Aspirasi Didengar, RUU Perampasan Aset Dikebut Menuju Paripurna Desember 2026

Oleh : Rivka Mayangsari )* Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset memasuki salah satu fase penting dalam perjalanan legislasi nasional. Komisi III DPR RI menargetkan penyusunan dan pembahasan regulasi tersebut dapat diselesaikan sehingga pengesahannya dapat dilakukan paling lambat Desember 2026. Target tersebut menunjukkan bahwa pembahasan RUU Perampasan Aset kini diarahkan pada tahapan yang lebih terstruktur dengan tetap mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat.  Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mengatakan waktu efektif yang tersedia untuk membahas RUU tersebut tersisa sekitar delapan minggu di luar masa reses anggota DPR. Waktu yang terbatas itu akan dimanfaatkan Komisi III untuk menyelesaikan berbagai tahapan penyusunan dan pembahasan sebelum RUU memasuki proses pengambilan keputusan.  Menurut Habiburokhman, percepatan pembahasan bukan berarti mengabaikan kualitas substansi. Sebaliknya, waktu yang tersedia akan digunakan secara optimal agar proses legislasi dapat berjalan terarah. Komisi III sebelumnya telah melakukan penyerapan aspirasi masyarakat melalui 35 kali rapat dengar pendapat umum (RDPU).  Penyerapan aspirasi tersebut menjadi bagian penting dalam penyusunan RUU Perampasan Aset. Berbagai pandangan dari akademisi, praktisi hukum, organisasi masyarakat, serta kelompok masyarakat lainnya diharapkan dapat memperkaya substansi regulasi. Selain RDPU, Komisi III juga telah menerima masukan tertulis dari puluhan elemen masyarakat dan melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah.  Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan RUU Perampasan Aset tidak hanya berlangsung melalui pembahasan internal lembaga legislatif. Aspirasi publik ditempatkan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam merumuskan aturan yang nantinya akan memberikan kewenangan penting kepada negara dalam menelusuri dan memulihkan aset yang berkaitan dengan tindak pidana.  Habiburokhman menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat mendukung pembentukan RUU Perampasan Aset, namun dukungan tersebut disertai harapan agar regulasi disusun secara cermat. Masukan publik menjadi penting karena regulasi perampasan aset memiliki konsekuensi terhadap penegakan hukum sekaligus perlindungan terhadap hak warga negara.  Dalam konteks pemberantasan korupsi, keberadaan instrumen hukum mengenai perampasan aset dinilai memiliki posisi strategis. Kejahatan ekonomi dan tindak pidana korupsi tidak hanya menimbulkan kerugian secara materiil, tetapi juga dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Karena itu, mekanisme pemulihan aset menjadi salah satu aspek yang perlu memperoleh perhatian dalam sistem penegakan hukum.  Namun, efektivitas regulasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan negara mengambil kembali aset hasil kejahatan. Kejelasan prosedur, kepastian hukum, perlindungan terhadap pihak yang beritikad baik, serta mekanisme pengawasan terhadap kewenangan aparat juga menjadi bagian penting yang perlu dirumuskan secara proporsional.  Target pengesahan pada Desember 2026 membuat tahapan legislasi berikutnya memiliki ruang waktu yang semakin terbatas. Setelah proses penyerapan aspirasi, DPR perlu melanjutkan pembahasan melalui harmonisasi, rapat kerja bersama pemerintah, pembahasan daftar inventarisasi masalah (DIM), hingga pengambilan keputusan tingkat pertama.  Apabila seluruh tahapan tersebut dapat diselesaikan, proses selanjutnya adalah pengambilan keputusan tingkat kedua melalui rapat paripurna DPR. Dengan demikian, agenda pembahasan RUU Perampasan Aset akan memasuki periode yang menentukan dalam beberapa bulan ke depan.  Komisi III sebelumnya telah menempatkan RUU Perampasan Aset sebagai salah satu prioritas pembahasan pada Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027. Pada awal Agustus 2026, Komisi III menyatakan bahwa proses penyusunan draf RUU masih berlangsung dengan memasukkan berbagai masukan yang telah diterima dari masyarakat.  Perkembangan hingga 25 Agustus menunjukkan proses penyusunan tersebut bergerak menuju agenda pembahasan yang semakin terstruktur. DPR tetap mempertahankan target agar RUU Perampasan Aset dapat disahkan paling lambat Desember 2026. Kondisi ini menempatkan pembentuk undang-undang pada dua kepentingan yang harus berjalan beriringan, yaitu mengejar target waktu dan memastikan kualitas regulasi.  Ke depan, perhatian tidak hanya tertuju pada kecepatan pembahasan, tetapi juga pada substansi yang dihasilkan. RUU tersebut diharapkan mampu memberikan landasan yang kuat bagi pemulihan aset hasil tindak pidana sekaligus menjamin proses hukum berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.  Dengan pengalaman puluhan RDPU, masukan tertulis masyarakat, serta kunjungan kerja ke daerah, berbagai perspektif telah menjadi bagian dari proses penyusunan. Tantangan berikutnya adalah mengolah seluruh aspirasi tersebut menjadi rumusan hukum yang jelas, efektif, dan tidak membuka ruang penyalahgunaan kewenangan.  RUU Perampasan Aset kini berada pada momentum penting. Jika pembahasan dapat dilakukan secara konsisten, terbuka, dan tetap mengutamakan prinsip negara hukum, target Desember 2026 dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat instrumen pemulihan aset di Indonesia. Yang tidak kalah penting, regulasi tersebut perlu memastikan bahwa pemberantasan kejahatan berjalan beriringan dengan kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat.  Selain memperkuat pemulihan aset, regulasi ini diharapkan mampu meningkatkan efek jera terhadap pelaku kejahatan ekonomi. Aset yang diperoleh melalui tindak pidana tidak semestinya menjadi keuntungan yang terus dinikmati pelaku. Karena itu, pembentukan aturan yang kuat, terukur, dan berorientasi pada kepentingan publik menjadi bagian penting dalam memperkuat agenda penegakan hukum nasional.  *) Pemerhati hukum 

