Perlinsos 2027 Membuktikan Perlindungan Sosial Berbasis Data Bersih

Oleh: Rivka Mayangsari )*  Pemerintah terus memperkuat perlindungan sosial sebagai instrumen penting untuk memastikan masyarakat rentan memperoleh dukungan secara tepat dan berkelanjutan. Menyongsong implementasi perlindungan sosial (perlinsos) pada 2027, pemerintah mendorong transformasi tata kelola bantuan sosial melalui pemutakhiran data dan digitalisasi layanan. Langkah tersebut menunjukkan arah baru kebijakan perlindungan sosial yang tidak hanya berorientasi pada penyaluran bantuan, tetapi juga memastikan setiap program memiliki dasar data yang semakin akurat, terverifikasi, dan mampu menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan.  Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, mendorong perluasan program perlinsos untuk memastikan bantuan pemerintah tepat sasaran sekaligus menjangkau kelompok rentan yang berisiko tertinggal. Perluasan tersebut diikuti percepatan registrasi dan verifikasi data calon penerima bantuan sosial secara digital sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan program 2027.  Pendekatan berbasis data menjadi penting karena perlindungan sosial tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya penerima bantuan. Pemerintah perlu memastikan bahwa penerima merupakan masyarakat yang memenuhi kriteria, sementara warga yang kondisinya berubah juga dapat diperbarui statusnya. Melalui proses tersebut, anggaran perlindungan sosial dapat diarahkan secara lebih efektif kepada kelompok yang membutuhkan.  Muhaimin juga menekankan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat berkebutuhan khusus dan warga yang tinggal di kawasan terluar. Lansia, penyandang disabilitas, serta masyarakat di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar atau 3T harus tetap masuk dalam cakupan perlindungan. Hal ini memperlihatkan bahwa transformasi perlinsos tidak hanya mengejar efisiensi administratif, tetapi juga memperluas akses agar tidak ada kelompok rentan yang tertinggal karena keterbatasan lokasi maupun kondisi sosial.  Pemerintah juga menempatkan perlinsos sebagai proses pemberdayaan yang berkelanjutan. Muhaimin mengingatkan bahwa perlinsos tidak sebatas menambah jumlah penerima bansos, tetapi dirancang sebagai sebuah siklus untuk memulihkan kondisi masyarakat hingga mampu mencapai kemandirian. Penerima manfaat yang telah dinilai berdaya secara ekonomi akan menjalani evaluasi kelayakan atau graduasi sehingga alokasi bantuan dapat dialihkan kepada masyarakat lain yang kondisinya lebih membutuhkan.  Dengan demikian, graduasi bukan berarti mengurangi komitmen perlindungan sosial, melainkan bagian dari mekanisme agar bantuan pemerintah tetap dinamis mengikuti kondisi masyarakat. Pendekatan tersebut mendorong perlindungan sosial agar tidak menciptakan ketergantungan, tetapi menjadi jembatan menuju peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi.  Untuk mendukung proses tersebut, pemerintah menyiapkan platform Perlinsos Digital sebagai sarana registrasi mandiri masyarakat untuk penerimaan bansos 2027, khususnya Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Digitalisasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam memperbarui informasi dirinya sekaligus membantu pemerintah memperoleh data yang lebih relevan.  Penerapan sistem digital ini juga telah menunjukkan perkembangan dalam tahap uji coba. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat verifikasi penerima bantuan sosial berbasis data meningkat sekitar 20 kali lipat dalam satu bulan, dari sekitar 3.000 keluarga pada awal Juli menjadi 61.000 keluarga per 7 Agustus 2026. Sekitar 90 persen pendaftar awal melakukan registrasi secara mandiri.  Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi dapat mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan layanan perlindungan sosial. Proses yang sebelumnya membutuhkan antrean, perjalanan, dan tahapan administratif panjang dapat dilakukan melalui layanan digital. Pemerintah juga terus melakukan penyempurnaan berdasarkan hasil uji coba agar sistem mampu memberikan layanan yang semakin mudah dan responsif.  Pelaksana Tugas Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Komunikasi dan Digital, Farida Dewi Maharani, menyampaikan bahwa digitalisasi layanan perlindungan sosial mendapat respons positif dari masyarakat. Sistem digital dinilai dapat memangkas birokrasi sehingga warga tidak harus mengantre melalui proses panjang atau mengeluarkan biaya transportasi untuk mengakses layanan. Pemerintah melalui Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah juga melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan sistem berjalan dengan baik dan stabil.  Penguatan infrastruktur digital menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP) memungkinkan pertukaran data antarinstansi untuk mendukung proses verifikasi secara lebih efisien, tanpa memindahkan data dari instansi pemiliknya. Hingga 28 September 2026, SPLP telah memproses lebih dari 19,8 juta transaksi dalam piloting Perlinsos Digital dan menjangkau sekitar 5,4 juta kepala keluarga.  Pemerintah juga memperhatikan kebutuhan masyarakat yang belum terbiasa menggunakan layanan digital. Karena itu, skema layanan tidak hanya mengandalkan registrasi mandiri, tetapi juga dapat melibatkan pendampingan bagi kelompok yang membutuhkan bantuan. Keterlibatan TNI, Polri, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pendamping desa, dan petugas PKH menjadi penting untuk memastikan proses registrasi serta verifikasi dapat menjangkau masyarakat di lapangan.  Transformasi ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang membangun perlindungan sosial yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Digitalisasi tidak ditempatkan sekadar sebagai perpindahan pencatatan dari kertas ke perangkat elektronik, tetapi diarahkan menjadi fondasi tata kelola perlindungan sosial nasional yang lebih efisien, terintegrasi, transparan, dan tepat sasaran.  Dengan persiapan menuju 2027, Perlinsos Digital menjadi bagian dari upaya pemerintah memperbaiki kualitas layanan sekaligus memperkuat ketepatan penggunaan anggaran negara. Data yang semakin bersih, proses verifikasi yang terintegrasi, serta keterlibatan masyarakat dalam pembaruan informasi akan menjadi fondasi penting agar bantuan benar-benar diterima oleh warga yang membutuhkan.   *) Pemerhati teknologi digital  

