Dua Tahun Prabowo-Gibran, Resiliensi Makroekonomi di Tengah Fragmentasi Geopolitik

Oleh: Pamella Dewi Lorena )* Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum mengevaluasi ketahanan ekonomi Indonesia. Di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan internasional, dan risiko gangguan iklim, perekonomian nasional tetap mencatat pertumbuhan di atas lima persen. Namun, resiliensi makroekonomi perlu ditelaah melalui produktivitas, daya beli, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.  Dalam perspektif ekonomi pembangunan, stabilitas tidak semata ditentukan pertumbuhan produk domestik bruto. Stabilitas harga, kesinambungan investasi, ketahanan produksi, serta efektivitas kebijakan sosial merupakan indikator yang saling berkaitan. Pertumbuhan berkelanjutan membutuhkan fondasi struktural agar perekonomian tidak rentan terhadap tekanan eksternal.  Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mochammad Firman Hidayat, menilai perkembangan ekonomi Indonesia harus ditempatkan dalam konteks tantangan global yang kompleks. Perubahan kebijakan ekonomi Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, konflik geopolitik, peperangan, serta fenomena El Niño menjadi faktor eksternal yang turut memengaruhi aktivitas perekonomian.  Menurut Firman, berbagai tekanan tersebut tidak menghalangi Indonesia mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas lima persen dengan inflasi relatif terkendali. Kebijakan hilirisasi juga menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi melalui peningkatan aktivitas produksi dan penciptaan nilai tambah domestik.  Ketahanan tersebut menunjukkan pentingnya membedakan stabilitas jangka pendek dengan transformasi ekonomi jangka panjang. Stabilitas makroekonomi menyediakan ruang investasi, sedangkan hilirisasi berpotensi memperkuat struktur industri nasional. Meski demikian, kontribusinya terhadap produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan pendapatan masyarakat perlu terus dievaluasi.  Firman juga mengingatkan bahwa target pembangunan Presiden Prabowo membutuhkan reformasi ekonomi berkesinambungan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, efisiensi logistik, kepastian regulasi, dan daya saing industri menjadi faktor penting agar pertumbuhan mampu menciptakan kesempatan ekonomi lebih luas.  Dalam konteks penguatan ekonomi domestik, Kepala Center of Food, Energy and Sustainability Development INDEF, Abra Talattov, menilai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berpotensi menjadi instrumen strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan sekaligus memperpendek rantai distribusi.  Pihaknya optimis KDMP menjadi lembaga yang bisa menyeimbangkan antara daerah yang surplus dengan daerah yang kekurangan bahan pangan. Menurut Abra, koperasi desa perlu dikembangkan sebagai agregator yang mampu menyerap surplus produksi petani dan peternak, kemudian mendistribusikannya ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Misalnya di Jawa Barat surplus produksi bawang, sementara di Kalimantan defisit bawang. Dengan adanya KDMP ini bisa menyeimbangkan kondisi tersebut sehingga tidak ada dorongan harga pada komoditas tertentu. Mekanisme tersebut berpotensi mengurangi disparitas harga antardaerah sekaligus memberikan kepastian pasar bagi produsen.  Hal ini relevan dengan konsep efisiensi rantai pasok dalam ekonomi pembangunan. Peningkatan produksi pangan perlu diimbangi kemampuan distribusi agar surplus tidak menekan harga produsen secara berlebihan. Optimalisasi KDMP dengan demikian dapat memperkuat keterhubungan antara swasembada pangan, stabilitas harga, dan kesejahteraan ekonomi perdesaan.  Sementara itu, Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menyampaikan hasil survei mengenai penilaian masyarakat terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Survei pada 26 September hingga 6 Oktober 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi mencatat tingkat kepuasan sebesar 65,4 persen.  Adi menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan gabungan responden yang menyatakan sangat puas dan puas. Sebanyak 32,5 persen menyatakan tidak puas, sedangkan 2,1 persen tidak mengetahui atau tidak memberikan jawaban.  Hasil tersebut menggambarkan persepsi responden terhadap kinerja pemerintahan. Namun, kepuasan publik bukan ukuran tunggal keberhasilan ekonomi karena turut dipengaruhi pengalaman rumah tangga, kualitas pelayanan, serta manfaat program yang diterima.  Sejumlah program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, bantuan sosial, dan layanan kesehatan, memiliki dimensi ekonomi karena berkaitan dengan pengeluaran rumah tangga, akses pelayanan dasar, serta pembangunan kualitas sumber daya manusia.  Dari perspektif ekonomi kesejahteraan, program sosial dapat meningkatkan kualitas hidup apabila dilaksanakan secara tepat sasaran dan berkelanjutan. MBG, misalnya, berpotensi memperbaiki pemenuhan gizi sekaligus menciptakan permintaan bagi sektor pangan domestik. Namun, manfaatnya membutuhkan pengawasan kualitas, keamanan pangan, dan evaluasi pelaksanaan.  Memasuki tahun ketiga pemerintahan, tantangan berikutnya adalah memperkuat hubungan antara stabilitas makroekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan perlu diikuti peningkatan pendapatan riil, penciptaan pekerjaan produktif, serta perluasan kesempatan usaha. Kebijakan fiskal juga harus mempertimbangkan efektivitas belanja dan keberlanjutan pembiayaan program prioritas.  Penguatan hilirisasi, optimalisasi koperasi desa, serta reformasi struktural merupakan agenda yang saling melengkapi. Industrialisasi memperbesar nilai tambah, koperasi memperkuat distribusi dan ekonomi lokal, sedangkan reformasi meningkatkan efisiensi serta daya saing nasional. Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi pijakan menuju pertumbuhan ekonomi yang semakin produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga, penguatan industri, serta pemerataan manfaat pembangunan, Indonesia memiliki peluang memperkokoh fondasi sebagai kekuatan ekonomi yang tangguh dan berdaya saing global.  *) Pemerhati Ekonomi 

