Sorot Indo News

Sorot Indo News merupakan situs yang memfokuskan pada isu-isu nasional. Sorot Indo News sebagai platform berita yang menyajikan perspektif lokal atau Indonesia. Situs ini juga menyebarkan berita atau informasi terkini di lingkup internasional.

PLTS 100 GWp, Lompatan Peradaban Energi Indonesia

Oleh : Radjiman Arif )*  Indonesia sedang memasuki babak baru pembangunan energi. Peluncuran program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt peak (GWp) oleh Presiden Prabowo Subianto di Gilimanuk, Bali, pada 25 Agustus 2026 bukan sekadar penambahan kapasitas pembangkit, melainkan langkah strategis menuju kemandirian energi. Tahap awal dimulai melalui 14 proyek dengan kapasitas 5,3 GWp yang tersebar di enam provinsi. Program ini menjadi bagian dari agenda pemerintah memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.  Presiden Prabowo menempatkan program tersebut dalam kerangka yang lebih besar, yakni membangun Indonesia yang mampu berdiri di atas kekuatan energinya sendiri. Ia menargetkan kapasitas 100 GWp dapat diwujudkan dalam tiga tahun, bahkan membuka peluang penyelesaian lebih cepat. Menurut Prabowo, pengembangan energi surya harus berjalan bersama optimalisasi panas bumi, gas, dan sumber daya energi domestik lainnya agar ketergantungan terhadap impor dapat terus ditekan. Arah tersebut memperlihatkan bahwa energi ditempatkan sebagai fondasi penting bagi ketahanan ekonomi dan pembangunan nasional.  Komitmen tersebut menunjukkan bahwa transisi energi di bawah pemerintahan Prabowo diarahkan bukan hanya sebagai agenda lingkungan, tetapi sebagai bagian dari strategi kedaulatan nasional. Ketika sumber energi domestik semakin banyak dimanfaatkan, Indonesia memiliki ruang lebih besar untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengurangi kerentanan terhadap perubahan harga energi global. Kebijakan ini juga relevan dengan kebutuhan menjaga daya saing industri nasional yang semakin membutuhkan pasokan listrik andal dan berkelanjutan.  Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memberikan gambaran mengenai besarnya skala program tersebut. Ia menyebut tahap awal 5,3 GWp yang mulai dikerjakan Indonesia telah menjadi salah satu proyek PLTS terbesar di dunia. Menurut Darmawan, pencapaian tersebut menunjukkan Indonesia tidak lagi sekadar berbicara mengenai transisi energi, tetapi telah memasuki tahap pembangunan energi bersih dalam skala global. PLN juga memiliki peran penting memastikan proyek berjalan terintegrasi dengan sistem kelistrikan nasional.  Skala tersebut semakin menarik karena 14 proyek awal memiliki nilai investasi sekitar 7,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp135 triliun. Investasi tersebut diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi, termasuk efisiensi anggaran dan penguatan sistem kelistrikan. Artinya, pembangunan energi bersih mulai ditempatkan sebagai instrumen ekonomi yang dapat memberikan manfaat fiskal sekaligus memperkuat fondasi energi nasional.  