Read More

Perlindungan Sosial 2027 Melalui DTSEN Menghapus Celah Data Ganda dan Bantuan Salah Sasaran

Oleh : Garvin Reviano )*  Perlindungan sosial merupakan salah satu instrumen penting negara untuk memastikan masyarakat yang membutuhkan mendapatkan dukungan secara adil, tepat waktu, dan tepat sasaran. Memasuki 2027, pemerintah menunjukkan arah baru dalam pengelolaan perlindungan sosial melalui penguatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan digitalisasi sistem perlindungan sosial. Transformasi tersebut tidak sekadar menghadirkan layanan berbasis teknologi, tetapi menjadi langkah strategis untuk menutup celah data ganda, mengurangi kesalahan sasaran, sekaligus memastikan anggaran negara benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat yang berhak.  Persoalan data selama ini menjadi salah satu tantangan dalam penyelenggaraan bantuan sosial. Perubahan kondisi ekonomi keluarga, perpindahan domisili, perubahan pekerjaan, hingga perbedaan pencatatan antarlembaga dapat menyebabkan data penerima tidak lagi sepenuhnya menggambarkan kondisi faktual. Pemerintah kini berupaya menjawab persoalan tersebut melalui sistem yang lebih terintegrasi. DTSEN menjadi fondasi penting karena memungkinkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dipetakan secara lebih komprehensif dan diperbarui secara berkala. Dengan demikian, penerima bantuan tidak hanya ditentukan berdasarkan data lama, tetapi berdasarkan kondisi sosial ekonomi yang semakin aktual.  Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa pembenahan data diarahkan untuk menghilangkan kesalahan dalam penentuan penerima manfaat, baik ketika masyarakat yang berhak justru tidak memperoleh bantuan maupun ketika masyarakat yang sudah tidak memenuhi kriteria masih tercatat sebagai penerima. Menurutnya, pemerintah juga membuka ruang partisipasi masyarakat melalui Gerakan Nasional Peduli Tetangga agar proses pemutakhiran data dapat dilakukan secara lebih luas. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa reformasi Perlinsos bukan hanya pekerjaan pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat untuk memastikan informasi mengenai kondisi warga benar-benar sesuai kenyataan.  Langkah tersebut menjadi semakin strategis karena pemerintah menyiapkan Perlinsos Digital menuju implementasi yang lebih luas pada 2027. Melalui digitalisasi, proses pendaftaran, verifikasi, pemadanan data, penilaian kelayakan, hingga penyampaian keberatan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Masyarakat yang merasa layak tetapi belum terdata juga memperoleh ruang untuk mengajukan diri, sementara data penerima yang kondisinya telah berubah dapat diperbarui. Mekanisme semacam ini membuat perlindungan sosial menjadi lebih dinamis dan responsif terhadap perubahan kehidupan masyarakat.  Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menjelaskan bahwa infrastruktur digital pemerintah memainkan peran penting dalam mendukung perubahan tersebut. Sistem Penghubung Layanan Pemerintah (SPLP) menjadi tulang punggung interoperabilitas yang memungkinkan pertukaran data antarinstansi dilakukan secara aman dan terintegrasi. Hingga 28 September 2026, SPLP telah memproses lebih dari 19,8 juta transaksi dalam piloting Perlinsos Digital dan menjangkau sekitar 5,4 juta kepala keluarga. Capaian ini menjadi modal penting bagi pemerintah dalam mempersiapkan implementasi Perlinsos yang lebih luas pada 2027.  