuat Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat Papua 

Oleh : Yohanes Wandikbo )*  Dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penguatan pembangunan Papua melalui berbagai program strategis yang menyasar peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemerataan akses pendidikan, pemenuhan gizi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sejumlah tokoh adat Papua mengapresiasi komitmen pemerintah dalam mendorong pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat hingga tingkat kampung, sekaligus membuka peluang bagi generasi muda Papua untuk tumbuh, maju, dan berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.  Ondofolo Kampung Puay Yacob Fiobetauw menilai perhatian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat merupakan langkah positif dalam mendorong pemerataan pembangunan, termasuk di wilayah Papua. Menurut Yacob, keberlanjutan program yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat menjadi faktor penting untuk memperkuat kepercayaan dan partisipasi warga dalam pembangunan nasional.  Salah satu program yang mendapat perhatian ialah Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut dinilai berpotensi mendukung pemenuhan gizi anak sekaligus mempersiapkan generasi muda Papua agar tumbuh sehat, memiliki kemampuan belajar yang baik, dan mampu bersaing pada masa mendatang. Yacob berharap pelaksanaannya terus disempurnakan sehingga semakin banyak anak di berbagai wilayah Papua dapat merasakan manfaatnya.  Selain pemenuhan gizi, penguatan akses pendidikan juga menjadi bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia Papua. Hal ini tercermin dalam pengembangan Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika, Papua Tengah, yang mendapat perhatian dari jajaran TNI dan pemerintah daerah. Kunjungan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letjen TNI Lucky Avianto pada 15 Oktober 2026 memperlihatkan dukungan lintas sektor terhadap penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.  Dalam kunjungan tersebut, Letjen TNI Lucky Avianto berinteraksi dengan guru dan siswa untuk melihat secara langsung proses pembelajaran serta kebutuhan pengembangan peserta didik. Ia menilai antusiasme para siswa menjadi modal penting dalam menyiapkan generasi muda Papua yang berprestasi. Dukungan fasilitas olahraga dan pembinaan fisik juga diarahkan untuk memperluas kesiapan siswa yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan, termasuk institusi militer.  Pengembangan Sekolah Rakyat di Mimika turut mendorong minat daerah lain untuk menghadirkan layanan pendidikan serupa. Bupati Intan Jaya Aner Maisini menyatakan dukungan terhadap program tersebut melalui rencana pembangunan Sekolah Rakyat di wilayahnya bersama Kementerian Sosial dan kementerian terkait. Kehadiran fasilitas pendidikan yang lebih mudah dijangkau diharapkan membantu memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, termasuk masyarakat di wilayah pegunungan Papua.  Dukungan pemerintah daerah juga terlihat melalui kesiapan lahan seluas 8,5 hektare di Mimika untuk pembangunan fasilitas permanen Sekolah Rakyat. Kepala Dinas Sosial Mimika Hasan Kemong menyampaikan kesiapan pemerintah kabupaten dalam mendukung tahapan pembangunan tersebut. Sementara itu, Kepala Balai Besar Pendidikan Pelatihan dan Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial Regional VI Maluku dan Tanah Papua Jhon H. Mampioper menilai sinergi antara pemerintah dan TNI dapat membantu mempersiapkan siswa secara fisik, mental, dan akademis untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.  Di bidang ekonomi, pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi salah satu upaya memperkuat kemandirian masyarakat. Di Kabupaten Mimika, Kopdes Merah Putih Limau Asri Timur diarahkan menjadi wadah untuk menampung dan memasarkan hasil pertanian, khususnya padi, sehingga potensi produksi masyarakat memiliki akses yang lebih luas ke pasar di Timika dan sekitarnya.  Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika Samuel Yogi menekankan pentingnya menggali potensi unggulan daerah sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi lokal. Menurut Samuel, keterlibatan masyarakat sebagai anggota sekaligus pemilik koperasi perlu diperkuat agar kegiatan usaha dapat berkembang sesuai kebutuhan warga. Dengan pengelolaan yang profesional, koperasi diharapkan menjadi penghubung antara petani, pelaku usaha, dan konsumen.  Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa Kopdes Merah Putih dirancang sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat, bukan sekadar tempat berbelanja. Koperasi diharapkan mendukung distribusi kebutuhan pokok, penyediaan sarana produksi pertanian, serta penyerapan dan pemasaran hasil pertanian maupun perikanan. Bagi Papua, pendekatan tersebut membuka peluang untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus memperkuat perputaran ekonomi di tingkat kampung.  Keberhasilan berbagai program itu juga membutuhkan lingkungan yang aman dan hubungan harmonis antara aparat dengan masyarakat. Ondofolo Kampung Puay Yacob Fiobetauw mengapresiasi pendekatan sosial yang dilakukan TNI dan Polri di Kabupaten Jayapura. Kedekatan aparat dengan masyarakat adat dinilai dapat memperkuat kepercayaan, menjaga persatuan, dan mendukung kelancaran pembangunan. Yacob juga menekankan pentingnya toleransi antarumat beragama serta komitmen bersama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Ondofolo Kampung Atamali Septinus Ibo berharap pembangunan dan bantuan sosial terus diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat kampung. Ia juga mendorong agar pemanfaatan dana Otonomi Khusus Papua semakin memberikan manfaat nyata bagi warga, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan dan memperluas kesempatan ekonomi.  Dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran menjadi kesempatan untuk memperkuat kesinambungan pembangunan Papua melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, dunia pendidikan, dan aparat keamanan. Pendidikan yang lebih mudah diakses, pemenuhan gizi anak, serta penguatan koperasi merupakan langkah yang saling melengkapi dalam membangun fondasi kesejahteraan jangka panjang. Apresiasi para tokoh adat dan dukungan berbagai pemangku kepentingan menunjukkan pentingnya pembangunan yang melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dari proses perubahan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.  )* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua 

