Mengarahkan Dividen BUMN ke Cadangan Fiskal adalah Langkah Cerdas Negara

Oleh : Gavin Asadit )* Pengelolaan dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memasuki arah baru seiring penguatan peran Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara) dalam mengelola aset strategis negara. Rencana mengalokasikan sebagian dividen BUMN sebagai cadangan fiskal merupakan langkah strategis untuk memperkuat kesinambungan keuangan negara sekaligus memastikan keuntungan aset negara tetap memberikan manfaat nyata bagi…

Read More

Dividen BUMN Didorong Jadi Penopang Baru Ketahanan Fiskal Negara

Oleh Ralina Siahaan )* Upaya memperkuat ketahanan fiskal negara membutuhkan sumber pembiayaan yang semakin beragam di tengah tuntutan pembangunan yang terus meningkat. Untuk itu, optimalisasi dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) layak ditempatkan sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperluas ruang fiskal pemerintah. Bukan sekadar menjadi setoran penerimaan negara, dividen BUMN dapat diarahkan sebagai cadangan…

Read More

Reformasi Subsidi BBM Tunjukkan Keberanian Pemerintah Menjaga Keadilan

Oleh : Muhammad Dava Firdaus )* Subsidi bahan bakar minyak (BBM) selama bertahun-tahun menjadi salah satu bentuk kehadiran negara yang paling mudah dirasakan masyarakat. Ketika harga energi meningkat, subsidi berfungsi sebagai bantalan agar biaya transportasi, distribusi barang, dan kebutuhan sehari-hari tetap terkendali. Namun, di balik manfaat tersebut terdapat persoalan yang perlu dibenahi, yakni subsidi belum…

Read More

Pemerintah Pastikan Penyaluran BBM Subsidi Tepat Sasaran bagi Masyarakat Rentan

Oleh: Ricky Rinaldi )* Kebijakan subsidi energi merupakan salah satu instrumen strategis perlindungan sosial yang dihadirkan negara guna menjaga daya beli masyarakat dan menopang stabilitas perekonomian nasional secara berkelanjutan. Di tengah dinamika harga minyak mentah dunia serta tantangan fiskal dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penataan distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi menjadi keharusan…

