Pemerintah Jajaki Kerja Sama Internasional untuk Pengembangan Energi Nuklir

Jakarta – Pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama internasional untuk mengembangkan energi nuklir sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan listrik nasional. Kerja sama dengan Brasil menjadi salah satu langkah yang dibahas, mencakup pengembangan bioetanol hingga potensi pemanfaatan teknologi nuklir. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa kedua negara sepakat menjajaki peluang kolaborasi…

Read More

Pemerintah Dorong Energi Nuklir untuk Perkuat Kemandirian Indonesia

JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat langkah strategis dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Pemerintah saat ini tengah mematangkan 28 lokasi tapak serta mengkaji sejumlah wilayah potensial guna memastikan ketahanan, stabilitas, dan kemandirian pasokan energi nasional dalam menghadapi lonjakan kebutuhan listrik masa depan. Wakil Menteri ESDM Yuliot…

Read More

Membangun Kemandirian Energi Nuklir dengan SDM dan Regulasi Kuat

Oleh: Diandra Karisma )*  Pengembangan energi nuklir menjadi salah satu langkah strategis Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan listrik jangka panjang. Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh pembangunan pembangkit, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM), kepastian regulasi, dan kemampuan menguasai teknologi. Pemerintah perlu memastikan seluruh fondasi tersebut berkembang secara beriringan agar pemanfaatan energi nuklir berlangsung aman, terukur, dan berkelanjutan.  Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memasukkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025–2034. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa rencana awal pembangunan mencakup Sumatera dan Kalimantan, masing-masing dengan kapasitas 250 megawatt (MW). Rencana ini membutuhkan tenaga profesional yang mampu menangani perencanaan, pengoperasian, pemeliharaan, serta pengawasan fasilitas nuklir sesuai standar keselamatan.  Kebutuhan tenaga ahli semakin penting karena teknologi nuklir memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang memerlukan kompetensi khusus. Pemerintah perlu menyiapkan pendidikan, pelatihan teknis, sertifikasi, dan pengembangan keahlian secara berkelanjutan, termasuk dalam penanganan keadaan darurat. Persiapan sejak dini juga diperlukan agar Indonesia tidak terus bergantung pada tenaga ahli asing ketika memasuki tahap pembangunan dan pengoperasian PLTN.  Eniya menjelaskan bahwa pengembangan tenaga nuklir membutuhkan SDM yang memahami pengoperasian fasilitas, aspek keselamatan, serta langkah antisipasi apabila terjadi gangguan. Standar internasional yang ditetapkan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menjadi salah satu acuan penting dalam penerapan keselamatan nuklir. Penerapan standar tersebut perlu disertai pengawasan konsisten dan evaluasi kompetensi agar setiap personel mampu menjalankan tanggung jawabnya secara profesional.  Selain SDM, kepastian regulasi menjadi fondasi untuk membangun kemandirian energi nuklir. Pemerintah perlu memastikan pembagian kewenangan antarlembaga, mekanisme perizinan, pengawasan operasional, serta pertanggungjawaban setiap pelaksana proyek ditetapkan secara jelas. Kerangka kelembagaan yang kuat akan membantu mencegah tumpang tindih kebijakan sekaligus memberikan kepastian bagi pengembangan teknologi dan investasi jangka panjang.  Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa pemerintah memprioritaskan penetapan tapak sebelum PT PLN melaksanakan tender pembangunan PLTN. Pemerintah telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial yang masih membutuhkan kajian lebih lanjut, termasuk dari sisi kondisi lingkungan, infrastruktur, keamanan, dan keselamatan. Tahapan ini menunjukkan bahwa keputusan pembangunan harus didasarkan pada penilaian teknis yang menyeluruh sebelum proyek memasuki pelaksanaan fisik.  