Danantara Tunjukkan Kinerja Positif sebagai Mesin Investasi Strategis Negara

JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) saat ini tengah memfokuskan pengelolaan aset negara secara terintegrasi untuk mendorong investasi di sektor prioritas nasional. Upaya transformasi BUMN di sektor jasa keuangan ini mendapat respons dari Komisi XI DPR RI yang mencatat adanya hasil positif, terutama pada kinerja ekosistem Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan…

Read More

Danantara Buktikan Peran Besar dalam Mengelola Aset Negara

Oleh : Antonius Utomo )*Kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) semakin menunjukkan peran strategisnya dalam mengelola dan mengoptimalkan aset negara. Setelah melewati lebih dari satu tahun sejak mulai beroperasi, Danantara tidak lagi sekadar dipandang sebagai lembaga pengelola investasi, tetapi mulai tampil sebagai instrumen penting dalam mendorong produktivitas aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN)…

Read More

Kinerja Danantara Tunjukkan Peluang Jadi Pilar Baru Penguatan Ekonomi Nasional

Oleh : Deki Suryawan )* Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai menunjukkan posisi yang semakin strategis dalam peta perekonomian Indonesia. Lembaga yang dibentuk untuk mengoptimalkan pengelolaan aset negara tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan keuntungan investasi, tetapi juga menjadi instrumen dalam memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pengelolaan aset negara melalui Danantara harus dilakukan secara profesional agar mampu memberikan nilai tambah jangka panjang bagi bangsa.  Optimisme tersebut terlihat dari semakin luasnya agenda investasi Danantara, termasuk pengembangan sektor strategis yang memiliki dampak terhadap perekonomian dan penciptaan lapangan kerja. Dalam rencana kerja 2026, Danantara menempatkan investasi strategis, diversifikasi portofolio, penguatan kapasitas, serta penciptaan dampak ekonomi nasional sebagai bagian penting dari arah kebijakannya. CEO Danantara Rosan Roeslani menegaskan bahwa investasi harus mampu memberikan imbal hasil yang sehat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.   Peran tersebut menjadi semakin terlihat ketika Danantara mulai masuk ke berbagai proyek yang memiliki nilai ekonomi besar dan bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Salah satu perkembangan terbaru adalah kerja sama dengan perusahaan protein global JBS melalui Danantara Investment Management dengan nilai investasi sekitar 2,5 miliar dolar AS untuk mengembangkan bisnis protein di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru. Langkah ini memperlihatkan bagaimana Danantara berpeluang menjadi jembatan antara modal negara, investasi internasional, dan pengembangan sektor riil.   Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Karena itu, menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga investasi perlu terus diperkuat agar potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Danantara juga telah mempertemukan ratusan pejabat kementerian dan lembaga melalui Danantara Government Strategic Forum sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi kebijakan investasi dengan agenda pembangunan nasional.   Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan ekonomi nasional membutuhkan sinergi antara investasi dan optimalisasi aset yang sudah dimiliki negara. Danantara dapat berperan sebagai penghubung untuk memastikan modal negara tidak hanya tersimpan dalam bentuk aset, tetapi dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang memberikan dampak lebih luas. Melalui pengelolaan investasi yang terarah, penguatan BUMN, serta kolaborasi dengan sektor swasta, peluang menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok industri, dan meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia dapat semakin terbuka  Selain investasi baru, penguatan nilai aset BUMN menjadi bagian penting dari tugas Danantara. Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria menyampaikan bahwa BUMN perlu menjaga profitabilitas melalui tata kelola yang baik dan peningkatan efektivitas operasional sehingga modal serta aset yang dikelola dapat menghasilkan nilai tambah berkelanjutan bagi negara. Dengan pendekatan tersebut, Danantara diharapkan tidak sekadar menjadi pengelola aset, tetapi mampu mendorong perusahaan negara menjadi lebih produktif, efisien, dan kompetitif.   Optimalisasi aset tersebut pada akhirnya perlu diarahkan pada penciptaan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian nasional. Peningkatan kinerja BUMN tidak hanya akan memperkuat posisi perusahaan negara, tetapi juga dapat memberikan dampak berantai terhadap industri pendukung, pelaku usaha, tenaga kerja, hingga penerimaan negara. Karena itu, pengelolaan aset melalui Danantara perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek produktivitas, keberlanjutan, dan kepentingan ekonomi nasional, sehingga setiap keputusan investasi dapat memberikan nilai tambah yang nyata dalam jangka panjang  Presiden Prabowo juga melihat keberadaan Danantara sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia ketika dunia menghadapi berbagai ketidakpastian. Dalam peringatan satu tahun Danantara, Presiden menekankan pentingnya integritas, disiplin tata kelola, dan orientasi jangka panjang dalam mengelola aset negara agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Pesan tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan Danantara tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.   Namun, perjalanan Danantara tetap membutuhkan pengawasan dan evaluasi secara konsisten. Sejumlah pengamat menilai dampak langsung Danantara terhadap kinerja perusahaan BUMN masih perlu dibuktikan lebih jauh, meskipun kinerja sejumlah emiten BUMN pada semester I 2026 menunjukkan perbaikan. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap keterbukaan informasi mengenai pengelolaan aset juga menjadi perhatian publik karena transparansi dan akuntabilitas merupakan fondasi penting bagi lembaga yang mengelola kekayaan negara dalam skala besar.   Dengan modal aset negara yang besar, jaringan BUMN yang luas, serta peluang investasi di berbagai sektor strategis, Danantara memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi salah satu pilar baru penguatan ekonomi nasional. Keberhasilan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan lembaga ini menjaga tata kelola, memilih investasi yang produktif, mengendalikan risiko, dan memastikan manfaat investasi kembali kepada masyarakat dalam bentuk pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, penguatan industri, serta peningkatan penerimaan negara. Jika konsistensi tersebut dapat dijaga, kinerja Danantara berpotensi menjadi bagian penting dari strategi Indonesia membangun ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan mampu menghadapi perubahan global.  )* Penulis merupakan Pengamat Ekonomi. 