Read More

Perkuat Ekosistem Media Digital Hasilkan Internet Sehat dan Berkualitas 

Oleh: M. Naufal Fahri )* Transformasi digital telah mengubah cara masyarakat Indonesia memperoleh, memproduksi, dan mendistribusikan informasi. Ruang digital kini bukan lagi sekadar kanal komunikasi, melainkan telah menjadi ruang publik yang memengaruhi cara masyarakat berpikir, mengambil keputusan, belajar, bekerja, hingga berinteraksi secara sosial. Perubahan ini membawa manfaat besar karena informasi menjadi semakin cepat, murah, beragam, dan mudah diakses hingga ke berbagai lapisan masyarakat. Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan serius ketika derasnya arus informasi tidak diimbangi kemampuan memilah, memverifikasi, dan memahami konteks.  Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Farida Dewi Maharani menilai perkembangan teknologi tidak mungkin dihentikan, sehingga pendekatan yang diperlukan bukanlah menutup ruang digital, melainkan membangun tata kelola yang mampu menjaga manfaat teknologi sekaligus meminimalkan risikonya. Pemerintah, menurut Farida, memiliki peran menjaga “pagar” ruang digital agar tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat tanpa mematikan kebebasan berekspresi dan berpendapat. Perspektif tersebut penting karena kemajuan teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen pembangunan, bukan semata-mata sebagai sumber ancaman. Dengan infrastruktur konektivitas yang terus berkembang, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat mampu menggunakan teknologi secara produktif.  Masalahnya, demokratisasi produksi informasi melalui media sosial juga telah menghapus banyak batas yang sebelumnya dijaga oleh mekanisme editorial media arus utama. Setiap orang kini dapat menjadi produsen sekaligus distributor informasi tanpa harus melalui proses verifikasi, konfirmasi, dan penyuntingan yang ketat. Akibatnya, ruang digital mengalami ledakan konten yang tidak selalu sejalan dengan kualitas informasi. Farida mengingatkan bahwa semakin banyak pihak yang dapat memproduksi konten, semakin besar pula potensi munculnya misinformasi dan disinformasi karena tidak semua konten melewati prosedur kurasi dan verifikasi.  Dalam kondisi seperti itu, negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan hak masyarakat memperoleh informasi yang benar. Regulasi menjadi instrumen penting untuk memastikan ruang digital tidak berkembang menjadi wilayah tanpa tata kelola, terutama ketika kelompok paling rentan, yakni anak-anak, ikut menjadi pengguna aktif platform digital. Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik dalam pelindungan anak atau PP TUNAS menjadi bagian dari upaya tersebut. Kebijakan ini patut dilihat bukan sebagai pembatasan terhadap perkembangan teknologi, melainkan sebagai ikhtiar membangun lingkungan digital yang lebih aman sekaligus memastikan platform memiliki tanggung jawab terhadap dampak layanan yang mereka hadirkan.  Perlindungan anak menjadi semakin relevan ketika penggunaan teknologi tidak lagi hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi telah beririsan dengan proses tumbuh kembang dan pendidikan. Pengalaman pandemi menunjukkan bahwa teknologi mampu menjaga keberlangsungan proses belajar ketika interaksi tatap muka terbatas. Namun, manfaat tersebut tidak boleh menutup mata terhadap risiko penggunaan yang berlebihan dan paparan konten yang tidak sesuai usia. Karena itu, Farida menekankan pentingnya moderasi dan asesmen konten agar anak tetap memperoleh manfaat teknologi tanpa harus menjadi korban dari sisi negatifnya.  Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran di tingkat keluarga dan satuan pendidikan. Regulasi akan sulit mencapai hasil maksimal apabila orang tua, guru, dan anak hanya memahami aturan sebagai larangan formal. Menurut Farida, kesadaran untuk melindungi diri sendiri justru harus menjadi fondasi utama karena teknologi memiliki banyak celah yang dapat dimanfaatkan secara keliru. Karena itu, literasi digital harus bergerak dari sekadar kemampuan menggunakan perangkat menuju kemampuan memahami risiko, mengenali manipulasi, memeriksa sumber, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.  Tantangan berikutnya datang dari perkembangan kecerdasan buatan atau AI yang semakin cepat. Teknologi ini dapat menghasilkan konten yang sangat menyerupai kenyataan, termasuk manipulasi visual dan deepfake yang berpotensi digunakan untuk menyesatkan publik. Farida menilai tingginya adopsi AI di Indonesia merupakan peluang besar, tetapi pemanfaatannya perlu diarahkan agar lebih produktif sekaligus disertai kemampuan masyarakat membedakan konten yang autentik dan hasil manipulasi. Pemerintah yang sedang menyiapkan arah pengembangan AI perlu memastikan inovasi berjalan beriringan dengan edukasi, etika, keamanan, dan kepentingan publik.  Pada titik inilah media arus utama memiliki posisi strategis. Ketika masyarakat menghadapi banjir konten yang sulit dibedakan antara fakta, opini, manipulasi, dan rekayasa AI, media profesional dapat menjadi rujukan untuk melakukan verifikasi. Farida menegaskan, “media menjadi penting karena dalam proses memproduksi konten ini media terikat dengan kode etik jurnalistik.” Artinya, keberadaan ruang redaksi, proses konfirmasi, verifikasi, serta tanggung jawab jurnalistik menjadi modal penting untuk mengembalikan kepercayaan publik di tengah fragmentasi informasi.  Membangun internet sehat pada akhirnya bukan pekerjaan satu kementerian, satu platform, atau satu kelompok masyarakat. Pemerintah perlu memastikan regulasi berjalan konsisten, platform memenuhi kewajibannya, media mempertahankan kredibilitas, akademisi memperkuat kajian, sekolah membangun kecakapan digital, dan keluarga menjadi benteng pertama bagi anak. Farida menekankan pentingnya kolaborasi karena platform digital berskala besar tidak mungkin dihadapi secara efektif oleh satu pihak saja. Dengan kolaborasi tersebut, regulasi seperti PP TUNAS dapat menjadi fondasi untuk menciptakan ruang digital yang bukan hanya lebih aman, tetapi juga produktif dan berorientasi pada kepentingan publik.  *) Analis Kebijakan Publik 