Integrasi tersebut memiliki arti penting dalam mengurangi potensi data ganda. Ketika informasi kependudukan, kondisi ekonomi, pekerjaan, aset, pendidikan, hingga informasi relevan lainnya dapat diverifikasi melalui sistem yang saling terhubung, peluang terjadinya perbedaan atau pengulangan data dapat ditekan. Proses penetapan penerima juga menjadi lebih objektif karena tidak hanya bergantung pada satu sumber informasi. Pada akhirnya, teknologi menjadi instrumen untuk menghadirkan keadilan sosial yang lebih konkret.  Perlinsos 2027 juga menunjukkan perubahan paradigma dari sekadar menyalurkan bantuan menjadi membangun sistem perlindungan sosial yang adaptif. Bantuan diberikan kepada masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kelayakan, sementara keluarga yang telah mengalami peningkatan kesejahteraan dapat diarahkan menuju kemandirian. Pemerintah bahkan telah menerapkan pemutakhiran data secara berkala sehingga perubahan kondisi penerima dapat segera direspons. Pendekatan tersebut penting agar bantuan tidak menciptakan ketergantungan, tetapi menjadi jembatan menuju peningkatan kesejahteraan.  Keberhasilan transformasi ini pada akhirnya bergantung pada kualitas data dan partisipasi publik. Masyarakat memiliki peran penting untuk memastikan data keluarga tetap benar, melaporkan perubahan kondisi, serta memanfaatkan kanal resmi apabila terdapat kesalahan. Pemerintah di tingkat pusat dan daerah juga perlu memastikan proses verifikasi berlangsung transparan, cepat, dan akuntabel.  Selain memperbaiki akurasi penerima, reformasi Perlinsos 2027 juga berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan anggaran negara. Ketika data penerima semakin terintegrasi dan diperbarui secara berkala, pemerintah dapat meminimalkan risiko pemborosan akibat bantuan yang tumpang tindih atau diterima oleh pihak yang sudah tidak memenuhi kriteria. Efisiensi tersebut memungkinkan sumber daya fiskal dialihkan untuk memperluas cakupan program bagi kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan, termasuk keluarga miskin, rentan, lansia, penyandang disabilitas, serta masyarakat di wilayah tertinggal. Dengan demikian, pembenahan data bukan hanya menghasilkan administrasi yang lebih tertib, tetapi juga memperkuat kualitas belanja sosial negara agar semakin berkeadilan, efektif, dan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.  Dengan fondasi DTSEN, dukungan Perlinsos Digital, serta interoperabilitas antarkementerian dan lembaga, pemerintah sedang membangun sistem perlindungan sosial yang lebih modern dan presisi. Tahun 2027 dapat menjadi momentum penting untuk memastikan tidak ada lagi ruang besar bagi data ganda maupun bantuan yang tidak tepat sasaran. Reformasi ini pada akhirnya bukan sekadar persoalan digitalisasi administrasi, melainkan bentuk nyata kehadiran negara dalam memastikan setiap rupiah anggaran perlindungan sosial memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.  )* Pemerhati Isu Sosial 

