Dari Perizinan hingga Investasi, Debottlenecking Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru

Oleh: Ahmad Zulfikar )* Pertumbuhan ekonomi tidak semata ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh seberapa cepat investasi tersebut dapat diterjemahkan menjadi aktivitas produksi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan nilai tambah. Karena itu, hambatan birokrasi, regulasi yang tumpang tindih, hingga persoalan operasional tidak dapat dipandang sebagai persoalan administratif belaka. Pemerintah kini memperkuat debottlenecking sebagai strategi untuk mengurai berbagai persoalan yang membuat dunia usaha kehilangan waktu, kepastian, dan momentum ekspansi. Pendekatan tersebut menjadi penting ketika Indonesia membutuhkan iklim investasi yang semakin kompetitif di tengah persaingan antarnegara untuk merebut modal dan teknologi. Dengan demikian, membenahi hambatan usaha merupakan bagian tak terpisahkan dari agenda mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.  Lebih jauh, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengidentifikasi dua kelompok persoalan yang memengaruhi iklim investasi, yakni hambatan pada aspek kebijakan dan kendala dalam kegiatan bisnis. Pemetaan ini penting karena persoalan investasi tidak selalu berhenti pada proses perizinan, tetapi dapat muncul ketika perusahaan telah mulai menjalankan kegiatan usahanya. Untuk merespons persoalan tersebut, pemerintah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah atau Satgas P2SP yang bekerja lintas kementerian dan lembaga. Mekanisme sidang aduan melalui kanal debottlenecking membuat persoalan pelaku usaha dapat ditangani secara langsung, sehingga pemerintah tidak sekadar menerima laporan, tetapi hadir mencari jalan keluar. Model penyelesaian seperti ini memperlihatkan pergeseran birokrasi dari sekadar regulator menjadi fasilitator kegiatan ekonomi.  Selanjutnya, kekuatan utama pendekatan tersebut terletak pada orientasinya yang tidak berhenti pada penyelesaian kasus individual. Purbaya menekankan bahwa debottlenecking juga diarahkan pada perbaikan sistemik melalui penyempurnaan regulasi, sehingga persoalan yang sama tidak terus berulang di kemudian hari. Inilah perbedaan antara deregulasi yang bersifat sesaat dan reformasi birokrasi yang membangun kepastian usaha secara berkelanjutan. Ketika satu hambatan dapat ditelusuri hingga akar regulasinya, pemerintah memiliki kesempatan memperbaiki desain kebijakan agar lebih sederhana, konsisten, dan responsif terhadap kebutuhan dunia usaha. Pada titik inilah debottlenecking dapat menjadi mesin pertumbuhan, karena efisiensi birokrasi secara langsung memperbesar ruang bagi investasi dan ekspansi produksi.  Sejalan dengan itu, optimisme Purbaya terhadap prospek perekonomian nasional semakin kuat karena koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai semakin sinkron. Sinkronisasi tersebut menjadi modal penting karena stabilitas makroekonomi harus berjalan beriringan dengan pembenahan iklim usaha. Kebijakan fiskal yang kredibel dan kebijakan moneter yang terkoordinasi akan lebih efektif ketika dunia usaha memperoleh kepastian dalam menjalankan investasi. Karena itu, penguatan debottlenecking melalui Satgas P2SP melengkapi stabilitas makro dengan perbaikan pada level mikroekonomi. Kombinasi keduanya menciptakan fondasi yang lebih kokoh bagi pertumbuhan yang tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan.  