Read More

Masyarakat Mengecam Kekerasan, Aparat Terus Pulihkan Keamanan Papua

Oleh: Samuel Awi )*  Dugaan kekerasan dan penyanderaan terhadap sejumlah warga di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, patut mendapat kecaman karena keselamatan masyarakat sipil harus selalu ditempatkan sebagai prioritas. Perempuan, anak-anak, pelajar, dan masyarakat yang tidak terlibat dalam persoalan keamanan berhak menjalani kehidupan secara aman dan bermartabat. Setiap tindakan kekerasan yang membahayakan warga hanya akan mengganggu ketenangan masyarakat dan menghambat terciptanya Papua yang damai serta semakin maju.  Informasi mengenai sembilan warga yang diduga dibawa secara paksa oleh kelompok bersenjata di Jila telah mendapatkan perhatian aparat keamanan. Situasi tersebut menjadi perhatian serius karena sebagian warga yang dilaporkan berada dalam kelompok tersebut merupakan perempuan dan anak-anak. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan korban harus menjadi kepentingan utama, sementara proses pencarian dan penanganan perlu dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur.  Masyarakat tentu mengecam setiap bentuk kekerasan yang menjadikan warga sipil sebagai korban. Perbedaan pandangan, persoalan politik, maupun kepentingan apa pun tidak seharusnya menjadi alasan untuk menggunakan kekerasan terhadap masyarakat yang tidak terlibat. Warga sipil bukan bagian dari sasaran konflik. Mereka adalah masyarakat yang memiliki hak untuk hidup, memperoleh pendidikan, bekerja, mendapatkan pelayanan kesehatan, dan membangun masa depan bersama keluarganya.  Dugaan peristiwa di Jila juga menunjukkan pentingnya kehadiran aparat keamanan dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat. Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang menyampaikan bahwa TNI telah menerima informasi mengenai warga yang dilaporkan dibawa kelompok bersenjata dan masih melakukan pengumpulan data untuk menentukan langkah pencarian. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa aparat berupaya memastikan informasi lapangan terlebih dahulu agar langkah penanganan dapat dilakukan secara tepat.  Komandan Korem 173/PVB juga telah berkoordinasi dengan keluarga warga dan Pemerintah Kabupaten Mimika. Koordinasi tersebut merupakan langkah penting untuk memastikan penanganan dilakukan secara terpadu. Dalam situasi yang membutuhkan kehati-hatian, komunikasi antara aparat, pemerintah daerah, keluarga korban, dan masyarakat menjadi bagian penting untuk mendukung proses pencarian sekaligus menjaga ketenangan.  Anggota Komisi XIII DPR Mafirion turut mendorong pemerintah bersama TNI dan Polri mengambil langkah untuk menyelamatkan warga yang diduga disandera. Ia menekankan bahwa proses pembebasan harus dilakukan secara cepat, presisi, dan terukur agar keselamatan korban tetap menjadi prioritas. Pandangan tersebut memperkuat pesan bahwa negara harus hadir memberikan perlindungan ketika masyarakat menghadapi ancaman keamanan.  Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi DPN PERMAHI Moh Sahrul Lakoro juga mengecam dugaan tindakan kekerasan terhadap warga sipil, khususnya apabila perempuan dan anak-anak menjadi sasaran. Menurutnya, keselamatan warga merupakan bagian dari kewajiban negara dan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan apa pun. Perlindungan masyarakat harus menjadi ukuran utama dalam setiap langkah penanganan keamanan.  Kecaman terhadap kekerasan tersebut bukan hanya berkaitan dengan satu peristiwa. Lebih jauh, hal ini merupakan penegasan bahwa masyarakat Papua membutuhkan ruang kehidupan yang aman untuk membangun masa depan. Papua memiliki potensi besar dalam bidang pendidikan, ekonomi, budaya, pariwisata, pertanian, perikanan, dan berbagai sektor lainnya. Potensi tersebut akan berkembang lebih optimal apabila masyarakat dapat menjalankan aktivitas tanpa rasa khawatir terhadap ancaman kekerasan.  Karena itu, tindakan aparat untuk memulihkan keamanan di wilayah Jila patut mendapat dukungan. Ketegasan aparat diperlukan untuk memastikan hukum berjalan dan masyarakat memperoleh perlindungan. Pada saat yang sama, penanganan harus tetap dilakukan secara profesional, terukur, berdasarkan informasi yang terverifikasi, serta mengutamakan keselamatan warga. Ketegasan dan perlindungan terhadap masyarakat merupakan dua hal yang dapat berjalan secara bersamaan.  Satgas Damai Cartenz 2026 telah mengirim personel ke Distrik Jila untuk memastikan situasi dan melakukan penyelidikan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya negara untuk merespons laporan yang berkembang di lapangan. Dengan dukungan koordinasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat, diharapkan situasi keamanan dapat segera dipulihkan dan aktivitas warga kembali berjalan normal.  Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung proses tersebut. Penyampaian informasi secara bertanggung jawab, menjaga ketenangan, dan membangun komunikasi dengan aparat dapat membantu proses penanganan. Tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, perempuan, dan berbagai elemen masyarakat dapat ikut memperkuat pesan bahwa kekerasan bukan jalan untuk menyelesaikan persoalan.  Karena itu, dugaan kekerasan dan penyanderaan di Jila harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama menolak kekerasan terhadap warga sipil. Masyarakat membutuhkan perlindungan, kepastian hukum, dan lingkungan yang aman. Aparat keamanan memiliki peran penting untuk memastikan ketertiban dan memberikan rasa aman, sedangkan masyarakat dapat mendukung melalui kerja sama dan informasi yang bertanggung jawab.  Pada akhirnya, kecaman terhadap kekerasan merupakan bentuk keberpihakan terhadap kemanusiaan dan masa depan Papua. Tidak ada pembangunan yang dapat berlangsung maksimal tanpa keamanan, dan tidak ada kedamaian yang dapat tumbuh apabila warga terus dibayangi kekerasan. Dengan dukungan masyarakat terhadap upaya aparat memulihkan keamanan, penegakan hukum yang profesional, serta pembangunan yang terus berjalan, Papua dapat semakin kuat membangun masa depan yang damai, aman, maju, dan sejahtera.  *Penulis merupakan Pemerhati Perdamaian dan Pembangunan Papua 