Read More

Penguatan Armada Distribusi BBM Menjadi Langkah Penting Menjaga Pasokan

Oleh : Rangga Sofyanto )* Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) tidak hanya menunjang mobilitas masyarakat, tetapi juga menentukan kelancaran kegiatan industri, perdagangan, pertanian, transportasi, hingga sektor pariwisata. Oleh karena itu, penguatan armada distribusi BBM menjadi langkah strategis untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga dan menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini sekaligus menunjukkan pentingnya…

Read More

BBM Tersedia, Pemerintah Memastikan Distribusi Menjangkau Semua Daerah

Oleh: Sjaichul Anwari)* Bahan bakar minyak (BBM) merupakan kebutuhan strategis yang menopang mobilitas masyarakat, kelancaran logistik, dan keberlangsungan kegiatan ekonomi. Ketersediaannya berpengaruh langsung terhadap kehidupan sehari-hari, mulai dari perjalanan pekerja hingga distribusi bahan pangan ke pasar dan pusat perdagangan. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, menjaga pasokan energi membutuhkan perencanaan…

Read More

Pemerintah Terus Mendengar Kebutuhan Warga dalam Penanganan Karhutla

Oleh: Bagas Nurahman)* Pemerintah terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengutamakan kebutuhan masyarakat, keselamatan warga, serta keberlanjutan lingkungan. Upaya tersebut diwujudkan melalui percepatan pemadaman, penguatan koordinasi lintas sektor, perlindungan kelompok rentan, dan peningkatan pencegahan kebakaran. Pendekatan ini menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pengendalian api, tetapi juga memastikan masyarakat tetap…

Read More

Penanganan Karhutla yang Intensif, Berpijak pada Keselamatan Masyarakat

Oleh: Dhita Karuniawati )* Pemerintah terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui langkah intensif, terpadu, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat. Upaya tersebut diwujudkan melalui pengerahan personel gabungan, optimalisasi teknologi pemadaman, penguatan koordinasi antarlembaga, serta perlindungan kesehatan warga terdampak. Penanganan karhutla tidak hanya diarahkan untuk menghentikan penyebaran api, tetapi juga memastikan masyarakat terlindungi dari…