Read More

Negara Kian Solid dan Responsif Atas HAM dalam Dua Tahun Prabowo-Gibran 

Oleh : Abdul Razak )*  Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi periode penting dalam penguatan koordinasi negara di bidang hukum, hak asasi manusia (HAM), dan pemasyarakatan. Perkembangan tersebut terlihat melalui konsolidasi antarlembaga, pembenahan sistem pemasyarakatan, penguatan mekanisme pemulihan korban tindak pidana korupsi, serta peningkatan pemahaman HAM di tengah masyarakat dan lingkungan pendidikan.  Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra menilai koordinasi tiga kementerian teknis dalam lingkupnya, yakni Kementerian Hukum, Kementerian HAM, serta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, telah berjalan sesuai jalur dan menunjukkan kemajuan. Meski demikian, Yusril mengakui masih terdapat persoalan operasional akibat kepentingan sektoral yang sesekali muncul dalam pelaksanaan kebijakan di lapangan.  Menurut Yusril, fungsi kementerian koordinator bukan mengambil alih urusan teknis setiap kementerian, melainkan memastikan kerja sama antarlembaga berjalan dan pelayanan publik tetap sesuai dengan kewenangan masing-masing. Untuk memperkuat keselarasan tersebut, pemerintah menyiapkan rapat koordinasi tingkat tinggi bersama para menteri teknis guna membahas hambatan sekaligus menyelaraskan kebijakan.  Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah kondisi lembaga pemasyarakatan yang mengalami tekanan akibat tingginya jumlah penghuni. Yusril menjelaskan bahwa hampir 60 persen penghuni lapas berkaitan dengan perkara narkotika. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian overkapasitas membutuhkan pendekatan lintas sektor karena berkaitan dengan proses penegakan hukum, peradilan, HAM, pendidikan, hingga persoalan sosial dan kesejahteraan masyarakat.  Karena itu, reformasi pemasyarakatan tidak cukup dilakukan dengan menambah kapasitas bangunan. Yusril menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Jika akar sosial ekonomi yang berkontribusi terhadap kriminalitas tidak ditangani, penambahan fasilitas pemasyarakatan berpotensi hanya menjadi solusi sementara.  Perspektif pemulihan hak juga mengemuka dalam agenda Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Anggota Komnas HAM untuk Pengkajian dan Penelitian, Uli Parulian Sihombing mendorong agar pemanfaatan aset hasil tindak pidana korupsi tidak berhenti pada kepentingan pengelolaan aset negara, tetapi juga diarahkan untuk memulihkan hak korban secara tepat sasaran dan akuntabel.  Rekomendasi tersebut merupakan tindak lanjut Kajian Korupsi dan Pemulihan Pelanggaran HAM yang dibahas bersama Kejaksaan Agung dan Kementerian Keuangan. Uli menilai rekomendasi Komnas HAM perlu menghasilkan dampak nyata atau outcomes bagi korban, bukan sekadar menjadi keluaran administratif dari proses kelembagaan.  Dalam dialog tersebut, Komnas HAM merekomendasikan Kejaksaan Agung memenuhi dan memulihkan hak korban sejak tahap penyidikan dan penuntutan, perampasan aset, hingga pengelolaan aset hasil tindak pidana korupsi. Kejaksaan Agung juga didorong menyusun regulasi teknis yang memberikan pedoman pemulihan aset dengan perspektif hak korban, termasuk membuka akses yang lebih mudah bagi korban dan kelompok rentan untuk menyampaikan tuntutan sebagai pihak yang mengalami kerugian.  Penguatan perspektif HAM juga berlangsung di tingkat daerah melalui pendidikan publik. Kapolresta Gowa ,Kombes Pol. Muh. Yusuf Usman, menjelaskan bahwa HAM memiliki hubungan erat dengan proses hukum. Menurutnya, pemahaman HAM tidak seharusnya hanya dikaitkan dengan perang atau konflik, tetapi juga mencakup hak-hak mendasar seperti hak untuk hidup dan hak memperoleh makanan. Penegakan HAM, dalam perspektif kepolisian, perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta tetap berpedoman pada regulasi. Kehadiran polisi melalui patroli dan sambang ke dusun, desa, dan kelurahan juga dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga hak masyarakat.  Anggota DPRD Fraksi PKS, Yenni Rahman menekankan pentingnya perspektif HAM dalam pembentukan produk hukum daerah. Menurut Yenni, setiap peraturan daerah perlu melalui proses harmonisasi agar substansinya tetap memperhatikan pemenuhan hak. Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan atas hak seseorang harus berjalan bersama penghormatan terhadap hak orang lain.  Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kemenham Sulsel Ayusriadi menempatkan HAM sebagai prinsip yang melekat dalam kehidupan manusia. Ia menjelaskan bahwa keberadaan manusia selalu berkaitan dengan HAM, dengan prinsip yang bersifat universal, tidak dapat dipisahkan, dan saling bergantung. Kemenham Sulsel kemudian memperkuat implementasinya melalui berbagai program, antara lain penanganan pengaduan persoalan HAM, penilaian kepatuhan HAM, Kampung Ramah HAM, Desa Sadar HAM, fasilitasi produk hukum berperspektif HAM, serta penguatan kapasitas HAM.  Rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan HAM dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran berlangsung melalui beberapa lapisan, mulai dari konsolidasi kementerian, reformasi pemasyarakatan, pemulihan korban, pengelolaan aset, hingga pendidikan kesadaran HAM. Tantangan berikutnya adalah memastikan koordinasi tersebut menghasilkan implementasi yang konsisten dan dapat dirasakan masyarakat.  Dengan demikian, ukuran keberhasilan kebijakan HAM tidak hanya ditentukan oleh jumlah regulasi maupun forum koordinasi yang dibentuk, tetapi juga kemampuan negara mencegah pelanggaran, menyediakan akses keadilan, melindungi kelompok rentan, serta memulihkan hak masyarakat yang terdampak. Konsolidasi antarlembaga menjadi fondasi penting, sementara efektivitas pelaksanaannya akan menjadi penentu apakah agenda HAM benar-benar berkembang dari kebijakan administratif menjadi perlindungan dan pemulihan hak yang substantif.  )* Analis Kebijakan  