Read More

Masyarakat Dukung Penguatan Keamanan untuk Wujudkan Papua Damai dan Sejahtera

Oleh:  Markus Wonda )* Keamanan dan kedamaian merupakan fondasi penting bagi masyarakat Papua untuk terus berkembang dan menikmati manfaat pembangunan. Lingkungan yang kondusif memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar, tenaga kesehatan memberikan pelayanan, masyarakat bekerja, serta kegiatan ekonomi tumbuh hingga wilayah terpencil. Karena itu, sinergi masyarakat bersama pemerintah dan aparat keamanan menjadi kekuatan penting untuk menjaga stabilitas sekaligus membuka ruang yang semakin luas bagi kemajuan Papua.  Perkembangan situasi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan keselamatan masyarakat. Informasi mengenai dugaan pembawaan sejumlah warga oleh kelompok bersenjata telah mendapatkan respons dari aparat keamanan. TNI dan Polri melakukan pengumpulan informasi, koordinasi dengan pemerintah daerah, serta menyiapkan langkah penanganan di lapangan. Respons tersebut menunjukkan bahwa perlindungan masyarakat tetap menjadi bagian penting dari pelaksanaan tugas keamanan di Papua.  Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima informasi mengenai warga yang dilaporkan dibawa kelompok bersenjata dan masih melakukan pengumpulan data untuk menentukan langkah selanjutnya. Komandan Korem 173/PVB juga telah berkoordinasi dengan keluarga warga dan Pemerintah Kabupaten Mimika. Koordinasi tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu, terukur, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat dalam menghadapi situasi keamanan di wilayah dengan karakter geografis khusus.  Kehadiran aparat keamanan di Papua memiliki arti strategis bagi terciptanya rasa aman. TNI dan Polri menjalankan tugas menjaga stabilitas sekaligus mendukung kondisi yang memungkinkan masyarakat menjalankan kehidupan sehari-hari dengan tenang. Di wilayah seperti Jila yang berada di kawasan pegunungan dengan akses transportasi terbatas, kemampuan aparat untuk berkoordinasi dan merespons perkembangan situasi menjadi unsur penting dalam menjaga masyarakat.  Dukungan masyarakat terhadap aparat keamanan dapat menjadi energi positif bagi terciptanya Papua yang semakin damai. Keamanan merupakan kepentingan bersama yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketika situasi kondusif, sekolah dapat beraktivitas, fasilitas kesehatan memberikan pelayanan, masyarakat dapat bekerja, dan pelaku usaha lokal memiliki ruang untuk berkembang. Stabilitas dengan demikian bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga prasyarat bagi peningkatan kesejahteraan.  Anggota Komisi XIII DPR Mafirion memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat di Jila dan mendorong pemerintah bersama TNI dan Polri memastikan keselamatan warga. Ia menekankan pentingnya langkah yang cepat, presisi, dan terukur. Perhatian tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan masyarakat Papua merupakan kepentingan nasional yang membutuhkan kerja sama berbagai institusi.  Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi DPN PERMAHI Moh Sahrul Lakoro juga menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas. Menurutnya, negara harus terus memperkuat perlindungan warga serta memastikan hak masyarakat memperoleh rasa aman. Pandangan tersebut sejalan dengan harapan masyarakat Papua agar stabilitas terus diperkuat sehingga warga dapat menjalankan aktivitas dan merencanakan masa depan dengan lebih percaya diri.  Masyarakat Papua membutuhkan suasana yang mendukung tumbuhnya generasi muda. Anak-anak dan pelajar harus memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman. Generasi muda Papua memiliki peran besar dalam menentukan masa depan daerah melalui pendidikan, kewirausahaan, pemerintahan, maupun berbagai bidang profesional. Menciptakan keamanan berarti sekaligus menjaga kesempatan generasi berikutnya untuk berkembang.  Keamanan juga berkaitan erat dengan pembangunan ekonomi. Papua memiliki potensi besar di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan usaha lokal. Potensi tersebut membutuhkan lingkungan stabil agar dapat dikembangkan secara optimal. Situasi yang aman dapat mendukung mobilitas masyarakat, distribusi barang, kegiatan usaha, serta membuka kesempatan lebih besar bagi masyarakat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan.  Satgas Damai Cartenz 2026 juga telah mengirim personel untuk memastikan situasi di Distrik Jila dan melakukan penyelidikan. Langkah tersebut menunjukkan perhatian berkelanjutan terhadap kondisi keamanan wilayah. Kehadiran personel di lapangan diharapkan membantu memastikan masyarakat memperoleh perlindungan serta mendukung pemulihan situasi sehingga aktivitas warga dapat berjalan kembali secara normal.  Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga suasana tetap kondusif. Komunikasi yang baik, penyampaian informasi secara bertanggung jawab, serta dukungan terhadap proses penanganan aparat dapat membantu menjaga ketenangan. Tokoh adat, tokoh agama, pemuda, kelompok perempuan, dan elemen masyarakat lainnya dapat menjadi kekuatan sosial untuk memperkuat persatuan dan perdamaian.  Keamanan dan pembangunan harus dipandang sebagai dua hal yang saling memperkuat. Keamanan memberikan ruang bagi pembangunan, sedangkan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap masa depan. Karena itu, upaya menjaga stabilitas Papua perlu berjalan seiring dengan peningkatan pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan ekonomi.  Pada akhirnya, menjaga keamanan Papua merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, TNI, Polri, masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dan seluruh elemen daerah memiliki peran dalam menciptakan suasana damai. Dukungan terhadap aparat keamanan merupakan bagian dari dukungan terhadap rasa aman dan keberlanjutan pembangunan.  Dengan sinergi yang semakin kuat, Papua dapat terus bergerak menuju masa depan yang lebih baik. Keamanan yang terjaga, masyarakat yang bersatu, dan pembangunan yang berkelanjutan menjadi fondasi bagi Papua yang semakin damai, maju, mandiri, dan sejahtera.  *Penulis merupakan Pemerhati Pembangunan dan Keamanan Masyarakat Papua 