Read More

2 Tahun Prabowo-Gibran, Pemerintah Dengarkan Masukan untuk Benahi MBG dan Kopdes

Oleh: Rina Kusumawardani )*  Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penting dalam memperkuat pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), pemerintah menghadirkan pendekatan yang menghubungkan peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan penguatan ekonomi kerakyatan. Kedua program ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menjadikan pembangunan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari pemenuhan gizi generasi muda hingga kemudahan memperoleh kebutuhan pokok dan memperluas peluang usaha di tingkat desa.  MBG merupakan langkah strategis untuk menempatkan pemenuhan gizi sebagai bagian penting dari pembangunan manusia Indonesia. Anak-anak membutuhkan asupan bergizi agar dapat tumbuh sehat, belajar dengan optimal, dan mempersiapkan diri menjadi generasi produktif. Dalam perspektif pembangunan jangka panjang, investasi pada gizi bukan sekadar bantuan konsumsi, melainkan upaya memperkuat fondasi kualitas manusia yang akan menentukan daya saing bangsa. Melalui program ini, pemerintah berusaha memastikan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak untuk memperoleh makanan bergizi.  Komitmen memperbaiki kualitas pelayanan juga terlihat dari langkah Badan Gizi Nasional yang menguji coba penyajian MBG secara prasmanan pada Oktober 2026. Sistem tersebut diharapkan membuat makanan tersaji lebih hangat dan segar, meningkatkan minat siswa untuk makan, serta mengurangi makanan yang terbuang. Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menekankan pentingnya pembenahan tata kelola, pengawasan, dan penggunaan anggaran agar setiap porsi makanan memberikan manfaat nyata bagi penerimanya. Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa pelaksanaan program nasional perlu terus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.  Lebih jauh, pemerintah perlu dipandang sebagai penyelenggara kebijakan yang bersedia mendengar, berempati, dan memperbaiki kekurangan. Program sebesar MBG tentu membutuhkan proses evaluasi, pengawasan, dan penyesuaian secara berkelanjutan. Masukan orang tua, guru, pengelola dapur, tenaga kesehatan, serta masyarakat merupakan sumber informasi penting untuk meningkatkan kualitas layanan. Respons terhadap keluhan tidak seharusnya dipahami sebagai kelemahan pemerintah, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab untuk memastikan program berjalan semakin baik.  Dari sisi ekonomi, MBG juga berpotensi menggerakkan aktivitas produksi dan distribusi pangan. Kebutuhan terhadap beras, telur, sayuran, buah, daging, dan berbagai komoditas lainnya dapat membuka peluang pasar bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah. Manfaat ekonomi tersebut akan semakin besar apabila pengadaan melibatkan produsen lokal secara terencana dan transparan. Dengan demikian, program pemenuhan gizi dapat menciptakan hubungan antara kebutuhan masyarakat, aktivitas produksi, dan kesempatan kerja di daerah.  Sementara itu, KDKMP menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui kelembagaan koperasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Koperasi diharapkan mampu mempermudah akses terhadap kebutuhan pokok, membuka jalur pemasaran bagi produk lokal, serta memperluas kesempatan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan usaha. Dengan pengelolaan profesional, koperasi dapat berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi desa yang mempertemukan produsen, pedagang, pelaku UMKM, dan konsumen dalam ekosistem usaha yang saling mendukung.  Perkembangan konkret terlihat dari dukungan Perum BULOG terhadap distribusi pangan melalui jaringan KDKMP. Berdasarkan laporan 16 Oktober 2026, BULOG telah menyalurkan 53,5 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke 107 titik koperasi di tujuh provinsi. Penyaluran tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas akses masyarakat terhadap beras dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. BULOG juga merencanakan perluasan distribusi ke 1.250 titik pada tahap berikutnya, dengan target jaringan mencapai 8.000 titik di seluruh Indonesia.  Penguatan koperasi turut menjadi perhatian Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan melalui peninjauan operasional KDKMP di Kabupaten Sukoharjo pada 13 Oktober 2026. Pemantauan tersebut memperlihatkan pentingnya memastikan ketersediaan barang, kelancaran distribusi, kesiapan pengelola, dan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah juga mendorong koperasi agar tidak sekadar menjadi tempat berbelanja, tetapi berkembang menjadi penggerak ekonomi desa yang membantu penyerapan hasil pertanian dan produk usaha lokal.  Sinergi MBG dan KDKMP membuka peluang untuk membangun rantai ekonomi yang lebih kuat. Koperasi dapat menjadi salah satu saluran pemasaran produk pangan lokal, sementara kebutuhan bahan baku MBG berpotensi menciptakan permintaan yang lebih teratur bagi produsen. Jika dirancang dengan baik, hubungan tersebut dapat membantu memperluas pasar petani dan UMKM sekaligus mendukung penyediaan pangan berkualitas. Namun, manfaat itu memerlukan kepastian pembayaran, standar mutu, harga yang wajar, dan mekanisme pengadaan yang transparan agar pelaku usaha lokal benar-benar memperoleh kesempatan.  Pada akhirnya, capaian dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran perlu dilihat sebagai bagian dari proses membangun kesejahteraan yang berkelanjutan. MBG membawa agenda peningkatan kualitas gizi, sedangkan KDKMP memperkuat fondasi ekonomi berbasis koperasi. Keduanya memiliki potensi besar apabila didukung pelaksanaan yang konsisten, pengawasan yang efektif, dan evaluasi berdasarkan hasil nyata. Pemerintah yang mendengar aspirasi, memahami kesulitan masyarakat, serta bersedia memperbaiki program yang belum optimal akan memiliki landasan lebih kuat untuk menjaga kepercayaan publik. Ukuran keberhasilan akhirnya bukan sekadar jumlah anggaran atau unit yang beroperasi, melainkan manfaat yang dirasakan masyarakat, meningkatnya kualitas hidup, berkembangnya usaha lokal, dan semakin terjangkaunya kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat Indonesia.  *Penulis merupakan Pengamat ekonomi kerakyatan 

