Mengingat September Hitam Perlu Kedewasaan, Bukan Kemarahan yang Dibakar 

Oleh : Andika Pratama )*  Setiap momentum untuk mengingat kembali persoalan hak asasi manusia memiliki arti penting bagi kehidupan demokrasi. Ingatan publik terhadap berbagai peristiwa masa lalu bukan sekadar upaya membuka kembali luka, melainkan dapat menjadi ruang untuk memastikan bahwa persoalan yang pernah terjadi tidak dilupakan dan pelajaran darinya dapat digunakan untuk memperbaiki masa depan. Dalam konteks tersebut, September Hitam semestinya ditempatkan sebagai momentum refleksi yang mendorong masyarakat membicarakan penyelesaian persoalan secara dewasa, bukan sebagai ruang untuk membakar kemarahan yang berpotensi meluas menjadi konflik sosial.  Perkembangan isu September Hitam di ruang digital menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki perhatian terhadap persoalan HAM dan sejarah bangsa. Aktivisme digital dapat menjadi sarana untuk menjaga ingatan kolektif, memperluas diskusi, serta mendorong negara dan masyarakat untuk terus memperhatikan persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Namun, ruang digital juga memiliki risiko ketika informasi yang beredar tidak disertai konteks yang memadai. Narasi yang emosional, provokatif, atau tidak terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan membentuk persepsi yang tidak selalu sejalan dengan fakta.  Pengamat politik Indeks Data Nasional Ayip Tayana memandang fenomena September Hitam secara umum sebagai bagian dari aktivisme digital yang positif karena menjadi pengingat kolektif publik. Namun, ia mengingatkan agar momentum tersebut tidak berkembang menjadi mobilisasi emosi maupun kebencian. Pandangan tersebut penting karena perjuangan terhadap isu HAM pada dasarnya membutuhkan ketekunan, argumentasi, data, dan mekanisme penyelesaian yang jelas. Kemarahan mungkin menjadi titik awal munculnya perhatian publik, tetapi tidak cukup untuk menghasilkan penyelesaian yang berkelanjutan.  Demokrasi memang memberikan ruang bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan pendapat. Demonstrasi merupakan salah satu instrumen yang sah dalam menyampaikan aspirasi sepanjang dilakukan sesuai ketentuan hukum dan berlangsung secara tertib. Namun, sebagaimana disampaikan Ayip, masyarakat sipil juga perlu mengevaluasi apakah demonstrasi harus selalu menjadi satu-satunya jalan untuk mendorong penyelesaian persoalan HAM masa lalu. Pertanyaan tersebut layak dikembangkan menjadi diskusi yang lebih luas mengenai efektivitas berbagai jalur advokasi, dialog, penelitian, pendokumentasian, pendidikan publik, hingga mekanisme pemulihan bagi korban.  Karena itu, tuntutan yang muncul dalam momentum September Hitam akan lebih bermakna apabila diarahkan pada persoalan konkret. Ayip menekankan pentingnya melihat kembali jumlah korban yang belum terverifikasi, memastikan program pemulihan benar-benar dirasakan penerima manfaat, serta memperkuat langkah negara agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Dengan pendekatan semacam itu, peringatan tidak berhenti pada ekspresi kemarahan, tetapi berkembang menjadi agenda yang dapat diukur dan dievaluasi.  