Read More

Waspada Provokasi Digital, Bersama Menjaga Agar Tak Terlena Medsos

Oleh: Dhita Karuniawati )*  Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memahami, dan menyebarkan informasi. Dalam hitungan detik, sebuah video, potongan pernyataan, atau unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Kemudahan tersebut membawa manfaat besar, tetapi juga menghadirkan risiko ketika informasi diterima tanpa pemeriksaan yang memadai.  Karena itu, kewaspadaan terhadap provokasi digital menjadi semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terseret arus konten yang sengaja dibuat untuk membangun persepsi tertentu, memancing emosi, atau memecah persatuan.  Peringatan mengenai penggunaan media sosial juga disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis. Pihaknya mengingatkan umat agar tidak terlena dengan karakter media sosial yang serba singkat dan padat. Menurut Cholil, kecepatan serta kepadatan informasi di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman wawasan intelektual.   Cholil juga menekankan pentingnya mempertahankan tradisi membaca buku dan literatur sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan. Baginya, media sosial sebaiknya dimanfaatkan secara proporsional dan tidak menggantikan kebiasaan membaca sumber pengetahuan yang lebih mendalam. Ia menilai kemajuan teknologi justru dapat dimanfaatkan untuk mengakses berbagai bahan bacaan digital seperti buku elektronik dan jurnal.   Pesan tersebut relevan dengan situasi ketika masyarakat semakin terbiasa mengonsumsi informasi dalam format pendek. Judul yang provokatif, potongan video berdurasi singkat, maupun narasi yang hanya menampilkan sebagian konteks sering kali lebih cepat mendapatkan perhatian dibandingkan informasi yang membutuhkan waktu untuk dibaca dan dipahami.  Masalahnya, konten singkat dapat menciptakan kesan seolah-olah masyarakat telah memperoleh gambaran utuh. Padahal, sebuah peristiwa hampir selalu memiliki konteks, kronologi, dan latar belakang yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu unggahan.  Risiko tersebut terlihat dari beredarnya kembali video lama mengenai demonstrasi yang kembali beredar di media sosial kemudian dikaitkan dengan situasi terkini. Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dan waspada terhadap video-video lama yang kembali disebarkan seolah-olah merupakan dokumentasi peristiwa terbaru. Menurutnya, pola seperti itu dapat membentuk persepsi keliru dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.   Andreas mengatakan bahwa kebebasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, termasuk melalui media sosial, merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut tidak seharusnya dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyebarkan informasi menyesatkan atau membangun kepentingan yang dapat memicu perpecahan. Ia mendorong masyarakat untuk membedakan antara penyampaian pendapat dengan penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.   Di sini literasi digital menjadi kebutuhan bersama. Masyarakat perlu membangun kebiasaan sederhana sebelum mempercayai atau membagikan sebuah konten. Pertama, periksa sumber informasi. Kedua, lihat tanggal dan konteks video atau foto. Ketiga, bandingkan informasi dengan pemberitaan dari sumber lain yang kredibel. Keempat, jangan menjadikan jumlah komentar, tanda suka, atau jumlah tayangan sebagai ukuran kebenaran.  Kebiasaan melakukan cross check menjadi semakin penting ketika sebuah informasi menyentuh isu sensitif, seperti politik, agama, keamanan, demonstrasi, konflik sosial, atau identitas kelompok. Konten dalam kategori tersebut memiliki daya emosional tinggi sehingga masyarakat lebih mudah bereaksi sebelum berpikir secara rasional.  Masyarakat juga perlu menyadari bahwa algoritma media sosial cenderung menghadirkan konten yang sesuai dengan perhatian dan perilaku pengguna. Akibatnya, seseorang dapat terus melihat informasi dengan sudut pandang serupa dan merasa bahwa informasi tersebut merupakan gambaran keseluruhan keadaan. Padahal, yang muncul di layar belum tentu mewakili kenyataan secara utuh.  Karena itu, melawan provokasi digital bukan berarti menjauhi media sosial. Sikap tersebut justru tidak realistis di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terkoneksi. Yang diperlukan adalah perubahan perilaku dari sekadar menjadi konsumen informasi menjadi pengguna yang kritis.  Pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, media massa, platform digital, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Namun, pertahanan pertama tetap berada pada individu. Setiap pengguna memiliki pilihan untuk berhenti sejenak, memeriksa informasi, dan tidak ikut menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya.  Pesan Cholil Nafis mengenai pentingnya membaca dan peringatan Andreas Hugo Pareira mengenai video lama yang digunakan untuk membangun persepsi keliru menunjukkan persoalan yang sama yakni masyarakat membutuhkan kedalaman berpikir di tengah derasnya arus informasi.  Media sosial seharusnya menjadi sarana memperluas pengetahuan dan komunikasi, bukan ruang yang membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Karena itu, kewaspadaan terhadap provokasi digital harus dimulai dari kebiasaan sederhana: jangan mudah percaya, jangan terburu-buru membagikan, dan selalu periksa konteks.  Di tengah derasnya informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi bukan tanda keterlambatan. Justru itulah bentuk kedewasaan digital. Dengan sikap kritis dan literasi yang kuat, masyarakat dapat tetap memanfaatkan media sosial tanpa terlena oleh arus informasi yang singkat, padat, dan belum tentu benar.  *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia 

