Penanganan Karhutla Diperkuat lewat Kelembagaan dan Anggaran

Jakarta – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat melalui penguatan kelembagaan dan dukungan anggaran hingga tingkat daerah. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan upaya pencegahan, pengamanan kawasan, dan penanggulangan karhutla berjalan efektif sesuai karakteristik wilayah. Anggota Komisi IV DPR RI, Darori Wonodipuro, mengatakan penguatan kelembagaan diperlukan agar pengamanan hutan dapat menjangkau…

Read More

Penanganan Karhutla Diperkuat lewat Deteksi Dini dan Patroli

JAKARTA – Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat melalui deteksi dini, patroli lapangan, pemantauan berbasis teknologi, serta peningkatan kesiapan personel dan sarana pemadaman. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi selama musim kemarau. Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pekalongan Timur melalui Bagian Kesatuan…

Read More

Penanganan Karhutla Melalui Komando Terpadu dari Pusat hingga Daerah

Oleh : Dian Amanda Sasmi )* Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut, terus diperkuat pemerintah melalui pola komando terpadu dari tingkat pusat hingga daerah. Strategi ini menggabungkan pencegahan, deteksi dini, pemadaman darat dan udara, operasi modifikasi cuaca (OMC), hingga pelibatan masyarakat dan pemegang izin.  Langkah terpadu tersebut menjadi penting karena lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kawasan biasa. Api dapat merambat di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi lahan masih kering. Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya dilakukan dengan membasahi titik api, tetapi juga harus menjaga kelembapan gambut dan memastikan sumber api benar-benar terkendali.  Pemerintah memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga bersama pemerintah daerah di wilayah prioritas. BNPB, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, TNI, Polri, BMKG, BPBD, Manggala Agni, hingga masyarakat bergerak dalam satu pola penanganan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan.  Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menekankan bahwa pengendalian karhutla perlu mengutamakan pencegahan dini dan pembenahan tata kelola dalam jangka panjang. Menurutnya, kesiapan personel, peralatan, pemantauan tinggi muka air tanah, serta pengelolaan kawasan gambut harus dilakukan sejak sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih besar.  Pendekatan tersebut terlihat dari penguatan pengawasan terhadap kawasan rawan, termasuk areal yang dikelola pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Pemerintah mendorong setiap pengelola kawasan memastikan sarana pemadaman, regu pengendalian kebakaran, patroli, serta sistem pemantauan berada dalam kondisi siap digunakan.  Di tingkat operasional, komando terpadu juga menghubungkan kekuatan udara dan darat. Pemerintah mengerahkan helikopter untuk water bombing sekaligus memperkuat pasukan pemadam di lokasi. Hingga September 2026, pemerintah menyebut 64 pesawat telah digunakan untuk mendukung penanganan karhutla sejak Agustus, terdiri atas 55 pesawat BNPB dan sembilan pesawat TNI.  Sementara, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto menilai sinergi antara operasi darat dan udara menjadi bagian penting dalam menghadapi karakter kebakaran gambut. Menurutnya, operasi udara seperti water bombing dan OMC perlu berjalan bersama pengerahan Satgas Darat agar titik api dapat ditangani secara lebih cepat dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.  Pola tersebut telah diterapkan di sejumlah provinsi prioritas seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di wilayah-wilayah tersebut, posko menjadi pusat koordinasi untuk menghubungkan informasi dari lapangan dengan keputusan operasional, termasuk menentukan kebutuhan personel, peralatan, armada udara, dan dukungan pemerintah daerah.  Selain pemadaman, strategi pembasahan gambut juga menjadi perhatian. Operasi Modifikasi Cuaca dilaksanakan untuk meningkatkan peluang hujan dan membantu menjaga kelembapan lahan. BMKG mencatat sejumlah pelaksanaan OMC pada 2026 memang diarahkan untuk pembasahan gambut dan penanganan karhutla, antara lain di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Aceh.  Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Dasrul Chaniago menjelaskan bahwa OMC memiliki fungsi pendukung dalam penanganan karhutla, terutama untuk membantu pembasahan lahan gambut. Dengan kondisi gambut yang lebih basah, upaya pemadaman di darat dapat dilakukan secara lebih efektif sekaligus mengurangi risiko api kembali muncul.  Komando terpadu juga diperkuat dengan keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat. Personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan, serta unsur pelaku usaha ditempatkan sesuai kebutuhan wilayah. Pola ini membuat penanganan tidak hanya bergantung pada pemerintah pusat, tetapi dapat bergerak langsung berdasarkan kondisi aktual di daerah.  Pada September 2026, BNPB juga memperkuat koordinasi terpadu lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, terutama di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Langkah tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan operasi darurat sekaligus menangani dampak karhutla terhadap masyarakat.  Ke depan, pengendalian karhutla gambut membutuhkan kesinambungan antara pencegahan dan pemadaman. Pemantauan titik panas, patroli, pengelolaan tata air gambut, kesiapan sarana pemadam, edukasi masyarakat, hingga penegakan aturan perlu berjalan dalam satu rangkaian.  Dengan komando yang terintegrasi dari pusat hingga daerah, pemerintah memiliki mekanisme untuk menggerakkan sumber daya secara lebih cepat ketika risiko meningkat. Pendekatan ini sekaligus menempatkan perlindungan masyarakat, kualitas udara, dan keberlanjutan ekosistem gambut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan karhutla.  Penguatan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan daerah juga menjadi bagian penting untuk menekan potensi kebakaran sejak tahap awal. Dengan dukungan data cuaca, pemantauan kondisi lahan, serta respons cepat terhadap indikasi kebakaran, penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar. Konsistensi langkah tersebut diharapkan memperkuat ketahanan wilayah rawan sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan, aktivitas ekonomi, dan lingkungan akibat karhutla.  Selain penguatan operasi di lapangan, keterlibatan masyarakat di kawasan rawan juga perlu terus diperluas sebagai bagian dari strategi pencegahan jangka panjang. Masyarakat dapat menjadi unsur terdepan dalam mendeteksi titik api, menjaga lahan dari praktik pembakaran, serta menyampaikan informasi secara cepat kepada aparat dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut penting agar pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada respons ketika kebakaran terjadi, tetapi semakin bertumpu pada pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan.  )* Penulis merupakan pengamat kebijakan dalam negeri 

