Kedaulatan Pangan Didorong melalui Produksi, Teknologi, dan Kesejahteraan Petani

Jakarta – Pemerintah menunjukkan komitmen memperkuat kedaulatan pangan dengan mendorong peningkatan produksi sekaligus menjaga kesejahteraan petani melalui berbagai akselerasi di sektor pertanian, termasuk pemanfaatan teknologi. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mengatakan tantangan mewujudkan kedaulatan pangan ke depan tidak ringan. Karena itu, pemerintah mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kapasitas produksi, membuka lahan…

Read More

Kedaulatan Pangan Menjawab Tantangan dari Sawah sampai Dapur Rakyat

Oleh : Maulana Fikri )* Kedaulatan pangan menjadi kebutuhan penting bagi Indonesia di tengah perubahan iklim, gejolak ekonomi global, serta perubahan harga komoditas pangan. Pangan tidak hanya berbicara mengenai tersedianya beras, jagung, telur, daging, sayur, dan kebutuhan pokok lainnya, tetapi juga menyangkut kemampuan negara memenuhi kebutuhan masyarakat dari produksi dalam negeri. Pemerintah menempatkan penguatan produksi pangan, perlindungan petani, stabilitas harga, hingga kelancaran distribusi sebagai satu rangkaian yang saling berkaitan. Presiden Prabowo Subianto bahkan menegaskan bahwa pangan merupakan persoalan hidup dan keberlangsungan sebuah bangsa.  Kedaulatan pangan pada dasarnya dimulai dari sawah dan lahan pertanian. Ketika petani memperoleh pupuk dengan harga terjangkau, ketersediaan air terjamin, benih berkualitas tersedia, serta hasil panen mendapat harga yang layak, maka fondasi pangan nasional menjadi lebih kuat. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kemandirian pangan merupakan salah satu benteng untuk melindungi masyarakat dari gejolak global. Menurutnya, pemerintah terus memperkuat swasembada pangan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya memperkokoh kedaulatan bangsa. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa petani tidak hanya ditempatkan sebagai produsen, tetapi sebagai bagian penting dari kekuatan ekonomi dan ketahanan nasional.   Langkah memperkuat petani juga dilakukan melalui berbagai kebijakan dari sisi produksi. Kementerian Pertanian mendorong penyediaan pupuk, pompanisasi, mekanisasi, perluasan areal tanam, serta peningkatan produktivitas lahan. Di sejumlah daerah, percepatan tanam dilakukan untuk menghadapi ancaman kekeringan dan perubahan pola musim. Di Jawa Barat misalnya, luas tambah tanam padi pada Oktober 2025 hingga Mei 2026 mencapai 1,53 juta hektare, sementara produksi beras periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 3,45 juta ton. Plh. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Irham Waroihan menyebut capaian tersebut menunjukkan kinerja pertanian Jawa Barat bergerak positif, namun kerja bersama tetap diperlukan agar swasembada pangan dapat berlangsung secara berkelanjutan.   Dari sisi cadangan, pemerintah juga berupaya memastikan hasil produksi petani tidak berhenti di tingkat sawah. Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan Bulog berkomitmen menjaga kedaulatan dan swasembada pangan melalui penguatan cadangan beras pemerintah, penyerapan gabah petani, serta stabilisasi pasokan dan harga pangan nasional. Peran tersebut menjadi penting karena hasil panen harus memiliki jalur penyerapan yang jelas agar petani mendapatkan kepastian pasar. Pada saat yang sama, cadangan pangan pemerintah dapat digunakan untuk menjaga ketersediaan ketika terjadi gangguan produksi maupun kenaikan permintaan. Dengan demikian, hubungan antara petani, Bulog, pasar, dan masyarakat menjadi bagian dari satu rantai pangan yang tidak dapat dipisahkan  Tantangan berikutnya adalah memastikan pangan yang tersedia dapat sampai ke meja makan masyarakat dengan harga yang terjangkau. Produksi yang tinggi belum cukup apabila distribusi tersendat atau harga di tingkat konsumen terlalu mahal. Badan Pangan Nasional mencatat sebagian besar kebutuhan komoditas pangan strategis telah dipenuhi dari produksi dalam negeri, sementara penguatan distribusi terus dilakukan agar pasokan dapat bergerak dari daerah surplus menuju daerah yang membutuhkan. Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa peningkatan produksi harus diikuti tata kelola distribusi yang kuat. Pemerintah juga memperkuat Gerakan Pangan Murah dan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan untuk menjaga daya beli masyarakat.  Konsep dari sawah sampai dapur rakyat juga membutuhkan keterlibatan sektor hilir. Petani membutuhkan pasar yang pasti, sementara masyarakat membutuhkan pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau. Salah satu upaya yang terus diperkuat adalah menghubungkan produksi petani dan peternak dengan kebutuhan program pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis. Bapanas menyebut kerja sama dengan koperasi dan asosiasi peternak rakyat dilakukan untuk memasok telur dan daging ayam kepada dapur mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Pola seperti ini dapat menciptakan pasar yang lebih pasti bagi produsen sekaligus memperluas manfaat ekonomi program pangan hingga ke tingkat masyarakat.   Kedaulatan pangan juga membutuhkan teknologi dan inovasi agar sektor pertanian mampu menghadapi tantangan masa depan. Presiden Direktur Syngenta Indonesia Eryanto mengatakan bahwa mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani membutuhkan kolaborasi antara kebijakan, riset, inovasi, industri, dan kebutuhan nyata petani di lapangan. Menurutnya, inovasi harus dimulai dari kebutuhan petani sehingga teknologi yang dikembangkan benar-benar memberikan manfaat. Pendekatan tersebut penting karena persoalan pertanian setiap daerah tidak selalu sama. Kondisi tanah, air, cuaca, jenis komoditas, hingga kemampuan petani dalam menggunakan teknologi membutuhkan solusi yang sesuai dengan kondisi setempat.   Kedaulatan pangan bukan hanya tentang seberapa banyak beras yang dihasilkan dari sawah. Kedaulatan pangan adalah kemampuan memastikan petani dapat berproduksi dengan sejahtera, hasil panen terserap dengan harga yang layak, cadangan pangan tersedia, distribusi berjalan lancar, dan masyarakat memperoleh pangan yang cukup serta terjangkau. Rantai tersebut harus bergerak bersama mulai dari benih, lahan, pupuk, air, panen, penyimpanan, distribusi, pasar hingga dapur rakyat. Dengan memperkuat seluruh mata rantai tersebut, swasembada pangan tidak berhenti sebagai angka produksi, tetapi menjadi kekuatan nyata yang menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat kemandirian Indonesia menghadapi berbagai tekanan global.   *) Pemerhati sosial 

