Pemerintah Integrasikan Skrining Kusta dalam CKG untuk Kejar Eliminasi 2030

Jakarta- Pemerintah terus memperkuat langkah menuju target eliminasi kusta pada 2030 dengan mengintegrasikan skrining kusta ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus secara dini, memperluas akses pengobatan, sekaligus memutus rantai penularan penyakit yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai daerah. Integrasi skrining kusta dalam CKG…

Read More

CKG Membuka Jalan Menemukan Kasus Kusta Tersembunyi

Oleh: Zhafran Goldwin )*  Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif. Selain mendeteksi penyakit tidak menular, mulai 2026 program ini juga mencakup skrining kusta sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kebijakan ini menunjukkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari yang semula berorientasi pada pengobatan menjadi lebih mengedepankan pencegahan dan deteksi dini sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.  Komitmen tersebut diperkuat dengan kebijakan baru pemerintah. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, mulai 2026, skrining kusta akan disertakan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya pemerintah mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.   Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini sebenarnya dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini dan diobati hingga tuntas. Namun, rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah, serta stigma yang masih melekat menyebabkan banyak penderita terlambat memeriksakan diri. Akibatnya, sebagian kasus baru ditemukan ketika telah memasuki tahap lanjut dan berpotensi menimbulkan kecacatan. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kasus-kasus tersembunyi yang belum teridentifikasi oleh sistem pelayanan kesehatan.  Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, meski kusta adalah penyakit yang sulit menularnya, pihaknya berkomitmen untuk mencari penderitanya sebanyak-banyaknya dan segera mengobatinya. Dia menjelaskan, saat ini, ada sekitar 13.000-15.000 penderita kusta di Indonesia. Namun, jumlahnya bisa lebih banyak dari angka tersebut. Oleh karena itu, pihaknya juga mendorong skrining kusta yang masif dengan memberi penghargaan pada kepala daerah dan puskesmas yang banyak menemukan kasus kusta.  Integrasi skrining kusta ke dalam CKG menjadi langkah strategis untuk memperluas penemuan kasus secara aktif. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara rutin memberi peluang bagi tenaga kesehatan menemukan penderita yang sebelumnya belum terdeteksi sehingga pengobatan dapat segera dimulai sebelum terjadi komplikasi maupun penularan lebih lanjut. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus yang dilaporkan, tetapi juga dari kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus lebih awal dan memastikan seluruh pasien memperoleh pengobatan.  Penguatan deteksi dini tersebut sejalan dengan transformasi layanan kesehatan primer. Puskesmas tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berobat, tetapi juga menjadi pusat edukasi, skrining, dan pencegahan penyakit. Melalui CKG, masyarakat didorong membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala karena banyak penyakit, termasuk kusta, dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Budaya pemeriksaan kesehatan rutin diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus menekan beban pembiayaan kesehatan di masa mendatang.  Di sisi lain, pengendalian kusta tidak hanya bergantung pada pelayanan medis, tetapi juga pada meningkatnya pemahaman masyarakat. Stigma yang menganggap kusta sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan masih menyebabkan sebagian penderita memilih menyembunyikan kondisinya. Padahal, pengobatan yang tersedia mampu menyembuhkan penderita apabila dilakukan secara tuntas. Karena itu, pelaksanaan CKG juga menjadi sarana edukasi untuk memberikan informasi yang benar mengenai penyebab, penularan, dan pentingnya pengobatan sejak dini sehingga diskriminasi terhadap penyandang kusta dapat terus berkurang.  Upaya tersebut turut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan Kemenkes dan The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti dalam mendukung deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas, yang diharapkan dapat direplikasi serta diintegrasikan ke dalam kebijakan publik. Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek.  Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa eliminasi kusta memerlukan pendekatan yang menyentuh aspek medis sekaligus sosial. Selain memastikan penderita memperoleh pengobatan, diperlukan pula edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami bahwa kusta dapat disembuhkan dan tidak perlu menjadi alasan terjadinya diskriminasi. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk memperluas deteksi dini sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang kusta.  Pelaksanaan CKG juga akan menghasilkan data kesehatan yang lebih akurat mengenai persebaran kasus di berbagai daerah. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan wilayah prioritas, memperkuat kapasitas layanan kesehatan, serta menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang mencegah kecacatan, memutus rantai penularan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.  Ke depan, integrasi skrining kusta dalam CKG menjadi salah satu inovasi penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Melalui deteksi dini, edukasi yang berkesinambungan, serta kolaborasi lintas sektor, upaya menemukan kasus-kasus kusta yang selama ini tersembunyi akan semakin optimal. Langkah tersebut tidak hanya mendukung target eliminasi kusta, tetapi juga memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan terlindungi melalui layanan kesehatan yang semakin merata dan berorientasi pada pencegahan.  *) Penulis adalah Content Writer di Medical Groovia 