Bahkan, pemerintah mulai memperluas manfaat kanal debottlenecking ke ranah internasional. Langkah ini menunjukkan bahwa penyelesaian hambatan investasi tidak lagi ditempatkan semata sebagai urusan domestik, melainkan bagian dari strategi Indonesia membangun kepercayaan investor global. Satgas Debottlenecking untuk perusahaan domestik yang telah beroperasi sejak Desember 2025 menjadi pengalaman penting yang kini perlu dipromosikan secara masif kepada pasar dunia. Pesannya jelas: Indonesia tidak hanya menawarkan potensi pasar dan sumber daya, tetapi juga menyediakan mekanisme penyelesaian masalah ketika investor menghadapi kendala dalam menjalankan usaha. Strategi tersebut dapat memperkuat persepsi bahwa Indonesia serius membangun ekosistem investasi yang memberikan kepastian dari tahap perizinan hingga operasional.  Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan gambaran konkret mengenai efektivitas mekanisme tersebut. Satgas Debottlenecking telah menyelesaikan 124 dari 170 aduan kendala operasional yang diajukan perusahaan, sebuah capaian yang menunjukkan bahwa kanal penyelesaian masalah mulai menghasilkan dampak nyata bagi dunia usaha. Angka tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pemerintah berupaya mengukur keberhasilan bukan hanya melalui pembentukan kelembagaan, tetapi dari persoalan yang benar-benar dapat diselesaikan. Bagi pelaku usaha, kepastian bahwa hambatan dapat dibawa ke meja penyelesaian memiliki nilai ekonomi yang besar karena waktu dan kepastian merupakan bagian penting dari biaya investasi. Karena itu, capaian tersebut patut dipandang sebagai fondasi awal bagi pembentukan iklim bisnis yang lebih produktif.  Dengan cara tersebut pula, pemerintah tidak hanya memadamkan persoalan ketika muncul, tetapi membangun sistem yang sejak awal mampu mencegah terbentuknya hambatan baru. Inilah esensi reformasi ekonomi yang menjadikan birokrasi sebagai pengungkit produktivitas, bukan beban tambahan bagi dunia usaha. Dengan begitu, pemerintah telah menunjukkan arah kebijakan yang semakin jelas melalui Satgas P2SP, koordinasi lintas kementerian, serta perluasan kanal penyelesaian hambatan kepada investor internasional. Dari perizinan, kepastian regulasi, hingga penyelesaian kendala operasional, setiap simpul yang berhasil diurai akan mempercepat perputaran investasi dan memperbesar peluang penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Tantangan berikutnya adalah memastikan mekanisme tersebut terus bekerja cepat, transparan, dan menghasilkan pembenahan sistemik. Jika konsistensi itu terjaga, debottlenecking bukan sekadar instrumen administratif, melainkan dapat menjadi salah satu mesin baru yang mengubah kepastian usaha menjadi investasi, investasi menjadi produksi, dan produksi menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.  *) Pakar Ekonomi Makro 