Read More

MBG Menjangkau Jutaan Warga, Kualitas Pelayanan Tetap Diutamakan

Oleh : Irfan Aditya )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Jangkauan program yang telah mencapai puluhan juta penerima manfaat menunjukkan besarnya upaya negara dalam menghadirkan layanan pemenuhan gizi secara lebih merata. Seiring dengan perluasan tersebut, pemerintah terus…

Read More

Survei Mencatat Persepsi Positif Atas MBG, Manfaat Program Dirasakan Masyarakat

Oleh : Abdul Razak)* Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah dilalui dengan pelaksanaan berbagai program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejumlah survei nasional mencatat tingkat pengenalan, persepsi kebermanfaatan, dan dukungan masyarakat terhadap keberlanjutan program tersebut. Temuan ini sekaligus menegaskan pentingnya menjaga kualitas pelaksanaan, memperkuat keamanan pangan, serta…

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Memperkuat Fondasi Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat

Oleh: Rania Maemona Ghina )* Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi momentum untuk menelaah arah transformasi ekonomi Indonesia dalam lanskap global yang semakin kompleks. Ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, dan tekanan daya beli menuntut kebijakan yang tidak semata berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga ketahanan struktural. Dalam konteks tersebut, stabilitas makroekonomi, peningkatan investasi, dan penguatan perlindungan sosial…

Read More

Ketegasan Politik dan Terobosan Ekonomi Mengantar Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo Gibran Menuju Kedaulatan Bangsa