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Utamakan Dialog dan Jaga Demonstrasi Tetap Damai

Oleh: Insos Martha Kondologit )*  Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi momentum untuk mengapresiasi arah pembangunan sekaligus memperkuat perbaikan kebijakan. Upaya memenuhi kebutuhan pangan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperluas pelayanan publik membutuhkan kesinambungan serta dukungan masyarakat. Dukungan itu dapat diwujudkan melalui masukan yang membantu pemerintah mengenali persoalan di lapangan. Aspirasi perlu tersampaikan dengan jelas, sementara suasana damai harus dijaga agar evaluasi menghasilkan manfaat.  Pemerintah menjalankan agenda besar yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Pelaksanaannya menghadapi tantangan, mulai dari kesiapan fasilitas hingga koordinasi antarlembaga dan kondisi wilayah yang berbeda. Karena itu, capaian patut diapresiasi dan kekurangan perlu menjadi bahan pembenahan. Penilaian yang mempertimbangkan keduanya membantu masyarakat melihat perjalanan pembangunan secara utuh sekaligus mengawal manfaatnya.  Kesediaan pemerintah menerima kritik merupakan modal penting dalam proses tersebut dan ini tentu saja perlu diapresiasi. Masukan warga dapat menunjukkan hambatan yang luput dari laporan administratif, termasuk kesulitan mengakses layanan atau ketidaksesuaian pelaksanaan dengan kebutuhan setempat. Pemerintahan yang mendengar mempunyai kesempatan lebih besar untuk memperbaiki program. Pengalaman masyarakat menjadi bahan berharga untuk menyempurnakan kebijakan dan meningkatkan kualitas pelayanan.  Sikap Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terhadap evaluasi publik mencerminkan semangat tersebut.  Akademisi Ilmu Pemerintahan Institut Darul Ulum Banyuanyar (IDB), Achmad Baidowi, menilai keterbukaan Presiden Prabowo Subianto terhadap kritik dan masukan publik dapat memperkuat demokrasi serta mendukung kebijakan berbasis fakta dan data. Menurutnya, kesediaan Presiden mencermati masukan mencerminkan komitmen mendengar aspirasi masyarakat dan merespons persoalan di lapangan.  Keterbukaan pemerintah perlu memperoleh dukungan melalui kritik yang jelas dan berbasis persoalan. Masyarakat dapat menyampaikan apa yang belum berjalan, siapa yang terdampak, serta perbaikan yang dibutuhkan. Aspirasi konkret membantu pemerintah menentukan langkah penanganan. Instansi terkait juga perlu memastikan masukan diterima, diperiksa, dan ditindaklanjuti sehingga kesediaan mendengar terasa dalam pengalaman warga.  Momentum dua tahun pemerintahan perlu digunakan untuk menjaga kesinambungan program yang bermanfaat. Pembenahan dapat dilakukan sambil memastikan pelayanan tetap menjangkau masyarakat. Program yang menghadapi kendala membutuhkan pengawasan dan koreksi agar tujuan awalnya tercapai. Dukungan publik yang disertai evaluasi membantu pemerintah memperbaiki pelaksanaan serta memperkuat manfaat pembangunan di berbagai daerah.  