Read More

Kedaulatan Pangan: Bangsa Mampu Berdiri di Atas Produksi Sendiri 

Oleh :  Antonius Utomo )* Kedaulatan pangan semakin menunjukkan posisi penting sebagai salah satu fondasi kemandirian Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, serta dinamika rantai pasok pangan internasional, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri menjadi kekuatan strategis bagi sebuah bangsa. Perkembangan terbaru menunjukkan Indonesia terus memperkuat fondasi tersebut melalui peningkatan produksi pertanian, penguatan cadangan beras pemerintah, perlindungan petani, serta distribusi pangan yang semakin luas.  Salah satu perkembangan positif terlihat dari kondisi produksi padi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat luas panen padi pada Agustus 2026 mencapai 1,08 juta hektare dengan produksi Gabah Kering Giling sebesar 5,46 juta ton. Meskipun produksi Agustus mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kinerja sektor pertanian tetap menunjukkan kapasitas produksi yang kuat di tengah tantangan cuaca. Data tersebut memperlihatkan bahwa sektor pertanian nasional memiliki kemampuan untuk terus menopang kebutuhan pangan masyarakat.  Kekuatan produksi tersebut semakin berarti ketika diikuti dengan kemampuan negara membangun cadangan pangan. Badan Pangan Nasional pada awal Oktober 2026 menyampaikan bahwa stok beras pemerintah di Bulog telah mencapai sekitar 4,48 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 14,8 persen dibandingkan sekitar 3,9 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.   Penguatan cadangan pangan juga berjalan seiring dengan kebijakan stabilisasi harga. Pemerintah menambah penugasan kepada Bulog untuk menyalurkan 74,18 ribu ton beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa kedaulatan pangan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan pangan, tetapi juga mencakup kemampuan negara memastikan hasil produksi dapat hadir di tengah masyarakat dengan harga yang terjangkau.  Yang tidak kalah penting adalah bagaimana peningkatan produksi memberikan manfaat kepada petani. Data BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani pada September 2026 mencapai 131,11 atau meningkat 1,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi petani terus mengalami perbaikan. Pada saat yang sama, indeks harga yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang harus mereka bayarkan.   Perlindungan terhadap petani juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi nasional. Ketika harga gabah di tingkat petani berada pada tingkat yang menguntungkan, petani memiliki insentif yang lebih kuat untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produksi. Sebelumnya, Bapanas mencatat rata-rata harga gabah petani mencapai sekitar Rp7.000 per kilogram, melampaui harga pembelian pemerintah. Kondisi tersebut dinilai positif karena harga yang baik di tingkat petani dapat mendukung keberlanjutan produksi pangan nasional.  Kedaulatan pangan kemudian mendapatkan makna yang lebih luas melalui kemampuan pemerintah mendistribusikan hasil produksi kepada masyarakat. Hingga September 2026, penyaluran bantuan pangan beras mencapai 967,5 ribu ton atau sekitar 97 persen dari target periode Juli-September. Program tersebut kemudian dilanjutkan untuk periode Oktober-Desember dengan sasaran 33,24 juta penerima manfaat. Secara keseluruhan, bantuan pangan beras pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 2,6 juta ton, menjadi salah satu bentuk pemanfaatan cadangan pangan untuk menjaga daya beli sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah.  Tantangan tentu masih ada. BPS dan Bapanas mencatat kondisi kemarau yang lebih kering serta pengaruh El Niño dapat memengaruhi pasokan gabah pada sejumlah sentra produksi. Namun, kinerja luas panen sepanjang 2026 masih menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan periode El Niño 2023 dan 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan irigasi, teknologi pertanian, pengelolaan air, benih, serta berbagai intervensi pemerintah menjadi semakin penting untuk menjaga produktivitas ketika kondisi iklim tidak bersahabat.  Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan beras produksi petani Indonesia memperkuat stok penyaluran program bantuan pangan pemerintah bagi 33,24 juta penerima manfaat di berbagai daerah. Ia menilai besarnya alokasi bantuan pangan beras tahun ini juga menunjukkan semakin kuatnya dukungan produksi beras dalam negeri. Ia menilai besarnya alokasi bantuan pangan beras tahun ini juga menunjukkan semakin kuatnya dukungan produksi beras dalam negeri.   Kedaulatan pangan dengan demikian bukan sekadar persoalan apakah Indonesia mampu menghasilkan beras dalam jumlah besar. Kedaulatan pangan adalah kemampuan bangsa mengendalikan sumber produksi, melindungi petani, membangun cadangan strategis, menjaga distribusi, serta memastikan masyarakat memperoleh pangan secara cukup dan terjangkau. Semakin kuat sistem tersebut dibangun, semakin kecil ketergantungan Indonesia terhadap gejolak pasokan pangan global.  Perkembangan terbaru memperlihatkan arah yang semakin positif. Produksi domestik terus dijaga, cadangan pemerintah berada pada tingkat kuat, kesejahteraan petani menunjukkan perbaikan, dan bantuan pangan dapat disalurkan dalam skala besar. Seluruh capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian nasional. Dengan konsistensi kebijakan, inovasi pertanian, perlindungan terhadap petani, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, cita-cita menjadikan pangan sebagai salah satu pilar kemandirian bangsa semakin nyata.  )*Pengamat Kebijakan Publik 

Read More

Transaksi Koperasi Merah Putih Naik, Perputaran Uang Desa Makin Terlihat

JAKARTA – Aktivitas Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kota Madiun mulai menunjukkan perkembangan seiring meningkatnya transaksi di tingkat masyarakat. Hingga Agustus 2026, nilai transaksi dari 27 KDMP tercatat mencapai sekitar Rp2,3 miliar, meski pembangunan gerai permanen koperasi belum seluruhnya rampung. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disnaker KUKM)…