Persoalan HAM masa lalu memang tidak sederhana. Pemerintah disebut telah melakukan sejumlah kemajuan dalam penanganannya, tetapi masih terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan tidak dapat dilihat secara hitam-putih. Ada langkah yang telah ditempuh, tetapi pada saat yang sama masih terdapat pertanyaan mengenai efektivitas pemulihan, pendataan korban, penyelesaian berbagai kasus, serta jaminan agar pelanggaran serupa tidak berulang. Ruang kritik tetap dibutuhkan, tetapi kritik akan memiliki daya dorong lebih kuat apabila dibangun berdasarkan fakta dan tuntutan yang terukur.  Di sisi lain, Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Alfred Papare mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dibawa dalam agenda Black September. Ia menekankan pentingnya menjaga kedamaian dan keamanan serta mengingatkan bahwa masyarakat dapat menyampaikan aspirasi sesuai ketentuan hukum. Kepolisian juga menyatakan kesiapan untuk melakukan mediasi dan mempertemukan massa aksi dengan instansi pemerintah terkait. Pendekatan dialog semacam ini penting agar penyampaian aspirasi memiliki ruang komunikasi yang jelas dan tidak berkembang menjadi benturan.  Kedewasaan dalam memperingati September Hitam bukan berarti menghapus ingatan terhadap persoalan masa lalu. Sebaliknya, kedewasaan berarti menjaga agar ingatan tersebut tetap hidup melalui cara-cara yang konstruktif. Masyarakat dapat memperingati momentum tersebut dengan memperkuat literasi sejarah, mendiskusikan persoalan HAM berdasarkan data, mendukung proses verifikasi korban, mengawasi pelaksanaan program pemulihan, serta mendorong kebijakan yang dapat mencegah terulangnya pelanggaran.  Mahasiswa dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Peran tersebut bukan hanya mengkritik, tetapi juga menghadirkan gagasan, menguji informasi, mengawal proses kebijakan, dan memastikan suara korban tetap menjadi bagian penting dalam pembahasan. Demikian pula pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membuka ruang dialog, memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta memastikan mekanisme penyelesaian berjalan secara nyata.  September Hitam seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat ingatan dan memperbaiki masa depan. Kemarahan yang tidak diarahkan hanya berpotensi melahirkan ketegangan baru, sementara dialog yang berbasis fakta dapat membuka jalan bagi penyelesaian yang lebih substantif. Mengingat masa lalu tidak harus berarti terjebak di dalamnya. Justru dengan kedewasaan, masyarakat dapat menjadikan setiap ingatan sebagai pelajaran, setiap kritik sebagai masukan, dan setiap aspirasi sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan demokrasi yang lebih tertib, terbuka, serta menghormati hak asasi manusia.  *) Penulis adalah Pengamat Sosial 