Dalam hal ini, penyampaian aspirasi dapat dilakukan melalui pengaduan, diskusi publik, dan kajian independen. Berbagai saluran itu memungkinkan masyarakat ikut mengawal kebijakan. Pemerintah perlu menjaga komunikasi dengan warga, sedangkan penyampai aspirasi perlu memastikan tuntutannya dapat dipahami. Hubungan yang terbuka membantu mengurangi kesalahpahaman dan memperbesar peluang menemukan penyelesaian atas persoalan yang dihadapi.  Apabila masyarakat memilih demonstrasi, hal tersebut seringkali disusupi oleh penunggang gelap yang memang menginginkan sebuah situasi yang mengarah pada aksi-aksi kerusuhan. Demonstrasi yang disertai tindakan anarkis sangat berbahaya karena dapat memperburuk situasi dan mengancam keselamatan warga maupun petugas. Perusakan fasilitas, pembakaran, serta penyerangan berpotensi menimbulkan korban dan memicu bentrokan lebih luas. Dampaknya juga menjangkau masyarakat yang tidak mengikuti aksi, termasuk pedagang, pekerja, dan warga yang membutuhkan akses transportasi maupun pelayanan publik.  Kericuhan dapat mengganggu kegiatan ekonomi dan menghambat pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. Fasilitas yang rusak memerlukan biaya serta waktu untuk dipulihkan. Aspirasi yang semestinya menjadi bahan evaluasi pemerintah pun berisiko tenggelam dalam pemberitaan mengenai kekerasan. Karena itu, menjaga aksi tetap damai merupakan langkah penting untuk melindungi masyarakat sekaligus mempertahankan substansi tuntutan.  Kewaspadaan terhadap provokasi perlu diarahkan pada informasi palsu, hasutan menyerang, dan ajakan melakukan perusakan. Kritik maupun demonstrasi damai tetap harus dihormati, namun tentu saja masih banyak kanal aduan lain yang lebih efektif. Masyarakat dapat membantu dengan memeriksa sumber, tanggal kejadian, serta konteks gambar sebelum menyebarkannya. Media massa juga perlu menyediakan penjelasan yang cepat dan mudah diperiksa agar kesalahpahaman tidak berkembang menjadi ketegangan.  Aparat mempunyai peran penting menjaga keselamatan dan kelancaran penyampaian aspirasi. Pendekatan persuasif serta komunikasi dengan penyelenggara membantu mencegah gesekan. Perlindungan terhadap peserta aksi damai memperkuat kepercayaan masyarakat kepada negara. Apabila terjadi pelanggaran, penanganan yang proporsional berdasarkan perbuatan dan bukti diperlukan agar ketertiban terjaga dan situasi tidak semakin memburuk.  Dialog perlu diteruskan hingga menghasilkan tindak lanjut. Pertemuan stakeholder terkait dengan perwakilan masyarakat akan lebih bermakna apabila disertai pencatatan tuntutan, penanggung jawab, dan langkah penyelesaian. Warga perlu memperoleh informasi perkembangannya. Cara ini membantu pemerintah menunjukkan keseriusan menangani keluhan sekaligus memberikan dasar bagi masyarakat untuk menilai kemajuan pembenahan secara terbuka.  Dua tahun Prabowo-Gibran patut menjadi momentum memperkuat dukungan yang disertai kepedulian terhadap perbaikan. Aspirasi masyarakat merupakan bekal bagi pemerintah untuk berbenah, sementara demonstrasi damai menjaga pesan tersebut tersampaikan dengan aman. Dengan menolak provokasi dan kekerasan serta mengutamakan penyelesaian persoalan, pemerintah dan masyarakat dapat merawat kepercayaan sekaligus menjaga pembangunan bagi kesejahteraan bersama.  *) Penulis adalah pengamat kebijakan publik. 