Read More

Koperasi Merah Putih Catat Transaksi Besar, Perputaran Usaha Desa Menguat

Jakarta – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mulai mencatatkan aktivitas ekonomi dalam skala besar seiring meluasnya jaringan koperasi di seluruh Indonesia. Perputaran uang dalam ekosistem Koperasi Merah Putih telah mencapai Rp207,77 miliar per hari, yang mencerminkan semakin aktifnya kegiatan usaha di tingkat desa dan kelurahan. Mengutip data Simkopdes, ekosistem KDKMP saat ini telah menjangkau 83.762…

Read More

Koperasi Merah Putih Bisa Menjadi Simpul Perputaran Transaksi Ekonomi Rakyat

Oleh: Ricky Rinaldi )* Gagasan mengenai demokrasi ekonomi yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kendali utama aktivitas produksi dan distribusi telah lama menjadi fondasi filosofis tata perekonomian Indonesia. Dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, sebuah prinsip kokoh yang menempatkan badan usaha koperasi sebagai pilar utama ekonomi nasional. Namun, di tengah gempuran korporasi skala besar, dominasi jaringan ritel modern, serta penetrasi platform komersial digital global, peran koperasi rakyat sering kali terpinggirkan menjadi sekadar entitas kelembagaan pelengkap.   Menjawab tantangan struktural tersebut, langkah strategis pemerintah dalam mendorong revitalisasi dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih menjadi terobosan konkret untuk mengembalikan koperasi ke khittah utamanya. Koperasi Merah Putih dirancang hadir sebagai simpul utama perputaran transaksi ekonomi rakyat di tingkat tapak, menghubungkan potensi produksi lokal dengan kepastian pasar nasional yang inklusif dan berkeadilan.  Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan pemerintah berkomitmen penuh mentransformasi kelembagaan koperasi dari pola konvensional menuju badan usaha modern yang akuntabel, profesional, dan berbasis teknologi digital. Penataan tata kelola, konsolidasi keanggotaan, serta penyediaan fasilitas pembiayaan khusus terus dipacu untuk memastikan Koperasi Merah Putih di setiap desa dan kecamatan memiliki daya saing tinggi. Kebijakan ini diarahkan untuk membangun ekosistem bisnis terpadu yang mampu menyerap produk-produk komoditas pertanian, perikanan, UMKM, dan kerajinan lokal, sekaligus memenuhi kebutuhan pokok warga desa dengan harga yang transparan dan terjangkau.  Koperasi Merah Putih diposisikan sebagai jangkar konsolidasi pasokan dan aggregator komoditas rakyat. Dengan mengonsolidasikan ribuan peternak, petani, dan perajin kecil ke dalam wadah koperasi terpadu, kekuatan tawar-menawar (bargaining power) ekonomi rakyat otomatis meningkat secara signifikan di hadapan pasar. Koperasi tidak lagi sekadar menjadi lembaga penyalur pinjaman mikro, melainkan bertindak sebagai pengelola rantai pasok yang memotong mata rantai perantara (tengkulak) yang selama ini mengambil porsi keuntungan paling besar dan membebani kesejahteraan para produsen skala kecil di pelosok daerah.  Menjadikan Koperasi Merah Putih sebagai simpul perputaran transaksi ekonomi rakyat merupakan wujud nyata pelaksanaan kedaulatan ekonomi di tingkat akar rumput. Selama ini, potensi perputaran uang di kawasan pedesaan kerap tersedot ke pusat-pusat kota besar akibat minimnya fasilitas penampungan dan pengolahan hasil produksi lokal secara mandiri. Ketika perputaran transaksi keuangan dapat ditahan dan dikelola di dalam kawasan desa melalui koperasi, nilai tambah ekonomi yang tercipta akan terdistribusi kembali kepada para anggota dalam bentuk Sisa Hasil Usaha (SHU), peningkatan kualitas layanan publik desa, serta pembukaan lapangan kerja baru bagi generasi muda daerah.  Langkah konsolidasi di sektor kelembagaan koperasi ini berjalan selaras dengan penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi motor penggerak ekonomi riil. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman mengatakan penguatan Koperasi Merah Putih merupakan mitra strategis utama dalam mendorong jutaan pelaku UMKM naik kelas secara masif. Menurutnya, sinergi antara Kementerian UMKM dan Kementerian Koperasi berfokus pada pendampingan legalitas usaha, standardisasi kualitas produk, kemasan berstandar ekspor, hingga penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Klaster yang dihubungkan langsung dengan ekosistem bisnis koperasi.  Maman memaparkan bahwa fasilitas layanan terpadu dan pendampingan lapangan terus diberikan guna memastikan para pelaku UMKM lokal yang bernaung di bawah Koperasi Merah Putih mendapatkan akses pasokan bahan baku dengan harga borongan (bulk buying) yang jauh lebih murah. Selain itu, jaringan Koperasi Merah Putih difungsikan sebagai offtaker atau pembeli siaga hasil produksi usaha mikro, sehingga para pelaku UMKM memiliki kepastian penjualan harian tanpa harus dipusingkan oleh gejolak fluktuasi harga pasar yang tidak menentu.  Kehadiran simpul transaksi Koperasi Merah Putih juga memegang peranan penting dalam menopang pelaksanaan berbagai program strategis nasional pemerintah, seperti penyediaan bahan pangan bergizi, distribusi pupuk bersubsidi yang tepat sasaran, serta stabilisasi harga bahan pokok di daerah rawan pangan. Ketika rantai distribusi logistik dikelola secara langsung oleh koperasi rakyat setempat, biaya transportasi dan marjin perdagangan dapat ditekan hingga ke titik optimal, sehingga ancaman laju inflasi daerah dapat diredam secara efektif.  Partisipasi aktif warga desa untuk bangga menggunakan dan bertransaksi melalui layanan Koperasi Merah Putih menjadi penentu keberlanjutan utama program ini. Budaya gotong royong yang selama ini menjadi warisan luhur bangsa ditransformasikan menjadi aksi ekonomi nyata, yaitu membeli dari koperasi milik bersama, mengolah potensi lokal bersama, dan menikmati kesejahteraan secara adil dan merata.  Penguatan Koperasi Merah Putih sebagai simpul perputaran transaksi ekonomi rakyat merupakan ikhtiar terarah, terukur, dan berwawasan masa depan dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Konsolidasi rantai pasok lokal yang tangguh, digitalisasi sistem transaksi, kepastian perlindungan UMKM, serta pemerataan nilai tambah di tingkat tapak adalah rangkaian pilar terpadu yang saling menguatkan.  *) Penulis merupakan Pengamat Isu Strategis 

