Semangat Pemuda Menjadi Akal Sehat Demokrasi, Bukan Bahan Bakar Provokasi

Oleh : Nabela Andika )* Demokrasi Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya berani bersuara, tetapi juga mampu menjaga akal sehat di tengah derasnya arus informasi, perbedaan kepentingan, dan meningkatnya polarisasi. Pemuda memiliki energi, idealisme, keberanian, serta kemampuan besar untuk membawa perubahan. Namun, seluruh potensi tersebut dapat kehilangan arah apabila disalurkan tanpa pertimbangan yang matang…

Read More

Koperasi Merah Putih Menghidupkan Demokrasi Ekonomi dari Tingkat Desa

Oleh: Raka Pradipta )* Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KD/KMP) membawa gagasan besar untuk memperkuat ekonomi masyarakat dari tingkat desa. Program ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan gerai dan pergudangan, tetapi juga menyangkut bagaimana masyarakat memperoleh ruang untuk mengelola kegiatan ekonomi secara bersama. Kehadiran KD/KMP menjadi penting karena desa selama ini menjadi salah satu titik utama…

Read More

Lokasi Koperasi Merah Putih: Hasil Musyawarah Desa, Harus Dibaca dengan Konteks Lokal

Oleh: Rasyid Akmal )* Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) terus dipercepat pemerintah. Bersamaan dengan proses pembangunan, penentuan lokasi sejumlah koperasi menjadi perhatian publik karena dinilai tidak lazim. Sorotan muncul terhadap bangunan yang berada di kawasan pegunungan, berdekatan dengan koperasi di wilayah lain, hingga titik yang dianggap kurang strategis. Perdebatan mengenai lokasi kemudian berkembang menjadi…