Read More

Presiden Prabowo Dorong Percepatan B50 dan Persiapan Mandatori Bioetanol

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional. Komitmen tersebut terlihat dalam pertemuan Presiden dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon A. Mantiri beberapa waktu lalu yang membahas perkembangan Program Mandatori Biodiesel 50 persen atau B50 serta kesiapan infrastruktur untuk penerapan mandatori bioetanol. Dalam…

Read More

B50 dan Bioetanol Disiapkan Pemerintah sebagai Pilar Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat ketahanan energi nasional melalui percepatan pengembangan bahan bakar nabati (BBN), khususnya Biodiesel B50 dan bioetanol. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan impor BBM sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya domestik sebagai fondasi menuju kemandirian energi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)…

Read More

Percepatan B50 dan Bioetanol, Langkah Berani Menuju Kedaulatan Energi 

Oleh : Abdul Razak )*  Pemerintah terus mempercepat agenda kemandirian energi nasional dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri. Program Mandatori B50, yakni pencampuran biodiesel sebesar 50 persen dengan solar, menjadi salah satu kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan kebutuhan impor energi. Bersamaan dengan itu, pemerintah mematangkan kesiapan infrastruktur dan pembiayaan untuk penerapan mandatori bioetanol yang direncanakan mulai 2027.  Perkembangan kedua program tersebut menjadi perhatian Presiden Prabowo dalam pertemuan dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri di kediaman Presiden di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu sore, 9 Agustus 2026. Pertemuan tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah memastikan agenda ketahanan energi berjalan secara terukur dan memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.  Dalam pertemuan itu, Simon melaporkan perkembangan Program Mandatori B50 yang telah diluncurkan Presiden Prabowo pada Juli 2026. Pertamina juga menyampaikan kesiapan infrastruktur untuk mendukung tahapan persiapan penerapan mandatori bioetanol.  Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa laporan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemandirian dan ketahanan energi melalui peningkatan pemanfaatan sumber energi domestik. Menurut Teddy, Direktur Utama Pertamina melaporkan kemajuan B50 sekaligus kesiapan infrastruktur untuk mendukung persiapan mandatori bioetanol.  Percepatan B50 menjadi strategis karena Indonesia memiliki basis bahan baku biodiesel yang kuat melalui industri kelapa sawit. Peningkatan penggunaan biodiesel domestik tidak hanya berpotensi mengurangi konsumsi solar berbasis fosil, tetapi juga meningkatkan penyerapan minyak sawit di dalam negeri.  Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat ketahanan energi dengan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Semakin besar pemanfaatan bahan bakar nabati domestik, semakin besar pula peluang Indonesia membangun sistem energi yang bertumpu pada kekuatan sumber daya nasional.  Implementasi B50 membutuhkan kesiapan menyeluruh, mulai dari ketersediaan bahan baku, fasilitas pencampuran, penyimpanan, distribusi, hingga pengawasan kualitas bahan bakar. Kesiapan tersebut menjadi faktor penting agar peningkatan kadar biodiesel dapat berjalan lancar dan memenuhi kebutuhan masyarakat maupun sektor industri.  Di sisi lain, pemerintah mulai menyiapkan tahapan menuju mandatori bioetanol. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah mematangkan skema pembiayaan agar kebijakan tersebut dapat diterapkan secara bertahap mulai 2027. Pemerintah berupaya menciptakan mekanisme pendanaan yang mampu menjaga harga bahan bakar tetap ekonomis sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.  Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pemerintah ingin menciptakan mekanisme harga yang ekonomis sekaligus memberikan pendapatan yang baik kepada petani. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bioetanol tidak hanya menjadi kebijakan energi, tetapi juga instrumen untuk memperkuat sektor pertanian dan menciptakan pasar baru bagi komoditas domestik.  Pemerintah juga menegaskan bahwa pengembangan bioetanol diarahkan untuk tidak bergantung pada impor bahan baku. Kapasitas industri dalam negeri perlu dibangun sehingga kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari produksi nasional. Langkah ini memperkuat arah kebijakan pemerintah untuk menjadikan sumber daya domestik sebagai fondasi energi masa depan.  Sejumlah komoditas seperti tebu, jagung, dan singkong berpotensi memperoleh nilai tambah melalui pengembangan industri bioetanol. Kepastian pasar dari sektor energi dapat mendorong produktivitas pertanian sekaligus menarik investasi pada sektor pengolahan. Dengan demikian, energi nabati dapat memperkuat keterhubungan antara petani, industri, dan sektor energi nasional.  Strategi tersebut semakin relevan ketika ketahanan energi ditempatkan sebagai kepentingan strategis nasional. Indonesia membutuhkan sumber energi yang berkelanjutan sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi di dalam negeri. B50 dan bioetanol berpotensi menjadi instrumen penting untuk mencapai tujuan tersebut sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional menghadapi dinamika energi global.  Selain membahas perkembangan sektor energi, Presiden Prabowo memberikan arahan mengenai pembenahan tata kelola perusahaan negara. Kepala Negara memerintahkan penyederhanaan struktur organisasi BUMN, termasuk pengurangan berbagai lapisan manajemen serta anak dan cucu perusahaan di Pertamina, PLN, dan BUMN lainnya.  Arahan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan agenda percepatan energi nasional. Pertamina dan BUMN energi lainnya memiliki posisi strategis dalam menjalankan kebijakan energi. Struktur organisasi yang lebih sederhana diharapkan memperpendek rantai birokrasi, mempercepat pelaksanaan kebijakan, serta meningkatkan kemampuan perusahaan dalam merespons kebutuhan energi.  Dengan demikian, pertemuan Presiden Prabowo dan jajaran Pertamina tidak hanya membahas perkembangan B50 dan kesiapan bioetanol, tetapi juga memperlihatkan upaya menyatukan agenda ketahanan energi dengan reformasi tata kelola BUMN. Pemerintah berupaya memastikan kebijakan energi didukung institusi yang efektif, efisien, dan mampu bergerak cepat.  Percepatan B50 dan mandatori bioetanol merupakan bagian dari langkah lebih besar menuju kedaulatan energi. Jika didukung ketersediaan bahan baku, infrastruktur, pembiayaan yang sehat, harga terjangkau, serta kepastian bagi petani dan industri, kebijakan tersebut dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional.  Pengembangan biodiesel dan bioetanol bukan hanya berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, tetapi juga memperkuat industri nasional, meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, membuka investasi, dan menciptakan lapangan kerja.  B50 dan bioetanol dengan demikian menjadi fondasi penting dalam perjalanan Indonesia membangun ketahanan sekaligus kedaulatan energi. Konsistensi pemerintah dalam mengoptimalkan sumber daya nasional menunjukkan bahwa agenda energi kini diarahkan tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kemampuan Indonesia berdiri di atas kekuatan sendiri.  )* Analis Kebijakan  