Read More

Percepatan RUU Perampasan Aset Demi Memperkuat Kepastian Hukum

Oleh : Revan Ananda )* Percepatan RUU Perampasan Aset harus ditempatkan sebagai agenda penting pembaruan hukum nasional, tetapi kecepatannya tidak boleh mengorbankan ketelitian. Regulasi ini memiliki arti strategis karena diarahkan untuk memperkuat kemampuan negara memulihkan aset yang berkaitan dengan tindak pidana sekaligus mempersempit ruang bagi pelaku kejahatan menikmati hasil kejahatan. Karena itu, proses legislasi yang…

Read More

Penegakan Hukum Karhutla Jadi Bukti Negara Tidak Kompromi

Oleh : Radjiman Arif )* Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius pemerintah di tengah kondisi kemarau dan meningkatnya risiko kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Persoalan ini bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat, kesehatan, aktivitas ekonomi, serta keberlanjutan sumber daya alam. Karena itu, keputusan pemerintah memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku karhutla menunjukkan bahwa negara tidak hanya hadir ketika api sudah membesar, tetapi juga berupaya memastikan setiap pihak yang sengaja merusak lingkungan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.  Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberikan ruang bagi korporasi yang terbukti atau terindikasi memerintahkan pembakaran lahan. Dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Pekanbaru, Riau, Presiden meminta aparat kepolisian, kejaksaan, dan unsur intelijen melakukan penyelidikan secara menyeluruh. Apabila ditemukan indikasi keterlibatan korporasi, izin usaha dapat dicabut. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah menempatkan perlindungan lingkungan dan keselamatan rakyat di atas kepentingan ekonomi tertentu.   Ketegasan Presiden juga tidak berhenti pada korporasi. Prabowo meminta agar setiap titik panas segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar. Ia mendorong penguatan sumber air, termasuk pembangunan sumur bor di wilayah rawan, serta meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pemerintah, menurutnya, harus membantu masyarakat memperoleh cara pembukaan lahan yang lebih aman melalui pemerintah daerah, TNI, Polri, kelompok tani, koperasi, dan dukungan pembiayaan seperti KUR. Pendekatan ini memperlihatkan keseimbangan antara penegakan hukum dan penyediaan solusi bagi masyarakat.   Arah kebijakan tersebut mendapat dukungan dari Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman. Ia mengapresiasi langkah Polri yang tidak hanya mengejar pelaku pembakaran di lapangan, tetapi juga berupaya mengungkap pihak yang mengendalikan serta memperoleh keuntungan dari praktik tersebut. Menurut Habiburokhman, penanganan karhutla perlu menggunakan pendekatan follow the money agar aliran keuntungan dapat ditelusuri dan aktor utama di balik pembakaran tidak berhenti pada pelaku lapangan.   Pandangan tersebut penting karena penegakan hukum yang efektif harus mampu menyentuh akar persoalan. Apabila pembakaran dilakukan secara terorganisasi untuk memperoleh keuntungan ekonomi, maka hanya menghukum pelaku lapangan tidak selalu cukup untuk mencegah kejadian serupa. Karena itu, dukungan DPR terhadap pengungkapan aktor intelektual memperkuat pesan bahwa pemerintah dan aparat penegak hukum memiliki komitmen untuk bertindak tanpa pandang bulu. Habiburokhman juga menilai pembangunan infrastruktur pencegahan seperti embung dan sekat kanal merupakan bagian penting dari strategi mengurangi risiko karhutla.   Sementara itu, Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan bahwa penanganan karhutla dilakukan melalui rangkaian pencegahan, kesiapsiagaan, pemadaman, dan penegakan hukum. Polri memperkuat pemetaan wilayah rawan, verifikasi hotspot, sistem peringatan dini, serta patroli terpadu bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, dan masyarakat. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penegakan hukum ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk melindungi masyarakat dan lingkungan.   Data penanganan perkara juga memperlihatkan keseriusan tersebut. Hingga 21 Agustus 2026, Polri telah menangani 89 laporan terkait dugaan tindak pidana karhutla di sembilan wilayah kepolisian dan menetapkan 72 tersangka perorangan, dengan luas lahan terbakar dalam perkara yang ditangani mencapai lebih dari 1.000 hektare. Penyidik juga terus mengembangkan perkara untuk memastikan apakah terdapat pihak lain yang menyuruh melakukan atau memperoleh keuntungan dari pembakaran. Langkah tersebut penting agar proses hukum tidak berhenti pada pengungkapan kasus permukaan.   Yang tidak kalah penting, pemerintah menjalankan penegakan hukum bersamaan dengan pencegahan. Polri menyiapkan personel, patroli darat dan udara, drone, helikopter, pompa air, serta sarana water bombing. Respons cepat terhadap hotspot menjadi bagian dari upaya mencegah api berkembang dan meluas. Dengan kombinasi teknologi, kesiapan personel, koordinasi lintas lembaga, dan partisipasi masyarakat, pemerintah memiliki instrumen yang lebih lengkap untuk menghadapi karhutla selama periode rawan.   Penegakan hukum yang tegas juga harus berjalan dengan prinsip profesionalitas dan berdasarkan alat bukti. Setiap dugaan keterlibatan individu maupun korporasi perlu ditelusuri secara cermat agar proses hukum menghasilkan kepastian dan keadilan. Pendekatan tersebut justru memperkuat kredibilitas pemerintah karena tindakan tegas dilakukan melalui mekanisme hukum, bukan semata berdasarkan tuduhan atau asumsi.  Pada akhirnya, langkah Presiden Prabowo memperkuat penanganan karhutla menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan telah ditempatkan sebagai bagian dari kepentingan nasional. Ketegasan terhadap korporasi, pengungkapan aktor utama, peningkatan kesiapsiagaan, dan pencegahan sejak munculnya hotspot merupakan rangkaian kebijakan yang saling melengkapi. Negara hadir bukan hanya untuk memadamkan api, tetapi juga memastikan penyebabnya ditangani dan kejadian serupa tidak terus berulang. Konsistensi pemerintah dalam menjalankan strategi tersebut menjadi modal penting untuk mewujudkan Indonesia yang lebih aman, lingkungan yang lebih terlindungi, dan pembangunan yang berkelanjutan.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Negara Hadir Melawan Karhutla Lewat Sanksi dan Pidana Tegas 