Read More

Mengawal Penguatan Satgas Darat dan Udara Dalam Penanganan Karhutla Gambut

Oleh: Ricky Rinaldi )* Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada ekosistem gambut, membutuhkan penanganan yang terintegrasi karena karakteristik lahannya berbeda dengan kawasan hutan mineral. Gambut memiliki kandungan bahan organik tinggi dan dapat menyimpan panas di bawah permukaan tanah. Karena itu, upaya penanganan tidak hanya diarahkan pada pemadaman api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan bara di dalam tanah dapat dikendalikan sehingga tidak kembali berkembang. Dalam menghadapi tantangan tersebut, penguatan koordinasi antara satuan tugas (satgas) darat dan udara menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan pemerintah menghadapi musim kemarau.  Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat patroli, pengawasan, serta kesiapsiagaan personel dan peralatan di wilayah yang memiliki potensi karhutla, termasuk kawasan gambut di Sumatra dan Kalimantan. Langkah pencegahan dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain pemeliharaan sekat kanal, pengelolaan tata air gambut, pemantauan tinggi muka air tanah, serta pembangunan dan optimalisasi embung. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga kelembapan gambut sehingga kondisi lahan lebih mampu menghadapi periode kering.  Pengelolaan tata air menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pencegahan. Kondisi gambut yang tetap terjaga kelembapannya dapat mengurangi risiko api berkembang dengan cepat. Karena itu, kolaborasi pemerintah dengan pemegang izin kehutanan dan perkebunan, pemerintah daerah, serta masyarakat di sekitar kawasan rawan menjadi bagian dari pendekatan terpadu. Pencegahan tidak hanya dilakukan ketika titik api muncul, tetapi dimulai dari kesiapan infrastruktur dan pemantauan kondisi lahan.  Kementerian Kehutanan juga memperkuat koordinasi personel Manggala Agni dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya. Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan pemantauan titik panas memberikan dukungan penting bagi proses deteksi dini. Informasi mengenai indikasi panas dapat menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan prioritas patroli dan mengerahkan sumber daya secara lebih cepat ke wilayah yang membutuhkan penanganan.  Pada tingkat tapak, keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam sistem pencegahan. Desa-desa di sekitar kawasan gambut memiliki posisi strategis karena masyarakat merupakan pihak yang beraktivitas secara langsung di wilayah tersebut. Edukasi mengenai pembukaan lahan tanpa bakar, penguatan kelompok masyarakat peduli api, serta penyediaan peralatan pemadaman dapat meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan respons awal. Dengan deteksi dan penanganan sejak dini, potensi api untuk berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dapat ditekan.  Penguatan unsur darat kemudian dilengkapi dengan operasi udara. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto menekankan pentingnya keterpaduan operasi darat dan udara dalam penanganan karhutla. Helikopter pemantau dan armada water bombing dapat digunakan untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat. Kehadiran dukungan udara memungkinkan proses pemadaman dilakukan lebih cepat, khususnya ketika lokasi kebakaran berada di wilayah terpencil atau memiliki kondisi medan yang kompleks.  Operasi udara juga memiliki fungsi strategis dalam mendukung upaya pencegahan. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), ketika kondisi atmosfer memungkinkan, dapat digunakan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran. Koordinasi dengan BMKG dan TNI Angkatan Udara menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi periode kering. Pendekatan berbasis teknologi tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan karhutla semakin membutuhkan kombinasi antara kemampuan personel di lapangan dan pemanfaatan informasi ilmiah.  Keterhubungan informasi antara unsur udara dan darat juga menjadi faktor penting. Data lokasi titik panas, hasil pemantauan udara, serta informasi kondisi lapangan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan secara lebih cepat. Setelah operasi udara dilakukan, personel di darat dapat melanjutkan proses pendinginan dan memastikan area yang telah dipadamkan tidak kembali memunculkan bara. Dengan demikian, pemadaman dapat dilakukan secara berlapis, mulai dari deteksi, respons udara, pemadaman darat, hingga pemantauan pascakebakaran.  Kesiapan logistik turut menentukan efektivitas operasi. Ketersediaan pompa air, selang, perlengkapan keselamatan, kendaraan operasional, serta dukungan bahan bakar bagi armada udara perlu dipastikan berada dalam kondisi siap digunakan. Penguatan posko dan distribusi peralatan ke wilayah prioritas memungkinkan personel bekerja lebih cepat ketika terjadi peningkatan aktivitas kebakaran.  Pada akhirnya, penguatan satgas darat dan udara menunjukkan pentingnya pendekatan terpadu dalam menjaga ekosistem gambut Indonesia. Pencegahan berbasis tata kelola lahan, pemantauan teknologi, pemberdayaan masyarakat, operasi udara, serta respons cepat di lapangan merupakan rangkaian yang saling melengkapi. Konsistensi koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, pengelola kawasan, dan masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga lingkungan sekaligus melindungi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.  Dengan kesiapsiagaan yang terus diperkuat, penanganan karhutla dapat dilakukan secara semakin terencana, cepat, dan berbasis data. Perlindungan kawasan gambut bukan hanya berkaitan dengan pengendalian kebakaran, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan, keberlanjutan sumber daya alam, serta keselamatan masyarakat. Komitmen bersama dan respons yang terkoordinasi menjadi fondasi penting untuk menjaga kawasan gambut Indonesia tetap berfungsi sebagai bagian dari ekosistem yang bernilai strategis bagi generasi sekarang dan mendatang.  *)Penulis merupakan Pengamat Isu Strategis 

Read More

Pemerintah Pastikan Guru PPPK Penuh Waktu 2027 Diproses Bertahap Tanpa Tes Ulang

Jakarta — NPemerintah memastikan guru yang saat ini berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu akan dialihkan menjadi PPPK penuh waktu mulai 2027. Proses pengalihan dilakukan secara bertahap dan tidak melalui tes. Pemerintah menargetkan sekitar 242 ribu guru PPPK paruh waktu masuk dalam proses pengalihan tersebut. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memberikan…

Read More

Guru PPPK Paruh Waktu 2027 Diangkat Penuh Waktu Tanpa Seleksi Ulang

Jakarta – Pemerintah memastikan mekanisme pengalihan status bagi guru yang saat ini berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu mulai Januari 2027. Kebijakan tersebut dilakukan tanpa tes atau seleksi ulang dan telah dibahas bersama DPR. Pemerintah daerah juga tengah melakukan pendataan sebagai bagian dari persiapan perubahan status tersebut. Menteri…