Dari sisi koordinasi ekonomi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan kesiapan pemerintah mengawal percepatan program tersebut. Dukungan lintas kementerian menjadi penting karena pembangunan 100 GWp membutuhkan sinkronisasi investasi, industri, pembiayaan, infrastruktur, dan kebijakan. Komitmen pemerintah mempercepat proyek ini menunjukkan bahwa energi bersih telah ditempatkan sebagai bagian dari agenda pertumbuhan ekonomi nasional.  Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan berbagai skema untuk mempercepat investasi PLTS, termasuk pembiayaan domestik dan kerja sama dengan pihak swasta yang memiliki teknologi serta kemampuan produksi panel surya dan baterai. Danantara juga mengembangkan prototipe PLTS berkapasitas 1 MW di Sumenep sebagai salah satu model yang dapat dikembangkan lebih luas. Kehadiran pembiayaan dan investasi nasional akan memperkuat kemampuan Indonesia menjalankan proyek secara berkelanjutan.  Kehadiran industri pendukung menjadi faktor penting agar manfaat program tidak berhenti pada pembangunan pembangkit. Rantai pasok panel surya, baterai, konstruksi, jasa teknik, hingga pemeliharaan dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru. Dengan demikian, investasi energi terbarukan berpotensi sekaligus memperkuat industrialisasi nasional dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Dampaknya dapat dirasakan mulai dari kawasan industri hingga daerah yang menjadi lokasi proyek.  Program ini juga memiliki dimensi pemerataan. Pengembangan PLTS diarahkan tidak hanya untuk sistem kelistrikan besar, tetapi juga membuka peluang elektrifikasi wilayah yang membutuhkan akses energi lebih baik. Pemanfaatan PLTS dan sistem penyimpanan energi memungkinkan sumber listrik lokal dikembangkan sesuai karakteristik daerah, sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit diesel yang membutuhkan BBM. Dengan pendekatan tersebut, energi bersih dapat menjadi instrumen pemerataan pembangunan.  Tahap awal 5,3 GWp menjadi bukti bahwa target 100 GWp mulai diterjemahkan ke dalam proyek konkret. Sejumlah proyek telah memasuki tahap tender, groundbreaking, maupun konstruksi, termasuk PLTS terapung di Jatiluhur, Cirata, dan Jatigede serta proyek PLTS di Madura, Bali, Banyuwangi, Pasuruan, dan sejumlah lokasi lainnya. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa target besar pemerintah mulai memiliki pijakan implementasi yang nyata.  Pada akhirnya, PLTS 100 GWp layak dipandang sebagai lompatan peradaban energi Indonesia. Pemerintah tidak hanya membangun pembangkit, tetapi sedang membangun fondasi kemandirian, investasi, industrialisasi, pemerataan, dan ketahanan nasional. Dengan kepemimpinan Presiden Prabowo, koordinasi ekonomi yang kuat, dukungan Danantara, serta kesiapan PLN, target besar tersebut memiliki arah implementasi yang semakin jelas. Jika konsistensi ini dipertahankan, Indonesia berpeluang memasuki era energi yang lebih mandiri, bersih, tangguh, dan berdaya saing.  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Megaproyek PLTS: Indonesia Berani Menjemput Masa Depan Energi Bersih 