Oleh: Catur Ronggo )* Pemerintah melaksanakan perubahan pendekatan dalam penangkanan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah tidak hanya mengerahkan kekuatan pemadaman, tetapi mulai memperkuat pengawasan konsesi, menjatuhkan sanksi administratif, serta membuka ruang penegakan pidana apabila ditemukan unsur pelanggaran. Pendekatan berlapis ini penting karena karhutla bukan sekadar persoalan api, melainkan menyangkut tanggung jawab pengelolaan lahan.  Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian langsung terhadap penanganan karhutla dengan memerintahkan aparat terkait untuk mengusut dan menindak korporasi yang terbukti melanggar aturan. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari kepentingan nasional. Negara tidak boleh membiarkan kebakaran berulang menjadi rutinitas tanpa ada evaluasi terhadap pihak yang memiliki kewajiban menjaga areal konsesinya.  Dalam konteks penegakan hukum, pemerintah menegaskan bahwa dugaan pelanggaran harus ditindak berdasarkan bukti. Pesan yang disampaikan pemerintah adalah apabila ditemukan tindakan pidana yang melanggar ketentuan dan menyebabkan kebakaran, proses hukum harus berjalan. Prinsip ini penting karena memberikan kepastian bahwa penanganan karhutla tidak diarahkan untuk menghukum pihak tertentu secara sembarangan, melainkan berdasarkan hasil pemeriksaan dan ketentuan hukum yang berlaku.  Direktur Pengawasan, Pengenaan Sanksi Administratif, dan Keperdataan Kehutanan Kementerian Kehutanan Ardi Risman menjelaskan bahwa sanksi administratif dapat memaksa perusahaan memperbaiki sistem pengendalian kebakaran sekaligus memulihkan area terdampak. Untuk perusahaan yang mengalami kebakaran luas dan berulang, pemerintah dapat membekukan perizinan berusaha dan menerapkan paksaan pemerintah. Menurut Ardi, kewajiban tersebut tidak berhenti setelah sanksi diberikan karena pelaksanaannya tetap diawasi dan dievaluasi.  Kebijakan ini memperlihatkan bahwa pemerintah menggunakan instrumen administratif sebagai garis depan pencegahan. Perusahaan tidak hanya dituntut memadamkan api ketika kebakaran terjadi, tetapi juga wajib memiliki sistem pencegahan, sarana pengendalian, sumber daya manusia, dan kesiapan menghadapi risiko. Dengan demikian, sanksi dapat berfungsi sebagai alat koreksi sebelum persoalan berkembang menjadi kerugian lingkungan dan sosial yang lebih besar.  Penegakan tersebut semakin kuat dengan keterlibatan aparat penegak hukum. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan kesiapan Polri menindak korporasi apabila ditemukan pelanggaran, termasuk tidak memenuhi kewajiban pencegahan atau terdapat modus pembakaran lahan. Pernyataan itu menunjukkan koordinasi antara kebijakan administratif dan proses pidana. Perusahaan yang telah diberi kewajiban tidak dapat mengabaikannya tanpa konsekuensi.  