Penguatan kelembagaan juga berkaitan dengan rencana pembentukan Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO), organisasi yang mengoordinasikan pelaksanaan program tenaga nuklir nasional. Kejelasan mengenai lembaga pelaksana diperlukan untuk menyelaraskan kebijakan, menyiapkan kebutuhan tenaga ahli, serta memastikan kesiapan infrastruktur pendukung. Koordinasi antara kementerian, regulator, lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri akan membantu memperkuat persiapan tanpa mengabaikan persyaratan keselamatan.  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut memegang peranan penting dalam memperkuat kemampuan teknologi nasional. Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas teknologi nuklir perlu diarahkan agar kegiatan penelitian selaras dengan kebutuhan nasional. Melalui penguatan riset dan pendidikan, Indonesia dapat menyiapkan tenaga ahli sekaligus mengembangkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mendukung pemanfaatan teknologi nuklir secara mandiri.  Penguasaan teknologi nuklir memerlukan keterhubungan antara penelitian dasar, pengembangan terapan, dan pemanfaatan hasil riset oleh industri. Kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan pelaku industri dapat membantu menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. Penguatan industri pendukung juga berpotensi meningkatkan kemampuan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap penyedia teknologi dari luar negeri secara bertahap.  Pemerintah menargetkan kapasitas PLTN mencapai 500 MW pada 2032, kemudian meningkat menjadi 7 gigawatt pada 2040 dan berkembang lebih jauh hingga 2060. Target tersebut membutuhkan kesinambungan kebijakan, pendanaan yang terukur, kesiapan teknologi, serta regulasi yang mampu mengikuti perkembangan program. Keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh kapasitas pembangkit, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia menjaga keselamatan dan mengelola fasilitas sepanjang masa operasionalnya.  Aspek penerimaan masyarakat juga perlu menjadi bagian dari persiapan pengembangan energi nuklir. Pemerintah perlu menyampaikan informasi secara terbuka mengenai manfaat, risiko, standar keselamatan, dan mekanisme pengawasan PLTN agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh. Pelibatan masyarakat di sekitar lokasi potensial juga penting untuk memastikan aspirasi dan kekhawatiran mereka menjadi pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.   Melalui komunikasi yang transparan, pemerintah dapat membangun kepercayaan publik sekaligus mendorong pemahaman mengenai peran energi nuklir dalam bauran energi nasional. Pendekatan ini perlu berjalan bersama penguatan regulasi dan peningkatan kompetensi tenaga ahli agar pengembangan PLTN tidak hanya berorientasi pada target kapasitas, tetapi juga memperhatikan keselamatan, lingkungan, dan kepentingan masyarakat.  Kemandirian energi nuklir harus dibangun melalui perpaduan SDM kompeten, regulasi yang tegas, riset berkelanjutan, dan tata kelola yang akuntabel. Pemerintah memastikan setiap tahapan pengembangan memiliki dasar teknis yang kuat serta mekanisme pengawasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan fondasi tersebut, Indonesia berpeluang memperkuat penguasaan teknologi nuklir nasional sekaligus mengembangkan sumber energi yang andal dan aman bagi generasi mendatang.  )* Pengamat Bidang Energi 

Read More

Komitmen Pemerintah Mengelola Potensi Nuklir Indonesia secara Aman dan Berkelanjutan