Oleh: Catur Ronggo )* Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Bali pada 25 Agustus 2026 layak dibaca sebagai salah satu langkah konkrit dalam membangun kemandirian energi. Target tersebut bukan sekadar menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah: energi bersih ditempatkan sebagai instrumen ketahanan nasional, penguatan industri, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan ketergantungan pada energi fosil.  Presiden Prabowo menargetkan pembangunan PLTS 100 GWp dapat diselesaikan dalam tiga tahun. Tenggat agresif menunjukkan pemerintah ingin mempercepat eksekusi, bukan membiarkan transisi energi berhenti pada dokumen perencanaan. Target itu sekaligus menjadi tantangan koordinasi bagi kementerian, PLN, pelaku usaha, dan seluruh ekosistem energi nasional untuk mengubah potensi surya Indonesia menjadi kapasitas listrik yang nyata.  Pilihan energi surya memiliki dasar yang kuat. Pemerintah mencatat potensi energi surya Indonesia mencapai sekitar 3.294 GWp, sementara kapasitas terpasang hingga April 2026 baru sekitar 1,5 GWp. Kesenjangan tersebut memperlihatkan besarnya ruang yang masih dapat dimanfaatkan. Karena itu, megaproyek 100 GWp bukan hanya proyek infrastruktur, melainkan upaya mengubah sumber daya alam yang selama ini belum optimal dimanfaatkan menjadi kekuatan ekonomi dan energi nasional.  Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memperkirakan kebutuhan investasi untuk keseluruhan program mencapai sekitar 73 miliar dolar AS atau lebih dari Rp1.140 triliun. Nilai tersebut memang sangat besar, tetapi harus dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat fondasi energi nasional. Bahlil juga memperkirakan program ini dapat menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja dan menghasilkan efisiensi subsidi energi hingga Rp73,9 triliun setiap tahun. Dengan demikian, belanja pembangunan diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.  Besarnya kebutuhan investasi juga membuka ruang kolaborasi antara negara dan sektor swasta. Pemerintah menyiapkan skema Independent Power Producer bagi investor yang mampu menawarkan harga listrik kompetitif. Apabila tidak terdapat penawaran yang memenuhi prinsip efisiensi, pemerintah menyiapkan opsi pembangunan melalui Danantara. Pola ini menunjukkan negara tetap memegang kendali strategis, sekaligus membuka kesempatan bagi modal dan kemampuan usaha untuk mempercepat pembangunan.  Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pembangunan dilakukan bertahap agar pelaksanaan dapat dikawal secara terukur. Tahap awal diarahkan pada 17 GWp, dilanjutkan 18 GWp, kemudian sekitar 35 GWp pada fase berikutnya, sementara kapasitas sisanya akan ditetapkan melalui tahapan lanjutan. Peta jalan tersebut penting karena proyek sebesar 100 GWp membutuhkan kesiapan lahan, jaringan transmisi, pembiayaan, teknologi penyimpanan, serta koordinasi lintas sektor.  Tahap awal sendiri sudah menunjukkan skala yang besar. Pemerintah meluncurkan 14 proyek PLTS di enam provinsi dengan kapasitas gabungan 5,3 GWp. Menurut Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, kapasitas proyek awal tersebut bahkan melampaui proyek tenaga surya yang sedang berjalan di Uni Emirat Arab sebesar 5,2 GWp. Capaian ini memperlihatkan Indonesia mulai berani mengambil posisi dalam pengembangan energi surya berskala raksasa.  Namun, keberhasilan megaproyek ini tidak cukup dinilai dari angka kapasitas. Pemerintah perlu memastikan listrik yang dihasilkan dapat terserap sistem, jaringan mampu menyalurkan energi dari pusat pembangkit ke pusat permintaan, dan teknologi penyimpanan berkembang seiring peningkatan pembangkit intermiten. Kesiapan industri dalam negeri juga penting agar pembangunan tidak hanya menciptakan pasar bagi produk impor, tetapi mendorong tumbuhnya rantai pasok panel surya, baterai, komponen kelistrikan, serta tenaga ahli nasional.  Di sinilah proyek PLTS 100 GWp memiliki arti strategis yang lebih luas. Investasi energi bersih dapat menjadi mesin pertumbuhan baru apabila diikuti penguatan industri domestik. Pemerintah memperkirakan program tersebut berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 140 juta ton CO2 per tahun. Pembangunan pembangkit, jaringan, baterai, dan industri pendukung juga dapat menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai daerah.  Program ini juga menunjukkan bahwa transisi energi tidak harus diposisikan berlawanan dengan kepentingan ekonomi. Justru, energi bersih dapat menjadi instrumen untuk memperkuat daya saing Indonesia ketika pemerintah mampu membangun ekosistem industrinya. Dengan listrik yang semakin beragam sumbernya dan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang berkurang, Indonesia memiliki peluang lebih besar menghadapi gejolak harga energi global.  Tentu, target tiga tahun membutuhkan disiplin eksekusi. Pemerintah perlu menjaga kepastian regulasi, transparansi pengadaan, kualitas proyek, dan pengawasan penggunaan anggaran. Percepatan tidak boleh mengorbankan aspek keselamatan, kelayakan lingkungan, maupun kepentingan masyarakat. Justru tata kelola yang kuat akan menentukan apakah ambisi besar tersebut benar-benar menghasilkan manfaat berkelanjutan.  Pada akhirnya, megaproyek PLTS 100 GWp memperlihatkan keberanian pemerintah mengubah potensi menjadi agenda konkret. Presiden Prabowo telah menetapkan target besar, kementerian menyusun tahapan, PLN menyiapkan eksekusi, dan investasi mulai diarahkan ke infrastruktur energi masa depan. Jika konsistensi ini dipertahankan, Indonesia bukan hanya menjadi pengguna energi bersih, tetapi dapat membangun kapasitas industri dan teknologi yang menopang kedaulatan energi. Langkah tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah serius menjemput masa depan energi bersih sekaligus membangun Indonesia yang lebih mandiri, tangguh, dan kompetitif  *) Penulis merupakan Pengamat Sosial 