Read More

Sekolah Sehat Dimulaidari MBG yang Mengajarkan Gizi, Kebersihan, dan Karakter

Oleh: Citra Kurnia Khudori )*  Sejak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir, sekolah bukan hanya tempat anak memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang pertama untuk membangun kebiasaan yang menentukan kualitas hidup mereka di masa depan. Karena itu, sekolah sehat semestinya membentuk ekosistem yang mengajarkan anak memahami tubuh, menjaga kebersihan, menghargai makanan, dan bertanggung jawab terhadap kesehatan diri.  Program MBG berpeluang besar untuk menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Satu porsi makanan mulai dimaknai menjadi sarana mengenalkan gizi seimbang, kebiasaan hidup bersih, disiplin, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama, sehingga program ini dapat memberikan dampak pendidikan yang jauh lebih luas.  Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan MBG perlu berjalan beriringan dengan pendidikan gizi dan pembiasaan hidup sehat di sekolah. Ia menjelaskan, asupan bergizi tidak hanya mendukung kecukupan nutrisi, tetapi juga membantu kesiapan peserta didik mengikuti pembelajaran sehingga makanan yang diterima anak memiliki kaitan langsung dengan proses pendidikan.  Kebijakan tersebut penting karena pengetahuan tentang makanan tidak selalu tumbuh secara otomatis dari pengalaman makan. Anak perlu memahami mengapa tubuh membutuhkan protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat, sekaligus mengenali hubungan antara makanan yang dikonsumsi dengan energi, pertumbuhan, konsentrasi, dan kesehatan.  Pendidikan gizi juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Ia menerangkan, guru dapat mengajak anak mengenali isi piring mereka, menjelaskan manfaat setiap jenis makanan, membiasakan minum air yang cukup, serta mendorong mereka memilih makanan sehat ketika berada di luar sekolah.  Tatang menilai setiap sekolah tidak harus menerapkan model pendidikan gizi yang seragam. Sekolah dapat menentukan prioritas berdasarkan kondisi dan sumber daya masing-masing, misalnya memperkuat kualitas kantin, aktivitas fisik, kebun sekolah, keterlibatan orang tua, atau kegiatan lain yang mendukung budaya hidup sehat.  Sejalan dengan itu, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menjelaskan bahwa edukasi gizi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan MBG. Ia mengungkapkan Kemendikdasmen menyiapkan modul, petunjuk teknis, panduan, serta contoh kegiatan yang dapat diterapkan melalui pembelajaran di kelas, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler, pembiasaan sehari-hari, hingga saat siswa menikmati makanan.  Pendidikan gizi yang terintegrasi juga membuka jalan bagi pembentukan karakter. Anak belajar disiplin ketika mengikuti aturan makan, belajar bersyukur ketika menerima makanan, belajar bertanggung jawab dengan menghabiskan makanan secukupnya, serta belajar peduli ketika memahami bahwa makanan yang tersedia berasal dari kerja banyak orang.  Kebiasaan tidak membuang makanan menjadi salah satu contoh sederhana yang memiliki nilai pendidikan besar. Setiap makanan yang sampai di meja siswa melewati rangkaian proses panjang, mulai dari petani dan nelayan, pengolah bahan pangan, pekerja dapur, hingga petugas distribusi, sehingga menghargai makanan berarti pula menghargai kerja orang lain.  Pengalaman siswa di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa manfaat MBG dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Gayatri Kalyani Taha, siswi kelas 6 SDN 1 Ratolindo, merasakan orang tuanya menjadi lebih tenang karena tidak lagi terlalu khawatir dirinya kelaparan ketika berada di sekolah, sementara Andi Arkan Raffi dari SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una mulai memahami kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsinya.  Raffi juga mengaku mulai terbiasa mengonsumsi sayur dan buah yang sebelumnya kurang disukai. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa MBG dapat mengubah cara anak memandang makanan, dari sekadar sesuatu yang menghilangkan lapar menjadi sumber zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan belajar.  Di titik ini, peran guru dan orang tua menjadi sangat penting karena kebiasaan sehat yang dibangun di sekolah perlu diteruskan di rumah. Anak yang belajar memilih makanan sehat di sekolah akan lebih mudah mempertahankan perilaku tersebut jika keluarga memberikan contoh dan lingkungan rumah mendukung pilihan yang sama.  MBG juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun budaya sekolah yang lebih luas. Aktivitas mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan meja, membuang sampah pada tempatnya, memilah sisa makanan, dan menghormati teman saat makan merupakan kebiasaan sederhana yang jika dilakukan terus-menerus dapat membentuk karakter.  Sekolah sehat, karena itu, tidak cukup dibangun melalui makanan bergizi yang datang setiap hari. Ia lahir dari kebiasaan yang dilakukan berulang, lingkungan yang mendukung, pengetahuan yang dipahami, serta keteladanan orang dewasa yang berada di sekitar anak.  Kekuatan terbesar MBG terletak pada kesempatan menjadikan kebiasaan sehari-hari sebagai pendidikan karakter. Dari meja makan di sekolah, anak dapat belajar bahwa hidup sehat bukan sekadar pengetahuan, melainkan perilaku yang perlu dilakukan setiap hari agar tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, mandiri, dan berkarakter.  *) Penulis adalah Pengamat Isu Sosial-Ekonomi 