Oleh: Afrian Sadewa )*  Pemerintah terus mempersiapkan pemanfaatan energi nuklir sebagai bagian dari strategi memenuhi kebutuhan listrik nasional dan mendukung transisi menuju energi rendah emisi. Pengembangan ini menuntut perencanaan menyeluruh, mulai dari pemilihan lokasi, kesiapan teknologi, pendanaan, hingga penguatan keselamatan dan pengawasan. Komitmen tersebut harus memastikan bahwa peningkatan kapasitas energi berjalan seiring dengan perlindungan masyarakat dan kelestarian lingkungan.  Salah satu prioritas pemerintah adalah menetapkan lokasi atau tapak sebelum pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) memasuki proses tender. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa PT PLN (Persero) baru dapat melaksanakan tender setelah lokasi pembangunan ditentukan. Pemerintah telah mengidentifikasi 28 tapak potensial dan masih mengkaji berbagai alternatif, termasuk kemungkinan pengoperasian pembangkit nuklir terapung.  Penentuan tapak merupakan tahapan krusial karena fasilitas nuklir memerlukan kondisi geologi, lingkungan, dan infrastruktur yang memenuhi persyaratan keselamatan. Kajian harus mempertimbangkan risiko gempa bumi, tsunami, banjir, ketersediaan air pendingin, akses transportasi, serta kesiapan sistem tanggap darurat. Penilaian yang transparan dan berbasis bukti diperlukan agar keputusan pembangunan tidak hanya mengejar target kapasitas, tetapi juga memperhitungkan dampak jangka panjang bagi wilayah sekitar.  Arah pengembangan nuklir telah tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional. Pemerintah menargetkan kapasitas PLTN sebesar 500 megawatt (MW) pada 2032, kemudian meningkat menjadi 7 gigawatt (GW) pada 2040 dan 54 GW pada 2060. Target bertahap tersebut membutuhkan evaluasi berkala terhadap kesiapan teknologi, pembiayaan, jaringan kelistrikan, regulasi, dan kemampuan industri nasional.  Penguatan kelembagaan menjadi unsur penting dalam pelaksanaan program. Kementerian ESDM telah memiliki direktorat yang menangani pemanfaatan energi nuklir, sementara kepastian pembentukan Nuclear Energy Program Implementing Organization (NEPIO) masih perlu ditindaklanjuti. Kejelasan pembagian tugas antarlembaga diperlukan untuk menghindari tumpang tindih kewenangan, memperkuat koordinasi, dan memastikan setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan. Fungsi pengembangan program juga harus dibedakan secara tegas dari fungsi pengawasan keselamatan.  Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, menempatkan pengembangan energi nuklir dalam kerangka transformasi pembangunan nasional. Kebutuhan listrik untuk industrialisasi harus diseimbangkan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, pemanfaatan nuklir perlu didasarkan pada kebutuhan energi yang terukur, kesiapan nasional, serta manfaat ekonomi dan sosial yang dapat dievaluasi.  Prinsip keselamatan, keamanan, dan pengamanan, atau *safety, security, and safeguards* (3S), harus menjadi landasan utama. Keselamatan berkaitan dengan perlindungan manusia dan lingkungan dari bahaya radiasi maupun kecelakaan operasional. Keamanan berfokus pada pencegahan sabotase dan akses tidak sah, sedangkan safeguards memastikan bahan nuklir digunakan sesuai tujuan damai dan kewajiban pengawasan. Penerapannya membutuhkan regulasi kuat, pengawas independen, mitigasi risiko, dan budaya keselamatan yang dijalankan secara konsisten.  Kesiapan sumber daya manusia tidak kalah penting. Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, menekankan perlunya peningkatan kapasitas teknologi nuklir agar penelitian sejalan dengan kebutuhan nasional. Indonesia memerlukan tenaga ahli untuk penelitian, perancangan, pengoperasian, pemeliharaan, pengelolaan limbah, serta pengawasan fasilitas. Pendidikan, sertifikasi kompetensi, dan pelatihan berkelanjutan perlu dikembangkan sebelum fasilitas mulai beroperasi.  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berperan memperkuat fondasi ilmu pengetahuan, fasilitas penelitian, dan kemampuan tenaga ahli. Kerja sama antara lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dapat mempercepat penguasaan teknologi sekaligus membuka peluang keterlibatan pemasok domestik. Namun, pengembangan industri pendukung harus tetap mengikuti standar mutu dan keselamatan yang ketat agar kemandirian teknologi tidak mengorbankan keandalan fasilitas.  Manfaat teknologi nuklir juga melampaui sektor ketenagalistrikan. Dalam kesehatan, teknologi ini mendukung diagnosis dan terapi penyakit. Di bidang pertanian dan pangan, pemanfaatannya dapat membantu pemuliaan tanaman, pengendalian hama, serta pengawetan produk tertentu. Aplikasi di bidang lingkungan dan industri pun berpotensi meningkatkan efisiensi pengukuran dan pengujian. Seluruh pemanfaatan tersebut tetap memerlukan prosedur perlindungan radiasi dan pengawasan yang sesuai.  Partisipasi masyarakat harus mendapat perhatian sejak tahap perencanaan. Pemerintah perlu menyediakan informasi yang mudah dipahami mengenai manfaat, risiko, pengelolaan bahan bakar bekas dan limbah radioaktif, serta langkah penanganan keadaan darurat. Konsultasi publik sebaiknya memberi ruang bagi pertanyaan dan keberatan warga, bukan sekadar menyampaikan keputusan yang telah dibuat. Keterbukaan hasil kajian akan membantu membangun kepercayaan sekaligus meningkatkan kualitas kebijakan.  Selain itu, pemerintah perlu menyiapkan skema pembiayaan yang memperhitungkan seluruh siklus hidup pembangkit, termasuk penghentian operasi dan pembongkaran fasilitas. Perencanaan biaya sejak awal penting secara nasional untuk mencegah beban yang tidak terduga bagi negara, konsumen listrik, maupun generasi berikutnya.  Komitmen pemerintah mengelola potensi nuklir harus dibuktikan melalui pelaksanaan yang disiplin dan bertahap. Penetapan tapak, penguatan kelembagaan, kesiapan tenaga ahli, pendanaan, serta pengawasan independen perlu berjalan beriringan. Dengan penerapan prinsip 3S, komunikasi publik yang terbuka, dan evaluasi berkelanjutan, energi nuklir berpeluang mendukung ketahanan energi Indonesia tanpa mengesampingkan keselamatan masyarakat dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.  )* Pengamat Kebijakan Publik 