Read More

Negara Hadir, Karhutla Sumatra hingga Papua Ditangani Terpadu

JAKARTA — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, stakeholder terkait, dan masyarakat. Upaya tersebut mencakup pemadaman titik api, pencegahan, mitigasi, hingga penegakan hukum guna mencegah kebakaran meluas maupun muncul di wilayah baru. Di Sumatra Selatan, kolaborasi lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan pengendalian karhutla berjalan optimal….

Read More

Pemerintah Perkuat Mitigasi Karhutla di Sumatra, Kalimantan, dan Papua

Kalimantan Tengah – Pemerintah memperkuat langkah mitigasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan, khususnya Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kesiapsiagaan, deteksi dini, patroli, pemadaman, penyediaan sarana pendukung, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara sengaja. Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah akan mengambil tindakan hukum…

Read More

Pemerintah Perkuat Operasi Lintas Sektor Hadapi Ancaman Karhutla 

Oleh: Gavin Asadit )* Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi tantangan serius bagi Indonesia memasuki periode risiko tinggi pada Agustus hingga September 2026. Ancaman ini tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan pemadaman api, sebab karhutla berkaitan dengan kerusakan lingkungan, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga keberlangsungan kehidupan warga di wilayah terdampak. Karena itu, langkah pemerintah yang menggabungkan pencegahan, operasi lapangan, dukungan teknologi, serta penegakan hukum menunjukkan bahwa penanganan karhutla kini ditempatkan sebagai persoalan nasional yang membutuhkan kerja bersama.  Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arah yang jelas dalam rapat penanganan karhutla di Riau, Senin (24/8). Pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap pembakaran lahan yang dilakukan secara sengaja, termasuk apabila terdapat keterlibatan korporasi. Sikap tersebut penting karena keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari seberapa cepat api dipadamkan. Negara juga perlu memastikan siapa yang menyebabkan kebakaran dan mengapa praktik pembakaran masih terjadi di tengah berbagai aturan yang telah diberlakukan.  Pada tingkat masyarakat, pendekatan pencegahan menjadi sangat penting. Edukasi mengenai larangan pembukaan lahan dengan cara membakar perlu diperkuat hingga tingkat desa. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan kelompok tani dapat membangun mekanisme pembukaan lahan yang lebih aman sehingga masyarakat tidak terdorong mengambil jalan pintas. Gagasan pengorganisasian melalui kelompok tani dan koperasi juga dapat menjadi instrumen untuk menyediakan dukungan pembiayaan sekaligus memastikan aktivitas pembukaan lahan berlangsung secara tertib. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak semata-mata diposisikan sebagai objek penertiban, tetapi menjadi bagian dari solusi.  Namun, pendekatan persuasif terhadap masyarakat harus berjalan beriringan dengan ketegasan terhadap korporasi. Presiden Prabowo menekankan pentingnya penyelidikan terhadap perusahaan yang diduga memerintahkan pembakaran. Pemerintah juga membuka ruang bagi pencabutan izin apabila ditemukan indikasi keterlibatan. Pesan ini menunjukkan bahwa kepentingan investasi tidak boleh ditempatkan di atas keselamatan lingkungan dan kepentingan publik. Perusahaan yang menjalankan usaha secara bertanggung jawab tentu tidak perlu khawatir terhadap penegakan hukum, sementara pelaku yang terbukti melanggar harus menghadapi konsekuensi yang setimpal.  