Read More

Pemerintah Optimalkan Mitigasi Bencana, Perkuat Peringatan Dini dan Pendidikan Kebencanaan

Oleh : Salsabila R )* Pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi seiring peralihan musim kemarau menuju musim hujan pada akhir 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan kewaspadaan terhadap perubahan pola cuaca, penguatan mitigasi di daerah rawan bencana, serta edukasi kebencanaan yang melibatkan sekolah dan masyarakat. Sinergi antara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana.  Perubahan musim merupakan periode yang membutuhkan perhatian khusus karena kondisi cuaca dapat berubah dan memengaruhi tingkat risiko di berbagai wilayah. Setelah menghadapi musim kemarau yang relatif panjang dan kering, masyarakat perlu mempersiapkan langkah antisipasi terhadap peningkatan curah hujan yang dapat memicu banjir, tanah longsor, serta bencana hidrometeorologi lainnya. Kesiapsiagaan sejak dini diperlukan agar pemerintah daerah dan masyarakat memiliki waktu yang memadai untuk mengidentifikasi ancaman, menyiapkan sumber daya, serta menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.  BMKG menjelaskan bahwa fenomena El Nino turut berkontribusi terhadap karakteristik musim kemarau 2026. Dalam menghadapi perubahan kondisi tersebut, kesiapsiagaan perlu disusun secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan perkembangan informasi cuaca dan prediksi musim. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengingatkan bahwa kesiapan menghadapi musim hujan perlu mulai diperkuat meskipun sejumlah wilayah masih menangani dampak kekeringan. Saat ini kita semua sedang menangani dampak bencana kekeringan. Namun, dalam waktu dekat kita tentunya juga harus bersiap menghadapi bencana hidrometeorologi saat musim basah tiba.  Peringatan tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan mitigasi yang adaptif terhadap perubahan ancaman. Pemerintah daerah dapat memanfaatkan informasi meteorologi untuk meninjau kesiapan infrastruktur pengendali banjir, membersihkan saluran drainase, memetakan kawasan rawan longsor, serta menyiapkan jalur evakuasi. Di tingkat masyarakat, langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, menghindari pembangunan di kawasan berisiko tinggi, dan mengenali tanda-tanda bahaya dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak bencana.  BMKG memprediksi sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan kondisi normal. Meskipun awal musim hujan diperkirakan mundur di banyak wilayah, puncak musim hujan di sebagian besar daerah diproyeksikan tetap berlangsung pada Desember hingga Februari. Kondisi ini menegaskan bahwa perencanaan kesiapsiagaan perlu memperhatikan bukan hanya waktu dimulainya musim hujan, melainkan juga potensi peningkatan intensitas hujan ketika puncak musim tiba.  Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachry Radjab, menekankan perlunya kewaspadaan terhadap karakteristik musim tersebut. Satu hal yang perlu kami sampaikan juga bahwa awal musim hujan datangnya mundur, tapi puncaknya sama. Artinya puncak musim hujan akan tetap terjadi di Desember, Januari, Februari, namun perlu waspada ketika musim hujan langsung puncak.  Informasi prakiraan musim tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menyusun langkah antisipasi yang lebih terarah. Koordinasi antara BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi terkait diperlukan agar informasi cuaca dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Penyebaran peringatan dini melalui berbagai saluran komunikasi juga perlu diperkuat sehingga masyarakat memperoleh informasi yang mudah dipahami, tepat waktu, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara cepat.  Selain kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini, penguatan pengetahuan masyarakat menjadi unsur penting dalam pengurangan risiko bencana. BNPB mendorong pendidikan kebencanaan diterapkan secara konsisten, terutama di lingkungan sekolah yang menjadi tempat berkegiatan bagi anak-anak setiap hari. Edukasi tersebut tidak hanya mencakup ancaman banjir dan tanah longsor, tetapi juga gempa bumi, potensi megathrust, serta letusan gunung api yang membutuhkan pemahaman dan prosedur penanganan berbeda.  BNPB menekankan bahwa pembentukan budaya sadar bencana harus dilakukan melalui pembelajaran berkelanjutan. Abdul Muhari menyampaikan bahwa penguatan kapasitas melalui pelatihan mitigasi dan kesiapsiagaan perlu menjadi bagian dari proses pendidikan sepanjang hayat. Dengan pengetahuan yang memadai, peserta didik diharapkan mampu mengenali potensi bahaya, memahami prosedur keselamatan, dan mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi keadaan darurat.  Salah satu upaya yang didorong adalah penerapan tiga pilar Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), yaitu fasilitas sekolah yang aman, prosedur keselamatan dan evakuasi yang jelas, serta integrasi pendidikan kebencanaan dalam kegiatan pembelajaran. Ketiga pilar tersebut dapat dilaksanakan melalui pemeriksaan kondisi bangunan, pemasangan petunjuk jalur evakuasi, penyediaan titik kumpul, dan simulasi bencana secara berkala. Pelibatan guru, tenaga kependidikan, orang tua, serta unsur kebencanaan daerah akan membantu memastikan prosedur keselamatan dipahami dan dapat diterapkan oleh seluruh warga sekolah. Melalui pendekatan latihan yang terstruktur dan rutin, para siswa diharapkan mampu membentuk memori jangka panjang sehingga dapat mengambil keputusan dan bertindak cepat saat menghadapi situasi darurat yang sebenarnya  Pelaksanaan simulasi secara rutin menjadi sarana untuk membangun respons yang terlatih sekaligus mengevaluasi kesiapan sekolah. Hasil latihan dapat digunakan untuk memperbaiki prosedur evakuasi, memperjelas pembagian tanggung jawab, dan mengidentifikasi kebutuhan fasilitas pendukung. Pendekatan ini juga dapat diperluas ke lingkungan keluarga dan masyarakat melalui sosialisasi, latihan evakuasi, serta pengenalan jalur aman di sekitar tempat tinggal.  Penguatan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi membutuhkan kerja sama yang konsisten antara pemerintah, lembaga terkait, satuan pendidikan, dan masyarakat. Dukungan informasi BMKG, koordinasi penanggulangan bencana oleh BNPB dan pemerintah daerah, serta pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan dapat membentuk sistem mitigasi yang lebih tangguh. Dengan persiapan yang dilakukan sejak dini, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan musim, mengurangi risiko korban jiwa, serta menekan kerugian sosial dan ekonomi akibat bencana.  )* Pengamat Lingkungan Hidup 