Read More

Debottlenecking Ekonomi Jadi Bukti Pemerintah Serius Menjaga Investasi

Oleh: Bara Winatha )* Pemerintah terus memperkuat upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyelesaian berbagai hambatan investasi dan aktivitas usaha. Langkah tersebut dilakukan melalui Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (P3M-PPE) dan Kanal Debottlenecking yang menjadi ruang penyelesaian persoalan dunia usaha secara lintas kementerian dan lembaga. Kehadiran mekanisme ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menawarkan insentif investasi, tetapi juga berupaya memberikan kepastian usaha dengan menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapi pelaku usaha.  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Satgas P3M-PPE, Airlangga Hartarto mengatakan penyelesaian hambatan investasi perlu ditempatkan sebagai mekanisme yang berkelanjutan agar pemerintah mampu menjaga iklim usaha tetap kondusif. Menurutnya, Kanal Debottlenecking menjadi instrumen penting untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang menghambat investasi, sekaligus memastikan kebijakan pemerintah dapat merespons kebutuhan dunia usaha secara lebih cepat.  Pendekatan tersebut menjadi penting karena dunia usaha selama ini menghadapi berbagai persoalan, mulai dari perizinan yang berbelit, tumpang tindih regulasi, ketidakpastian hukum, proses pengambilan keputusan yang panjang, hingga koordinasi antar instansi yang belum optimal. Melalui mekanisme debottlenecking, pemerintah berupaya mengubah pola penanganan dari sekadar menerbitkan regulasi menjadi penyelesaian langsung terhadap kasus yang dihadapi pelaku usaha. Kanal tersebut memberikan ruang bagi investor untuk menyampaikan persoalan, kemudian pemerintah melakukan koordinasi dengan kementerian atau lembaga yang memiliki kewenangan untuk mencari solusi.   Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan sekaligus Wakil Ketua Satgas P3M-PPE, mengatakan keberhasilan debottlenecking tidak cukup dinilai dari banyaknya pengaduan yang selesai ditangani. Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah perubahan cara pemerintah dalam menangani persoalan investasi, yaitu menjadi lebih efektif, praktis, transparan, dan terkoordinasi lintas kementerian.  Perkembangan Kanal Debottlenecking menunjukkan adanya peningkatan jumlah persoalan usaha yang berhasil ditindaklanjuti. Hingga pelaksanaan Sidang ke-13 Kanal Debottlenecking pada 12 Agustus 2026, Satgas P3M-PPE telah menyelesaikan 172 aduan yang disampaikan dunia usaha. Setiap persoalan ditangani melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait agar penyelesaiannya tidak berhenti pada rekomendasi administratif, tetapi menghasilkan kepastian bagi pelaku usaha.  Purbaya mengatakan pemerintah akan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk melakukan investigasi dan menyeragamkan tata kelola tarif di dalam maupun luar pelabuhan. Pemerintah juga akan mengkaji ketentuan mengenai perusahaan asing yang memiliki fasilitas depo di Indonesia. Rapat lanjutan dijadwalkan untuk menentukan langkah penyelesaian sehingga persoalan logistik tidak terus menjadi beban bagi dunia usaha.  Penyelesaian persoalan tersebut memiliki arti strategis karena sistem logistik yang efisien berpengaruh langsung terhadap daya saing industri. Biaya logistik yang tinggi dapat meningkatkan harga produk, mengurangi efisiensi, dan pada akhirnya melemahkan daya saing Indonesia. Karena itu, penyederhanaan aturan dan penyeragaman mekanisme layanan menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem investasi yang lebih kompetitif.  Persoalan muncul karena permohonan Persetujuan Komitmen Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan belum dapat diterbitkan. Sebagian wilayah yang dimohonkan terindikasi berada pada areal bekas konsesi perusahaan yang izinnya telah dicabut. Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi lintas kementerian karena berkaitan dengan mekanisme penataan lahan eks pencabutan konsesi. Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM akan berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan, Kementerian ESDM, dan perusahaan untuk mempercepat penyelesaian. Penanganan kasus tersebut juga memiliki potensi menjadi preseden bagi persoalan serupa, sehingga pemerintah perlu memastikan keputusan yang diambil memiliki dasar hukum dan dapat diterapkan secara konsisten.  Dari sisi dunia usaha, keberadaan mekanisme debottlenecking dinilai sebagai langkah yang positif. Shinta Widjaja Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengatakan deregulasi dan debottlenecking merupakan agenda penting untuk mendorong transformasi sektor riil serta meningkatkan daya saing nasional. Menurutnya, dunia usaha membutuhkan pemerintah yang mampu bergerak cepat ketika hambatan investasi muncul.  Shinta menilai berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha tidak selalu berbentuk administrasi sederhana. Sebagian hambatan bersifat struktural dan berkaitan dengan tumpang tindih kewenangan, regulasi yang berubah cepat, maupun kebijakan antar lembaga yang belum sepenuhnya selaras. Karena itu, penyelesaian kasus perlu diikuti dengan pembenahan kebijakan agar masalah serupa tidak berulang.  Apindo sendiri telah membentuk task force internal dan kanal debottlenecking untuk mengagregasi berbagai persoalan dunia usaha. Sejumlah isu yang dikawal antara lain pasokan bahan baku, logistik, sertifikasi halal, tata kelola ekspor, serta harga dan pasokan gas. Mekanisme tersebut memperlihatkan bahwa dunia usaha membutuhkan ruang komunikasi yang terstruktur dengan pemerintah agar persoalan dapat dianalisis berdasarkan bukti dan ditindaklanjuti secara terukur.  Debottlenecking ekonomi bukan sekadar mekanisme pengaduan, melainkan dapat menjadi instrumen penting untuk memperbaiki iklim investasi Indonesia. Penyelesaian 172 aduan menunjukkan adanya upaya pemerintah merespons persoalan nyata yang menghambat aktivitas usaha. Melalui koordinasi lintas kementerian, kepastian waktu penyelesaian, harmonisasi regulasi, serta keterlibatan aktif dunia usaha, debottlenecking dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap Indonesia. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah serius menjaga investasi melalui kebijakan yang tidak berhenti pada kemudahan administratif, tetapi berupaya memastikan setiap hambatan usaha memperoleh solusi konkret.  *)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan. 