Read More

Program MBG Buka Lapangan Kerja dan Peluang Usaha Baru

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pemenuhan gizi masyarakat. Melalui operasional dapur, pengadaan bahan pangan, dan distribusi makanan, program pemerintah tersebut membuka kesempatan kerja sekaligus memperluas peluang usaha bagi masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan bahwa program MBG telah menyerap sekitar 1,3 juta pekerja dari…

Read More

MBG Gerakkan Ekonomi Daerah lewat Penyerapan Tenaga Kerja

Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berkembang sebagai upaya meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian daerah. Hingga September 2026, program ini melibatkan lebih dari satu juta pegawai dan relawan. Rantai pasoknya juga membuka peluang bagi puluhan ribu pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk memasok kebutuhan pangan di berbagai…

Read More

Penyerapan Tenaga Kerja MBG Membuka Peluang Kemandirian Ekonomi Rakyat

Oleh: Bara Winatha )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berkembang sebagai salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi rakyat. Kebutuhan operasional yang melibatkan dapur pelayanan, pengolahan makanan, distribusi, dan pengadaan bahan pangan menciptakan ruang partisipasi bagi tenaga kerja maupun pelaku usaha lokal. Dengan pengelolaan yang tepat, program ini berpotensi menghubungkan belanja negara dengan peningkatan pendapatan keluarga dan pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah.  Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menekankan bahwa pelaksanaan MBG perlu didukung tata kelola yang baik agar perluasan layanan berjalan seiring dengan pemenuhan standar keamanan pangan. Perkembangan program yang menjangkau puluhan juta penerima manfaat membutuhkan dukungan tenaga kerja, pemasok bahan pangan, serta satuan pelayanan yang mampu menjalankan kegiatan secara konsisten. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang disediakan, tetapi juga dengan kualitas pelaksanaan dan manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat.  Berdasarkan paparan BGN, MBG telah menjangkau 57,8 juta penerima manfaat dengan dukungan 26.563 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pelaksanaan program tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari tenaga operasional hingga pemasok kebutuhan pangan. Luasnya cakupan layanan menunjukkan besarnya kebutuhan sumber daya manusia untuk mendukung persiapan, pengolahan, pengemasan, dan pendistribusian makanan ke berbagai wilayah.  Dari sisi ketenagakerjaan, data BGN hingga September 2026 mencatat 1.027.998 tenaga kerja aktif dalam program MBG. Jumlah tersebut terdiri atas 86.120 pegawai SPPG dan 941.878 relawan. Pelibatan tenaga kerja dalam jumlah besar memperlihatkan bahwa operasional program menciptakan kebutuhan pekerjaan yang beragam, terutama pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelayanan makanan dan pengelolaan dapur.  Selain itu, perekrutan relawan dapur lokal memprioritaskan masyarakat sekitar, termasuk kelompok desil 1 dan desil 2. Prioritas tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat dari kelompok ekonomi terbawah untuk terlibat dalam kegiatan operasional di daerah masing-masing. Meski demikian, keberlanjutan manfaat ketenagakerjaan perlu ditopang pembagian tugas yang jelas, kompetensi yang memadai, serta penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan.  Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, mengatakan bahwa program MBG dapat menjadi contoh pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk mendorong pemberdayaan masyarakat. Muhaimin menyampaikan bahwa sekitar 1,3 juta warga miskin telah bekerja melalui BGN dalam periode pelaksanaan program yang berlangsung selama pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia juga menyebut MBG telah melahirkan sekitar 154 ribu pengusaha baru melalui ekosistem ekonomi yang terbentuk di sekitar pelaksanaan program.  Capaian tersebut menunjukkan potensi program pemerintah dalam menciptakan peluang ekonomi di luar penerima manfaat makanan. Kebutuhan operasional SPPG mendorong permintaan terhadap tenaga kerja, bahan pangan, dan berbagai layanan pendukung. Ketika kesempatan tersebut dapat diakses masyarakat lokal, belanja pemerintah berpeluang menjadi sumber pendapatan bagi keluarga sekaligus mendorong tumbuhnya usaha baru.  Manfaat ketenagakerjaan juga terlihat di tingkat daerah. Di Kota Batam, Koordinator Wilayah SPPG Kota Batam, Defri Frenaldi, melaporkan bahwa sebanyak 6.042 tenaga kerja telah terserap dalam operasional SPPG di wilayah tersebut. Dari 148 SPPG yang tercatat, sebanyak 129 unit telah aktif beroperasi dan 10 unit baru diresmikan. Para pekerja terlibat dalam sejumlah tahapan, mulai dari persiapan bahan makanan, pengolahan, pemorsian, hingga distribusi kepada penerima manfaat.  Perkembangan di Batam menggambarkan bagaimana operasional program nasional dapat membuka kesempatan kerja di tingkat lokal. Keberadaan SPPG membutuhkan dukungan sumber daya manusia untuk menjalankan kegiatan harian, sehingga masyarakat di sekitar fasilitas memiliki peluang untuk berpartisipasi. Apabila perekrutan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan warga setempat, manfaat ekonomi dapat menjangkau keluarga yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses terhadap pekerjaan.  Defri juga menyampaikan perkembangan tersebut dalam pertemuan bersama jajaran kepolisian di Batam yang membahas penguatan pengawasan dan pelaksanaan MBG. Pelibatan masyarakat lokal dalam operasional SPPG dinilai dapat membantu memperluas manfaat program. Di sisi lain, pengawasan perlu diperkuat untuk memastikan seluruh proses pelayanan berjalan sesuai ketentuan dan tidak menimbulkan risiko bagi penerima makanan.  Di samping penyerapan tenaga kerja, rantai pasok MBG turut membuka peluang bagi UMKM, petani, peternak, nelayan, koperasi, dan badan usaha milik desa. Data BGN per 9 Oktober 2026 mencatat 63.608 pemasok terlibat dalam program tersebut. Sebanyak 52.689 pemasok atau 82,83 persen merupakan UMKM. Keterlibatan pelaku usaha tersebut memperlihatkan bahwa manfaat ekonomi MBG berpotensi menyebar melalui pembelian bahan pangan dan layanan pendukung.  Penyerapan tenaga kerja MBG juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan, memperluas keterampilan, dan mengembangkan usaha. Agar manfaat tersebut berkelanjutan, pemerintah perlu memastikan kesempatan kerja dan kemitraan usaha tersedia secara adil, disertai tata kelola yang transparan serta evaluasi terhadap hasil program. Dengan pelaksanaan yang konsisten, MBG berpotensi menjadi penghubung antara pemenuhan gizi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan ekonomi rakyat, sehingga belanja negara dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat.  *) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan. 