Read More

Penguatan HAM dalam Dua Tahun Prabowo-Gibran Hadir sebagai Perlindungan Nyata

Oleh : Gavin Asadit )* Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penguatan agenda hak asasi manusia (HAM) sebagai bagian dari pembangunan nasional. Pemerintah menempatkan pemenuhan hak dasar masyarakat, perlindungan kelompok rentan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan regulasi HAM sebagai bagian dari upaya menghadirkan negara yang semakin hadir dalam kehidupan masyarakat.  Pendekatan pemerintah terhadap HAM juga diarahkan agar tidak berhenti pada aspek penegakan hukum. Pemenuhan hak atas pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan yang layak, perlindungan sosial, dan kehidupan yang bermartabat ditempatkan sebagai bagian dari implementasi HAM dalam pembangunan.  Presiden, Prabowo Subianto menegaskan bahwa pelaksanaan HAM harus diwujudkan dalam bentuk nyata melalui peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup rakyat. Dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Presiden mengarahkan jajaran pemerintah untuk memperkuat pemberantasan kemiskinan dan memastikan kekayaan alam dikelola sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.   Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa agenda HAM pemerintah memiliki cakupan yang luas. Perlindungan warga negara tidak hanya dimaknai sebagai perlindungan dari tindakan sewenang-wenang, tetapi juga kemampuan negara memastikan masyarakat memperoleh kebutuhan dasar dan kesempatan untuk hidup secara layak. Program prioritas pemerintah menjadi salah satu instrumen untuk menerjemahkan pendekatan tersebut. Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), Sekolah Rakyat, serta berbagai program pemenuhan kebutuhan dasar diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan yang mendukung kualitas hidup.  Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai menilai program-program prioritas Presiden Prabowo memiliki hubungan langsung dengan agenda keadilan sosial karena menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Menurut Pigai, pemenuhan kebutuhan dasar melalui program pemerintah merupakan salah satu bentuk nyata negara menjalankan kewajibannya dalam menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM.   Penguatan kelembagaan juga menjadi bagian penting dari perjalanan HAM dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Kehadiran Kementerian Hak Asasi Manusia memberikan ruang yang lebih khusus bagi pemerintah untuk mengoordinasikan kebijakan HAM lintas sektor.  Kementerian HAM pada 2026 memperkuat koordinasi kebijakan dengan kementerian dan lembaga. Pada September 2026, Forum Koordinasi Kebijakan HAM melibatkan lebih dari 90 kementerian/lembaga serta lembaga nasional HAM. Forum tersebut menjadi tindak lanjut dari konsultasi dengan masyarakat sipil dan diarahkan untuk memastikan masukan publik dapat diterjemahkan menjadi langkah kebijakan.   Langkah tersebut menunjukkan adanya upaya membangun kebijakan HAM yang lebih terstruktur. Pemerintah tidak hanya menyusun kebijakan dari sisi internal birokrasi, tetapi juga membuka ruang konsultasi dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan.  Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa HAM harus menjadi dasar dalam setiap tahapan pembangunan. Menurut Yusril, prinsip HAM perlu diperhatikan sejak proses perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan, hingga evaluasi kebijakan pemerintah.   Pandangan tersebut penting karena pembangunan nasional yang berkelanjutan tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan pembangunan juga perlu dilihat dari sejauh mana masyarakat mendapatkan akses yang adil terhadap pelayanan dasar, kesempatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan hukum.  Pada tingkat internasional, Indonesia juga memperoleh posisi strategis dengan menjadi Presiden Dewan HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2026. Pemerintah melihat posisi tersebut sebagai bagian dari kepercayaan internasional terhadap peran Indonesia dalam agenda pemajuan dan perlindungan HAM.   Posisi tersebut sekaligus memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi HAM. Indonesia dapat mendorong pendekatan yang menempatkan perdamaian, pembangunan, kesejahteraan, dan perlindungan manusia sebagai bagian yang saling berkaitan.  Di dalam negeri, pemerintah juga berupaya memperkuat mekanisme koordinasi agar kebijakan HAM tidak berjalan sendiri-sendiri. Forum lintas kementerian dan lembaga menjadi sarana untuk memastikan isu HAM dapat masuk ke berbagai sektor pembangunan, mulai dari ekonomi, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, hingga perlindungan kelompok rentan.  Penguatan tata kelola juga menjadi penting karena perlindungan HAM membutuhkan sistem yang mampu menerima pengaduan, merespons persoalan, dan melakukan evaluasi secara berkelanjutan. Karena itu, peningkatan kapasitas aparatur serta pemahaman HAM di lingkungan pemerintahan menjadi bagian dari agenda yang perlu terus diperkuat.  Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran juga menunjukkan bahwa agenda HAM berjalan beriringan dengan agenda peningkatan kesejahteraan. Ketika negara memperluas akses kesehatan, memperkuat pendidikan, menyediakan bantuan pangan bergizi, dan meningkatkan perlindungan sosial, kebijakan tersebut pada saat yang sama menjadi instrumen pemenuhan hak dasar masyarakat.  Dengan demikian, perjalanan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan arah baru dalam menempatkan HAM sebagai bagian integral pembangunan nasional. Penguatan kelembagaan, pembaruan regulasi, konsultasi publik, pemenuhan kebutuhan dasar, serta peningkatan koordinasi menjadi fondasi untuk membangun sistem perlindungan HAM yang semakin kuat.  Melalui pendekatan tersebut, pemerintah memiliki ruang yang semakin besar untuk menghadirkan perlindungan HAM secara nyata dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi bagian dari proses panjang untuk memastikan pembangunan nasional tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap martabat setiap warga negara.  )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan 