Read More

Perputaran Transaksi Koperasi Merah Putih Membuka Harapan Baru bagi Ekonomi Desa

Oleh : Nofer Saputro )* Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai menunjukkan geliat sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput. Perputaran transaksi yang telah mencapai Rp207,77 miliar hingga 5 Oktober 2026 menjadi gambaran bahwa koperasi tidak sekadar dibentuk sebagai kelembagaan ekonomi, tetapi mulai bergerak menjalankan fungsi pelayanan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka ruang…

Read More

Pemerintah Tekankan Kualitas Bangunan dalam Program 3 Juta Rumah

Jakarta – Pemerintah terus mempercepat Program 3 Juta Rumah dengan menempatkan kualitas hunian dan kemudahan pembiayaan sebagai bagian penting dari pelaksanaannya. Program yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah rumah yang tersedia, tetapi juga memastikan hunian dibangun secara layak untuk masyarakat. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan…

Read More

Tiga Juta Rumah Berkualitas Dipastikan lewat Pengawasan Rumah Subsidi

Jakarta – Pemerintah terus memperkuat pengawasan terhadap pembangunan dan pemanfaatan rumah subsidi untuk memastikan Program 3 Juta Rumah tidak hanya mengejar jumlah unit, tetapi juga menghasilkan hunian yang layak, berkualitas, tepat sasaran, dan benar-benar dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan kualitas hunian menjadi perhatian utama pemerintah…

Read More

Kualitas Hunian Jadi Fokus Percepatan Program 3 Juta Rumah

Oleh: Prasetyo Mulya )* Percepatan Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto kini tidak hanya diarahkan untuk mengejar jumlah hunian, tetapi juga memastikan kualitas rumah yang diterima masyarakat benar-benar layak, aman, nyaman, dan sesuai standar. Fokus terhadap kualitas menjadi penting agar program perumahan rakyat tidak sekadar menghasilkan angka pembangunan yang…

Read More
Back To Top