Read More

MBG Jadi Penggerak Ekonomi Daerah, Buka Peluang Usaha dan Lapangan Kerja

Oleh: Yusuf Rinaldi )*  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Melalui keterlibatan UMKM, koperasi, BUMDes, petani, dan peternak dalam rantai pasok pangan, program ini berpotensi memperluas pasar produk lokal sekaligus menggerakkan perputaran ekonomi di daerah. Dari sudut pandang ekonomi, kombinasi dua tujuan itu menjadikan MBG layak dibaca lebih dari sekadar program bantuan pangan.  Data Badan Gizi Nasional (BGN) per 9 Oktober 2026 menunjukkan pintu partisipasi itu terbuka cukup lebar. Sebanyak 63.608 pemasok tercatat terlibat di 37 provinsi, dan 52.689 di antaranya, atau 82,83 persen, adalah UMKM. Sisanya berasal dari koperasi sebanyak 9.388, BUMDes sebanyak 1.105, dan Koperasi Desa Merah Putih sebanyak 426. Komposisi ini penting karena belanja pemerintah cenderung memberi efek pengganda lebih besar ketika diserap pelaku usaha kecil yang membelanjakan kembali pendapatannya di wilayah yang sama.  Skala program membuat peluang itu terasa nyata. Per 9 Oktober 2026, BGN mencatat 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan 57.491.334 penerima manfaat. Adapun realisasi anggaran hingga September mencapai Rp149,79 triliun dengan cakupan 53.906.576 penerima manfaat; kedua angka penerima itu memakai periode pencatatan berbeda. Kebutuhan pangan sebesar ini terjadi setiap hari dan berulang, sehingga SPPG berfungsi sebagai simpul yang mempertemukan permintaan program dengan pemasok di sekitarnya. Bagi petani dan peternak, hadirnya pembeli yang pasti dan berkelanjutan adalah hal berharga di sektor pangan yang kerap diguncang fluktuasi harga.  Desain pengadaannya memperlihatkan arah yang jelas. Kepala BGN Sudaryono menyatakan bahwa MBG diarahkan memberi dampak bagi ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM, petani, dan peternak, dengan syarat utama bahan makanan memenuhi standar keamanan. Ketika menanggapi usulan Bulog untuk memasok beras premium, ia menyebut usulan itu positif, tetapi menegaskan bahwa program tetap mengutamakan bahan pangan dari daerah setempat agar petani, pedagang, dan UMKM lokal ikut menikmati perputaran ekonominya. BGN menempatkan dukungan Bulog sebagai alternatif ketika pasokan daerah belum mencukupi. Pola ini menarik secara ekonomi: ada penyangga pasokan nasional, tetapi prioritas tetap pada produsen setempat.  Contoh penerapannya terlihat di Jawa Timur. SPPG di provinsi itu diwajibkan membeli telur dari peternak lokal tiga kali seminggu, dengan harga acuan sekitar Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak dan estimasi penyerapan 8–10 persen dari total produksi telur provinsi. Skema semacam ini memberi kepastian harga dan permintaan, dua hal yang paling dibutuhkan peternak untuk merencanakan produksi.  Dampak lain tampak pada ketenagakerjaan. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menyatakan MBG telah menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja dalam waktu singkat, dan menurutnya mereka berasal dari kelompok miskin. Ia juga menilai program ini telah melahirkan sekitar 148 ribu pengusaha baru dan menjadi capaian terbaik di antara program berbasis APBN dalam membangun ekosistem ekonomi secara cepat. Sebagai catatan, data BGN hingga September mencatat 1.027.998 pegawai dan relawan aktif, terdiri atas 86.120 pegawai SPPG dan 941.878 relawan. Angka-angka itu menggambarkan besarnya lapangan kegiatan yang terbuka di sekitar program, meski kategorinya perlu dibaca sesuai pencatatan masing-masing.  