Read More

Ekonomi RI Resilien, Fondasi Makro dan Perbankan Masih Kuat

Oleh: Bagas Nurahman )*  Perekonomian Indonesia memiliki fondasi yang tetap kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi global sepanjang 2026. Stabilitas makroekonomi yang terjaga dan sistem perbankan yang solid menjadi dua penopang utama resiliensi ekonomi nasional. Keduanya memberikan ruang bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan, menjaga kepercayaan pelaku usaha, serta memperluas pembiayaan bagi sektor-sektor produktif. Dengan fondasi tersebut, tantangan global dapat direspons melalui kebijakan yang adaptif dan peluang pertumbuhan yang semakin beragam.  Perekonomian global diperkirakan masih menghadapi tekanan berupa tingginya harga energi, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan global diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi sekitar 3,0 persen pada akhir 2026 sebelum kembali membaik pada 2027. Namun, dinamika tersebut berlangsung ketika Indonesia memiliki aktivitas domestik yang relatif solid, investasi yang terus mengalir, serta dukungan sektor strategis yang memperkuat struktur ekonomi nasional.  Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon), Irman Faiz, mengatakan bahwa kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memicu tekanan inflasi dan memperketat kondisi keuangan di berbagai negara. Meskipun demikian, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik, serta kebijakan yang mendorong pergerakan ekonomi nasional.  Investasi asing langsung atau foreign direct investment terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, dan pengembangan pusat data. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sumber pertumbuhan Indonesia semakin beragam. Hilirisasi memperkuat nilai tambah sumber daya alam, industri logam dasar memperluas kapasitas produksi, sedangkan pusat data mendukung transformasi digital dan membuka peluang ekonomi baru. Kombinasi tersebut memperkuat fondasi pertumbuhan jangka menengah dan panjang.  Stabilitas makroekonomi juga tercermin dari upaya menjaga keseimbangan eksternal dan ketahanan pasar keuangan. Defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama. Volatilitas pasar keuangan global serta perubahan arah kebijakan moneter negara maju juga menjadi faktor yang perlu dikelola secara cermat. Penguatan instrumen stabilisasi menjadi bagian penting agar dinamika eksternal tetap dapat direspons secara terukur.  Bank Indonesia terus memperkuat pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik. Pasar valuta asing yang lebih dalam, likuid, dan berdaya tahan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, memperluas akses pengelolaan risiko, serta meningkatkan kepercayaan investor. Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan fondasi makroekonomi agar perekonomian nasional memiliki daya tahan yang semakin baik terhadap perubahan arus modal internasional.  Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengatakan bahwa penguatan pasar valuta asing dilakukan melalui pengembangan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction, penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, serta implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra atau VASTRA.  Kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik. Selain memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, kebijakan tersebut diharapkan meningkatkan likuiditas pasar valuta asing, memperbaiki transparansi transaksi, dan mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang. Pendalaman pasar keuangan dengan demikian memperkuat kemampuan ekonomi nasional dalam mengelola risiko sekaligus menjaga kesinambungan pertumbuhan.  Di sisi lain, kekuatan sistem perbankan menjadi fondasi penting yang menerjemahkan stabilitas makroekonomi ke dalam pembiayaan. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, mengatakan bahwa sistem keuangan Indonesia tetap kuat dan adaptif dalam menghadapi ketidakpastian global. Fundamental ekonomi yang terjaga memberikan ruang bagi sistem keuangan untuk merespons tekanan sekaligus mendukung kebutuhan pembiayaan perekonomian.  Sistem keuangan yang resilien tidak hanya mampu bertahan menghadapi guncangan, tetapi juga mampu mengubah ketahanan tersebut menjadi pembiayaan yang lebih kuat bagi sektor produktif dan prioritas. Karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial yang longgar guna mendorong intermediasi perbankan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kebijakan ini menjaga keseimbangan antara perluasan pembiayaan dan pengelolaan risiko.  Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial atau KLM serta implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia atau Pinisi. Kebijakan ini diharapkan memperluas ruang pembiayaan bagi dunia usaha, meningkatkan aktivitas sektor produktif, dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Dengan ketahanan yang solid dan ruang pembiayaan yang masih terbuka, kredit atau pembiayaan perbankan pada 2026 diperkirakan dapat tumbuh pada kisaran 8–12 persen.  Resiliensi ekonomi Indonesia pada akhirnya bertumpu pada hubungan yang saling menguatkan antara stabilitas makroekonomi dan kekuatan perbankan. Fondasi makroekonomi menjaga keseimbangan, kepercayaan, dan daya tahan ekonomi, sementara perbankan menyediakan pembiayaan untuk menggerakkan kegiatan produktif. Sinergi keduanya menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan, memperluas investasi, dan memperkuat daya saing nasional di tengah perubahan lanskap ekonomi global.  )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta 

Read More

Pemerintah Perkuat Fondasi Ekonomi melalui Investasi Produktif dan Pasar Keuangan

