Prabowo Dorong Evaluasi Listrik Menyeluruh demi Layanan Lebih Stabil

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meminta evaluasi menyeluruh terhadap model bisnis dan operasional PT PLN (Persero) setelah gangguan pasokan listrik di Batam dan sebagian wilayah Bintan, Kepulauan Riau, pada 12 Oktober 2026. Arahan itu ditujukan untuk memperkuat keandalan sistem, memperbaiki respons layanan, sekaligus meningkatkan efisiensi perusahaan. Selain perbaikan teknis, pemerintah juga mendorong percepatan energi surya…

Read More

Presiden Prabowo: Listrik Lebih Tanggap, Stabil, Kuat dan Andal

Oleh: Nadira Citra Maheswari )*  Keandalan pasokan listrik menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi, pertumbuhan industri, dan digitalisasi layanan publik, pemerintah mendorong pembenahan sektor ketenagalistrikan agar semakin tanggap, stabil, kuat, dan andal. Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat infrastruktur strategis sekaligus mendukung produktivitas masyarakat dan daya saing nasional.  Gangguan pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di sejumlah wilayah menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Presiden menginstruksikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero) untuk segera melakukan langkah perbaikan guna memulihkan keandalan sistem kelistrikan. Arahan tersebut menegaskan pentingnya penanganan gangguan secara cepat sekaligus pembenahan menyeluruh untuk meningkatkan kualitas pelayanan.  Pemadaman listrik dalam beberapa waktu terakhir menjadi tantangan yang perlu segera ditangani pemerintah. Gangguan di berbagai daerah dipicu beragam faktor, antara lain kondisi cuaca, ketersediaan pasokan batu bara, serta proses pemeliharaan fasilitas pembangkit listrik. Kondisi ini menunjukkan bahwa keandalan pasokan tidak hanya ditentukan kapasitas pembangkit, tetapi juga kesiapan jaringan, kualitas peralatan, ketersediaan bahan bakar, dan kemampuan operator menghadapi keadaan darurat.  Gangguan di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau, memperlihatkan pentingnya kesiapan operasional hingga tingkat wilayah. Pemulihan pasokan di Batam yang mencapai 100 persen pada 14 Oktober 2026 menjadi perkembangan penting bagi masyarakat terdampak, sementara pemulihan di sebagian wilayah Bintan masih berlangsung bertahap. Evaluasi penyebab gangguan dan pemeliharaan infrastruktur diperlukan agar penanganan tidak berhenti pada pemulihan sementara, tetapi menghasilkan perbaikan berkelanjutan.  CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo mendorong percepatan transformasi PLN agar perusahaan mampu bekerja lebih responsif, cepat, dan efisien. Langkah tersebut juga sejalan dengan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang ditujukan untuk menekan beban subsidi energi. Transformasi ini diharapkan memperbaiki kinerja perusahaan sekaligus mendukung perubahan struktur energi nasional.  Kebutuhan listrik terus meningkat seiring pertumbuhan industri, perluasan kawasan ekonomi, dan penggunaan teknologi digital. Gangguan pasokan dapat memengaruhi aktivitas rumah tangga, operasional fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta kelancaran usaha. Karena itu, peningkatan kapasitas pembangkit harus berjalan seiring dengan penguatan jaringan transmisi dan distribusi, pemeliharaan peralatan, serta penyediaan sistem cadangan.  Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menekankan perlunya pembenahan internal PT PLN (Persero), termasuk melalui peningkatan intensitas perbaikan teknis guna menjaga kenyamanan masyarakat. Menurutnya, gangguan kelistrikan terutama disebabkan oleh sambaran petir dan kendala teknis pada jaringan. Adapun terkait kemungkinan pemberian kompensasi kepada pelanggan terdampak, kementerian akan berkoordinasi dengan PLN.  Pembenahan internal tersebut perlu diwujudkan melalui pemeliharaan terencana, pengawasan jaringan, dan peningkatan kemampuan teknis petugas. Sistem kelistrikan yang tangguh membutuhkan kemampuan mendeteksi potensi masalah sejak dini, mengerahkan petugas secara cepat, serta menyampaikan informasi yang jelas kepada pelanggan. Prosedur pemulihan yang terukur diperlukan untuk mengurangi durasi gangguan dan mempercepat normalisasi pelayanan.  Di sisi lain, Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar, mengakui bahwa PLN masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, terutama seiring meningkatnya kebutuhan listrik di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penyesuaian kapasitas dan kualitas infrastruktur dengan perkembangan konsumsi energi. Investasi, pengelolaan aset, serta penguatan jaringan menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan tersebut.  Transformasi PLN juga membutuhkan evaluasi model bisnis, peningkatan produktivitas, dan pengendalian biaya. Efisiensi perlu diarahkan untuk mendukung kualitas pelayanan sehingga perbaikan kinerja perusahaan sejalan dengan kepentingan masyarakat. Perencanaan yang terintegrasi antara kebutuhan energi, kondisi infrastruktur, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi dapat membantu mengarahkan investasi pada bagian sistem yang paling membutuhkan penguatan.  Selain memperkuat infrastruktur yang sudah beroperasi, pemerintah mendorong pengembangan energi terbarukan melalui percepatan pemanfaatan panel surya berkapasitas 100 GW. Pengembangan ini membuka peluang diversifikasi sumber energi sekaligus memperluas pemanfaatan potensi surya Indonesia. Namun, pencapaian target memerlukan perencanaan dan integrasi sistem yang matang agar tambahan kapasitas dapat mendukung kebutuhan listrik secara efektif.  Produksi energi surya dipengaruhi cuaca dan waktu penyinaran. Oleh karena itu, pengembangannya perlu disertai penguatan jaringan, pengaturan operasi sistem, serta solusi penyimpanan energi sesuai kebutuhan. Integrasi yang tepat akan membantu memastikan peningkatan kapasitas energi terbarukan turut mendukung kestabilan pasokan dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi tertentu.  Kebijakan energi juga berkaitan dengan pemerataan pembangunan. Listrik yang andal mendukung kegiatan belajar, pelayanan kesehatan, produktivitas usaha, dan akses masyarakat terhadap teknologi digital. Bagi industri, kepastian pasokan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan investasi dan merencanakan operasional. Dengan demikian, peningkatan kualitas layanan kelistrikan berpotensi memperkuat iklim usaha dan daya saing nasional.  Keberhasilan transformasi PLN memerlukan koordinasi konsisten antara pemerintah, pengelola perusahaan, dan pemangku kepentingan sektor energi. Oleh karena itu, kebijakan strategis perlu diterjemahkan menjadi program kerja, jadwal pelaksanaan, indikator kinerja, dan evaluasi terukur. Pengawasan terhadap tindak lanjut menjadi penting agar pembenahan berjalan disiplin dan berkelanjutan.  *) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau 