Read More

Debottlenecking Ekonomi Dipercepat, Pemerintah Kawal Kepastian Usaha

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat penguraian berbagai hambatan ekonomi dan investasi guna menciptakan iklim usaha yang semakin kondusif, efisien, dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Upaya ini sejalan dengan penguatan debottlenecking sebagai instrumen untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah memiliki komitmen kuat untuk menjaga ketahanan ekonomi…

Read More

Pemerintah Perkuat Debottlenecking untuk Dorong Investasi Ekonomi Nasional

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat kebijakan debottlenecking sebagai langkah strategis untuk mendorong investasi ekonomi nasional. Upaya tersebut dilakukan dengan mempercepat penyelesaian berbagai hambatan yang dihadapi perusahaan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan Satgas Debottlenecking telah menyelesaikan 124 dari 170 aduan perusahaan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah…

Read More

Dari Modul Digital ke Kelas Pintar, Sekolah Rakyat Perkuat Masa Depan

Oleh: Alexander Royce )* Pendidikan merupakan eskalator peradaban yang mampu mengangkat martabat sebuah bangsa. Di tengah pusaran disrupsi teknologi dan tuntutan global terhadap kualitas sumber daya manusia, pemerintah dituntut untuk terus memperkuat fondasi pendidikan yang tidak hanya unggul, tetapi juga inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Salah satu lompatan strategis yang kini tengah direalisasikan dengan kesungguhan adalah transformasi sistem pembelajaran di Sekolah Rakyat. Kini, wajah Sekolah Rakyat sedang diubah dari sekadar institusi pendidikan dengan akses terbatas menjadi ruang belajar cerdas berbasis digital yang memfasilitasi setiap anak bangsa, di mana pun mereka berada, untuk merajut cita-cita setinggi langit.  Langkah taktis dan konkret pemerintah melalui sinergi antara Kementerian Sosial (Kemensos) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menjadi wujud nyata keberpihakan negara terhadap pemerataan hak pendidikan. Penyerahan 1.018 modul pembelajaran berbasis digital yang mencakup hingga 177 mata pelajaran dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas adalah bukti autentik bahwa inovasi teknologi dan kepedulian sosial bisa berpadu dengan harmonis. Kolaborasi strategis ini tidak hanya secara praktis menjawab tantangan ketersediaan bahan ajar hari ini, tetapi juga menjelma menjadi investasi jangka panjang demi mencetak generasi emas 2045 yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman.  Merespons perkembangan positif ini, sejumlah pemangku kepentingan utama menyampaikan pandangan yang mempertegas arah transformasi tersebut. Sekretaris Jenderal Kemensos, Robben Rico, menyoroti bahwa penyelenggaraan ekosistem pendidikan yang solid, seperti di Sekolah Rakyat, mutlak membutuhkan dukungan kolektif dari hulu ke hilir. Kehadiran modul-modul ini diposisikan sebagai pilar krusial, karena ekosistem pendidikan yang utuh senantiasa membutuhkan sinergi harmonis antara murid yang antusias, sekolah yang menaungi, guru yang kompeten, dan tentu saja bahan ajar yang mumpuni. Lebih dari itu, bahan pembelajaran yang diserahkan ini diyakini bukanlah sebuah produk akhir yang statis. Sebaliknya, modul tersebut dipandang sebagai instrumen dinamis yang akan terus melewati fase evaluasi dan penyempurnaan secara berkala, memastikan relevansinya dengan kebutuhan siswa yang terus berkembang di lapangan.  Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Pengembangan Kurikulum, Pembelajaran Digital, Kecerdasan Buatan, dan Metamesta UPI, Ahmad Yani, memaparkan landasan teknis yang membuat program ini sangat visioner. Beliau mengungkapkan bahwa ribuan konten modul tersebut didesain secara spesifik untuk terintegrasi dengan Learning Management System (LMS), sebuah langkah yang menjamin aksesibilitas digital dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para pendidik dan peserta didik. Diferensiasi pedagogis juga diterapkan dengan cermat; modul untuk jenjang Sekolah Dasar disusun agar lebih ringkas, sederhana, dan berkesesuaian dengan psikologi perkembangan anak, sedangkan untuk jenjang menengah dirancang lebih analitis. Pendekatan ini memastikan bahwa modul digital yang dihasilkan tidak sekadar memindahkan teks konvensional ke layar gawai, melainkan sebuah instrumen belajar yang interaktif dan kaya makna.  Turut melengkapi kerangka besar inovasi ini, Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan UPI, Prof. Dr. Rudy Susilana, memberikan catatan penting mengenai dimensi di balik penciptaan karya intelektual berskala besar tersebut. Beliau menekankan bahwa penyusunan modul ini jauh melampaui rutinitas pekerjaan akademik biasa. Prosesnya yang sangat kolaboratif dengan melibatkan pakar pendidikan, praktisi dari unsur Sekolah Rakyat, dan berbagai entitas terkait lainnya, telah berhasil melahirkan sebuah produk edukasi yang holistik. Apresiasi yang tinggi juga disematkan atas kepercayaan penuh yang diberikan oleh pemerintah—dalam hal ini direpresentasikan oleh Kemensos—kepada dunia perguruan tinggi untuk menjadi katalisator penggerak transformasi pendidikan bagi masyarakat luas.  Keberhasilan meramu kurikulum dalam format digital yang sistematis ini jelas menjadi hembusan angin segar bagi agenda besar pemerataan akses pendidikan nasional. Di berbagai penjuru negeri, anak-anak Sekolah Rakyat kini berkesempatan merasakan pengalaman belajar yang jauh lebih terstruktur, komprehensif, dan kaya akan referensi kekinian. Jika menilik tren pendidikan global saat ini yang menempatkan literasi digital sebagai kompetensi dasar, maka inisiatif cerdas Kemensos dan UPI ini terbukti sangat kontekstual. Langkah ini sukses meminimalisasi hambatan berupa kesenjangan infrastruktur fisik, sekaligus membangun semacam “jalan tol digital” menuju samudera pengetahuan yang tak terbatas, di mana jarak dan waktu tak lagi menjadi halangan utama.  Transformasi Sekolah Rakyat yang kita saksikan saat ini adalah refleksi dari komitmen tak tergoyahkan pemerintahan yang berkuasa dalam memajukan kualitas sumber daya manusia tanpa pandang bulu. Dengan mengedepankan inovasi yang tepat guna, kolaborasi lintas sektor yang kuat, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, pemerintah terus membuktikan kapasitasnya dalam merajut asa di seluruh pelosok Nusantara. Kerja-kerja nyata dan proaktif dalam memperkuat sistem pendidikan kerakyatan melalui digitalisasi ini tidak sekadar bertujuan mengejar ketertinggalan. Lebih jauh dari itu, hal ini merupakan pondasi kokoh untuk melontarkan Indonesia menuju kemajuan yang berkelanjutan. Di bawah kepemimpinan saat ini, komitmen terhadap pemerataan pendidikan yang bermutu tengah diterjemahkan menjadi aksi nyata yang membangkitkan optimisme, guna menjamin masa depan generasi penerus bangsa yang gilang-gemilang.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Kurikulum Digital dan Sekolah Rakyat Yang Makin Adaptif dan Berdaya Saing