Read More

MBG: Jalan Negara Membentuk Kebiasaan Sehat sejak Usia Sekolah

Oleh: Adhitya Ramadani )*  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dikembangkan pemerintah bukan hanya sebagai upaya memenuhi kebutuhan pangan peserta didik, tetapi juga sebagai instrumen membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia sekolah. Pada 2026, pendekatan tersebut semakin diperkuat melalui integrasi edukasi gizi, keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pembiasaan makan bergizi di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, MBG diarahkan menjadi bagian dari investasi jangka panjang negara dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan memiliki kesadaran terhadap pola hidup sehat.  Program MBG memiliki posisi penting karena sekolah merupakan salah satu ruang strategis dalam membentuk kebiasaan anak. Apa yang dilakukan secara berulang pada usia sekolah berpotensi terbawa hingga dewasa, termasuk kebiasaan memilih makanan, menjaga kebersihan, memahami kebutuhan gizi, dan mengatur pola konsumsi. Pemerintah kemudian memperluas fungsi MBG agar pemberian makanan bergizi tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan bersama proses pendidikan yang membantu siswa memahami alasan di balik makanan yang mereka konsumsi.  Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menilai literasi gizi menjadi bagian penting dari pelaksanaan MBG. Menurutnya, pemberian makanan harus disertai pemahaman agar peserta didik mengetahui manfaat gizi yang terdapat dalam makanan dan mampu membangun kebiasaan sehat sejak dini. Pendekatan tersebut membuat MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan makan harian, tetapi juga diarahkan untuk membentuk kesadaran yang dapat diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.  Penguatan edukasi tersebut mulai dilakukan secara lebih sistematis pada 2026. BGN bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperluas literasi gizi dan keamanan pangan bagi guru serta tenaga kependidikan. Pada tahap awal, program tersebut menyasar 658.300 guru dan tenaga kependidikan di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Guru dipandang memiliki posisi penting karena berada langsung bersama peserta didik dan dapat membantu menerjemahkan materi gizi menjadi kebiasaan yang mudah diterapkan di sekolah maupun di rumah.  Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti juga menempatkan MBG sebagai bagian yang selaras dengan penguatan karakter melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Salah satu kebiasaan yang ditekankan adalah makan sehat dan bergizi. Dengan integrasi tersebut, MBG tidak hanya menjadi program pemenuhan gizi, tetapi juga mendukung pembentukan karakter melalui rutinitas yang dilakukan secara konsisten. Pola tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kualitas manusia membutuhkan pendekatan yang menggabungkan kesehatan, pendidikan, dan pembentukan kebiasaan.  Hingga 10 Juni 2026, lebih dari 43 juta dari sekitar 53 juta murid di Indonesia telah menerima manfaat MBG atau sekitar 80,7 persen. Cakupan tersebut menunjukkan besarnya skala intervensi pemerintah di sektor pendidikan dan kesehatan anak. Semakin luas cakupan program, semakin besar pula peluang negara membangun kebiasaan konsumsi yang lebih baik secara sistematis. Tantangannya kemudian bukan hanya memperluas penerima manfaat, tetapi memastikan kualitas menu, keamanan pangan, edukasi, dan pengawasan berjalan secara konsisten.  