Read More

Dari Evaluasi ke Transformasi, Prabowo Dorong Listrik Lebih Kuat dan Bisa Diandalkan

Oleh: Sjaichul Anwari )*  Listrik telah menjadi kebutuhan mendasar yang menentukan produktivitas masyarakat, keberlangsungan industri, dan kualitas pelayanan publik. Karena itu, keandalan pasokan listrik tidak cukup diukur dari besarnya kapasitas pembangkit, tetapi juga dari kemampuan sistem menjaga layanan tetap stabil, merespons gangguan dengan cepat, dan memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.  Evaluasi terhadap layanan kelistrikan menjadi penting ketika pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan meningkatnya konsumsi listrik. Arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transformasi PT PLN (Persero), memperbaiki efisiensi, serta mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) menunjukkan bahwa pembenahan sektor kelistrikan akan dilakukan secara menyeluruh.  Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan Presiden Prabowo meminta percepatan transformasi PLN agar perusahaan tersebut bekerja lebih baik, cepat, dan tanggap. Ia menjelaskan bahwa evaluasi juga diarahkan pada model bisnis PLN untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sekaligus mengurangi beban subsidi pemerintah.  Arahan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi kelistrikan tidak cukup dilakukan melalui penambahan infrastruktur fisik. Pembenahan tata kelola, efektivitas operasional, perencanaan investasi, dan kemampuan merespons kebutuhan pelanggan harus berjalan beriringan agar penguatan sistem menghasilkan manfaat nyata.  Salah satu ukuran keberhasilan transformasi itu ialah kemampuan PLN menjaga kualitas pelayanan ketika permintaan listrik meningkat. Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menjelaskan pertumbuhan ekonomi mendorong kenaikan kebutuhan listrik sehingga harus diimbangi dengan peningkatan keandalan dan pemeliharaan infrastruktur kelistrikan.  Gangguan pasokan di sejumlah wilayah menjadi pengingat bahwa sistem kelistrikan membutuhkan kesiapan teknis yang konsisten. Pemulihan layanan, pemeriksaan penyebab gangguan, komunikasi yang jelas kepada pelanggan, serta evaluasi kompensasi sesuai ketentuan perlu menjadi bagian dari standar pelayanan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.  Di sisi lain, transformasi juga membutuhkan sumber energi yang lebih beragam. Program pembangunan PLTS 100 GWp menjadi salah satu langkah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan, memperkuat kemandirian energi, dan mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.  Pengembangan energi surya memiliki peluang besar karena Indonesia memperoleh paparan sinar matahari sepanjang tahun. Namun, pencapaian target kapasitas tersebut memerlukan perencanaan lokasi, kesiapan jaringan transmisi dan distribusi, sistem penyimpanan energi, serta pengelolaan pasokan yang mampu menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan listrik.  Transformasi energi juga harus mempertimbangkan keterjangkauan biaya bagi masyarakat. Efisiensi pembangkitan dan distribusi perlu diterjemahkan menjadi manfaat bagi pelanggan, sementara kebijakan subsidi harus dirancang secara tepat agar kelompok yang membutuhkan tetap terlindungi tanpa menghambat kesehatan keuangan sektor ketenagalistrikan.  Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menekankan perlunya perbaikan layanan kelistrikan setelah munculnya gangguan pasokan di sejumlah daerah. Seusai melaporkan persoalan tersebut kepada Presiden pada 14 Oktober 2026, Bahlil menyampaikan bahwa pembenahan perlu dilakukan lebih intensif pada tingkat implementasi yang menjadi tanggung jawab PLN.  Bahlil juga menjelaskan bahwa gangguan listrik di Batam antara lain berkaitan dengan jaringan yang terdampak petir dan persoalan teknis lainnya. Penjelasan ini menegaskan pentingnya pemeliharaan preventif, kesiapan menghadapi cuaca ekstrem, serta evaluasi teknis yang mampu mencegah gangguan serupa berulang.  Pembenahan tersebut membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah, PLN, dan pemangku kepentingan lainnya. Evaluasi tidak semestinya berhenti pada identifikasi penyebab gangguan, melainkan diteruskan menjadi rencana perbaikan yang terukur, memiliki target waktu, dan dapat dipantau hasilnya oleh masyarakat.  Keberhasilan transformasi juga perlu dilihat dari pemerataan akses listrik. Wilayah terpencil dan kepulauan menghadapi tantangan berbeda dibandingkan pusat industri atau perkotaan, sehingga pendekatan penyediaan energi perlu disesuaikan dengan kondisi geografis, kebutuhan warga, serta kemampuan infrastruktur setempat.  Pada saat yang sama, pengembangan energi terbarukan harus berjalan seiring dengan kesiapan sistem kelistrikan nasional. Investasi pada jaringan, teknologi pengendalian, dan penyimpanan energi diperlukan agar peningkatan kapasitas PLTS tidak hanya tercatat sebagai pencapaian pembangunan, tetapi benar-benar mendukung pasokan yang stabil dan berkelanjutan.  Transformasi PLN dan percepatan energi surya karena itu perlu ditempatkan sebagai dua agenda yang saling melengkapi. Sistem yang efisien membutuhkan tata kelola yang sehat, sedangkan transisi energi membutuhkan infrastruktur yang mampu mengintegrasikan sumber energi baru tanpa mengorbankan keandalan pelayanan.  Arahan Presiden Prabowo memberikan momentum bagi evaluasi sektor kelistrikan untuk bergerak menuju perubahan yang lebih terukur. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata besarnya investasi atau kapasitas pembangkit yang dibangun, melainkan listrik yang semakin andal, gangguan yang semakin terkendali, layanan yang semakin responsif, dan akses yang semakin merata.  Dari evaluasi menuju transformasi, pekerjaan utama pemerintah dan PLN adalah memastikan setiap kebijakan menghasilkan perbaikan yang dirasakan masyarakat. Listrik yang kuat dan bisa diandalkan bukan hanya fondasi pertumbuhan ekonomi, melainkan juga prasyarat bagi pelayanan publik, kegiatan usaha, dan peningkatan kesejahteraan di seluruh Indonesia.  )* Pengamat Energi 