Oleh : Abdul Razak )*  Transformasi pendidikan terus didorong pemerintah melalui penguatan akses sekaligus pembaruan cara belajar. Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu langkah untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sementara pengembangan kurikulum digital diarahkan agar proses pembelajaran semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan peserta didik.  Penguatan tersebut salah satunya terlihat dari penyusunan modul pembelajaran digital untuk Sekolah Rakyat. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung telah menyerahkan 1.018 konten modul pembelajaran kepada Kementerian Sosial sesuai kebutuhan program. Seluruh modul akan dimanfaatkan melalui Learning Management System (LMS) sehingga dapat diakses secara digital oleh guru maupun peserta didik.  Direktur Pengembangan Kurikulum, Pembelajaran Digital, Kecerdasan Buatan, dan Metamesta UPI, Ahmad Yani menjelaskan, ribuan konten tersebut mencakup 177 mata pelajaran untuk jenjang SD hingga SMA. Penyusunan dilakukan selama dua tahun, dengan 322 modul dari 63 mata pelajaran diselesaikan pada tahun lalu dan 696 modul dari 114 mata pelajaran rampung pada tahun ini.  Berdasarkan jenjang pendidikan, modul tersebut terdiri atas 73 mata pelajaran untuk SD, 44 mata pelajaran untuk SMP, dan 60 mata pelajaran untuk SMA. Setiap konten dirancang dalam beberapa bagian, mulai dari pendahuluan, kegiatan belajar, rangkuman, refleksi, latihan, hingga tes formatif.  Ahmad Yani menjelaskan modul digital memiliki karakter berbeda dibandingkan buku teks elektronik atau e-book. Pada jenjang SD, materi dibuat lebih ringkas, sederhana, dan disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Untuk SMP, materi disusun dengan kedalaman menengah, bahasa komunikatif, serta aktivitas pembelajaran yang lebih beragam.  Sementara itu, modul SMA memiliki cakupan materi lebih luas dan analitis dengan dorongan terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi. Materi juga memasukkan unsur pengembangan karakter dan kewirausahaan melalui berbagai contoh maupun ilustrasi yang relevan dengan kehidupan peserta didik.  Penyusunan modul tersebut dilakukan melalui skema kontrak swakelola pada 29 Mei hingga 24 Juli 2026. Sebanyak 274 penulis terlibat dari berbagai fakultas di UPI, termasuk bidang pendidikan bahasa dan sastra, ilmu sosial, teknik dan industri, ilmu pendidikan, olahraga dan kesehatan, seni dan desain, matematika dan ilmu pengetahuan alam, serta Kampus UPI di Tasikmalaya.  Tim penyusun juga melibatkan kepala sekolah dan guru Sekolah Rakyat serta penulis yang direkomendasikan Kementerian Agama. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum tidak hanya bertumpu pada perspektif akademik, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman praktis tenaga pendidik dan kebutuhan sekolah.  Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Robben Rico menegaskan bahwa modul pembelajaran tersebut tidak diposisikan sebagai produk yang berhenti setelah selesai disusun. Evaluasi akan dilakukan berdasarkan pelaksanaan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik di lapangan. Menurut Robben, hasil evaluasi akan menjadi dasar penyempurnaan modul secara berkelanjutan.  Penguatan materi digital tersebut berjalan seiring dengan upaya memperluas jangkauan Sekolah Rakyat. Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mendorong agar program pendidikan gratis yang dibiayai negara itu dapat menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia.  Saat melakukan kunjungan spesifik Komisi V DPR RI ke Sekolah Rakyat di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (24/8/2026), Lasarus menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Ia menilai Sekolah Rakyat penting untuk membuka kesempatan pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan.  Lasarus bahkan mendorong agar setiap kabupaten dan kota memiliki setidaknya satu Sekolah Rakyat. Menurutnya, perluasan program tersebut penting agar anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak terlambat memperoleh akses pendidikan dan memiliki kesempatan membangun masa depan yang lebih baik.  Pengembangan infrastruktur juga menjadi bagian penting dari perluasan program. Di Balikpapan, Pemerintah Kota menyiapkan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Pembiayaan pembangunan berasal dari pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial, sedangkan pemerintah kota bertanggung jawab memastikan kesiapan lahan.  Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo menjelaskan pemerintah daerah saat ini memprioritaskan kejelasan status dan sertifikasi lahan agar pembangunan dapat segera dilanjutkan pemerintah pusat. Sekolah Rakyat dirancang sebagai fasilitas pendidikan terpadu dengan sistem asrama atau boarding school dan sarana olahraga, mencakup jenjang SD, SMP hingga SMA.  Konsep tersebut menyasar terutama keluarga dalam kelompok ekonomi terbawah, khususnya desil 1 dan 2. Dengan fasilitas yang terintegrasi, peserta didik diharapkan memperoleh lingkungan belajar yang mendukung tanpa terbebani keterbatasan ekonomi keluarga.  Balikpapan juga menyiapkan pengembangan kawasan pendidikan negeri terpadu di Sirkuit Teritip. Dari lahan sekitar 76 hektare, sekitar 20 hektare direncanakan untuk fasilitas pendidikan terintegrasi mulai PAUD hingga SMA. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya diarahkan pada penambahan gedung, tetapi juga penguatan kapasitas layanan pendidikan dalam jangka panjang.  Kurikulum digital, perluasan Sekolah Rakyat, serta pembangunan fasilitas pendidikan terpadu menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan adaptif. Dengan pembelajaran berbasis teknologi, evaluasi materi secara berkelanjutan, serta akses pendidikan yang semakin luas, Sekolah Rakyat diharapkan mampu membekali peserta didik dengan pengetahuan, karakter, dan keterampilan yang relevan untuk menghadapi perubahan zaman serta meningkatkan daya saing generasi mendatang.  )* Analis Kebijakan  