Read More

Indonesia Mandiri: Transformasi Energi Dalam Dua Tahun Prabowo-Gibran

Oleh: Aisha Gita )*  Transformasi sektor energi menjadi salah satu agenda strategis dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat dan dinamika geopolitik global, pemerintah mengarahkan kebijakan energi pada penguatan ketahanan, pengurangan ketergantungan impor, optimalisasi sumber daya domestik, serta percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan.  Arah tersebut menempatkan kemandirian energi tidak sekadar sebagai upaya memenuhi kebutuhan listrik dan bahan bakar, tetapi juga bagian dari penguatan fondasi ekonomi nasional. Indonesia memiliki beragam sumber energi, mulai dari minyak dan gas bumi, batu bara, panas bumi, tenaga air, tenaga surya, hingga sumber energi berbasis nabati. Tantangannya adalah memastikan potensi tersebut dikelola secara optimal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian.  Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai Indonesia menunjukkan arah yang semakin jelas menuju pengembangan energi bersih selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, komitmen tersebut tercermin dari target pemerintah untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas hingga 100 gigawatt peak (GWp), serta upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil secara bertahap.  Di sisi kelistrikan, pemerintah meluncurkan program PLTS 100 GWp pada Agustus 2026. Tahap awal mencakup 14 PLTS dengan total kapasitas 5,3 GWp yang tersebar di sejumlah provinsi. Program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pembangkit nasional sekaligus memperbesar kontribusi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan.  Pengembangan energi surya memiliki arti strategis karena sumber daya tersebut tersedia di berbagai wilayah Indonesia dan dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan sistem kelistrikan. Kehadiran pembangkit surya dalam skala besar juga memperluas diversifikasi sumber energi sehingga sistem kelistrikan tidak terlalu bergantung pada satu jenis pembangkit.  Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto membentuk Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang dipimpin Bahlil Lahadalia. Kehadiran kementerian tersebut dinilai dapat memperkuat dan mempercepat transformasi kekayaan mineral Indonesia menjadi fondasi bagi pengembangan industri energi masa depan.  Potensi produksi nikel yang besar, ditambah dengan pengembangan hilirisasi komoditas tembaga, emas, dan bauksit, dinilai menjadi modal penting bagi Indonesia untuk membangun industri baterai, kendaraan listrik, energi surya, serta berbagai industri berbasis teknologi di dalam negeri. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto, menilai integrasi agenda hilirisasi dengan transisi energi merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur industri nasional. Pengembangan nikel, tembaga, emas, dan bauksit secara terpadu dinilai berpotensi memperluas basis industrialisasi sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.  Keterkaitan hilirisasi dan transformasi energi juga terlihat dalam pengembangan industri baterai serta kendaraan listrik. Pemerintah mendorong pembangunan ekosistem kendaraan listrik sebagai bagian dari perubahan struktur konsumsi energi. Pengembangan industri baterai domestik sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil posisi lebih kuat dalam rantai pasok kendaraan listrik global.  Selain energi listrik, pemerintah memperkuat pemanfaatan sumber energi domestik melalui implementasi mandatori biodiesel B50 pada 2026. Kebijakan tersebut meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap solar impor. Langkah ini juga memberikan ruang bagi penguatan industri nasional melalui peningkatan pemanfaatan bahan baku dan pengolahan di dalam negeri.  Transformasi energi berjalan bersama penguatan sektor hulu dan hilir melalui peningkatan produksi energi domestik, modernisasi kilang, pengembangan bahan baku dalam negeri, serta pembangunan industri pengolahan. Strategi tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna sumber daya energi, tetapi mampu meningkatkan nilai tambah melalui kegiatan industri di dalam negeri.  Elektrifikasi sektor transportasi juga menjadi bagian dari arah transformasi. Pergeseran penggunaan energi menuju listrik membuka ruang bagi pemanfaatan sumber energi domestik dalam berbagai aktivitas ekonomi. Semakin besar kontribusi energi terbarukan dalam sistem kelistrikan, semakin besar pula peluang mengurangi penggunaan bahan bakar fosil pada sektor yang dapat dialihkan ke tenaga listrik.  Dalam perspektif kemandirian energi, penguatan cadangan dan ketahanan pasokan juga menjadi bagian penting. Ketersediaan energi yang stabil diperlukan untuk menjaga aktivitas industri, transportasi, pelayanan publik, dan kegiatan ekonomi. Upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar dilakukan melalui peningkatan produksi, modernisasi kilang, pemanfaatan bahan baku domestik, dan pengembangan energi alternatif.  Dengan demikian, transformasi energi dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran memperlihatkan pendekatan yang menggabungkan ketahanan energi dengan agenda transisi. Penguatan sumber energi domestik berjalan bersamaan dengan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan dan hilirisasi sumber daya mineral.  Kemandirian energi juga memiliki keterkaitan erat dengan kemandirian industri. Pengembangan biodiesel, kendaraan listrik, baterai, pembangkit surya, hingga industri pendukungnya menciptakan peluang membangun rantai nilai di dalam negeri. Energi tidak hanya menjadi komoditas yang harus tersedia, tetapi juga menjadi penggerak kegiatan industri dan penciptaan nilai tambah. Dengan kesinambungan kebijakan dan penguatan industri nasional, transformasi energi berpotensi menjadi fondasi ketahanan ekonomi sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru bagi Indonesia.  *) Penulis adalah Content Writer di Clash of Politics Strategy 