Read More

Guru PPPK Penuh Waktu 2027 Menjadi Wujud Nyata Komitmen Pemerintah untuk Pendidikan

Oleh: Maya Rahmawati )* Kebijakan pengalihan status guru PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu mulai 2027 menjadi langkah penting dalam memperkuat fondasi pendidikan nasional. Pemerintah tidak hanya berbicara mengenai peningkatan kualitas pembelajaran, tetapi juga mulai menata persoalan mendasar yang selama bertahun-tahun membayangi tenaga pendidik, yakni kepastian status, karier, dan penghasilan. Skema pengalihan tersebut dilakukan secara bertahap tanpa mewajibkan guru mengikuti tes ulang, sehingga memberikan jalan yang lebih jelas bagi tenaga pendidik yang sebelumnya berada dalam status non-ASN. Kebijakan ini menunjukkan bahwa reformasi pendidikan harus berjalan beriringan dengan pembenahan kesejahteraan mereka yang berada di garis depan proses pembelajaran. Dengan kepastian yang lebih kuat, guru memiliki ruang lebih besar untuk berkonsentrasi meningkatkan mutu pendidikan.  Lebih jauh, persoalan status kepegawaian guru tidak dapat dipisahkan dari kualitas layanan pendidikan. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan pekerjaan dan pendapatan berpotensi menguras energi yang seharusnya diarahkan untuk merancang pembelajaran, membimbing peserta didik, serta mengembangkan kompetensi profesional. Karena itu, kepastian karier bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah melalui kebijakan ini berupaya membangun ekosistem pendidikan yang menempatkan guru sebagai profesi yang memiliki jalur pengembangan jelas dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut penting agar agenda peningkatan mutu pendidikan tidak berhenti pada perubahan kurikulum atau penyediaan sarana, tetapi juga menyentuh aktor utama di dalam ruang kelas.  Sejalan dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pemerintah memperkuat kebijakan peningkatan kesejahteraan, kepastian karier, dan pengembangan kompetensi guru. Kejelasan keberlanjutan status dan karier mulai 2027 menjadi bagian dari upaya memberikan kepastian kepada guru non-ASN yang selama ini menghadapi ketidakjelasan mengenai masa depan profesinya. Pengalihan PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu tanpa melalui tes juga memperlihatkan adanya pendekatan penataan yang mempertimbangkan keberlanjutan pengabdian para pendidik. Kepastian tersebut diharapkan mencakup status kepegawaian, kesinambungan karier, dan penghasilan. Dengan demikian, kebijakan ini memiliki dimensi sosial sekaligus strategis karena menyentuh kesejahteraan guru sekaligus keberlanjutan pelayanan pendidikan.  Selain kesejahteraan, pengembangan kompetensi harus tetap menjadi bagian utama dari proses penataan tersebut. Kepastian status seharusnya menjadi fondasi bagi guru untuk meningkatkan kapasitas pedagogik, profesional, sosial, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi pendidikan. Guru yang memperoleh kepastian karier memiliki insentif yang lebih kuat untuk terus belajar, mengikuti pelatihan, mengembangkan metode pembelajaran, serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik. Dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas tersebut akan berkontribusi terhadap kualitas lulusan dan daya saing sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, kebijakan PPPK penuh waktu perlu dipandang sebagai pintu masuk menuju ekosistem profesi guru yang lebih profesional, bukan semata penyelesaian persoalan status kepegawaian.  Selanjutnya, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani menempatkan jaminan status hukum dan keberlanjutan profesi sebagai unsur vital agar pendidik dapat mencurahkan perhatian penuh pada proses belajar-mengajar. Pandangan tersebut menegaskan bahwa kebijakan kepegawaian memiliki konsekuensi langsung terhadap kualitas layanan pendidikan. Pemerintah juga terus diarahkan untuk menghadirkan solusi menyeluruh yang mencakup kesejahteraan, kepastian karier, serta kesempatan peningkatan kompetensi guru. Kebijakan ini sekaligus menjawab kekhawatiran mengenai keberlanjutan status PPPK paruh waktu dan posisi guru non-ASN dalam penataan tenaga pendidikan nasional. Dengan demikian, penyelesaian persoalan status guru harus berjalan bersamaan dengan pembangunan sistem pembinaan profesi yang konsisten.  Lebih dari itu, penataan tenaga honorer melalui skema PPPK penuh waktu perlu dipahami sebagai bagian dari reformasi birokrasi dan pengelolaan sumber daya manusia pemerintah. Penataan yang sistematis akan membantu pemerintah memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kebutuhan tenaga pendidik di setiap daerah, sekaligus memperkuat perencanaan formasi berdasarkan kebutuhan nyata. Hal ini penting karena distribusi guru di Indonesia masih menghadapi tantangan geografis, terutama di wilayah terpencil dan daerah dengan keterbatasan akses. Kepastian status harus diikuti dengan kebijakan distribusi dan pengembangan karier yang mampu mendorong keberadaan guru berkualitas di berbagai wilayah. Dengan cara tersebut, kebijakan kepegawaian dapat sekaligus menjadi instrumen pemerataan pendidikan.  Pada saat yang sama, keberhasilan kebijakan ini membutuhkan implementasi yang transparan, terukur, dan konsisten. Pemerintah perlu memastikan proses pengalihan status berjalan sesuai ketentuan, disertai komunikasi publik yang jelas agar guru memahami tahapan, hak, serta kewajiban yang melekat pada status baru. Pengawasan juga diperlukan untuk memastikan tidak terjadi kesenjangan pelaksanaan antardaerah yang dapat kembali menimbulkan ketidakpastian. Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat agar kebutuhan guru dan pengelolaan formasi dapat diselaraskan dengan kondisi sekolah. Konsistensi implementasi menjadi kunci agar kebijakan yang dirancang sebagai solusi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para pendidik. Jika dilaksanakan secara konsisten dan berkeadilan, kebijakan ini dapat menjadi fondasi bagi terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih profesional, stabil, dan adaptif. Pada akhirnya, memastikan masa depan guru berarti sekaligus memperkuat masa depan pendidikan dan kualitas generasi Indonesia.  *) Peneliti Kebijakan Publik 