Evaluasi Kemendikdasmen juga menunjukkan adanya perkembangan positif terhadap proses belajar. Berdasarkan evaluasi terhadap lebih dari 1,2 juta responden murid, sekolah penerima MBG mengalami penurunan gangguan belajar akibat rasa lapar yang lebih besar dibandingkan sekolah yang belum menerima program. Temuan tersebut memperlihatkan hubungan penting antara pemenuhan kebutuhan gizi dan kesiapan anak mengikuti proses pembelajaran. Anak yang memperoleh asupan memadai memiliki kondisi yang lebih mendukung untuk berkonsentrasi dan mengikuti kegiatan pendidikan.  Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menilai pelaksanaan MBG di sejumlah daerah mulai menunjukkan dampak positif terhadap semangat belajar dan kondisi kesehatan siswa. Menurutnya, pelaksanaan program juga perlu terus mendapatkan masukan dari siswa, guru, dan pihak sekolah agar menu serta mekanisme distribusinya semakin sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan evaluasi berkelanjutan, MBG dapat berkembang menjadi program yang semakin responsif terhadap kondisi nyata di lapangan.  Di sisi lain, BGN memperkuat pengawasan keamanan pangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembentukan kebiasaan sehat. Makanan yang diberikan kepada siswa harus memenuhi standar keamanan sebelum dikonsumsi. Pemerintah juga mendorong keterlibatan guru dalam pengawasan sekaligus edukasi. Langkah ini penting karena kebiasaan sehat tidak akan terbentuk hanya melalui jenis makanan yang tersedia, tetapi juga melalui cara anak mencuci tangan, menjaga kebersihan, memahami keamanan makanan, serta membuang sampah setelah makan.  Penguatan kebiasaan sehat juga membutuhkan dukungan keluarga. BGN menilai keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak mengenal makanan, rasa, dan pola konsumsi. Karena itu, kebiasaan yang dibangun melalui MBG di sekolah perlu mendapatkan penguatan ketika anak berada di rumah. Jika orang tua turut memahami prinsip gizi seimbang dan menerapkannya dalam kehidupan keluarga, pembelajaran yang diterima anak di sekolah dapat menjadi kebiasaan yang lebih permanen.  Pemerintah juga terus memperluas cakupan MBG agar prinsip pemenuhan gizi tidak hanya dirasakan siswa sekolah formal. Pada 2026, program mencakup satuan pendidikan nonformal, pendidikan layanan khusus, pesantren, dan sekolah keagamaan. Kebijakan tersebut memperlihatkan upaya pemerintah membangun layanan gizi yang lebih inklusif sehingga anak-anak dari berbagai latar belakang memiliki kesempatan memperoleh asupan yang mendukung tumbuh kembang dan proses belajar.  Program MBG dapat menjadi salah satu instrumen penting negara dalam membentuk kebiasaan sehat sejak usia sekolah. Pemberian makanan bergizi yang dipadukan dengan literasi gizi, keamanan pangan, keterlibatan guru, dukungan keluarga, dan pembiasaan hidup bersih membuat program ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar menyediakan makanan. Jika konsistensi kualitas dan edukasi terus dijaga, MBG berpotensi membantu membentuk generasi yang tidak hanya tumbuh dengan asupan lebih baik, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kesehatan. Inilah investasi jangka panjang yang dapat memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus menyiapkan generasi yang lebih sehat, produktif, dan siap menghadapi masa depan.  )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta 