Read More

CKG dan Jalan Baru Indonesia Mengejar Eliminasi Kusta 2030

Oleh: Anindya Yustisia )* Indonesia sedang memasuki babak baru dalam pembangunan kesehatan nasional dengan menempatkan pencegahan dan deteksi dini sebagai fondasi utama pelayanan kesehatan. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga menjadi strategi penting untuk mengatasi berbagai penyakit menular yang selama ini masih menjadi tantangan, termasuk kusta. Di tengah target eliminasi…

Read More

Presiden Prabowo Perkuat Perlindungan Nelayan lewat BBM Khusus dan Cold Storage

Jakarta – Presiden Prabowo menegaskan komitmennya memperkuat perlindungan terhadap nelayan dan masyarakat desa melalui kebijakan yang terintegrasi, mulai dari pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) hingga pemberian harga khusus bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan. Dalam peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Presiden menjelaskan bahwa KDKMP akan menjadi pusat pelayanan ekonomi…

Read More

Pemerintah Pacu Modernisasi Kapal Ikan untuk Nelayan Lokal

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat modernisasi armada perikanan nasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas nelayan lokal, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi maritim. Program modernisasi kapal ikan dilakukan melalui pengadaan kapal yang lebih efisien, pemanfaatan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan, serta peningkatan standar keselamatan pelayaran. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan hasil tangkapan…