Read More

Dua Tahun Prabowo-Gibran dan Energi Bersih Jadi Fondasi Daya Saing Masa Depan

Oleh: Sjaichul Anwari )* Dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum untuk melihat bagaimana Indonesia menyiapkan fondasi ekonomi di tengah perubahan lanskap energi dunia. Salah satu arah yang semakin menonjol adalah penguatan energi bersih sebagai bagian dari strategi ketahanan energi, investasi, dan daya saing jangka panjang.  Perubahan menuju energi bersih tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi telah menjadi bagian dari persaingan ekonomi global. Negara yang mampu membangun energi terbarukan, memperkuat industrinya, dan menyediakan listrik yang kompetitif akan memiliki posisi lebih baik dalam menarik investasi serta mengembangkan industri masa depan.  Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai Indonesia memiliki arah yang cukup jelas menuju energi bersih selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia melihat target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt peak (GWp) sebagai salah satu indikator kuat dari arah tersebut.  Menurut Yayan, target tersebut menempatkan Indonesia pada salah satu program pengembangan energi surya berskala besar. Rencana pengurangan penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap juga menunjukkan bahwa transisi energi mulai ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.  Transisi energi juga memiliki hubungan erat dengan industrialisasi karena kebutuhan listrik bersih semakin diperhitungkan dalam keputusan investasi perusahaan global. Indonesia memiliki peluang untuk menghubungkan pengembangan energi terbarukan dengan kawasan industri, pusat data, manufaktur, serta industri yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar.  Peluang tersebut menjadi semakin penting ketika Indonesia ingin meningkatkan kualitas investasi yang masuk. Investor akan mempertimbangkan kepastian energi, biaya produksi, infrastruktur, serta kemampuan suatu negara memenuhi tuntutan keberlanjutan dalam rantai pasok global.  Pemerintah kemudian memperkuat koordinasi kebijakan melalui pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Langkah ini menunjukkan bahwa agenda transisi energi mulai ditempatkan dalam kerangka lintas sektor yang membutuhkan koordinasi kebijakan secara lebih terintegrasi.  Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pembentukan posisi tersebut berkaitan dengan ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi global yang semakin mendorong kebutuhan energi bersih. Menurut Bahlil, hilirisasi dan transisi energi merupakan program prioritas yang sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap Paris Agreement.  Bahlil juga menilai agenda hilirisasi dan transisi energi tidak dapat dikerjakan secara parsial karena melibatkan berbagai sektor dan kementerian. Karena itu, koordinasi diperlukan agar program tersebut berjalan secara komprehensif, terukur, dan memiliki target yang dapat diwujudkan.  Arah koordinasi tersebut memiliki arti strategis bagi Indonesia yang sedang mengejar peningkatan nilai tambah sumber daya alam. Hilirisasi membutuhkan energi dalam jumlah besar, sehingga ketersediaan energi yang kompetitif dan semakin bersih akan menentukan keberlanjutan industri pengolahan di dalam negeri.  Hubungan antara hilirisasi dan transisi energi juga dapat menciptakan rantai ekonomi baru. Pengembangan pembangkit energi terbarukan membutuhkan teknologi, komponen, pembiayaan, tenaga ahli, sistem penyimpanan, serta infrastruktur jaringan yang dapat membuka ruang bagi tumbuhnya industri pendukung.  Karena itu, energi bersih sebaiknya dipandang sebagai fondasi daya saing industri Indonesia dalam beberapa dekade mendatang. Kebijakan energi yang konsisten dapat membantu dunia usaha memperoleh kepastian sekaligus mendorong investasi pada sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi.  Dunia usaha sendiri mulai melihat transisi energi sebagai peluang ekonomi yang besar. Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai Indonesia memiliki kesempatan besar untuk menarik investasi dalam ekonomi hijau seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap energi bersih dan teknologi rendah karbon.  Menurut Anindya, peluang investasi yang berkaitan dengan transisi menuju net zero sangat besar hingga 2050, dengan kajian Kadin memperkirakan potensi investasi Indonesia dapat mencapai sekitar 3,8 triliun dollar AS. Besarnya peluang tersebut menunjukkan bahwa agenda energi bersih dapat menjadi sumber pertumbuhan baru ketika pemerintah mampu menciptakan iklim investasi dan regulasi yang mendukung.  Angka tersebut tentu perlu dibaca sebagai potensi yang membutuhkan kerja nyata agar dapat diwujudkan. Indonesia perlu memperkuat kepastian regulasi, kesiapan jaringan listrik, mekanisme pembiayaan, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan industri domestik untuk menjadi bagian dari rantai pasok energi bersih.  Anindya juga menekankan pentingnya peran sektor swasta dalam mempercepat transisi energi melalui investasi, inovasi, pembiayaan hijau, pengembangan pasar karbon, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja. Pandangan itu memperlihatkan bahwa transformasi energi membutuhkan keterlibatan dunia usaha sejak tahap pengembangan teknologi hingga komersialisasi.  Bagi Indonesia, peluang tersebut semakin besar karena memiliki sumber daya energi terbarukan yang beragam. Tenaga surya, panas bumi, air, angin, serta sumber energi lainnya dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah sehingga transisi energi sekaligus menjadi instrumen penguatan ekonomi daerah.  Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan bahwa energi bersih mulai bergerak dari isu sektoral menuju agenda pembangunan yang lebih luas. Target energi surya, penguatan kelembagaan transisi energi, dan meningkatnya perhatian dunia usaha memberikan dasar bagi Indonesia untuk membangun ekonomi yang lebih tahan terhadap perubahan global.  *) Pengamat Energi Terbarukan  