Read More

Membangun Ekosistem Motor Listrik Nasional, Menguatkan Ekonomi Rakyat

Oleh : Tubagus Ramadi )* Pemerintah terus mendorong pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional sebagai bagian dari strategi memperkuat industri dalam negeri, mempercepat transisi energi, sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Pada 2026, agenda tersebut memasuki tahap penting setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Motor Listrik Nasional (MoLiNas) beserta ekosistem pendukungnya di Cikarang, Jawa Barat. Kehadiran MoLiNas…

Read More

Molinas Jadi Simbol Keberanian Pemerintah Membangun Industri Masa Depan

Oleh : Antonius Utomo )* Peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Agustus 2026 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan transformasi ekonomi Indonesia menuju era industri berteknologi tinggi. Kehadiran Molinas tidak hanya dimaknai sebagai peluncuran sebuah produk kendaraan listrik, tetapi juga sebagai simbol keberanian pemerintah dalam membangun fondasi industri masa depan yang berbasis inovasi, kemandirian…

Read More

Pemulihan NTT Cepat, Manusiawi dan Berkelanjutan 

Oleh: Catur Ronggo*)  Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi ujian besar bagi kemampuan negara memastikan keselamatan sekaligus memulihkan kehidupan masyarakat. Namun, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa pemerintah bergerak dari fase tanggap darurat menuju pemulihan yang lebih terarah. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, koordinasi lintas kementerian, pemulihan listrik dan jalan, serta perhatian pada kebutuhan air bersih memperlihatkan bahwa pemulihan tidak berhenti pada distribusi bantuan, tetapi diarahkan agar kehidupan warga kembali berjalan.  Sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, pemerintah pusat langsung mengerahkan personel dan bantuan ke Flores. Pemerintah mencatat ribuan personel TNI-Polri dikerahkan, sementara logistik dari pusat dikirim ke wilayah terdampak. Sementara pada 26 Agustus, Presiden Prabowo memimpin rapat penanganan bencana di Nagekeo untuk mengevaluasi perkembangan dan mempercepat langkah rehabilitasi serta rekonstruksi. Data BNPB yang dipaparkan dalam rapat tersebut menunjukkan dampak besar terhadap masyarakat, dengan tujuh kabupaten di Pulau Flores terdampak bencana.   Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa kehadiran pemerintah pusat harus diterjemahkan menjadi pengerahan sumber daya dan pelayanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Sikap tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan penanganan bencana bukan semata seberapa cepat pejabat datang ke lokasi, melainkan seberapa efektif negara memastikan kebutuhan warga terpenuhi. Pilihan untuk memberi ruang kepada instansi terkait bekerja pada fase awal juga dapat dibaca sebagai upaya menjaga konsentrasi operasi di lapangan.   Perkembangan terbaru memperkuat gambaran tersebut. Pemerintah telah menyalurkan bantuan kemasyarakatan sebesar Rp200 miliar untuk mendukung penanganan gempa NTT. Dana tersebut dialokasikan Rp40 miliar bagi Pemerintah Provinsi NTT dan masing-masing Rp20 miliar untuk delapan kabupaten terdampak di Flores. Dukungan anggaran ini menjadi instrumen penting agar pemerintah daerah memiliki ruang untuk menangani kebutuhan masyarakat sekaligus memulai proses pemulihan.   