Perkembangan terbaru memperlihatkan Kementerian Kehutanan telah menjatuhkan sanksi kepada enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan di Kalimantan. Hasil pengawasan menemukan kebakaran pada areal kelolaan dengan total luas 1.511,55 hektare. Salah satu perusahaan, PT MPK, dikenai pembekuan perizinan berusaha sekaligus paksaan pemerintah karena kebakaran dinilai luas dan berulang. Fakta ini menunjukkan bahwa kebijakan penindakan mulai diterjemahkan menjadi tindakan konkret.  Pada saat yang sama, pemerintah memperluas pemeriksaan terhadap perusahaan pemegang konsesi. Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyebut sekitar 335 perusahaan di Sumatera dan Kalimantan terindikasi memiliki titik api di wilayah konsesi, dengan luasan area terbakar hampir 85 ribu hektare. Angka tersebut masih membutuhkan proses verifikasi, sehingga penting bagi publik membedakan antara indikasi awal dan kesimpulan hukum. Justru proses verifikasi itulah yang membuat penegakan hukum dapat berjalan secara objektif.  Selain penegakan hukum, dimensi pencegahan perlu terus diperkuat melalui kewajiban perusahaan menjaga kanal, sekat bakar, sumber air, peralatan pemadaman, dan kesiapan personel. Pemerintah juga perlu memastikan informasi mengenai risiko kebakaran dapat diterima masyarakat secara cepat. Dengan pencegahan yang kuat, sanksi tidak semata menjadi hukuman setelah kejadian, tetapi menjadi instrumen untuk membangun budaya kepatuhan dan tanggung jawab dalam pengelolaan kawasan hutan dan lahan.  Pendekatan pemerintah juga tidak berhenti pada penindakan setelah kebakaran terjadi. Upaya pencegahan, pemantauan titik api, pemadaman, penegakan hukum, dan pemulihan lingkungan harus menjadi satu rangkaian kebijakan. Presiden bahkan memerintahkan penguatan penanganan karhutla di sejumlah wilayah, sementara armada pemadaman dari udara terus disiagakan untuk mencegah api meluas. Langkah terpadu ini penting karena keterlambatan respons dapat memperbesar dampak terhadap masyarakat.  Karhutla membawa konsekuensi luas, mulai dari gangguan kesehatan, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kerusakan ekosistem. Karena itu, keberanian pemerintah menjatuhkan sanksi harus dipandang sebagai upaya menjaga kepentingan publik. Ketegasan hukum juga dapat menjadi sinyal kepada pelaku usaha bahwa kepastian investasi harus berjalan bersama kepatuhan terhadap kewajiban lingkungan.  Pada akhirnya, negara hadir bukan hanya ketika turun memadamkan api, tetapi juga ketika memastikan ada aturan yang dipatuhi, perusahaan diawasi, dan pelanggaran diproses. Kombinasi sanksi administratif, penegakan pidana, pengawasan konsesi, serta penguatan operasi lapangan menunjukkan bahwa pemerintah membangun pendekatan yang lebih menyeluruh. Konsistensi langkah tersebut menjadi modal penting untuk memutus siklus karhutla dan memastikan pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Dengan ketegasan dan koordinasi yang terus diperkuat, pemerintah menunjukkan komitmen menghadirkan negara yang melindungi masyarakat sekaligus menjaga kekayaan alam Indonesia.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Izin Perusahaan Dibekukan, Pemerintah Tegas Tangani Kasus Karhutla