Read More

Sinergi Kesiapsiagaan Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Oleh: Indah Prameswari)*  Perubahan musim mengingatkan Indonesia bahwa bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan kekeringan, membutuhkan kesiapan yang dirancang jauh sebelum keadaan darurat terjadi. Ancaman ini tidak cukup dihadapi melalui pengerahan petugas setelah bencana datang, melainkan memerlukan kerja bersama yang menghubungkan informasi cuaca, kebijakan pemerintah, kesiapan infrastruktur, dan partisipasi masyarakat.  Tantangan terbesar terletak pada kemampuan menerjemahkan peringatan menjadi tindakan nyata yang dapat melindungi warga dan mengurangi kerugian. Ketika informasi terlambat diterima, jalur evakuasi tidak dipahami, atau koordinasi antarlembaga tersendat, risiko yang semestinya dapat ditekan berpotensi berkembang menjadi bencana yang lebih luas.  Karena itu, kesiapsiagaan perlu dipahami sebagai rangkaian tindakan yang saling terhubung, mulai dari pemetaan wilayah rawan, penguatan infrastruktur, penyebaran informasi, hingga penyiapan sumber daya untuk keadaan darurat. Pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan setiap langkah memiliki penanggung jawab, jadwal pelaksanaan, serta mekanisme evaluasi agar upaya mitigasi tidak berhenti sebagai imbauan musiman.  Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan pentingnya memanfaatkan prediksi musim hujan 2026/2027 sebagai dasar untuk menyusun langkah antisipasi sejak dini. Ia menjelaskan, musim hujan diperkirakan datang secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia, dengan potensi puncak pada Desember 2026 hingga Februari 2027 sehingga pemerintah daerah perlu menyiapkan drainase, jalur evakuasi, dan langkah mitigasi sesuai karakteristik wilayah.  Informasi prakiraan cuaca akan lebih bermakna apabila menjadi dasar pengambilan keputusan, mulai dari membersihkan saluran air, memeriksa kondisi lereng, hingga menyiapkan tempat pengungsian. Pemerintah daerah perlu menghubungkan data BMKG dengan peta kerawanan setempat agar masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai ancaman, waktu kesiapsiagaan, dan tindakan yang perlu dilakukan.  Namun, kesiapan teknis harus berjalan seiring dengan keterbukaan informasi yang memungkinkan masyarakat memahami risiko dan menentukan langkah penyelamatan. Informasi mengenai kawasan rawan, perkembangan situasi, jalur evakuasi, serta ketersediaan bantuan perlu disampaikan secara cepat, akurat, dan mudah dijangkau, termasuk oleh warga yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.  Wakil Ketua Komisi Informasi (KI) Sumatera Barat, Mona Sisca, menekankan bahwa keterbukaan informasi merupakan bagian penting dari perlindungan keselamatan masyarakat ketika bencana mengancam. Ia mendorong badan publik menyampaikan data secara transparan mengenai risiko bencana, anggaran darurat, dan penyaluran bantuan agar warga tidak terjebak dalam simpang siur informasi maupun disinformasi.  Menurutnya, keterbukaan juga membangun kepercayaan publik terhadap keputusan pemerintah selama masa tanggap darurat dan pemulihan. Ketika informasi resmi disampaikan secara konsisten melalui kanal yang mudah diakses, masyarakat dapat mengikuti arahan dengan lebih tenang sekaligus ikut mengawasi distribusi bantuan agar berlangsung tepat sasaran.  Di lapangan, kesiapsiagaan memerlukan personel yang siap bergerak, peralatan yang berfungsi, logistik yang tersedia, serta prosedur penanganan yang dipahami seluruh petugas. Kebutuhan tersebut harus disesuaikan dengan karakter ancaman setiap daerah karena banjir, longsor, pohon tumbang, dan angin kencang membutuhkan pola respons yang berbeda, meskipun semuanya menuntut koordinasi cepat.  Kepala Pelaksana BPBD Aceh Besar Ridwan Jamil menjelaskan bahwa pihaknya menyiagakan personel selama 24 jam di sepuluh pos BPBD dan pemadam kebakaran untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Kesiapan tersebut disertai patroli di titik rawan banjir dan longsor serta respons terhadap genangan dan pohon tumbang, sehingga pemantauan rutin menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak bencana.  Di samping itu,kesiapan personel perlu dilengkapi latihan evakuasi yang melibatkan aparat desa, relawan, sekolah, fasilitas kesehatan, dan kelompok masyarakat yang rentan. Simulasi berkala membantu memastikan setiap pihak mengetahui tanggung jawabnya, sementara evaluasi setelah latihan dapat mengungkap kelemahan komunikasi, keterbatasan peralatan, maupun jalur penyelamatan yang perlu diperbaiki.  Di wilayah lain, Kepala BPBD Sulawesi Selatan Amson Padolo juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota mengaktifkan kembali posko kebencanaan untuk mengantisipasi peralihan musim. Langkah ini diperlukan ketika dampak kekeringan masih berlangsung dan musim hujan diperkirakan datang bertahap, sehingga kesiapan menghadapi dua jenis risiko perlu berjalan beriringan.  Keberadaan posko akan efektif apabila berfungsi sebagai pusat koordinasi yang menghubungkan informasi cuaca, pemantauan lapangan, kebutuhan logistik, dan keputusan penanganan. Pemerintah daerah perlu memastikan pembagian tugas antarlembaga berjalan jelas, persediaan darurat diperiksa berkala, serta dukungan bagi wilayah terpencil dapat dikerahkan tanpa menunggu hambatan berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.  Sinergi kesiapsiagaan menuntut pemerintah bergerak berdasarkan data, membuka informasi kepada publik, dan memastikan petugas memiliki kemampuan serta sarana yang memadai. Masyarakat pun perlu dilibatkan sebagai bagian dari sistem keselamatan melalui pemahaman risiko, kepatuhan terhadap peringatan, dan kesepakatan mengenai tindakan ketika tanda bahaya muncul.  Keberhasilan mitigasi tidak semata-mata diukur dari kecepatan bantuan tiba setelah bencana, tetapi dari seberapa jauh dampak dapat dikurangi melalui persiapan yang konsisten. Dengan koordinasi lintas lembaga, informasi yang tepercaya, dan partisipasi warga, Indonesia dapat membangun kesiapsiagaan yang lebih tangguh agar ancaman hidrometeorologi tidak berubah menjadi krisis kemanusiaan yang lebih besar.  )* Pengamat Isu Sosial 