Dari sisi energi, Anggota Dewan Energi Nasional M Kholid Syeirazi menilai percepatan pemulihan listrik merupakan langkah mendasar. Menurutnya, listrik bukan hanya kebutuhan rumah tangga, tetapi fondasi bagi aktivitas masyarakat setelah bencana. Ketika pasokan listrik kembali, fasilitas kesehatan, komunikasi, layanan publik, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial memiliki peluang lebih besar untuk beroperasi secara normal. Karena itu, pemulihan kelistrikan menjadi indikator penting bahwa negara mulai mengembalikan kehidupan masyarakat.  Kebutuhan dasar lain yang tidak kalah penting adalah air bersih. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyampaikan bahwa pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan air di Palue, termasuk memperbaiki fasilitas penampungan air hujan yang terdampak gempa. Pemerintah juga menjajaki penggunaan teknologi Reverse Osmosis untuk mengolah air laut menjadi air tawar. Pilihan teknologi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan tidak hanya mengandalkan pola bantuan konvensional, tetapi mulai memanfaatkan solusi yang sesuai dengan karakter geografis wilayah kepulauan.  Di sektor konektivitas, pemulihan jalan nasional juga terus dikejar. Kementerian PU menyatakan konektivitas jalan nasional yang terdampak gempa di Pulau Flores telah kembali pulih. Infrastruktur jalan memiliki fungsi strategis karena menentukan kelancaran distribusi bantuan, mobilitas tenaga kesehatan, akses masyarakat, serta aktivitas ekonomi. Semakin cepat konektivitas pulih, semakin besar peluang masyarakat kembali menjalankan kegiatan sehari-hari.   Dukungan fiskal dan kelembagaan juga perlu diikuti pengawasan agar setiap bantuan benar-benar menjangkau warga yang paling membutuhkan. Dalam kondisi pascabencana, kecepatan memang penting, tetapi akurasi sasaran tidak kalah menentukan. Pemulihan yang transparan akan memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan sumber daya negara digunakan untuk memperbaiki kehidupan warga, bukan sekadar menyelesaikan target administratif. Prinsip ini juga penting untuk menjaga agar proses rehabilitasi berlangsung adil dan dapat dipertanggungjawabkan.  Gubernur NTT Melki Laka Lena melihat kehadiran Presiden Prabowo memberikan dorongan moral sekaligus memperkuat dukungan pusat bagi daerah. Pandangan tersebut penting karena pemulihan bencana membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah daerah memiliki pemahaman langsung mengenai kebutuhan masyarakat, sementara pemerintah pusat memiliki kapasitas sumber daya dan koordinasi nasional untuk mempercepat penyelesaian persoalan yang lebih besar.   Pemulihan Flores karena itu perlu dipandang sebagai proses berlapis. Bantuan darurat harus tetap berjalan, tetapi pada saat yang sama listrik, air, jalan, layanan kesehatan, tempat tinggal, dan aktivitas ekonomi harus dipulihkan secara bertahap. Pemerintah juga perlu memastikan pembangunan kembali lebih tangguh agar masyarakat tidak sekadar kembali ke kondisi sebelum bencana, tetapi memiliki ketahanan lebih baik menghadapi risiko di masa depan.  Kehadiran negara dalam situasi bencana pada akhirnya diukur dari kemampuan mengubah respons cepat menjadi pemulihan yang nyata. Langkah pemerintah di NTT menunjukkan arah tersebut: bantuan digerakkan, layanan dasar dipulihkan, infrastruktur diperbaiki, teknologi dipertimbangkan, dan koordinasi pusat-daerah diperkuat. Dengan kepemimpinan Presiden Prabowo dan kerja bersama seluruh unsur pemerintahan, pemulihan NTT memiliki fondasi untuk berlangsung cepat, manusiawi, dan berkelanjutan, sekaligus membuktikan bahwa negara hadir ketika masyarakat membutuhkan perlindungan dan dukungan untuk bangkit.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Pemulihan Penyintas Gempa NTT Menyentuh Rumah, Kesehatan, Dokumen