Riau – Pemerintah mengambil langkah tegas dengan menindak puluhan hingga ratusan hektare area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melibatkan korporasi di wilayah Kalimantan. Tindakan keras ini berawal dari instruksi langsung kepala negara yang menekankan bahwa tidak ada toleransi bagi perusahaan pemicu bencana tersebut. “Siapa pun, korporasi apa pun, ada sedikit indikasi mereka ikut menyuruh…

Read More

Penegakan Hukum Karhutla Diperkuat, Korporasi Nakal Disanksi Tegas

Jakarta – Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengedepankan pencegahan, pemadaman, sekaligus penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah menjaga lingkungan, melindungi masyarakat dari dampak asap, serta memastikan korporasi bertanggung jawab terhadap pengelolaan kawasan yang berada dalam penguasaannya. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan…

Read More

Berantas Korupsi Pendidikan, Pemerintah Selamatkan Masa Depan Generasi Bangsa

Oleh : Naya Santika )*  Pemerintah terus memperkuat komitmen untuk mewujudkan sektor pendidikan yang berkualitas, transparan, dan berintegritas sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan ditempatkan sebagai fondasi penting untuk membuka kesempatan yang luas bagi generasi muda, meningkatkan kompetensi, serta membentuk karakter yang unggul. Melalui penguatan tata kelola, pengawasan, digitalisasi, dan kolaborasi berbagai pihak, pemerintah terus mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang semakin profesional, akuntabel, dan mampu mendukung terwujudnya Indonesia maju.  Penguatan tata kelola pendidikan menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap proses akademik dan administratif berjalan berdasarkan aturan yang jelas. Penerimaan mahasiswa, pengelolaan anggaran, pelayanan akademik, hingga pengadaan barang dan jasa perlu dilaksanakan secara transparan agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan semakin kuat.  Kasus dugaan pemerasan dan gratifikasi dalam penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri di Universitas Jenderal Soedirman dapat menjadi momentum untuk memperkuat sistem tersebut. Setiap proses penerimaan mahasiswa perlu dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kesempatan memperoleh pendidikan tinggi harus terus dijaga agar diberikan berdasarkan kemampuan, prestasi, serta mekanisme yang telah ditetapkan.  Dalam konteks tersebut, perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap integritas sektor pendidikan menunjukkan pentingnya pengawasan secara berkelanjutan. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menilai persoalan integritas pendidikan berkaitan erat dengan masa depan bangsa. Penegakan hukum dan langkah pencegahan dapat berjalan beriringan untuk memastikan lembaga pendidikan tetap menjadi ruang yang menjunjung tinggi nilai akademik, profesionalisme, dan integritas.  Momentum penguatan integritas pendidikan juga sejalan dengan agenda pemerintah dalam membangun sumber daya manusia unggul. Pemerintah bersama lembaga pendidikan memiliki ruang yang luas untuk terus meningkatkan transparansi dalam berbagai layanan. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi salah satu instrumen penting untuk menciptakan sistem administrasi yang lebih efisien, terdokumentasi, dan mudah dipantau oleh pemangku kepentingan.  Digitalisasi pendidikan dapat memperkuat pelayanan sekaligus meningkatkan akuntabilitas. Sistem penerimaan mahasiswa berbasis digital, pembayaran non-tunai, pengelolaan data akademik terintegrasi, serta sistem informasi keuangan dapat membantu menciptakan proses yang lebih terukur. Dengan dukungan teknologi, proses administrasi dapat dilakukan secara lebih cepat dan masyarakat memperoleh akses informasi yang semakin baik.  