Ketegasan tersebut menemukan konteksnya ketika pemerintah menghadapi risiko karhutla yang cukup tinggi sepanjang 2026. BMKG memperkirakan kondisi lebih kering di sejumlah wilayah dan pengaruh El Niño masih dapat berlangsung hingga awal 2027. Potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Artinya, kondisi alam dapat memperbesar risiko, tetapi faktor manusia tetap menjadi bagian penting yang harus dikendalikan. Cuaca kering tidak dengan sendirinya menghasilkan kebakaran apabila tidak ada sumber api yang memicu dan memperluasnya.  Hingga awal Agustus 2026, luas lahan terbakar di Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan mencapai sekitar 48.889 hektare. Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla membutuhkan respons yang terukur dan tidak sporadis. Pemerintah memperkuat operasi lintas sektor dengan melibatkan BNPB, BMKG, pemerintah daerah, TNI, Polri, kementerian terkait, dunia usaha, serta masyarakat. Koordinasi lintas lembaga menjadi penting karena karakter kebakaran berbeda-beda di setiap wilayah.  Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menekankan pentingnya kombinasi operasi darat dan udara. Water bombing diperlukan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses, tetapi tidak boleh menggantikan penyisiran di darat. Hal ini terutama berlaku di kawasan gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan. Dengan demikian, ukuran keberhasilan bukan hanya hilangnya api dari pandangan, melainkan benar-benar terkendalinya sumber kebakaran. Pendekatan ini juga mengurangi risiko api kembali muncul setelah operasi pemadaman selesai.  Pemerintah menggunakan pemantauan titik panas, patroli, helikopter, pompa air, mobil tangki, hingga Operasi Modifikasi Cuaca. Di Kalimantan, puluhan helikopter dan ribuan personel gabungan disiagakan. Sementara itu, Kementerian Kehutanan melalui Manggala Agni terus memperkuat patroli dan pengawasan kawasan rawan. Pendekatan ini memperlihatkan pergeseran dari pola reaktif menuju sistem pencegahan berbasis data, prakiraan cuaca, dan kondisi lapangan. Operasi Modifikasi Cuaca juga menjadi instrumen pendukung untuk meningkatkan curah hujan dan membantu pembasahan wilayah yang rentan terbakar, khususnya kawasan gambut.  Perhatian juga tidak berhenti di Sumatra dan Kalimantan. Papua menjadi bagian dari cakupan kewaspadaan karena karakter geografis Indonesia menuntut sistem pemantauan yang mampu menjangkau wilayah dari barat hingga timur. Informasi cuaca, titik panas, laporan daerah, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi mata rantai penting dalam mendeteksi ancaman sejak dini. Pola ini penting agar pemerintah tidak menunggu kebakaran meluas sebelum mengerahkan sumber daya.  Di tengah ancaman cuaca kering dan potensi karhutla yang masih tinggi, pesan pemerintah cukup terang: pencegahan harus dimulai sebelum api muncul, sementara penegakan hukum harus menyasar siapa pun yang dengan sengaja membakar. Ketegasan Presiden Prabowo, jika diterjemahkan secara konsisten hingga tingkat lapangan, dapat menjadi fondasi penting untuk membangun tata kelola penanganan karhutla yang tidak hanya cepat memadamkan api, tetapi juga mampu mencegah kebakaran berulang. Melindungi hutan pada akhirnya bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan dan melindungi masyarakat.  )* Penulis adalah pemerhati lingkungan 