Oleh : Radjiman Arif )* Pemerintah terus mempercepat pemulihan masyarakat terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan pendekatan yang menyentuh kebutuhan dasar warga secara menyeluruh. Penanganan tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi mulai diarahkan pada perbaikan rumah, pemulihan layanan kesehatan, hingga penggantian dokumen kependudukan yang hilang atau rusak. Langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah memastikan penyintas dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap dan memiliki kepastian dalam proses pemulihan.  Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah menyiapkan dukungan perbaikan rumah berdasarkan tingkat kerusakan yang telah melalui proses pendataan dan verifikasi. Untuk rumah rusak ringan, pemerintah menyiapkan bantuan Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang memperoleh Rp30 juta. Sementara itu, rumah yang mengalami rusak berat akan mendapatkan solusi berupa pembangunan hunian tetap.  Suharyanto juga menjelaskan selama hunian tetap belum tersedia, warga dengan rumah rusak berat dapat memperoleh dana tunggu hunian sebesar Rp600 ribu atau menempati hunian sementara. Menurutnya, pendataan menjadi bagian penting agar bantuan diberikan sesuai kondisi masing-masing rumah dan tidak ada masyarakat terdampak yang terlewat. BNPB juga mendorong pemerintah daerah membentuk satuan tugas percepatan sehingga proses penanganan dapat berjalan terpadu.   Selain persoalan tempat tinggal, pemerintah memberikan perhatian terhadap pemulihan pelayanan kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama dalam penanganan pascagempa. Ia menjelaskan bahwa pemerintah mempercepat identifikasi dan pelayanan medis melalui sistem triase, sementara pasien dengan kondisi kritis dirujuk dan pasien dengan luka ringan dapat ditangani di fasilitas pelayanan kesehatan atau tenda darurat.  Budi juga menekankan bahwa pemulihan tidak hanya menyangkut fasilitas kesehatan yang rusak, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat. Kemenkes menyiapkan rehabilitasi fasilitas kesehatan serta penanganan trauma atau trauma healing. Rumah sakit lapangan juga disiapkan untuk memastikan pelayanan medis tetap berjalan selama fasilitas permanen dalam proses pemulihan.   Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah berupaya menjaga kesinambungan pelayanan publik meskipun sebagian fasilitas kesehatan terdampak. Kemenkes sebelumnya mengaktifkan Health Emergency Operation Center, mengerahkan tim manajemen krisis dan Emergency Medical Team, serta mendistribusikan obat-obatan dan peralatan kesehatan ke wilayah terdampak. Pemerintah juga menargetkan fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan dapat kembali memberikan pelayanan dasar secara bertahap.   Di sisi lain, pemulihan pascabencana juga menyentuh kebutuhan administratif warga. Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi mengatakan tim Dukcapil telah diterjunkan ke tujuh kabupaten terdampak untuk memberikan layanan administrasi kependudukan secara langsung. Layanan tersebut mencakup penerbitan kembali KTP elektronik, Kartu Keluarga, akta kelahiran, dan dokumen kependudukan lainnya yang hilang atau rusak akibat gempa.  Teguh menilai dokumen kependudukan merupakan bagian penting dalam pemulihan karena menjadi dasar masyarakat untuk mengakses bantuan, layanan kesehatan, dan berbagai pelayanan publik. Karena itu, Dukcapil menerapkan pendekatan jemput bola dengan mendatangi posko pengungsian dan desa terdampak sehingga warga tidak perlu datang ke kantor pelayanan. Hingga 25 Agustus 2026, sebanyak 3.055 dokumen kependudukan telah diterbitkan bagi warga terdampak gempa NTT.   Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan pascagempa dilakukan melalui koordinasi lintas lembaga. BNPB menangani kebutuhan tempat tinggal dan pemulihan pascabencana, Kementerian Kesehatan memastikan layanan medis tetap berjalan, sementara Kemendagri memulihkan dokumen yang menjadi dasar hak administratif masyarakat. Pendekatan tersebut penting karena kebutuhan penyintas tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dalam proses mengembalikan kehidupan masyarakat menuju kondisi normal.  Di lapangan, pemerintah juga terus memperkuat akses dan distribusi bantuan. BNPB mencatat akses menuju sejumlah wilayah yang sebelumnya terkendala longsor mulai kembali terbuka setelah pengerahan alat berat. Dukungan logistik juga terus disalurkan, termasuk bantuan dari pemerintah daerah lain. Hal ini memperlihatkan bahwa pemulihan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi geografis Flores yang memiliki wilayah kepulauan dan akses yang tidak selalu mudah.   Pemulihan penyintas gempa NTT menunjukkan kehadiran pemerintah melalui kebijakan yang menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat. Rumah diperbaiki, layanan kesehatan dipulihkan, trauma diperhatikan, dan dokumen kependudukan diterbitkan kembali. Dengan koordinasi pusat dan daerah yang terus diperkuat, pemerintah memiliki fondasi untuk memastikan proses pemulihan berjalan tepat sasaran dan berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bukti bahwa negara tidak hanya hadir pada saat bencana terjadi, tetapi juga mendampingi masyarakat hingga mampu bangkit dan kembali membangun kehidupan.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Anggaran Karhutla, Instrumen Cepat Menyelamatkan Rakyat