Read More

Negara Menghargai Pengabdian Pendidik, Guru PPPK Jadi Penuh Waktu 2027 Tanpa Tes

Oleh: Antonius Utomo )*  Pemerintah kembali menunjukkan komitmen untuk memberikan kepastian bagi para pendidik yang selama ini mengabdikan diri di sekolah melalui kebijakan pengalihan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu mulai 2027. Kebijakan tersebut menjadi kabar positif bagi para guru yang selama ini menjalankan tugas pendidikan dengan penuh dedikasi, sekaligus memperkuat perhatian negara terhadap kesejahteraan dan keberlanjutan karier tenaga pendidik.  Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa peralihan status guru PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu tidak dilakukan melalui tes atau seleksi ulang. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nunuk Suryani menjelaskan bahwa guru PPPK paruh waktu sebelumnya telah melewati rangkaian seleksi untuk menjadi PPPK. Karena itu, perubahan status menuju PPPK penuh waktu merupakan proses peralihan status, bukan proses pengadaan pegawai baru. Pemerintah merencanakan pelaksanaan kebijakan tersebut mulai Januari 2027.  Kepastian tersebut penting karena status kepegawaian memiliki kaitan erat dengan rasa aman dan keberlanjutan pengabdian seorang guru. Selama menjalankan tugas di ruang kelas, guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, mendampingi perkembangan peserta didik, serta menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan di berbagai daerah. Dengan adanya kejelasan mengenai arah status kepegawaian, para guru dapat lebih fokus menjalankan tugas utamanya untuk mendidik dan memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.  Kebijakan ini juga menunjukkan bahwa pemerintah memperhitungkan proses yang telah dilalui para guru PPPK paruh waktu. Mereka bukan tenaga yang baru memasuki sistem, melainkan guru yang sebelumnya telah mengikuti proses seleksi dan kemudian menjalankan tanggung jawab sebagai pendidik. Karena itu, pengalihan status tanpa tes ulang dapat dipahami sebagai bentuk kesinambungan dari proses yang telah mereka jalani sebelumnya.   Selain memberikan kepastian status, pemerintah juga menyiapkan dukungan pembiayaan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa mulai 2027 seluruh guru PPPK paruh waktu akan menjadi PPPK penuh waktu dengan tunjangan yang dibayarkan oleh pemerintah pusat. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari rangkaian langkah pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru sekaligus memperkuat kualitas layanan pendidikan nasional.  Data yang disampaikan Kemendikdasmen sebelumnya menunjukkan bahwa pada Agustus 2026, pemerintah mencatat terdapat 908.617 guru berstatus PPPK, termasuk 231.246 guru PPPK paruh waktu berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Angka tersebut menggambarkan besarnya kontribusi tenaga PPPK dalam menopang keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di berbagai satuan pendidikan.  Perhatian terhadap kesejahteraan guru juga berjalan bersamaan dengan upaya meningkatkan kompetensi. Kemendikdasmen mencatat sepanjang semester pertama 2026 penyaluran Tunjangan Profesi Guru mencapai Rp37,9 triliun untuk 1,68 juta guru. Pemerintah juga menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi, mulai dari pembelajaran mendalam, koding dan kecerdasan artifisial, STEM, pendidikan inklusif hingga peningkatan kompetensi guru bimbingan dan konseling. Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan pendidikan tidak hanya diarahkan pada aspek kesejahteraan, tetapi juga pada peningkatan kapasitas profesional para pendidik.  Pada saat yang sama, pemerintah memberikan ruang berbeda bagi guru non-ASN yang belum berstatus PPPK. Menteri Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa guru non-ASN tetap diberikan kesempatan mengikuti seleksi untuk menjadi PNS atau PPPK sesuai ketentuan yang berlaku. Artinya, kebijakan pemerintah mencakup beberapa jalur penataan tenaga pendidik, dengan mekanisme yang disesuaikan berdasarkan status masing-masing guru.  Kepala BKPSDM Provinsi Gorontalo Budiyanto Sidiki di Gorontalo mengatakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu dari kalangan guru akan beralih menjadi PPPK penuh waktu tanpa mengikuti tes kembali, perubahan status tersebut merupakan kebijakan pemerintah pusat yang saat ini masih dalam tahap persiapan pelaksanaan.  Dengan demikian, tahun 2027 menjadi momentum penting dalam penataan karier guru di Indonesia. Bagi guru PPPK paruh waktu, terdapat kepastian mengenai arah peralihan menuju PPPK penuh waktu tanpa harus mengulang tes. Bagi guru non-ASN, tetap tersedia kesempatan mengikuti seleksi sesuai persyaratan dan formasi yang ditetapkan. Pemerintah juga terus mendorong peningkatan kompetensi agar kebijakan peningkatan kesejahteraan berjalan seiring dengan peningkatan mutu pendidikan.  Kebijakan tersebut tidak hanya berbicara mengenai perubahan status kepegawaian. Di baliknya terdapat penghargaan terhadap pengabdian para guru yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak-anak Indonesia. Kepastian status, dukungan kesejahteraan, serta kesempatan pengembangan kompetensi diharapkan dapat menciptakan suasana kerja yang semakin kondusif bagi guru.  Dengan guru yang memperoleh kepastian untuk melanjutkan pengabdiannya, sekolah memiliki fondasi yang semakin kuat untuk memberikan layanan pendidikan yang berkelanjutan. Negara hadir bukan hanya melalui kebijakan administratif, tetapi juga melalui upaya memastikan para pendidik dapat menjalankan tugas dengan lebih tenang, profesional, dan berorientasi pada masa depan peserta didik. Tahun 2027 pun diharapkan menjadi babak baru bagi guru PPPK paruh waktu untuk melanjutkan pengabdian dalam status penuh waktu, sekaligus menjadi bagian dari langkah lebih luas pemerintah dalam membangun pendidikan Indonesia yang semakin berkualitas.  )* Pengamat Kebijakan Publik 

Read More

Kepala Daerah Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi

JAKARTA — Pemerintah tengah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seiring perubahan pola musim hujan 2026-2027. Kepala daerah didorong meningkatkan koordinasi dengan lembaga terkait dan memastikan informasi cuaca menjadi dasar dalam menyusun langkah antisipasi di wilayah masing-masing. “Kita khawatirkan saat ini karena sifat hujannya untuk musim hujan 2026-2027 ini adalah normal, tapi durasinya lebih pendek….

Read More

Bencana Cuaca Ekstrem Mengintai, Pusat dan Daerah Siapkan Langkah Cepat

Jakarta — Pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa meskipun kondisi kering masih dominan di berbagai daerah, dinamika atmosfer tetap dapat memicu hujan lebat hingga ekstrem secara lokal, disertai petir dan angin kencang. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan…

Read More
Back To Top