Read More

Prabowo Gandeng Pakar Perkuat Solusi Penanganan Karhutla

Oleh: Indah Prameswari )*  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi tantangan serius bagi Indonesia karena dampaknya menjalar ke kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, kelestarian lingkungan, dan hubungan dengan negara tetangga. Kabut asap yang berulang menunjukkan bahwa penanganan bencana ekologis membutuhkan pendekatan yang lebih terencana, terutama melalui pencegahan, penguasaan teknologi, dan penegakan aturan secara konsisten.  Persoalan karhutla memiliki karakteristik yang kompleks, khususnya pada kawasan gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan dan sulit dipadamkan apabila api menjalar ke lapisan bawah permukaan. Karena itu, kebijakan yang efektif perlu menggabungkan pengetahuan ilmiah, kesiapan aparat, partisipasi masyarakat, dan pengelolaan ekosistem agar penanganan tidak terus berulang sebagai respons darurat tahunan.  Presiden Prabowo Subianto menunjukkan pendekatan yang menempatkan keahlian ilmiah sebagai bagian penting dalam merumuskan solusi penanganan karhutla. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Presiden Prabowo mengatakan perlunya masukan profesor dan pakar untuk mencari pendekatan penanganan asap sekaligus menekankan pencegahan yang presisi hingga tingkat desa.  Langkah tersebut penting karena keputusan pemerintah perlu mempertimbangkan karakteristik lahan, pola cuaca, sumber api, dan kemampuan pemadaman di setiap wilayah. Keterlibatan akademisi membuka ruang bagi evaluasi kebijakan berdasarkan bukti, sehingga teknologi dan anggaran dapat diarahkan pada intervensi yang paling dibutuhkan.  Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan juga harus menghasilkan kebijakan yang dapat dilaksanakan secara konkret, mulai dari mendeteksi titik panas hingga mengurangi kerentanan ekosistem gambut. Pemerintah perlu memastikan hasil diskusi dengan para ahli diterjemahkan menjadi pembagian tanggung jawab, target pencegahan, dan indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi secara berkala.  Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyampaikan bahwa lembaganya diminta mendukung penguatan deteksi dini dan pemantauan titik panas, termasuk melalui pemanfaatan kecerdasan buatan. Ia mengungkapkan, pembahasan bersama Presiden Prabowo juga mencakup pencegahan berbasis desa serta pengembangan alternatif ekonomi bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan gambut.  Pemanfaatan teknologi dapat mempercepat identifikasi wilayah berisiko dan membantu petugas menentukan prioritas penanganan sebelum api meluas. Namun, sistem deteksi hanya akan efektif apabila informasi yang dihasilkan segera ditindaklanjuti oleh petugas lapangan, didukung jaringan komunikasi yang memadai, serta dilengkapi sarana pemadaman yang sesuai dengan kondisi geografis.  Penguatan kelembagaan menjadi bagian penting dari upaya tersebut, terutama karena pengelolaan gambut berkaitan dengan kepentingan lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. Keputusan Presiden untuk membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) menunjukkan arah kebijakan yang menempatkan pencegahan dan pengelolaan ekosistem sebagai agenda strategis.  Badan tersebut dirancang untuk memperkuat pencegahan karhutla, terutama pada kawasan gambut, dengan dukungan ilmuwan dan tenaga profesional. Peran kelembagaan ini perlu dirumuskan secara jelas agar koordinasinya dengan kementerian, pemerintah daerah, lembaga riset, dan aparat penegak hukum tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan.  Di tingkat masyarakat, pencegahan memerlukan pemahaman bahwa pembukaan lahan dengan cara membakar dapat menimbulkan kerugian yang jauh melampaui manfaat jangka pendeknya. Edukasi harus disertai pilihan praktis, seperti bantuan peralatan pembukaan lahan tanpa pembakaran dan pengembangan komoditas yang sesuai dengan karakteristik lingkungan setempat.  Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menekankan perlunya mitigasi lintas sektor agar karhutla tidak terus berulang setiap tahun. Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah mempertimbangkan edukasi sejak dini, penyediaan sarana pemadaman, serta integrasi materi bahaya karhutla ke dalam pembelajaran di sekolah dan pendidikan agama.  Langkah edukasi tersebut perlu dihubungkan dengan pengawasan terhadap perusahaan yang beroperasi di kawasan rawan kebakaran. Kepatuhan terhadap kewajiban pencegahan, ketersediaan sarana pemadaman, dan penindakan terhadap pelanggaran harus berjalan seiring agar tanggung jawab perlindungan lingkungan tidak dibebankan kepada masyarakat kecil semata.  Pemerintah daerah juga memegang peran penting karena merekalah yang paling dekat dengan kondisi lapangan dan masyarakat di wilayah rawan. Posko siaga, kelompok masyarakat peduli api, patroli terpadu, serta koordinasi dengan aparat desa perlu diperkuat agar respons dapat dilakukan sebelum kebakaran berkembang menjadi bencana besar.  Selain itu, evaluasi kebijakan karhutla perlu dilakukan secara berkala dengan mengukur penurunan titik kebakaran, kecepatan respons petugas, dan keberhasilan pemulihan lahan gambut. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk memperbaiki strategi pencegahan sekaligus memastikan bahwa keterlibatan pakar menghasilkan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.  Prabowo menggandeng pakar untuk memperluas dasar pengetahuan dalam penanganan karhutla, tetapi keberhasilan pendekatan ini akan ditentukan oleh konsistensi pelaksanaannya di lapangan. Rekomendasi ilmiah perlu diikuti anggaran yang memadai, pembagian tugas yang jelas, pengawasan yang tegas, dan evaluasi terbuka atas hasil kebijakan.  Karhutla dapat ditekan apabila pencegahan ditempatkan sebagai prioritas bersama, didukung teknologi yang tepat, kelembagaan yang efektif, dan masyarakat yang memperoleh alternatif ekonomi berkelanjutan. Dengan menyatukan keahlian ilmiah dan tindakan nyata hingga tingkat desa, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk melindungi lingkungan, menjaga kesehatan publik, serta mengurangi kerugian akibat kebakaran yang berulang.  )* Pengamat Isu Sosial 

Read More

Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi melalui Edukasi dan Kolaborasi Lintas Sektor