Read More

Prabowo dan Jalan Baru Menguatkan Ekonomi Nelayan dari Pesisir

Oleh: Dhita Karuniawati )*  Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang memberikan harga khusus BBM solar sebesar Rp15.000 per liter bagi pengusaha nelayan dengan kapal berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT) dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekonomi pesisir. Kebijakan tersebut tidak sekadar menghadirkan insentif fiskal, tetapi juga menunjukkan pendekatan baru yang lebih berpihak pada produktivitas sektor perikanan nasional.   Pemerintah sebelumnya mencermati bahwa nelayan kecil dengan kapal di bawah 30 GT telah memperoleh BBM bersubsidi seharga Rp6.800 per liter. Sebaliknya, kelompok nelayan dengan kapal berukuran 30–200 GT masih harus membeli solar dengan harga nonsubsidi yang sempat mencapai sekitar Rp21.300 per liter. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat tajam dan mengurangi daya saing usaha penangkapan ikan. Karena itu, Presiden Prabowo mengarahkan agar kelompok nelayan tersebut memperoleh harga khusus sehingga biaya operasional mereka dapat ditekan secara signifikan.   Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah menyepakati harga Rp15.000 per liter sebagai bentuk perlakuan khusus bagi pengusaha nelayan. Selisih harga dari biaya produksi solar dalam negeri akan didukung melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), sehingga kebijakan tersebut tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah bahkan telah menyiapkan kuota sekitar 400.000 ton untuk enam bulan pertama pelaksanaan kebijakan tersebut.   Dari perspektif ekonomi, kebijakan ini memiliki dampak berantai yang cukup besar. Penurunan biaya BBM akan meningkatkan efisiensi operasional kapal, memperbesar peluang nelayan untuk tetap melaut, menjaga stabilitas pasokan ikan, sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha perikanan. Pada akhirnya, efek tersebut juga dapat membantu menjaga stabilitas harga ikan di tingkat konsumen serta memperkuat rantai pasok sektor perikanan nasional.  Respons positif pun datang dari kalangan nelayan. Berbagai komunitas nelayan menyambut baik kebijakan tersebut karena dinilai mampu memberikan ruang napas bagi pelaku usaha yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi. Mereka menilai biaya operasional yang lebih rendah akan memberikan kepastian usaha sekaligus mendorong aktivitas penangkapan ikan kembali bergairah.   Apresiasi juga disampaikan oleh Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HNSI Jawa Tengah, Riswanto mengatakan kebijakan tersebut menjadi langkah strategis untuk meringankan beban biaya operasional nelayan karena BBM merupakan komponen biaya terbesar dalam aktivitas penangkapan ikan. Penurunan harga BBM diharapkan meningkatkan efisiensi usaha penangkapan ikan, memperkuat daya saing sektor perikanan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kebijakan tersebut juga mencerminkan perhatian pemerintah terhadap sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir.  Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa kementeriannya akan menyiapkan regulasi teknis sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut. Menurutnya, harga khusus BBM diharapkan memberikan kepastian biaya operasional bagi pelaku usaha perikanan sehingga aktivitas produksi dapat berlangsung lebih stabil.   Kebijakan ini memperlihatkan perubahan pendekatan pembangunan ekonomi kelautan. Selama ini, perhatian terhadap sektor perikanan sering kali lebih banyak diarahkan pada peningkatan produksi. Kini, pemerintah juga mulai menaruh perhatian terhadap struktur biaya produksi yang secara langsung menentukan tingkat kesejahteraan nelayan.  Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut yang mencapai sekitar 6,4 juta kilometer persegi. Potensi sumber daya ikan Indonesia sangat besar sehingga sektor perikanan memiliki kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, penyediaan lapangan kerja, hingga ketahanan pangan. Namun, potensi tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila pelaku utamanya, yakni nelayan, memiliki daya tahan ekonomi yang memadai.  Kebijakan harga khusus BBM juga dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi berbasis pesisir. Ketika biaya produksi menurun, nelayan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas hasil tangkapan, serta memperluas akses terhadap pasar. Efisiensi biaya juga memungkinkan pelaku usaha melakukan investasi pada perbaikan kapal, alat tangkap yang lebih modern, maupun penerapan teknologi penangkapan ikan yang lebih ramah lingkungan.  Langkah pemerintah memberikan harga khusus BBM dapat dipandang sebagai titik awal dari agenda besar pembangunan ekonomi kelautan Indonesia. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada upaya memperkuat kelompok produktif yang menjadi fondasi ekonomi nasional.  Kekuatan Indonesia sebagai negara maritim tidak hanya ditentukan oleh luasnya lautan, melainkan oleh kemampuan negara memastikan masyarakat pesisir memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang. Ketika nelayan dapat melaut dengan biaya yang lebih efisien, memperoleh kepastian usaha, dan menikmati hasil kerja yang lebih layak, maka pembangunan ekonomi nasional sesungguhnya sedang dimulai dari pesisir. Di situlah jalan baru yang ditempuh Presiden Prabowo menemukan maknanya membangun Indonesia dari sektor yang selama ini menjadi denyut kehidupan jutaan keluarga nelayan sekaligus menjadi penyangga ketahanan pangan dan ekonomi bangsa.  *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia 

