Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Upaya ini dilakukan melalui pengamatan kondisi atmosfer, penyemaian bahan tertentu, serta koordinasi dengan petugas pemadam di darat dan satuan tugas udara. Langkah tersebut diharapkan mampu membantu mengurangi dampak kebakaran, menekan konsentrasi asap, dan mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen mengoptimalkan berbagai langkah penanganan karhutla dengan menggabungkan upaya dari darat dan udara. Sinergi antarpihak dinilai penting agar pengendalian kebakaran dapat berjalan lebih efektif dan menjangkau wilayah yang membutuhkan penanganan.
“Pemerintah akan terus berupaya hadir secara maksimal melalui berbagai langkah, baik dari darat maupun udara. Kami akan mengerahkan kemampuan yang ada untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan agar tantangan ini dapat diatasi bersama,” kata Raja Juli Antoni.
Ia menambahkan, pelaksanaan OMC dilakukan dengan memantau keberadaan awan yang berpotensi disemai. Operasi tersebut melengkapi upaya pemadaman langsung melalui pengerahan personel dan peralatan di lapangan. Pemerintah berharap kombinasi penanganan tersebut dapat membantu mengurangi dampak karhutla sekaligus mendukung pemulihan lingkungan.
Sementara itu, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan, Thomas Nifinluri menjelaskan bahwa OMC memanfaatkan dry ice atau es kering untuk memengaruhi kondisi atmosfer, terutama membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi yang dapat menyebabkan asap terperangkap di dekat permukaan.
“Pada situasi tertentu, lapisan inversi membuat asap karhutla tertahan di sekitar permukaan tanah. Penggunaan dry ice dalam OMC ditujukan untuk membantu melemahkan lapisan tersebut sehingga sirkulasi udara membaik dan konsentrasi asap diharapkan menurun,” terang Thomas.
Pada pelaksanaan awal, satu penerbangan menyemai 800 kilogram dry ice di sekitar Palembang. Operasi selanjutnya direncanakan melalui dua penerbangan dengan menyesuaikan kondisi cuaca. Pemantauan menunjukkan jarak pandang di Palembang membaik dibandingkan sebelumnya, meskipun perkembangan atmosfer tetap dievaluasi.
“Jika lapisan inversi masih kuat, kami menggunakan dry ice untuk membantu mengganggu kestabilannya. Ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan, penyemaian dapat menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl). Setiap penerbangan ditentukan berdasarkan hasil pemantauan cuaca,” pungkasnya. (*)