Oleh: Farhan Sitepu )* Perjalanan dua tahun kepemimpinan nasional yang diusung dalam agenda pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menunjukkan arah konsolidasi transformatif yang kian matang. Fase dua tahun ini menjadi momentum yang sangat penting untuk mengukur sejauh mana artikulasi visi besar pembangunan mampu diterjemahkan secara konsisten ke dalam kebijakan konkret yang dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat luas. Melalui sudut pandang integratif antara tata kelola ekonomi dan dinamika politik, potret perjalanan ini memancarkan rasa optimisme terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan nasional sekaligus memperkuat pijakan pertumbuhan ekonomi di tengah gelombang ketidakpastian global yang terus bergejolak.  Dari sudut pandang stabilitas dan ketahanan ekonomi makro, keberhasilan pemerintah menjaga denyut pertumbuhan nasional mendapat apresiasi signifikan. Guru Besar Ekonomi Universitas YARSI sekaligus Direktur Riset GREAT Institute, Prof. Perdana Wahyu Santosa, menyoroti bahwa fondasi makroekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh stabil di level 5,29 persen secara tahunan pada Triwulan II 2026. Menurut analisisnya, tingkat inflasi yang terkendali pada angka 3,28 persen per September 2026 menjadi jangkar utama dalam menjaga daya beli masyarakat, yang tecermin dari tumbuhnya konsumsi rumah tangga sebesar 5,06 persen. Kondisi ini memperjelas bahwa kebijakan ekonomi pemerintah berhasil menopang konsumsi domestik sebagai motor utama penggerak ekonomi di tengah tekanan perekonomian global.  Kemandirian ekonomi eksternal juga menunjukkan daya tahan yang mengesankan melalui pengelolaan devisa dan neraca perdagangan yang disiplin. Sebagaimana disampaikan oleh Perdana Wahyu Santosa, cadangan devisa Indonesia berada pada posisi yang sangat kuat mencapai 146,3 miliar dolar AS per September 2026. Ketahanan eksternal ini diperkokoh oleh capaian neraca perdagangan barang yang mencatatkan surplus sebesar 7,25 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Capaian ini memvalidasi bahwa efektivitas penguatan tata kelola komoditas strategis serta pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) telah berhasil memagari ekonomi nasional dari rambatan gejolak eksternal dan risiko under-invoicing yang selama ini berpotensi menggerus penerimaan negara.  Langkah percepatan pembangunan ekonomi semakin terakselerasi berkat dorongan investasi dan agenda hilirisasi yang konsisten. Akademisi ekonomi tersebut memaparkan bahwa realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 mencatatkan kinerja yang sangat positif, menembus angka Rp1.539,2 triliun atau setara dengan 75,4 persen dari target tahunan. Keberhasilan dalam menarik modal produktif ini dinilai sangat krusial dalam memperkuat fondasi industrialisasi nasional serta penciptaan lapangan kerja. Dampak positifnya terlihat dari indikator inklusivitas sosial, di mana Tingkat Pengangguran Terbuka berhasil ditekan hingga 4,65 persen pada Mei 2026 dan angka kemiskinan menurun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026.  Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap dinamika fiskal dan pasar keuangan tetap menjadi catatan yang memerlukan mitigasi cepat dari pemerintah. Prof. Perdana menekankan pentingnya mengantisipasi tekanan defisit APBN yang berada di kisaran minus Rp319 triliun serta pergerakan nilai tukar Rupiah yang berada di level Rp17.982 per dolar AS per 20 Oktober 2026. Di samping itu, kewaspadaan pasar modal perlu diperkuat mengingat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada posisi 4.996,61 per 19 Oktober 2026 di tengah aksi jual bersih investor asing yang terakumulasi mencapai Rp88,19 triliun sepanjang 2026. Bagi penentu kebijakan, dinamika pasar keuangan ini menjadi pengingat penting agar sinergi kebijakan fiskal dan moneter terus diperketat guna menjaga kestabilan modal domestik.  Sementara itu, dari sudut pandang peta politik nasional, dinamika dua tahun perjalanan kepemimpinan ini mencatatkan pergerakan yang tak kalah menarik dalam mengawal jalannya roda pemerintahan. Penilaian terhadap kinerja dan stabilitas kepemimpinan disuarakan oleh Pengamat Politik Ujang Komarudin. Ia menilai bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan saat ini berada pada kondisi yang cukup stabil. Terdapat sinyal positif bahwa optimisme publik mulai terbangun seiring dengan keberanian pemerintah menuntaskan berbagai agenda prioritas dan melakukan perbaikan tata kelola secara berkelanjutan.  Sikap responsif kepemimpinan nasional dalam merespons masukan dan kritik dari masyarakat menjadi salah satu pilar utama pembentuk kepercayaan publik. Ujang menyoroti bagaimana pemerintah secara terbuka mengambil tindakan cepat untuk membenahi tata kelola pelaksanaan program-program unggulan, termasuk penanganan tegas terhadap persoalan dalam program Makan Bergizi Gratis maupun perbaikan manajemen pada sektor koperasi desa. Langkah korektif yang berani dan transparan ini membuktikan bahwa pemerintah tidak hanya berhenti pada tataran konsep idealis atau perencanaan di tingkat elit semata, tetapi juga bertindak sigap untuk memastikan setiap eksekusi kebijakan di lapangan berjalan bersih, efisien, serta tepat sasaran.  Refleksi dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran memperlihatkan fondasi pembangunan nasional yang semakin kokoh, terarah, dan berorientasi jangka panjang. Perpaduan antara ketahanan makroekonomi yang solid, capaian investasi yang impresif, serta sikap responsif dalam mengevaluasi kebijakan publik di bidang politik menjadi bukti nyata hadirnya negara secara optimal. Dengan terus menjaga keseimbangan antara kepastian regulasi, efisiensi pasar, transparansi informasi, serta mitigasi risiko pasar keuangan secara terukur, langkah percepatan pembangunan ini optimis akan terus membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi yang solid dan stabilitas politik yang kian matang.  *) Pengamat Kebijakan Publik 

Read More

Kemudahan Tebus Pupuk Membuat Koperasi Merah Putih Makin Relevan

Oleh: Alexander Royce )* Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan hasil panen, tetapi juga oleh seberapa mudah petani memperoleh sarana produksi dengan harga terjangkau. Karena itu, penyaluran pupuk bersubsidi melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) layak dilihat sebagai langkah penting untuk mendekatkan layanan ekonomi kepada masyarakat desa. Koperasi tidak sekadar menjadi tempat…

Read More
Back To Top