Anggota Komisi X DPR Habib Syarief Muhammad juga menekankan pentingnya menjaga perguruan tinggi sebagai ruang yang menjunjung integritas. Pandangan tersebut sejalan dengan posisi kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pembentukan karakter. Perguruan tinggi tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik yang tinggi, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki etika, tanggung jawab, disiplin, serta kepedulian terhadap kepentingan masyarakat dan bangsa.  Karena itu, penguatan pendidikan berintegritas perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh. Pengawasan internal harus terus ditingkatkan, sementara mekanisme evaluasi dan audit perlu dilaksanakan secara berkala. Institusi pendidikan juga perlu memastikan bahwa setiap prosedur memiliki standar operasional yang jelas sehingga seluruh pihak memahami hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing.  Pendidikan antikorupsi juga dapat menjadi bagian penting dalam membangun budaya integritas sejak dini. Nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan keberanian mengambil keputusan secara benar perlu ditanamkan melalui kegiatan pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan kampus. Keteladanan guru, dosen, tenaga kependidikan, serta pimpinan institusi akan menjadi faktor penting dalam membentuk karakter generasi muda.  Peran masyarakat tidak kalah penting. Orang tua, mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan masyarakat luas dapat menjadi bagian dari ekosistem pengawasan pendidikan. Keterbukaan informasi dan saluran pengaduan yang mudah diakses dapat memperkuat partisipasi publik sekaligus membantu lembaga pendidikan melakukan perbaikan secara cepat apabila ditemukan hal-hal yang perlu dievaluasi.  Pemerintah juga perlu memastikan bahwa setiap evaluasi terhadap penyelenggaraan pendidikan menghasilkan perbaikan sistem yang konkret. Penegakan aturan harus berjalan profesional, sementara pembenahan administrasi dan pengawasan terus dilakukan agar tata kelola semakin baik. Dengan demikian, setiap proses evaluasi dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pendidikan.  Langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan global. Pendidikan yang dikelola secara profesional akan memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi, berinovasi, dan berprestasi. Semakin kuat integritas lembaga pendidikan, semakin besar pula kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan nasional.  Pada akhirnya, membangun pendidikan yang bersih dan berintegritas merupakan investasi jangka panjang bagi Indonesia. Tata kelola yang transparan, pemanfaatan teknologi, pengawasan yang kuat, pendidikan karakter, serta kolaborasi pemerintah dan masyarakat dapat menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem pendidikan yang semakin berkualitas.  Ketika kesempatan pendidikan dijaga melalui sistem yang adil dan akuntabel, generasi muda memiliki ruang yang lebih luas untuk membuktikan kemampuan melalui prestasi dan kerja keras. Pendidikan yang berkualitas dan berintegritas akan melahirkan sumber daya manusia yang kompeten, berkarakter, dan siap memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa. Dengan komitmen bersama, reformasi tata kelola pendidikan dapat terus diperkuat sebagai bagian dari upaya mewujudkan Indonesia yang maju, berdaya saing, dan berintegritas.  *Penulis adalah pegiat anti korupsi 