Read More

Penanganan Karhutla Sumatra hingga Papua, Cepat, Terpadu, dan Tegas

Oleh: Athari Yuanto )*  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menguji komitmen negara dalam menjaga lingkungan dan memastikan keberlanjutan pengelolaan sumber daya alam. Persoalan ini tidak mengenal batas wilayah. Dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, ancaman karhutla dapat muncul ketika musim kering bertemu dengan praktik pembukaan lahan yang mengabaikan aspek keselamatan lingkungan. Karena itu, penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi harus dibangun melalui sistem pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, dan pemulihan yang berjalan secara terpadu.  Langkah Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memberikan sanksi kepada enam perusahaan terkait karhutla di Kalimantan menjadi sinyal penting bahwa kewajiban pemegang konsesi tidak boleh berhenti pada pengelolaan kegiatan usaha. Direktur Pengawasan, Pengenaan Sanksi Administratif, dan Keperdataan Kehutanan Kemenhut, Ardi Risman, menyatakan enam perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dijatuhi sanksi paksaan pemerintah. Keenam perusahaan tersebut terdiri atas PT WEL, PT FI, PT MPK, dan PT WSP di Kalimantan Barat, PT NES di Kalimantan Tengah, serta PT PSR di Kalimantan Timur.  Sanksi tersebut merupakan tindak lanjut pengawasan terhadap kewajiban perusahaan dalam mencegah dan mengendalikan karhutla di areal kerja masing-masing. Pengawasan mencakup kesiapan regu pengendalian kebakaran, ketersediaan peralatan pemadam, sumber air, menara pemantau, sekat kanal, hingga sistem deteksi dan respons dini. Menurut Ardi Risman, sanksi paksaan pemerintah memberikan konsekuensi kepada perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan, mulai dari pembenahan sistem pengendalian kebakaran hingga pemulihan areal terdampak dalam batas waktu tertentu.   Khusus kawasan gambut, tanggung jawab tersebut bahkan menjadi semakin penting. Kebakaran gambut tidak mudah ditangani hanya dengan penyemprotan air dari udara atau darat karena api dapat menjalar di bawah permukaan. Karena itu, pemulihan harus mencakup perbaikan fungsi hidrologis, penataan tata air, penyekatan kanal, pembasahan kembali gambut, serta pemantauan tinggi muka air tanah. Api harus dipadamkan, penyebabnya ditelusuri, kawasan yang rusak dipulihkan, dan sistem pencegahan diperkuat agar kejadian serupa tidak berulang.  Pada saat yang sama, penegakan hukum menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan dari strategi penanganan karhutla. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendukung langkah Polri untuk mengusut kasus karhutla secara menyeluruh. Komisioner Kompolnas Choirul Anam menegaskan bahwa pengusutan tidak boleh berhenti pada pelaku yang ditemukan di lapangan. Individu maupun perusahaan yang memiliki tanggung jawab lebih besar harus ditelusuri dan diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku.   Penegakan hukum yang hanya menyasar pelaku lapangan berisiko tidak menyelesaikan persoalan secara mendasar. Apabila terdapat bukti bahwa pembakaran berkaitan dengan kepentingan pembukaan lahan, keuntungan ekonomi, atau kelalaian pengelolaan konsesi, maka pihak yang mendapatkan manfaat maupun pihak yang bertanggung jawab harus ikut diperiksa. Dengan demikian, hukum tidak sekadar menjadi instrumen untuk menghukum, tetapi juga menjadi mekanisme untuk membangun kepatuhan dan mencegah terulangnya pelanggaran.  Dukungan terhadap langkah tegas juga disampaikan Ketua Fraksi Golkar DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Heri Mustamin. Ia menilai perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran lahan dan menimbulkan dampak luas kepada masyarakat harus ditindak tanpa keraguan. Heri juga menyoroti potensi penggunaan api sebagai jalan pintas dalam pembukaan lahan karena pembukaan secara mekanis membutuhkan biaya lebih besar. Karena itu, apabila ditemukan fakta hukum yang kuat, aparat diminta tidak ragu mengambil tindakan. Perusahaan pemegang konsesi harus lebih proaktif mencegah karhutla, termasuk memastikan lahan yang belum dikelola tidak menjadi sumber kebakaran.  Perspektif tersebut relevan untuk melihat karhutla sebagai persoalan nasional. Penanganan tidak boleh berhenti di Kalimantan Barat, tetapi harus diterapkan secara konsisten dari Sumatra hingga Papua. Setiap wilayah memiliki karakteristik ekologis dan sosial yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama, pencegahan harus diperkuat, respons harus cepat, koordinasi harus terpadu, dan pelanggaran harus ditindak tegas. Pemerintah daerah, aparat penegak hukum, kementerian terkait, dunia usaha, masyarakat, serta komunitas lokal perlu berada dalam satu sistem pengendalian yang memiliki pembagian tugas dan mekanisme respons yang jelas.  Kecepatan juga menjadi faktor krusial. Titik api yang terdeteksi sejak dini harus segera ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi kebakaran besar. Teknologi pemantauan, patroli lapangan, ketersediaan sumber air, kesiapan personel, dan koordinasi lintas lembaga harus dipastikan berfungsi. Perusahaan pemegang konsesi harus ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem pencegahan karena mereka memiliki tanggung jawab langsung terhadap areal yang dikelola.  Keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya diukur dari luas lahan yang berhasil dipadamkan. Dari Sumatra hingga Papua, pesan kebijakannya harus sama, bahwa karhutla bukan bencana musiman yang harus diterima begitu saja. Ia adalah persoalan yang dapat dicegah dan dikendalikan melalui tata kelola yang kuat.  Ketegasan pemerintah dalam memberikan sanksi kepada perusahaan, dukungan agar aparat tidak ragu menindak pelanggaran menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan keberanian untuk bergerak dari sekadar respons menuju pencegahan dan penegakan hukum. Dengan langkah yang cepat, terpadu, dan tegas, negara hadir sebelum api membesar, saat kebakaran terjadi, bahkan setelah api padam.   )* Penulis merupakan pengamat kebijakan publik 