Read More

Modernisasi Kapal dan Pelatihan Awak sebagai Jalan Nelayan Naik Kelas

Oleh : Gavin Asadit )* Pemerintah terus memperkuat transformasi di sektor kelautan dan perikanan sebagai bagian dari strategi besar membangun ekonomi biru yang berkelanjutan. Salah satu langkah yang menjadi perhatian pada 2026 adalah pelaksanaan Program Modernisasi Kapal Perikanan yang diikuti dengan penguatan kompetensi awak kapal melalui pelatihan dan sertifikasi nasional. Pemerintah memandang bahwa peningkatan kesejahteraan nelayan tidak cukup dilakukan melalui bantuan alat tangkap semata, tetapi juga membutuhkan armada yang lebih modern, sumber daya manusia yang profesional, serta tata kelola usaha perikanan yang semakin efisien.   Melalui kebijakan tersebut, pemerintah ingin mendorong nelayan Indonesia naik kelas, meningkatkan produktivitas penangkapan ikan, sekaligus memperkuat daya saing sektor perikanan nasional di pasar domestik maupun internasional. Upaya ini juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi dan optimalisasi potensi sumber daya kelautan sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi nasional.   Modernisasi armada perikanan menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam beberapa tahun ke depan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pembangunan sebanyak 1.582 kapal perikanan modern secara bertahap pada periode 2026–2028. Armada tersebut terdiri atas kapal berukuran 30 GT, 200 GT, hingga 500 GT yang dilengkapi dengan teknologi penangkapan yang lebih efisien, aman, dan sesuai dengan karakteristik wilayah penangkapan ikan. Pada tahap awal, pemerintah menargetkan penyelesaian 50 kapal modern sepanjang 2026 sebagai fondasi implementasi program secara nasional. Modernisasi armada ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil tangkapan, mengurangi biaya operasional, sekaligus memperkuat keselamatan nelayan saat melaut.   Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa modernisasi kapal merupakan bagian dari transformasi sektor perikanan tangkap yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang sangat besar sehingga harus didukung oleh armada yang mampu beroperasi secara lebih efisien, profesional, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kapal modern akan meningkatkan produktivitas nelayan sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia. Karena itu, pemerintah tidak hanya membangun kapal baru, tetapi juga menyiapkan sistem pendukung mulai dari infrastruktur pelabuhan, rantai logistik, hingga penguatan kualitas sumber daya manusia agar transformasi sektor perikanan berjalan secara menyeluruh.   Sejalan dengan pembangunan armada modern, pemerintah juga memprioritaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui Program Pelatihan Awak Kapal Perikanan. KKP memperkirakan modernisasi armada tersebut membutuhkan sekitar 20.094 awak kapal yang terdiri atas nahkoda, kepala kamar mesin, mualim, masinis, hingga anak buah kapal. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah membuka rekrutmen nasional yang diikuti pelatihan teknis, sertifikasi kompetensi, serta familiarisasi terhadap pengoperasian kapal modern.   Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Lotharia Latif, menjelaskan bahwa keberhasilan modernisasi armada tidak hanya ditentukan oleh teknologi kapal, tetapi juga kualitas awak yang mengoperasikannya. Menurutnya, pemerintah menyiapkan pembangunan kapal secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan industri galangan nasional, ketersediaan peralatan, serta kemampuan sumber daya manusia. Ia menilai pelatihan awak kapal menjadi investasi jangka panjang karena kapal modern membutuhkan pengoperasian yang lebih profesional agar produktivitas penangkapan ikan dapat meningkat tanpa mengabaikan aspek keselamatan maupun keberlanjutan sumber daya laut. Pemerintah karena itu terus memperkuat sinergi antara sekolah-sekolah perikanan, balai pelatihan, dan masyarakat pesisir dalam mencetak tenaga kerja yang kompeten.   Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, I Nyoman Radiarta, menambahkan bahwa program penyiapan awak kapal dirancang untuk memenuhi kebutuhan operasional seluruh armada modern yang akan dibangun pemerintah. Menurutnya, kompetensi setiap awak kapal disusun berdasarkan jenjang tugas masing-masing, mulai dari perwira hingga anak buah kapal.   Pemerintah juga mendorong agar masyarakat lokal di kawasan pesisir memperoleh prioritas sebagai tenaga kerja sehingga manfaat ekonomi dari modernisasi armada dapat dirasakan langsung oleh daerah. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi sektor perikanan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja baru dan pemberdayaan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.   Program modernisasi kapal juga menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ekonomi biru yang menekankan keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan kelestarian sumber daya laut. Kapal-kapal baru dirancang menggunakan teknologi yang lebih efisien sehingga mampu meningkatkan hasil tangkapan tanpa mendorong eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya perikanan. Pemerintah juga terus memperkuat pengawasan terhadap praktik penangkapan ikan agar pemanfaatan sumber daya laut tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan nelayan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian ekosistem laut sebagai aset strategis bangsa.  Modernisasi kapal dan pelatihan awak kapal mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun sektor perikanan yang lebih maju, profesional, dan berdaya saing. Melalui pembangunan armada modern, peningkatan kompetensi nelayan, penciptaan lapangan kerja baru, serta penguatan tata kelola perikanan, pemerintah optimistis kesejahteraan masyarakat pesisir akan terus meningkat.   Sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri galangan kapal, dan masyarakat nelayan diharapkan mampu melahirkan generasi pelaku perikanan yang semakin kompeten sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri. Dengan langkah tersebut, modernisasi perikanan bukan hanya menjadi investasi pada teknologi, tetapi juga investasi terhadap kualitas sumber daya manusia yang akan membawa nelayan Indonesia naik kelas dan menjadi pilar penting ketahanan pangan nasional.  )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan 