Read More

Pemerintah Perkuat Integritas Pendidikan Demi Menjaga Meritokrasi

Oleh: Ricky Rinaldi )* Sektor pendidikan merupakan fondasi utama peradaban bangsa yang memegang peran krusial dalam mencetak generasi penerus yang cerdas, berkarakter mulia, dan berdaya saing global. Pendidikan berkualitas hanya dapat tumbuh subur dalam ekosistem akademik yang bersih, adil, transparan, dan menjunjung tinggi prinsip meritokrasi. Segala bentuk praktik kecurangan, penyalahgunaan anggaran sekolah, manipulasi kuota penerimaan peserta didik, hingga penyelewengan dana riset di lingkungan perguruan tinggi merupakan ancaman nyata yang merusak tatanan keadilan sosial. Ketegasan pemerintah dalam menindak dan membersihkan praktik korupsi di lingkungan pendidikan membuktikan komitmen nyata kehadiran negara dalam melindungi hak-hak belajar generasi muda serta menjaga martabat bangsa.  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah berkomitmen penuh menegakkan integritas tata kelola anggaran dan birokrasi pendidikan di seluruh jenjang persekolahan secara konsisten. Pengetatan sistem pengawasan, reformasi kelembagaan, serta tindakan tegas tanpa kompromi terus diintensifkan guna memastikan dana fungsi pendidikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) benar-benar mengalir tepat sasaran bagi peningkatan mutu pembelajaran dan kesejahteraan para guru di seluruh pelosok negeri.  Mu’ti menjelaskan bahwa integritas dunia pendidikan harus dibangun secara menyeluruh dan berkelanjutan, mulai dari transparansi penerimaan peserta didik baru, akuntabilitas pengelolaan dana bantuan operasional sekolah, hingga pengadaan fasilitas sarana dan prasarana. Pemerintah terus memperluas digitalisasi pelaporan keuangan sekolah serta memperkuat sistem pelaporan pelanggaran yang aman bagi masyarakat luas. Langkah terstruktur ini dirancang untuk menciptakan iklim belajar yang sehat dan meritokratis, sehingga setiap anak bangsa memiliki ruang yang setara untuk berkembang berdasarkan kompetensi, bakat, dan kerja kerasnya sendiri.  Pemberantasan korupsi di sektor pendidikan bukan sekadar persoalan administratif atau penegakan hukum semata, melainkan sebuah ikhtiar kebangsaan demi menyelamatkan moral dan masa depan generasi penerus bangsa. Pemerintah perlu memberikan penegasan kepada publik bahwa ruang-ruang akademik tidak boleh dirusak oleh transaksi transaksional, titipan relasi kekuasaan, ataupun komersialisasi kuota pendidikan. Praktik manipulatif dalam jalur seleksi pendidikan berpotensi menghancurkan rasa percaya diri para peserta didik yang telah berjuang secara jujur dan tekun untuk meraih prestasi terbaik.  Menurut Mu’ti, keteladanan dari para pemangku kebijakan, pimpinan perguruan tinggi, kepala sekolah, dan segenap tenaga pendidik merupakan kunci utama dalam menanamkan budaya antikorupsi sejak dini. Jika institusi pendidikan dikotori oleh praktik penyelewengan, proses pembentukan karakter generasi penerus akan mengalami distorsi. Oleh sebab itu, pembenahan tata kelola dan penegakan etika birokrasi pendidikan diposisikan sebagai pilar strategis yang wajib dipatuhi oleh seluruh aparatur pendidikan di tingkat pusat maupun daerah.  Langkah pembersihan sektor pendidikan ini diperkuat oleh komitmen penegakan hukum terpadu bersama aparat penegak hukum. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Setyo Budiyanto mengatakan pihaknya terus memprioritaskan pengawasan terhadap titik-titik rawan kebocoran anggaran pada sektor pendidikan dasar, menengah, hingga lingkungan perguruan tinggi negeri. Menurutnya, upaya pencegahan yang terintegrasi dengan penindakan hukum yang tegas dan profesional sangat penting guna memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan nasional.  