Read More

B50 dan Bioetanol Jadi Momentum Penguatan Energi Berbasis Produksi Nasional

Oleh: Dwi Saputri )*  Kebijakan pengembangan biodiesel B50 dan bioetanol berbahan baku komoditas lokal patut diapresiasi sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus meningkatkan nilai tambah produksi nasional. Penerapan mandatori B50 menjadi bukti bahwa Indonesia mulai serius mengoptimalkan kekuatan sumber daya dalam negeri untuk kebutuhan energi.   Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia menjadi negara pertama yang menerapkan mandatori biodiesel dengan campuran minyak FAME kelapa sawit sebesar 50 persen. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan sekadar pencapaian teknologi, tetapi bukti kemampuan Indonesia memanfaatkan kekayaan alam untuk kepentingan rakyat dan memperkuat kemandirian energi.  Langkah pemerintah tersebut layak mendapat apresiasi karena kebijakan B50 tidak berhenti pada aspek penggunaan bahan bakar, tetapi mendorong terbentuknya ekosistem energi berbasis produksi nasional. Pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus menggerakkan industri pengolahan, distribusi, transportasi, hingga sektor pendukung lainnya.  Implementasinya pun mulai menunjukkan perkembangan. Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon A. Mantiri melaporkan kemajuan Program Mandatori B50 serta kesiapan infrastruktur dalam tahapan persiapan mandatori bioetanol oleh pemerintah. PT Pertamina Patra Niaga sebelumnya telah menyalurkan 37,92 juta liter B50 pada tahap awal ke berbagai wilayah Indonesia melalui 29 dari 126 terminal Pertamina. Infrastruktur penyaluran juga telah disiapkan mulai dari Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) hingga SPBU dan APMS.  Selain biodiesel, pemerintah juga serius dalam pengembangan energi bioetanol. Bioetanol berpotensi menjadi bagian penting dari diversifikasi energi sekaligus memperluas pemanfaatan komoditas pertanian dalam negeri. Langkah tersebut mulai terlihat melalui kerjasama antara PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Pertamina Power Indonesia dalam pengembangan biofuel nasional sebagai bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan dan ketahanan energi yang menjadi salah satu prioritas pemerintah.  Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, menyatakan sinergi antarbadan usaha milik negara menjadi langkah penting untuk mempercepat pembangunan industri biofuel nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Agrinas Palma Nusantara berencana mengembangkan kawasan budidaya singkong sebagai bahan baku bioetanol serta melakukan reaktivasi fasilitas biodiesel PT Bayas Biofuels.  Pengembangan bioetanol berbasis singkong memiliki prospek yang menarik karena dapat mempertemukan kepentingan sektor energi dan pertanian. Jika dikelola dengan baik, kebijakan tersebut dapat membuka pasar bagi petani, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta mendorong tumbuhnya industri pengolahan di daerah.  Berbagai dampak positif juga menjadi alasan penting untuk mengapresiasi implementasi mandatori B50. Pada 2026 diperkirakan mampu meningkatkan penghematan devisa menjadi sekitar Rp170 triliun. Program ini juga diperkirakan meningkatkan nilai tambah CPO dari sekitar Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton CO₂.  Potensi tersebut menunjukkan bahwa B50 bukan sekadar kebijakan energi. Program ini dapat menjadi instrumen untuk memperkuat industri nasional, menjaga devisa, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah komoditas, sekaligus mendukung agenda transisi energi.  Meski demikian, besarnya potensi tersebut harus diikuti dengan tata kelola yang konsisten. Pemerintah perlu memastikan pengembangan B50 dan bioetanol tidak hanya berorientasi pada target produksi dan penyaluran, tetapi juga membangun rantai industri yang kuat dan berkelanjutan. Ketersediaan bahan baku harus dijaga tanpa mengganggu kebutuhan pangan, produktivitas petani perlu ditingkatkan, dan industri pengolahan harus didorong agar mampu menghasilkan produk yang kompetitif dari sisi harga maupun kualitas.  Pemerintah juga perlu memastikan bahwa manfaat kebijakan tidak hanya terkonsentrasi pada korporasi besar. Petani, pelaku usaha lokal, dan masyarakat di daerah penghasil bahan baku harus memperoleh manfaat ekonomi yang proporsional. Dengan demikian, pengembangan biofuel dapat menjadi kebijakan yang tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Sinergi pemerintah, BUMN, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar momentum ini tidak berhenti sebagai kebijakan jangka pendek. B50 dapat menjadi fondasi penguatan biodiesel, sementara bioetanol membuka ruang diversifikasi melalui pemanfaatan komoditas pertanian. Keduanya dapat dikembangkan secara beriringan untuk membangun bauran energi yang lebih beragam dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.  Secara keseluruhan, langkah pemerintah dalam mempercepat implementasi B50 dan mempersiapkan pengembangan bioetanol patut diapresiasi. Kebijakan tersebut menunjukkan keberanian untuk mengubah kekayaan sumber daya alam Indonesia menjadi sumber energi yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.  Tantangannya kini adalah memastikan momentum tersebut berlanjut menjadi ekosistem industri yang kuat, efisien, dan berkelanjutan. Jika pemerintah mampu menjaga kesinambungan bahan baku, memperkuat infrastruktur, mendorong inovasi teknologi, serta memastikan manfaatnya menjangkau petani dan masyarakat, B50 dan bioetanol tidak hanya akan menjadi kebijakan energi, tetapi juga dapat menjadi penggerak industrialisasi berbasis produksi nasional.  Dengan arah kebijakan yang konsisten, Indonesia memiliki peluang untuk semakin mengurangi ketergantungan energi dari luar negeri sekaligus membangun kekuatan energi dari sumber daya sendiri. Inilah momentum untuk membuktikan bahwa kekayaan alam Indonesia bukan hanya untuk diekspor sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi energi, nilai tambah, lapangan kerja, dan kekuatan ekonomi nasional.  )* Pemerhati isu sosial-ekonomi 