Read More

Pencegahan Radikalisme di Lingkungan Pendidikan Terus Diperkuat

Jakarta – Pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan terus diperkuat melalui kolaborasi antara aparat keamanan dan pemerintah daerah dengan mengedepankan pendidikan, pembentukan karakter, serta penguatan peran keluarga. Langkah ini dilakukan sebagai upaya melindungi generasi muda dari pengaruh paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme, dan separatisme, sekaligus membangun sumber daya manusia yang berdaya saing dan memiliki semangat kebangsaan….

Read More

Kesiapsiagaan Pelajar Makin Diperkuat Hadapi Radikalisme

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan radikalisme dengan menempatkan pelajar sebagai garda terdepan dalam membangun ketahanan bangsa di era digital. Langkah tersebut dinilai semakin relevan mengingat perkembangan teknologi telah mengubah pola penyebaran paham radikal, yang kini memanfaatkan media sosial, platform digital, hingga permainan daring sebagai sarana propaganda dan rekrutmen. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme…

Read More

Upaya Pencegahan Radikalisme di Lingkungan Pendidikan Terus Dioptimalkan

Oleh: Nanda Prasetyo )* Pencegahan penyebaran paham radikalisme di lingkungan pendidikan terus menjadi perhatian berbagai pihak sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan bangsa. Sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, dan masyarakat dinilai semakin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang membuka ruang penyebaran informasi tanpa batas. Karena itu, berbagai langkah edukasi, penguatan literasi digital, hingga pembinaan karakter generasi muda terus dioptimalkan agar pelajar memiliki daya tangkal terhadap pengaruh intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.  Komitmen tersebut terlihat dari langkah Satuan Tugas Wilayah Maluku Densus 88 Antiteror Polri yang memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Kota Ambon melalui audiensi di ruang kerja Wali Kota Ambon. Pertemuan itu menjadi momentum untuk menyamakan persepsi bahwa pencegahan radikalisme bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah, lembaga pendidikan, keluarga, dan tokoh masyarakat.  Dalam kesempatan tersebut, Kombes Pol. I Wayan Sukarena menjelaskan bahwa keberhasilan program deradikalisasi serta upaya pencegahan sejak dini hanya dapat dicapai apabila seluruh pihak mampu membangun kolaborasi yang kuat. Menurutnya, ketahanan masyarakat terhadap masuknya paham radikal harus dibangun melalui edukasi yang berkesinambungan sehingga masyarakat memiliki kemampuan untuk mengenali sekaligus menolak berbagai bentuk propaganda yang berpotensi memecah persatuan.  Ia juga mengungkapkan bahwa Densus 88 Antiteror Polri selama ini telah menjalankan berbagai program pencegahan di Kota Ambon. Namun, program tersebut masih perlu diperluas agar mampu menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat, terutama kalangan pelajar dan remaja yang dinilai menjadi sasaran paling rentan terhadap penyebaran paham radikal melalui berbagai platform digital.  Perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya pencegahan tersebut. Ruang digital kini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan propaganda melalui media sosial, aplikasi percakapan, hingga berbagai platform daring lainnya. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan literasi digital agar masyarakat, khususnya generasi muda, semakin bijak dalam menerima, memilah, dan menyebarkan informasi.  Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menyampaikan kesiapan Pemerintah Kota Ambon untuk menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang diberikan Densus 88 Antiteror Polri. Pemerintah daerah akan memperkuat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah guna menyusun program edukasi digital yang lebih terintegrasi sehingga pengawasan terhadap penggunaan teknologi informasi dapat dilakukan secara lebih efektif.  Bodewin Wattimena juga menegaskan bahwa Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, serta seluruh jajaran camat dan lurah akan dilibatkan dalam pelaksanaan program tersebut. Penguatan literasi digital di sekolah akan menjadi salah satu prioritas agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, mampu menyaring informasi dengan baik, serta tidak mudah terpengaruh hoaks maupun konten yang mengandung unsur radikalisme.  Upaya serupa juga dilakukan Satgaswil Riau Densus 88 Antiteror Polri melalui kegiatan edukasi kepada sekitar 300 siswa SMA Khusus Olahraga Provinsi Riau dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Kegiatan yang menjadi bagian dari Program RATAKAN atau Riau Tangkal Ancaman dan Kembangkan Nilai Kebangsaan tersebut difokuskan pada peningkatan pemahaman pelajar mengenai bahaya intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.  Melalui program tersebut, para siswa diberikan pemahaman mengenai berbagai pola penyebaran paham radikal yang kini semakin banyak memanfaatkan media sosial, permainan daring, maupun platform digital lainnya. Edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan generasi muda terhadap berbagai bentuk ajakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.  Dalam penyampaian materinya, Brigpol Nella Anggraini menekankan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keutuhan bangsa. Kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang beredar menjadi bekal utama agar pelajar tidak mudah terpengaruh propaganda yang menyesatkan. Selain itu, sikap menghargai perbedaan juga harus terus ditanamkan sebagai bagian dari penguatan karakter kebangsaan.  Brigpol Nella Anggraini turut mengingatkan pentingnya keberanian pelajar untuk menolak sekaligus melaporkan berbagai bentuk ajakan yang mengarah pada intoleransi, radikalisme, ekstremisme, maupun terorisme kepada pihak yang berwenang. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, damai, dan bebas dari pengaruh paham yang mengancam persatuan nasional.  Selama satu tahun terakhir, pemerintah juga menunjukkan berbagai capaian positif dalam memperkuat stabilitas nasional melalui peningkatan kolaborasi antarinstansi, penguatan pendidikan karakter, perluasan literasi digital, percepatan transformasi digital layanan publik, serta dukungan terhadap program pembangunan sumber daya manusia yang menempatkan generasi muda sebagai prioritas utama. Berbagai langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap berbagai ancaman, termasuk penyebaran paham radikalisme di ruang fisik maupun digital.  Pada akhirnya, upaya pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan harus menjadi komitmen bersama yang dijalankan secara konsisten oleh pemerintah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat. Penguatan literasi digital, pendidikan karakter, serta penanaman nilai-nilai Pancasila, toleransi, dan kebangsaan merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang cerdas, kritis, sekaligus berintegritas.   *) Analis Isu Strategis dan Keamanan Dalam Negeri 

Read More
Back To Top