Muhaimin juga memandang belanja negara melalui MBG dapat menjadi penggerak kegiatan ekonomi di tingkat akar rumput, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga penciptaan nilai tambah di lingkungan masyarakat. Cara pandang ini sejalan dengan logika ekonomi: ketika belanja diarahkan ke pelaku setempat, manfaatnya tidak berhenti pada layanan, tetapi merambat menjadi pendapatan.  Agar manfaat itu terus meluas, ada beberapa hal yang layak terus diperkuat. Ketepatan pembayaran kepada pemasok, kesinambungan kontrak, kualitas produk, dan harga yang wajar menentukan apakah UMKM dapat tumbuh bersama program. Koperasi dan BUMDes dapat berperan menghimpun produk anggota agar produsen kecil mampu memenuhi volume dan standar yang diminta SPPG. Pemerataan kesempatan usaha antardaerah juga perlu terus dijaga agar peluang tidak terkonsentrasi di wilayah tertentu.  Evaluasi berkala atas omzet UMKM, pendapatan petani dan peternak, serta kesinambungan pengadaan akan membantu program ini terus menyempurnakan diri. Di sisi lain Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menerbitkan surat edaran (SE) bernomor 400.5/8545/SJ tentang Pelaksanaan Inspeksi dan Penilaian Kesesuaian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah. Melalui SE tersebut, Mendagri meminta gubernur, bupati, dan wali kota untuk memperkuat pengawasan operasional SPPG sekaligus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).  Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperlihatkan bahwa agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan ekonomi dapat dijalankan beriringan. MBG menjadi contoh bagaimana satu program dapat memperbaiki gizi jutaan penerima manfaat sekaligus membuka pasar bagi usaha masyarakat. Ukuran keberhasilannya ke depan bukan hanya luasnya jangkauan layanan, melainkan juga seberapa banyak pelaku usaha di daerah yang tumbuh bersama program ini.  )*Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi 

Read More

Pemerintah Percepat Bantuan Pangan untuk 33,2 Juta Keluarga

JAKARTA – Pemerintah percepat penyaluran bantuan pangan beras bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) kelompok desil 1 hingga desil 4 di seluruh Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), sekaligus menjaga daya beli keluarga berpenghasilan rendah. Presiden Prabowo Subianto menyetujui percepatan penyaluran bantuan untuk…

Read More

Pemerintah Pastikan Bantuan Pangan Desil 1–4 Jadi Prioritas

JAKARTA — Pemerintah mempercepat penyaluran bantuan pangan beras bagi keluarga dalam kelompok desil 1–4 untuk menjaga kecukupan pangan dan daya beli masyarakat menjelang akhir 2026. Sebanyak 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) ditargetkan menerima bantuan alokasi Oktober–Desember sekaligus, di tengah kewaspadaan terhadap kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan dampak El Nino. Menteri Koordinator Bidang Pangan…

Read More
Back To Top