 Oleh: Rivka Mayangsari )*  Perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung sepanjang 2026. Pemerintah bersama Bank Indonesia memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus memastikan roda perekonomian tetap bergerak melalui investasi produktif, penguatan sektor riil, dan pendalaman pasar keuangan. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun fondasi ekonomi nasional yang semakin kuat, mandiri, dan mampu menghadapi berbagai tekanan eksternal.  Tantangan ekonomi global tidak dapat diabaikan. Tingginya harga energi, suku bunga global yang masih bertahan pada level tinggi, ketegangan geopolitik, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia memberikan tekanan terhadap banyak negara. Namun, Indonesia memiliki modal penting berupa stabilitas makroekonomi yang terus dijaga, konsumsi domestik yang relatif solid, arus investasi yang berkembang, serta kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru.  Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, menegaskan bahwa sistem keuangan yang resilien tidak cukup hanya mampu bertahan menghadapi tekanan. Sistem tersebut juga harus mampu mengubah ketahanan keuangan menjadi pembiayaan yang lebih kuat bagi perekonomian. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas keuangan yang berhasil dipertahankan perlu dimanfaatkan untuk mendukung ekspansi sektor produktif dan memberikan ruang yang lebih besar bagi dunia usaha.  Untuk mewujudkan hal tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial yang longgar guna mendorong intermediasi perbankan ke sektor-sektor produktif dan prioritas. Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) terus diperkuat dan diikuti implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI). Seluruh kebijakan tetap dilaksanakan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian sehingga peningkatan pembiayaan dapat berjalan seiring dengan terjaganya kesehatan sistem perbankan.  Kebijakan tersebut memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah dan otoritas moneter tidak hanya berfokus pada menjaga stabilitas, tetapi juga aktif menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Dengan ketahanan sistem keuangan yang solid dan ruang pembiayaan yang masih terbuka, Bank Indonesia optimistis kredit dan pembiayaan perbankan pada 2026 mampu tumbuh pada kisaran 8–12 persen. Pertumbuhan kredit tersebut diharapkan semakin memperkuat aktivitas sektor riil dan mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksinya.  Di tengah kondisi global yang penuh tantangan, prospek ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan. Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, memperkirakan perekonomian Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026. Pertumbuhan tersebut didukung investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik yang masih solid, serta kebijakan pemerintah yang terus diarahkan untuk menjaga momentum perekonomian nasional.  Investasi menjadi salah satu instrumen penting dalam strategi tersebut. Pemerintah terus mendorong masuknya investasi yang memberikan dampak langsung terhadap penguatan struktur ekonomi nasional. Investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, dan pengembangan pusat data. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia semakin mampu menarik investasi pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan sekaligus nilai strategis bagi perekonomian.  Hilirisasi menjadi salah satu kekuatan utama dalam agenda transformasi ekonomi. Pengembangan industri pengolahan memungkinkan sumber daya nasional tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diproses menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Kebijakan tersebut membuka peluang penciptaan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, memperluas rantai pasok, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam perdagangan global.  Pada saat yang sama, pengembangan pusat data menjadi bagian dari munculnya sektor ekonomi baru. Pertumbuhan ekonomi digital membutuhkan infrastruktur yang kuat dan berkelanjutan. Kehadiran investasi pada sektor tersebut menunjukkan bahwa strategi pemerintah tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, tetapi juga mulai memperkuat fondasi ekonomi berbasis teknologi dan kebutuhan industri masa depan.  Penguatan pasar keuangan juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya pemerintah dan Bank Indonesia menjaga ketahanan ekonomi. Bank Indonesia terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik. Pasar valuta asing yang semakin dalam, likuid, dan berdaya tahan akan membantu perekonomian menghadapi perubahan arus modal internasional serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.  Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia dibangun melalui strategi yang menyeluruh. Stabilitas makroekonomi dijaga, pembiayaan diperluas, investasi produktif didorong, hilirisasi dikembangkan, sektor digital diperkuat, dan pasar keuangan terus diperdalam. Sinergi pemerintah dan Bank Indonesia menjadi fondasi penting agar berbagai tantangan global dapat direspons dengan kebijakan yang terukur dan berorientasi pada kepentingan perekonomian nasional.  Dengan fondasi tersebut, Indonesia memiliki ruang untuk terus memperkuat pertumbuhan ekonomi di tengah perubahan lingkungan global. Investasi yang menghasilkan nilai tambah dan sistem keuangan yang tangguh bukan hanya menjadi instrumen menghadapi tekanan jangka pendek, tetapi juga bagian dari agenda membangun ekonomi nasional yang lebih produktif, kompetitif, dan berdaya tahan. Konsistensi kebijakan pemerintah bersama Bank Indonesia menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan, memperluas kesempatan ekonomi, dan memastikan momentum pembangunan tetap berjalan.  *) Pemerhati ekonomi  