Read More

RUU Perampasan Aset Dipercepat, Aspirasi Publik Tetap Dibuka

Jakarta – Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset terus dipercepat DPR RI dengan tetap membuka ruang partisipasi masyarakat. Langkah tersebut diarahkan untuk menghasilkan regulasi yang mampu memperkuat pemberantasan korupsi dan pemulihan aset hasil tindak pidana, sekaligus memberikan kepastian hukum serta perlindungan terhadap hak masyarakat. Komisi III DPR menargetkan RUU tersebut dapat disahkan paling lambat pada…

Read More

RUU Perampasan Aset Disusun Cermat, Cegah Penyalahgunaan Wewenang

Jakarta – Pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset Terkait Tindak Pidana terus dipercepat DPR RI. Komisi III DPR menargetkan regulasi strategis tersebut dapat rampung dan disahkan paling lambat Desember 2026 sebagai instrumen untuk memperkuat pemberantasan korupsi dan kejahatan ekonomi. Namun, percepatan pembahasan tetap dibarengi kehati-hatian agar regulasi yang lahir memiliki kepastian hukum, menjamin keadilan, serta…

Read More

Aspirasi Didengar, RUU Perampasan Aset Dikebut Menuju Paripurna Desember 2026

Oleh : Rivka Mayangsari )* Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset memasuki salah satu fase penting dalam perjalanan legislasi nasional. Komisi III DPR RI menargetkan penyusunan dan pembahasan regulasi tersebut dapat diselesaikan sehingga pengesahannya dapat dilakukan paling lambat Desember 2026. Target tersebut menunjukkan bahwa pembahasan RUU Perampasan Aset kini diarahkan pada tahapan yang lebih terstruktur dengan tetap mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat.  Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman mengatakan waktu efektif yang tersedia untuk membahas RUU tersebut tersisa sekitar delapan minggu di luar masa reses anggota DPR. Waktu yang terbatas itu akan dimanfaatkan Komisi III untuk menyelesaikan berbagai tahapan penyusunan dan pembahasan sebelum RUU memasuki proses pengambilan keputusan.  Menurut Habiburokhman, percepatan pembahasan bukan berarti mengabaikan kualitas substansi. Sebaliknya, waktu yang tersedia akan digunakan secara optimal agar proses legislasi dapat berjalan terarah. Komisi III sebelumnya telah melakukan penyerapan aspirasi masyarakat melalui 35 kali rapat dengar pendapat umum (RDPU).  Penyerapan aspirasi tersebut menjadi bagian penting dalam penyusunan RUU Perampasan Aset. Berbagai pandangan dari akademisi, praktisi hukum, organisasi masyarakat, serta kelompok masyarakat lainnya diharapkan dapat memperkaya substansi regulasi. Selain RDPU, Komisi III juga telah menerima masukan tertulis dari puluhan elemen masyarakat dan melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah.  Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan RUU Perampasan Aset tidak hanya berlangsung melalui pembahasan internal lembaga legislatif. Aspirasi publik ditempatkan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam merumuskan aturan yang nantinya akan memberikan kewenangan penting kepada negara dalam menelusuri dan memulihkan aset yang berkaitan dengan tindak pidana.  Habiburokhman menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat mendukung pembentukan RUU Perampasan Aset, namun dukungan tersebut disertai harapan agar regulasi disusun secara cermat. Masukan publik menjadi penting karena regulasi perampasan aset memiliki konsekuensi terhadap penegakan hukum sekaligus perlindungan terhadap hak warga negara.  Dalam konteks pemberantasan korupsi, keberadaan instrumen hukum mengenai perampasan aset dinilai memiliki posisi strategis. Kejahatan ekonomi dan tindak pidana korupsi tidak hanya menimbulkan kerugian secara materiil, tetapi juga dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Karena itu, mekanisme pemulihan aset menjadi salah satu aspek yang perlu memperoleh perhatian dalam sistem penegakan hukum.  