Setyo memaparkan bahwa KPK bersama kementerian terkait terus memperkuat mitigasi risiko korupsi pada proses penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri, pengelolaan aset perguruan tinggi, serta pengadaan alat laboratorium dan riset. Tindakan tegas terhadap para oknum penyelenggara negara atau pejabat akademik yang terbukti menyalahgunakan wewenang dilakukan secara transparan dan terukur tanpa pandang bulu. Pendekatan penindakan yang konsisten ini diharapkan memberikan efek jera yang nyata, sekaligus menegaskan bahwa lembaga pendidikan harus menjadi mercusuar keteladanan integritas moral tertinggi.  Ketegasan penindakan ini menjadi kian mendesak mengingat besarnya alokasi anggaran fungsi pendidikan nasional yang mencapai dua puluh persen dari total APBN. Besarnya dana publik tersebut menuntut pengawalan ketat dan pertanggungjawaban yang mutlak agar tidak terbuang sia-sia akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab. Optimalisasi penggunaan dana pendidikan yang bersih dari korupsi akan mempercepat revitalisasi fasilitas ruang kelas di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, serta menjamin ketersediaan beasiswa bagi pelajar berprestasi dari keluarga kurang mampu.  Di samping itu, peran serta masyarakat luas, kalangan akademisi, pemerhati pendidikan, dan organisasi orang tua murid menjadi pilar penting dalam menjaga transparansi tata kelola pendidikan. Masyarakat diimbau untuk selalu proaktif mengawasi jalannya program pendidikan dan tidak ragu melaporkan setiap kejanggalan atau pungutan liar melalui kanal pengaduan resmi pemerintah. Kolaborasi harmonis antara otoritas pendidikan, aparat penegak hukum, dan kontrol sosial publik menjadi kekuatan utama dalam menjaga kehormatan ekosistem pendidikan nasional.  Dengan demikian, ketegasan pemerintah dalam memberantas korupsi di sektor pendidikan merupakan langkah konkret dalam menjaga marwah meritokrasi dan melahirkan sumber daya manusia unggul yang berintegritas tinggi. Penguatan sistem pengawasan berbasis digital, penegakan disiplin tanpa tebang pilih, serta edukasi integritas yang konsisten adalah fondasi penting untuk memastikan seluruh anak bangsa menikmati layanan pendidikan yang bermutu, adil, dan berkeadilan demi kejayaan serta kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  *)Pengamat Isu Strategis 

Read More

Korupsi Ditindak Tegas, Integritas Kampus Jadi Prioritas

Jakarta – Kasus dugaan tindak pidana korupsi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melibatkan operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap rektor dan sejumlah pejabat kampus terkait pemerasan serta gratifikasi jalur mandiri penerimaan mahasiswa baru. Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief Muhammad, mendukung langkah KPK menindak dugaan korupsi…

Read More

Pemerintah Perkuat Pemberantasan Korupsi di Sektor Pendidikan

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai sektor pendidikan memiliki posisi strategis dalam menentukan kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa. Karena itu, praktik korupsi di lingkungan pendidikan dinilai memiliki dampak yang lebih luas karena dapat merusak kepercayaan terhadap institusi akademik sekaligus mengancam hak generasi muda memperoleh pendidikan yang berkualitas. Juru Bicara KPK Budi…

Read More
Back To Top