Read More

Tokoh Adat Papua Ajak Warga Jadikan HUT Ke-81 RI Momentum Rawat Persatuan

PAPUA – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah tokoh adat di Papua mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan untuk memperkuat persatuan, menjaga keamanan, serta mempererat persaudaraan di tengah keberagaman. Semangat kebersamaan dinilai penting untuk menciptakan suasana yang kondusif sekaligus mendukung keberlanjutan pembangunan di Papua. Ketua Ikatan Lima Suku Besar…

Read More

Pemerintah Perkuat Pengamanan Papua, Warga Dijamin Aman Rayakan HUT RI

PAPUA – Pemerintah memastikan keamanan masyarakat di Papua menjadi perhatian utama menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Penguatan pengamanan dilakukan untuk memastikan warga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus mengikuti rangkaian perayaan kemerdekaan dalam suasana aman, tertib, dan nyaman. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago menegaskan pemerintah pusat memiliki komitmen kuat…

Read More

Tokoh Adat dan Pemuda Papua Serukan Jaga Kedamaian HUT RI dan Tolak Provokasi Demonstrasi

Oleh: Yohanes Wandikbo )* Menjelang peringatan HUT ke-81 RI, seruan untuk menjaga kedamaian dan ketertiban semakin menguat dari Tanah Papua. Tokoh adat dan tokoh pemuda di sejumlah wilayah Papua mengajak masyarakat bersama-sama menciptakan suasana yang aman, damai, dan kondusif sekaligus tidak mudah terpengaruh oleh berbagai provokasi maupun ajakan demonstrasi yang berpotensi mengganggu ketenteraman masyarakat. Imbauan…

Read More
Back To Top