Read More

Kritik Publik Didorong Jadi Solusi, Bukan Provokasi di Ruang Digital

Oleh: Yandi Arya Adinegara )*  Ruang publik Indonesia sedang menghadapi tantangan baru seiring semakin derasnya arus informasi digital. Demokrasi memang menjadi lebih terbuka karena masyarakat dapat menyampaikan pendapat, kritik, dan aspirasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, keterbukaan tersebut juga membawa persoalan ketika informasi yang beredar tidak selalu disertai akurasi, konteks, dan tanggung jawab. Media sosial membuat sebuah informasi dapat menyebar dalam hitungan menit, bahkan sebelum kebenarannya sempat diperiksa.  Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ruang publik hari ini bukan lagi sekadar mengenai banyak atau sedikitnya informasi, tetapi mengenai kualitas informasi yang dikonsumsi masyarakat. Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menilai ruang publik kini semakin bebas, tetapi kebebasan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kualitas isi yang memadai. Informasi yang viral terkadang lebih banyak didorong oleh kontroversi, sensasi, maupun unsur emosional dibandingkan substansi persoalan yang sebenarnya penting bagi masyarakat.  Fenomena tersebut perlu menjadi perhatian karena persepsi publik dapat dibentuk oleh informasi yang paling cepat beredar, bukan selalu oleh informasi yang paling benar. Potongan pernyataan dapat dilepaskan dari konteks, video lama dapat kembali disebarkan dengan narasi baru, dan judul berita dapat dibuat sedemikian rupa agar menarik perhatian tanpa menggambarkan isi secara utuh. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat berisiko menilai sebuah persoalan hanya berdasarkan informasi parsial.  Hingga Juli 2026, jumlah pengaduan tercatat sekitar 800 kasus, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat semakin aktif mengawasi pemberitaan. Namun, peningkatan pengaduan juga menunjukkan bahwa persoalan akurasi, keberimbangan, penggunaan narasumber, hingga pemenuhan hak jawab masih menjadi tantangan bagi industri media.  Di sisi lain, pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas informasi publik. Kritik terhadap komunikasi pemerintah tidak selayaknya dipandang hanya sebagai persoalan pencitraan, tetapi sebagai bagian dari kebutuhan agar substansi kebijakan dapat dipahami masyarakat secara utuh. Program pemerintah, kebijakan strategis, dan agenda pembangunan akan lebih mudah diterima apabila disampaikan melalui komunikasi yang jelas, konsisten, dan mampu menjawab kebutuhan informasi publik.  Dalam beberapa kesempatan, pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai agenda pembangunan justru mendapat perhatian karena potongan atau bagian tertentu yang lebih mudah menjadi bahan percakapan di media sosial. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa substansi kebijakan dapat kalah bersaing dengan isu yang lebih ringan atau kontroversial. Karena itu, pemerintah perlu memastikan pesan utama dari setiap kebijakan dapat diterima publik secara sederhana, terukur, dan tidak mudah terdistorsi oleh narasi yang berkembang di ruang digital.  Pandangan mengenai pentingnya menjaga ruang publik juga disampaikan Ketua DPR RI Puan Maharani. Ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi perlu diimbangi kecermatan masyarakat dalam memilah informasi berdasarkan fakta dan data. Bagi Puan, ruang digital tidak boleh dikuasai politik kebencian, polarisasi, maupun kepentingan yang sengaja memecah masyarakat. Namun, upaya menjaga ruang publik juga tidak boleh berubah menjadi pembenaran untuk membatasi kritik.  Di sinilah batas penting harus dijaga. Demokrasi membutuhkan kritik, bahkan kritik terhadap pemerintah sekalipun. Akan tetapi, kritik akan lebih bermakna apabila lahir dari pemahaman terhadap persoalan, memiliki dasar data, dan tidak berhenti pada tuduhan. Kritik yang hanya mengandalkan kemarahan berpotensi memperbesar polarisasi, sementara kritik yang disertai argumentasi dan solusi dapat menjadi instrumen perbaikan kebijakan.  Tantangan tersebut semakin terasa dalam dinamika aksi demonstrasi. Informasi mengenai unjuk rasa kini dapat menyebar dengan sangat cepat melalui foto, video, maupun berbagai pesan berantai. Persoalannya, tidak semua materi tersebut menggambarkan kondisi terkini. Video lama dapat digunakan kembali, lokasi dapat disalahartikan, bahkan narasi tertentu dapat sengaja dibangun untuk memancing emosi masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa sumber, waktu, dan konteks sebelum mempercayai ataupun menyebarkan informasi.  Ketua Bidang OKP Kemahasiswaan, LSM dan Ormas PB PMII M. Muham Tahsir juga menekankan pentingnya menjaga aksi demonstrasi tetap damai dan konstitusional. Menurutnya, pengalaman demonstrasi yang diwarnai kerusakan maupun tindakan anarkis harus menjadi pelajaran agar penyampaian aspirasi tidak kehilangan substansi. Kritik dapat disampaikan melalui berbagai cara, mulai dari aksi damai, diskusi publik, kajian, kegiatan sosial, hingga kampanye digital yang berbasis argumentasi.  Pada akhirnya, menjaga ruang publik bukan tanggung jawab satu institusi. Pers membutuhkan profesionalisme dan etika. Pemerintah membutuhkan komunikasi publik yang terbuka dan efektif. Masyarakat membutuhkan literasi digital dan kedewasaan dalam menerima informasi. Platform digital juga perlu menjalankan tanggung jawab agar ruang informasi tidak berkembang menjadi arena penyebaran kebencian dan manipulasi.  Indonesia membutuhkan ruang publik yang ramai oleh gagasan, bukan sekadar kegaduhan. Demokrasi harus tetap menyediakan ruang bagi kritik dan perbedaan pandangan, tetapi semuanya perlu ditempatkan dalam kerangka kepentingan bersama. Di tengah banjir informasi, masyarakat perlu belajar bahwa tidak semua yang viral layak dipercaya dan tidak semua yang populer memiliki nilai penting.  )*Penulis Merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Hilirisasi Tembaga di Gresik Menjadi Jalan Indonesia Menguasai Nilai Tambah SDA