Read More

Digitalisasi Bansos, Ponsel Gratis Diprioritaskan bagi Warga Paling Membutuhkan

Jakarta – Rencana pemanfaatan telepon genggam (ponsel) gratis untuk mendukung digitalisasi bantuan sosial (bansos) menjadi salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital. Program ini diharapkan membantu warga berpenghasilan rendah, terutama mereka yang belum memiliki rekening bank dan perangkat memadai untuk mengakses layanan pemerintah. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo…

Read More

Digitalisasi Bansos Makin Inklusif, Ponsel Gratis Menyasar yang Paling Membutuhkan

Jakarta – Pemerintah memperkuat arah transformasi digital perlindungan sosial untuk memastikan bantuan semakin tepat sasaran dan mudah diakses masyarakat miskin. Gagasan penyediaan ponsel gratis bagi penerima manfaat menjadi salah satu opsi yang dicanangkan, terutama untuk membantu keluarga yang belum memiliki perangkat komunikasi dalam mengakses layanan dan bantuan pemerintah secara digital. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau…

Read More

Ponsel Gratis Jadi Jembatan Warga Rentan Masuk Digitalisasi Bansos

Oleh : Rivka Mayangsari )* Pemerintah tengah menyiapkan perluasan akses layanan keuangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui pembukaan rekening bank dan rencana penyediaan telepon seluler (HP) gratis untuk mendukung digitalisasi bantuan sosial (bansos). Kebijakan tersebut diarahkan untuk mempermudah masyarakat mengakses layanan perbankan, memperluas penggunaan transaksi digital, serta mendukung penyaluran bantuan secara langsung kepada penerima. Meski…

Read More

Digitalisasi Bansos Dibuka Lebih Inklusif lewat Ponsel Gratis

Oleh : Gavin Asadit )* Transformasi digital bantuan sosial (bansos) membuka peluang bagi pemerintah untuk memperbaiki ketepatan sasaran, mempercepat pelayanan, dan memperluas akses masyarakat terhadap program perlindungan sosial. Namun, manfaat digitalisasi tidak akan dirasakan secara merata apabila sebagian kelompok penerima masih terkendala kepemilikan perangkat dan kemampuan mengakses layanan digital. Wacana pemberian ponsel pintar gratis pun…

Read More

Cadangan Beras Terjaga, El Nino Diantisipasi Sejak Dini

JAKARTA – Pemerintah memastikan cadangan beras nasional tetap terjaga di tengah ancaman fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pertanian. Penguatan stok beras pemerintah menjadi modal penting untuk menjaga ketersediaan pangan, menstabilkan harga, serta memenuhi kebutuhan masyarakat hingga memasuki musim panen berikutnya pada 2027. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan realisasi pengadaan beras…

Read More

Cadangan Beras Aman, Pemerintah Siapkan Antisipasi El Nino

Jakarta – Pemerintah memperkuat kesiapan ketahanan pangan nasional dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Niño dan musim kemarau berkepanjangan. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan cadangan beras nasional dalam kondisi aman, didukung capaian pengadaan beras yang telah melampaui target penugasan pemerintah serta upaya penyerapan hasil panen petani dalam negeri. “Saat ini realisasi pengadaan…

Read More

El Nino Mengintai, Cadangan Beras Nasional Tetap Terjaga

Oleh : Aditya Anggara )* Ancaman fenomena El Nino berpotensi memperpanjang musim kemarau menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan Indonesia. Perubahan pola cuaca, berkurangnya curah hujan, dan risiko kekeringan dapat memengaruhi produktivitas pertanian, terutama tanaman padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Namun, tantangan tersebut tidak serta-merta menjadi alasan untuk meragukan kemampuan Indonesia dalam menjaga…

Read More
Back To Top