Read More

September Hitam Jangan Menjadi Panggung Mobilisasi Kebencian yang Merusak Demokrasi

Oleh: Indah Prameswari )* Setiap September, ruang publik Indonesia kembali diwarnai refleksi mengenai berbagai peristiwa yang pernah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Momentum ini dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami sejarah, memperkuat kepedulian terhadap nilai kemanusiaan, serta melihat pentingnya menjaga kehidupan demokrasi secara sehat. Refleksi terhadap masa lalu akan lebih bermakna…

Read More

September Hitam Harus Jadi Ruang Ingatan Kolektif, Bukan Mobilisasi Emosi

Oleh: Rania Zafirah )* September kembali menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengingat berbagai peristiwa kelam dalam perjalanan bangsa. Istilah September Hitam berkembang sebagai simbol untuk mengenang sejumlah kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang masih menjadi bagian dari ingatan publik. Momentum tersebut penting karena mengingat sejarah bukan sekadar menghadirkan kembali luka masa lalu,…

Read More

Koperasi Merah Putih Membuktikan Pemerintah Serius Menutup Kebocoran Subsidi

Oleh : Catur Ronggo )* Kebocoran subsidi bukan sekadar persoalan anggaran yang hilang di tengah rantai distribusi. Di balik subsidi yang tidak tepat sasaran, terdapat hak masyarakat yang seharusnya menerima manfaat kebijakan negara. Karena itu, langkah pemerintah memperkuat Koperasi Merah Putih              sebagai saluran distribusi barang subsidi patut dibaca sebagai upaya serius memperbaiki tata kelola sekaligus…

Read More

Pemerintah Tepat Menjadikan Koperasi Merah Putih sebagai Kanal Subsidi Desa

Oleh : Radjiman Arif )* Penyaluran subsidi merupakan salah satu bentuk kehadiran negara yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, memastikan bantuan dan barang bersubsidi diterima oleh kelompok yang berhak bukan hanya persoalan administrasi, melainkan bagian penting dari tanggung jawab pemerintah dalam menjaga daya beli dan kesejahteraan rakyat. Dalam konteks tersebut, keputusan pemerintah menjadikan…

Read More

APBN Sehat Membuktikan Pemerintah Serius Menjaga Uang Negara

Oleh: Deka Bayu Dirgantara )* Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat keseriusan pemerintah dalam menjaga keuangan negara. APBN bukan sekadar kumpulan angka tentang penerimaan dan pengeluaran, tetapi merupakan instrumen yang menentukan bagaimana uang negara digunakan untuk membiayai pembangunan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hingga semester I 2026,…

Read More

Pemerintah Tepat Menjaga APBN Sehat Tanpa Mengorbankan Program Prioritas Rakyat

Oleh: Dwi Saputri )* Menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa mengorbankan program prioritas merupakan langkah tepat di tengah kebutuhan pembangunan dan dinamika ekonomi yang terus berkembang. Disiplin fiskal dan keberpihakan kepada masyarakat tidak semestinya dipertentangkan. APBN yang sehat justru menjadi fondasi agar pemerintah memiliki ruang untuk membiayai pembangunan dan menjaga kesejahteraan rakyat…

Read More

Peran Strategis Asuransi Pertanian dalam Menjaga Ketahanan Finansial Pahlawan Pangan

Oleh: Silvia Fahreza )* Ancaman perubahan iklim global seperti fenomena El Nino yang diproyeksikan melanda hingga enam bulan ke depan membawa tantangan serius bagi ketahanan pangan nasional. Sektor agraris memegang peranan krusial dengan memberikan sumbangan ekonomi masif, seperti kontribusinya yang mencapai hampir dua puluh empat persen terhadap perputaran ekonomi daerah di Sulawesi Tenggara. Menjaga denyut…

Read More
Back To Top