Oleh: Dwi Saputri )*  Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun manfaatnya akan lebih besar apabila tidak berhenti pada penambangan dan penjualan bahan mentah. Hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengolah SDA di dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian. Pengembangan industri pemurnian tembaga di Gresik, Jawa Timur, menjadi salah satu wujud nyata upaya tersebut. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang terus mempercepat agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional.  Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa saat ini pemerintah terus mempercepat agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Pemerintah bersama Danantara telah melakukan groundbreaking 13 proyek hilirisasi pada 6 Februari 2026. Selanjutnya, 13 proyek hilirisasi lainnya kembali dimulai pada 29 April 2026. Berbagai proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pembangunan smelter alumina menjadi aluminium.  Langkah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi ditempatkan sebagai kebijakan sektoral, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun struktur ekonomi yang lebih kuat. Menurut Prabowo, strategi tersebut penting agar Indonesia tidak hanya mengolah sumber daya alam di dalam negeri, tetapi juga memiliki teknologi dan jaringan pasar yang mampu memperkuat keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok dunia.  Dalam konteks tembaga, Gresik memiliki posisi strategis. Kehadiran fasilitas pemurnian milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pusat penting pengolahan mineral tembaga di Indonesia. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan fasilitas smelter Manyar terintegrasi dengan kapasitas pengolahan konsentrat tembaga berskala global. Seluruh infrastruktur pengolahan di kawasan tersebut juga telah memasuki tahap kesiapan operasional.  Menurut Tony, keberadaan fasilitas pemurnian tembaga dan emas tersebut tidak hanya memperkuat kapasitas hilirisasi PTFI, tetapi juga mendorong penciptaan nilai tambah mineral di dalam negeri. Artinya, manfaat ekonomi dari kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses penambangan, tetapi dilanjutkan melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.  Smelter Manyar memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Fasilitas tersebut akan beroperasi berdampingan dengan smelter pertama PTFI yang dikelola PT Smelting di Gresik. Apabila kedua fasilitas tersebut beroperasi secara optimal, kapasitas pemurnian konsentrat tembaga PTFI di Gresik diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.  Kapasitas tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya potensi produk hilir yang dapat dihasilkan. Kedua smelter diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 1 juta ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak setiap tahun. Produk-produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan konsentrat mineral, sehingga keberadaan smelter menjadi instrumen penting untuk menangkap nilai tambah di dalam negeri.  Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas. Hilirisasi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, meningkatkan aktivitas industri pendukung, serta memperkuat kemampuan sumber daya manusia dan teknologi nasional. Semakin panjang rantai pengolahan yang dapat dilakukan di Indonesia, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat dan negara.  Dari sisi penerimaan negara, potensi hilirisasi tembaga juga sangat signifikan. PTFI memproyeksikan bahwa apabila operasional smelter di Gresik mencapai tingkat 100 persen, perusahaan dapat memberikan kontribusi keuangan kepada negara hingga sekitar Rp100 triliun setiap tahun. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya alam melalui hilirisasi dapat memperkuat penerimaan negara sekaligus menyediakan ruang fiskal yang lebih besar untuk mendukung berbagai program pembangunan.  Lebih jauh, tembaga merupakan mineral strategis yang dibutuhkan dalam berbagai sektor industri, mulai dari kelistrikan, elektronik, konstruksi, energi terbarukan, hingga kendaraan listrik. Dengan meningkatnya kebutuhan global terhadap produk-produk tersebut, penguasaan atas rantai pasok tembaga menjadi semakin penting. Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mengambil posisi lebih besar dalam rantai industri global.  Karena itu, pemerintah perlu memastikan pengembangan hilirisasi tembaga berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional. Pemerintah perlu memperkuat ekosistem industri pendukung, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memastikan ketersediaan energi dan infrastruktur, serta mendorong transfer teknologi agar Indonesia secara bertahap mampu menguasai lebih banyak tahapan pengolahan hingga menghasilkan produk turunan bernilai tinggi.  Selain itu, pengawasan terhadap aspek lingkungan dan tata kelola juga perlu diperkuat agar percepatan hilirisasi tetap berjalan seimbang dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pemerintah juga diharapkan memastikan manfaat ekonomi dari aktivitas industri dapat dirasakan masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal, pengembangan usaha mikro dan kecil, serta program pemberdayaan masyarakat.  Hilirisasi tembaga di Gresik bukan sekadar pembangunan fasilitas pemurnian mineral, tetapi merupakan bagian dari upaya Indonesia mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi. Harapannya, keberadaan smelter di Gresik dapat menjadi salah satu fondasi bagi terbentuknya industri tembaga nasional yang semakin terintegrasi, menciptakan nilai tambah yang besar, memperkuat penerimaan negara, dan membuka lebih banyak lapangan kerja. Dengan pengelolaan yang konsisten dan berkelanjutan, hilirisasi diharapkan mampu membawa Indonesia tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga menguasai teknologi, industri, dan nilai tambah dari kekayaan tersebut, sehingga semakin berdaulat dan kompetitif dalam rantai pasok global.  )* Pemerhati isu sosial-ekonomi 

Read More
Back To Top