Oleh : Abdul Razak )*  Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla bukan sekadar persoalan api yang melahap kawasan vegetasi. Bencana ini membawa dampak langsung terhadap keselamatan masyarakat, kesehatan, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kualitas lingkungan. Ketika asap mulai menyelimuti permukiman dan titik api meluas, kecepatan penanganan menjadi faktor yang sangat menentukan. Dalam kondisi seperti ini, ketersediaan anggaran bukan hanya persoalan administrasi fiskal, melainkan instrumen penting untuk memastikan negara dapat bergerak cepat melindungi rakyat.  Komitmen pemerintah untuk menyiapkan anggaran penanganan bencana, termasuk karhutla di Kalimantan, menjadi bagian penting dari upaya memperkuat respons di tengah ancaman musim kemarau. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah memiliki kesiapan fiskal untuk mendukung kebutuhan penanganan yang diajukan melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB. Mekanisme tersebut memungkinkan pemerintah menyesuaikan dukungan anggaran berdasarkan asesmen dan kebutuhan nyata di lapangan.  Pendekatan ini menunjukkan bahwa anggaran bencana harus bersifat responsif. Penanganan karhutla tidak selalu dapat diprediksi secara persis sejak awal tahun anggaran karena perkembangan titik api, kondisi cuaca, luas wilayah terdampak, serta kebutuhan operasi dapat berubah dengan cepat. Karena itu, asesmen BNPB menjadi tahapan penting untuk memastikan dana yang disediakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan penanganan.  Kementerian Keuangan juga membuka ruang penambahan anggaran apabila dana yang tersedia tidak mencukupi. BNPB diketahui memiliki anggaran sekitar Rp5 triliun untuk penanganan bencana, sementara pemerintah siap memberikan dukungan tambahan sesuai kebutuhan. Fleksibilitas tersebut menjadi modal penting agar operasi penanggulangan tidak terhambat hanya karena keterbatasan pembiayaan ketika situasi di lapangan membutuhkan respons segera.  Meski demikian, kesiapan anggaran harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang akuntabel. Setiap rupiah yang dialokasikan untuk bencana harus benar-benar sampai pada kebutuhan masyarakat dan mendukung kerja petugas di lapangan. Pengawasan menjadi penting untuk mencegah penyimpangan maupun praktik penggelembungan anggaran. Kecepatan dalam situasi darurat tidak boleh menghilangkan prinsip transparansi, efisiensi, dan pertanggungjawaban.  Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga memperlihatkan langkah konkret dengan menyiapkan sekitar Rp50 miliar sepanjang 2026 untuk penanganan karhutla. Anggaran yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi tersebut diarahkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari operasi pemadaman hingga pengadaan sarana dan peralatan bagi masyarakat yang berada di wilayah rawan kebakaran.  Salah satu fokus pemanfaatan anggaran adalah pengadaan kendaraan roda tiga yang akan diserahkan kepada Masyarakat Peduli Api atau MPA. Dukungan peralatan bagi masyarakat memiliki arti strategis karena warga sering kali menjadi pihak yang berada paling dekat dengan lokasi munculnya kebakaran. Dengan sarana yang memadai, upaya deteksi dini dan pemadaman awal dapat dilakukan lebih cepat sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.  Penanganan karhutla juga memperlihatkan pentingnya investasi pada ketersediaan sumber air. Di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, petugas menghadapi kendala karena sumber air alami dan embung mengalami kekeringan. Untuk menjawab persoalan tersebut, Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah membangun 10 sumur bor secara swadaya di sejumlah lokasi yang membutuhkan dukungan sumber air, termasuk kawasan Tumbang Nusa, Kameloh Baru di Palangka Raya, dan Sampit.  Keberadaan sumur bor dapat menjadi salah satu instrumen pendukung yang sangat penting ketika pemadaman berlangsung dalam kondisi sumber air terbatas. Dengan kedalaman rata-rata 25 hingga 30 meter dan biaya pembangunan sekitar Rp2,5 juta per unit, pembangunan titik-titik air menunjukkan bahwa langkah penanganan tidak selalu harus menunggu proyek berskala besar. Solusi yang relatif sederhana, jika ditempatkan di lokasi strategis, dapat memberikan manfaat nyata bagi operasi pemadaman.  Upaya berikutnya adalah menginventarisasi sumur bor yang pernah dibangun sebelumnya. Berdasarkan informasi sementara, jumlah fasilitas tersebut di Kalimantan Tengah diperkirakan mencapai 3.000 hingga 4.000 unit. Inventarisasi penting dilakukan untuk mengetahui mana saja fasilitas yang masih berfungsi, membutuhkan perbaikan, atau perlu dibangun kembali. Pemanfaatan aset yang sudah tersedia dapat membuat penggunaan anggaran menjadi lebih efisien sekaligus mempercepat kesiapan menghadapi kebakaran.  Namun, anggaran dan infrastruktur saja tidak cukup. Karhutla membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, relawan MPA, Manggala Agni, TNI, dan Polri. Para personel di lapangan menghadapi risiko besar ketika melakukan pemadaman, sehingga dukungan logistik, peralatan, transportasi, perlindungan, dan pembiayaan harus menjadi perhatian serius.  Dalam konteks inilah anggaran karhutla harus dipandang sebagai instrumen penyelamatan rakyat. Dana yang tersedia bukan semata-mata angka dalam dokumen keuangan negara, tetapi dapat diterjemahkan menjadi mobilisasi personel yang lebih cepat, peralatan yang lebih memadai, ketersediaan air, dukungan bagi relawan, hingga perlindungan masyarakat dari paparan asap.  Ke depan, keberhasilan penanganan karhutla akan sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pihak mengubah anggaran menjadi tindakan nyata. Respons cepat, asesmen yang akurat, penggunaan dana yang transparan, serta koordinasi lintas sektor harus berjalan secara bersamaan. Ketika negara dan daerah memiliki kesiapan fiskal yang kuat serta didukung masyarakat dan aparat di lapangan, ancaman karhutla dapat ditangani dengan lebih sigap.  Pada akhirnya, anggaran yang disiapkan untuk karhutla bukan sekadar biaya penanggulangan bencana. Anggaran tersebut merupakan investasi untuk melindungi kesehatan, keselamatan, lingkungan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Semakin cepat anggaran diterjemahkan menjadi langkah konkret yang tepat sasaran, semakin besar pula peluang untuk menyelamatkan rakyat dari dampak kebakaran hutan dan lahan.  )* Analis Kebijakan  

Read More
Back To Top