Read More

Kurikulum Digital Diperkuat, Sekolah Rakyat Masuki Era Kelas Pintar

Jakarta – Sekolah Rakyat memasuki babak baru penguatan pembelajaran berbasis digital. Kementerian Sosial (Kemensos) menerima 1.018 modul pembelajaran hasil kolaborasi dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang mencakup 177 mata pelajaran untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Seluruh bahan ajar tersebut akan dimanfaatkan melalui Learning Management System (LMS) agar dapat diakses secara digital oleh guru dan…

Read More

Sekolah Rakyat Diperkuat 1.018 Modul Digital Hasil Kerjasama UPI

Jakarta – Pemerintah memperkuat kualitas pembelajaran Sekolah Rakyat melalui kolaborasi dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sebanyak 1.018 modul pembelajaran yang mencakup 177 mata pelajaran telah diserahkan UPI kepada Kementerian Sosial untuk mendukung proses belajar peserta didik Sekolah Rakyat di berbagai jenjang pendidikan. Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial, Robben Rico, mengatakan penyediaan bahan pembelajaran menjadi bagian penting…

Read More

Kepala BIN Herindra Dorong UU Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing

Oleh: Agustine Evelia Hannie )* Kedaulatan sebuah negara pada abad ke-21 tidak lagi hanya diuji di perbatasan teritorial. Informasi strategis, teknologi, infrastruktur digital, kepentingan ekonomi, proses politik, hingga pembentukan opini publik telah menjadi arena baru kompetisi antarnegara. Dalam lanskap ini, Indonesia membutuhkan perangkat hukum yang mampu mengenali perubahan karakter ancaman tanpa mengorbankan demokrasi dan kebebasan…

Read More

Kedaulatan di Garis Depan: Saatnya Indonesia Memiliki UU Penanggulangan Spionase dan Intervensi Asing

Oleh: Dimas Aryatama )* Kedaulatan Indonesia pada era modern menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ancaman terhadap kepentingan nasional tidak lagi hanya hadir dalam bentuk konflik bersenjata atau pelanggaran batas wilayah. Perkembangan teknologi, persaingan geopolitik, transformasi ekonomi digital, serta derasnya arus informasi telah menciptakan bentuk-bentuk ancaman baru yang bergerak di ruang yang tidak selalu mudah dijangkau…

Read More
Back To Top