Read More

Stimulus Ekonomi 2027 Memperkuat Daya Beli dan Ketahanan Ekonomi Masyarakat

Oleh: Yusuf Rinaldi )* Ketika perekonomian global bergerak dalam ketidakpastian, menjaga pertumbuhan tidak cukup dilakukan dengan mengandalkan investasi dan ekspor. Ada fondasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi menentukan denyut ekonomi nasional, yakni konsumsi rumah tangga. Karena itu, keberlanjutan stimulus ekonomi hingga 2027 dapat dibaca sebagai upaya pemerintah menjaga agar tekanan ekonomi tidak terlalu…

Read More

Stimulus Ekonomi 2027: Ekonomi Tumbuh dan Rakyat Tetap Terlindungi

Oleh : Muhammad Iqbal )* Memasuki 2027, kebijakan stimulus ekonomi pemerintah perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai instrumen untuk menjaga laju pertumbuhan, tetapi juga sebagai mekanisme untuk memastikan masyarakat tetap memiliki daya beli dan perlindungan ketika menghadapi perubahan ekonomi. Rangkaian kebijakan yang disiapkan pemerintah menunjukkan upaya menggabungkan perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja, insentif perpajakan, perumahan, serta…

Read More

Penanganan Karhutla Tetap Tegas sebelum Api Kembali Meluas

Oleh : Jonathan Janoel )* Karhutla kembali menjadi ujian serius bagi kemampuan negara menjaga keselamatan masyarakat dan lingkungan ketika musim kering meningkatkan risiko kebakaran. Namun, perkembangan penanganan menunjukkan pemerintah tidak menunggu api meluas. Operasi darat dan udara terus diperkuat, wilayah prioritas dipantau, sementara penegakan hukum tetap berjalan terhadap pihak yang terbukti melanggar. Presiden Prabowo Subianto…

Read More

Penanganan Karhutla Terpadu Lindungi Warga, Hutan, dan Kualitas Udara

Oleh: Dwi Saputri )* Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya persoalan api yang membakar vegetasi. Dampaknya dapat meluas terhadap kesehatan masyarakat, kualitas udara, kelestarian hutan, hingga habitat satwa liar. Karena itu, penanganan karhutla membutuhkan kerja terpadu yang menggabungkan operasi darat dan udara, pemantauan titik panas, perlindungan masyarakat, serta penanganan dampak lingkungan. Upaya tersebut terus…

Read More
Back To Top