Oleh : Antonius Utomo )* Indonesia menghadapi beragam ancaman bencana yang memerlukan kesiapsiagaan, mitigasi, dan koordinasi lintas sektor secara berkelanjutan. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan kekeringan, berpotensi menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, penguatan kapasitas masyarakat melalui edukasi kebencanaan dan latihan kesiapsiagaan menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko serta meningkatkan ketangguhan menghadapi keadaan darurat.  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mendorong peningkatan kapasitas kesiapsiagaan melalui pendidikan kebencanaan, penerapan prosedur evakuasi, dan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, serta masyarakat. Pendekatan ini diperlukan agar pemahaman mengenai ancaman bencana tidak berhenti pada pengetahuan teoritis, tetapi berkembang menjadi keterampilan praktis yang dapat diterapkan ketika situasi darurat terjadi.  Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus menjadi proses pembelajaran sepanjang hayat. Fenomena alam tidak dapat sepenuhnya dihentikan, sehingga upaya penanggulangan perlu diarahkan pada pengurangan risiko dan perlindungan keselamatan manusia. Prinsip tersebut juga relevan dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi kondisi atmosfer, cuaca, dan lingkungan.  Penguatan kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan menjadi salah satu prioritas karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan dalam aktivitas sehari-hari. BNPB mendorong penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) melalui tiga pilar utama, yaitu penyediaan fasilitas pendidikan yang aman, penerapan regulasi serta standar operasional prosedur (SOP) evakuasi, dan integrasi pendidikan kebencanaan dalam proses pembelajaran. Penerapan ketiga pilar tersebut diharapkan mampu membangun lingkungan sekolah yang lebih siap menghadapi ancaman bencana.  Pengalaman penguatan kesiapsiagaan di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, menunjukkan pentingnya edukasi dan simulasi kebencanaan sejak usia dini. Melalui dukungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sekolah didorong memberikan pemahaman mengenai potensi ancaman di lingkungan sekitar, jalur evakuasi, serta tindakan yang perlu dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Evaluasi keamanan bangunan dan kesiapan prosedur evakuasi juga diperlukan untuk memastikan warga sekolah memahami langkah perlindungan diri.  Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Bukittinggi Sudarman menekankan pentingnya menanamkan pemahaman mitigasi sejak dini agar peserta didik mampu menghadapi keadaan darurat tanpa kepanikan. Sementara itu, Kepala SD Negeri 14 Aur Tanjungkang Tangah Sawah, Rahmat Fuad, menyoroti peran guru dalam memberikan perlindungan psikologis kepada siswa. Guru diharapkan mampu menenangkan peserta didik sekaligus mengarahkan mereka menuju tempat aman sesuai prosedur yang telah dilatih.  Prinsip tersebut dapat diterapkan secara lebih luas dalam menghadapi bencana hidrometeorologi. Ketika terjadi hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir atau tanah longsor, masyarakat perlu memahami informasi peringatan dini, mengenali jalur evakuasi, dan mengetahui lokasi pengungsian yang aman. Sekolah juga perlu memastikan saluran drainase berfungsi baik, akses keluar tidak terhalang, serta komunikasi darurat dapat berjalan. Latihan berkala penting agar setiap individu mampu merespons ancaman secara cepat dan tepat.  Selain sekolah, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memperkuat literasi kebencanaan melalui penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kepala Departemen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yusman Wiyatmo, menekankan bahwa perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab akademis dan moral untuk menerjemahkan hasil riset menjadi pengetahuan praktis yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan komunitas dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai karakteristik ancaman serta langkah pengurangan risiko yang sesuai dengan kondisi setempat.  Yusman juga menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam membangun budaya sadar bencana. Melalui sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, edukasi kebencanaan dapat menjangkau kelompok yang lebih luas, termasuk keluarga, komunitas lokal, dan kelompok rentan. Pendekatan berbasis komunitas memungkinkan masyarakat berpartisipasi aktif dalam pemetaan risiko, pemantauan lingkungan, penyebaran informasi, dan pelaksanaan latihan evakuasi.  Kesiapsiagaan juga perlu didukung sistem informasi dan peringatan dini yang mudah dipahami serta menjangkau masyarakat secara cepat. Informasi dari instansi berwenang harus disampaikan secara jelas, akurat, dan konsisten agar masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual, bukan kabar yang belum terverifikasi. Pemerintah daerah, BPBD, satuan pendidikan, dan pengelola fasilitas publik perlu memperkuat koordinasi agar informasi ancaman segera diikuti tindakan yang sesuai.  Penguatan kesiapsiagaan bencana hidrometeorologi membutuhkan kesinambungan antara edukasi, latihan, kesiapan infrastruktur, peringatan dini, dan partisipasi masyarakat. Pemerintah perlu mendorong evaluasi berkala terhadap kesiapan fasilitas umum dan sekolah, sekaligus memastikan kelompok rentan memperoleh informasi serta bantuan evakuasi. Masyarakat juga perlu membangun kebiasaan menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan melaporkan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko banjir maupun longsor.  Melalui kolaborasi lintas sektor dan pembelajaran kebencanaan sejak dini, Indonesia diharapkan mampu membangun masyarakat yang lebih tangguh, mengurangi potensi korban jiwa, dan meminimalkan dampak bencana. Kesiapsiagaan bukan sekadar respons ketika ancaman muncul, melainkan investasi jangka panjang untuk melindungi keselamatan masyarakat dan menjaga keberlanjutan kehidupan.  )*Pengamat Kebijakan Publik 

Read More

BNPB Gandeng Perguruan Tinggi Untuk Perkuat Edukasi Kebencanaan

Jakarta — Pemerintah terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana melalui peningkatan kapasitas kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Langkah ini penting mengingat tingginya frekuensi kejadian bencana di Indonesia dan beragam ancaman yang memerlukan kesiapan serta respons cepat dari seluruh elemen masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan pentingnya penguatan…

Read More
Back To Top