Namun, efektivitas regulasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan negara mengambil kembali aset hasil kejahatan. Kejelasan prosedur, kepastian hukum, perlindungan terhadap pihak yang beritikad baik, serta mekanisme pengawasan terhadap kewenangan aparat juga menjadi bagian penting yang perlu dirumuskan secara proporsional.  Target pengesahan pada Desember 2026 membuat tahapan legislasi berikutnya memiliki ruang waktu yang semakin terbatas. Setelah proses penyerapan aspirasi, DPR perlu melanjutkan pembahasan melalui harmonisasi, rapat kerja bersama pemerintah, pembahasan daftar inventarisasi masalah (DIM), hingga pengambilan keputusan tingkat pertama.  Apabila seluruh tahapan tersebut dapat diselesaikan, proses selanjutnya adalah pengambilan keputusan tingkat kedua melalui rapat paripurna DPR. Dengan demikian, agenda pembahasan RUU Perampasan Aset akan memasuki periode yang menentukan dalam beberapa bulan ke depan.  Komisi III sebelumnya telah menempatkan RUU Perampasan Aset sebagai salah satu prioritas pembahasan pada Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027. Pada awal Agustus 2026, Komisi III menyatakan bahwa proses penyusunan draf RUU masih berlangsung dengan memasukkan berbagai masukan yang telah diterima dari masyarakat.  Perkembangan hingga 25 Agustus menunjukkan proses penyusunan tersebut bergerak menuju agenda pembahasan yang semakin terstruktur. DPR tetap mempertahankan target agar RUU Perampasan Aset dapat disahkan paling lambat Desember 2026. Kondisi ini menempatkan pembentuk undang-undang pada dua kepentingan yang harus berjalan beriringan, yaitu mengejar target waktu dan memastikan kualitas regulasi.  Ke depan, perhatian tidak hanya tertuju pada kecepatan pembahasan, tetapi juga pada substansi yang dihasilkan. RUU tersebut diharapkan mampu memberikan landasan yang kuat bagi pemulihan aset hasil tindak pidana sekaligus menjamin proses hukum berlangsung transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.  Dengan pengalaman puluhan RDPU, masukan tertulis masyarakat, serta kunjungan kerja ke daerah, berbagai perspektif telah menjadi bagian dari proses penyusunan. Tantangan berikutnya adalah mengolah seluruh aspirasi tersebut menjadi rumusan hukum yang jelas, efektif, dan tidak membuka ruang penyalahgunaan kewenangan.  RUU Perampasan Aset kini berada pada momentum penting. Jika pembahasan dapat dilakukan secara konsisten, terbuka, dan tetap mengutamakan prinsip negara hukum, target Desember 2026 dapat menjadi tonggak penting dalam memperkuat instrumen pemulihan aset di Indonesia. Yang tidak kalah penting, regulasi tersebut perlu memastikan bahwa pemberantasan kejahatan berjalan beriringan dengan kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat.  Selain memperkuat pemulihan aset, regulasi ini diharapkan mampu meningkatkan efek jera terhadap pelaku kejahatan ekonomi. Aset yang diperoleh melalui tindak pidana tidak semestinya menjadi keuntungan yang terus dinikmati pelaku. Karena itu, pembentukan aturan yang kuat, terukur, dan berorientasi pada kepentingan publik menjadi bagian penting dalam memperkuat agenda penegakan hukum nasional.  *) Pemerhati hukum 

Read More

Percepatan RUU Perampasan Aset Demi Memperkuat Kepastian Hukum

Oleh : Revan Ananda )* Percepatan RUU Perampasan Aset harus ditempatkan sebagai agenda penting pembaruan hukum nasional, tetapi kecepatannya tidak boleh mengorbankan ketelitian. Regulasi ini memiliki arti strategis karena diarahkan untuk memperkuat kemampuan negara memulihkan aset yang berkaitan dengan tindak pidana sekaligus mempersempit ruang bagi pelaku kejahatan menikmati hasil kejahatan. Karena itu, proses legislasi yang…

Read More
Back To Top