Oleh : Andi Nugroho )*
Sumatra, dengan kekayaan alam dan keragaman budayanya, baru saja melewati periode yang penuh tantangan akibat rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah, terutama Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Banjir bandang dan longsor yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat.
Tidak hanya ribuan rumah warga yang rusak dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi, tetapi juga jaringan jalan dan jembatan yang selama ini menjadi tulang punggung aktivitas sosial dan ekonomi mengalami kerusakan berat. Ratusan jembatan dan puluhan ruas jalan nasional terdampak, memutus konektivitas antarwilayah dan memperlambat roda perekonomian masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan dari separuh kabupaten/kota terdampak telah beralih dari fase tanggap darurat ke fase transisi rehabilitasi dan rekonstruksi. Di Aceh, tujuh kabupaten/kota telah memasuki fase transisi, sementara sebelas kabupaten/kota masih memperpanjang masa tanggap darurat. Di Sumatra Utara, delapan kabupaten/kota telah memasuki fase transisi dan delapan lainnya masih berada dalam status tanggap darurat.
Memasuki fase transisi dari darurat ke pemulihan, harapan baru tumbuh di Sumatra seiring gerak cepat pemerintah pusat dan daerah bersama berbagai pemangku kepentingan dalam mempercepat pemulihan infrastruktur, ditandai dengan pembukaan kembali jalan yang tertimbun longsor, pembangunan jembatan darurat untuk menjaga konektivitas, serta mobilisasi sumber daya yang dilakukan secara intensif tanpa terhenti oleh momentum pergantian tahun sebagai wujud komitmen kuat terhadap pemulihan berkelanjutan.
Upaya ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemulihan kehidupan sosial masyarakat. Jalan dan jembatan yang kembali berfungsi memungkinkan aktivitas warga perlahan pulih, mulai dari anak-anak yang kembali bersekolah, akses layanan kesehatan yang kembali terbuka, hingga distribusi logistik dan hasil pertanian yang kembali lancar. Ketika konektivitas terjaga, optimisme masyarakat pun tumbuh, menjadi energi penting dalam proses kebangkitan wilayah terdampak.
Keseriusan pemerintah tercermin dari alokasi anggaran puluhan triliun rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi jalan serta jembatan yang rusak sekaligus membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan berkelanjutan, yang dilaksanakan melalui pendekatan terkoordinasi dengan pembentukan satuan tugas percepatan pascabencana lintas kementerian dan lembaga guna memastikan sinergi pusat dan daerah, membuka partisipasi masyarakat serta sektor swasta, dan menjamin program pemulihan menjangkau hingga wilayah terpencil.
Di lapangan, progres pemulihan mulai terlihat nyata. Distribusi bantuan logistik berjalan lebih lancar, akses strategis yang sempat terputus kini kembali terbuka, dan sejumlah ruas jalan nasional yang sebelumnya tidak dapat dilalui kini sudah bisa digunakan kendaraan. Pemulihan akses ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, memungkinkan pelaku usaha kecil kembali beroperasi dan mendorong perputaran ekonomi lokal secara bertahap.
Aspek kemanusiaan menjadi perhatian utama dalam fase pemulihan melalui pembangunan hunian sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung tetapi juga simbol kebangkitan dan rasa aman, seiring dengan fokus pemerintah pusat dan daerah pada penyediaan hunian, penyaluran dana tunggu hunian, serta kolaborasi dengan berbagai mitra, sementara partisipasi aktif masyarakat dengan semangat gotong royong dalam membersihkan material longsor, memperbaiki akses jalan, dan membantu pembangunan hunian turut mempercepat pemulihan fisik sekaligus memperkuat ikatan sosial dan rasa kepemilikan terhadap proses pembangunan kembali wilayah mereka.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari upaya pemulihan infrastruktur juga mulai digenjot dengan pengerahan 144 unit alat berat untuk membuka akses jalan dan memperbaiki jembatan yang putus akibat banjir dan longsor. BNPB memetakan ada sebanyak 102 unit rumah hunian sementara dibangun di Tapanuli Utara, 488 unit hunian akan dibangun di lahan relokasi di Tapanuli Selatan.
Sinergi lintas sektor semakin memperkuat upaya pemulihan. Keterlibatan aparat keamanan dalam menyediakan alat berat, dukungan BNPB, peran aktif pemerintah daerah, serta kontribusi relawan dan sektor swasta melalui program CSR menciptakan kolaborasi yang efektif. Kerja bersama ini membuktikan bahwa tantangan besar dapat diatasi ketika seluruh elemen bangsa bergerak searah.
Pemulihan jalan dan jembatan pada akhirnya menjadi pintu masuk bagi kebangkitan ekonomi lokal. Akses yang kembali terbuka mendorong kelancaran perdagangan, memperkuat sektor pertanian, dan perlahan menghidupkan kembali potensi pariwisata daerah. Setiap jalan yang diperbaiki dan setiap jembatan yang kembali berdiri menjadi simbol perubahan dari keterpurukan menuju harapan.
Dengan demikian, transisi dari darurat ke pemulihan di Sumatra bukan sekadar perubahan status, melainkan momentum penting untuk membangun masa depan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Jalan, jembatan, dan hunian yang dibangun kembali mencerminkan semangat kebersamaan dan komitmen untuk bangkit. Dari proses pemulihan inilah Sumatra melangkah maju, membawa harapan baru bagi masyarakatnya dan membuktikan bahwa dari krisis dapat lahir kekuatan yang lebih besar.
)* Pengamat kebijakan Publik